Coffee Latte

1365 Kata
  Wulan berada di bus Transjakarta untuk berangkat kerja. Pagi ini kondisi jalanan di Jakarta tidak begitu macet seperti biasanya. Wulan dapat dengan bebas memainkan ponselnya karena kondisi bus cukup lengang. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Rentenir kembali meneleponnya, seketika Wulan mengerutkan kening karena ini belum waktunya penagihan cicilan.   “Halo, ada apa kau meneleponku? Ini bahkan belum waktunya jatuh tempo!” bisik Wulan di telepon takut didengar penumpang bus yang lain. “Wah kali ini kau mengangkat teleponmu dengan cepat. Tidak, aku hanya ingin mengingatkan kau harus mempersiapkan uangmu untuk pelunasan berikutnya. Beberapa minggu lagi kau harus bertemu denganku lagi,” ujar lelaki di ujung telepon yang ternyata hanya ingin mengingatkan akan hal yang tentu saja tak pernah ia lupakan. “Kau tidak perlu mengingatkanku akan hal itu. Tentu saja aku tidak akan lupa!” Seketika Wulan menutup panggilan telepon itu dengan kesal.   ‘Sungguh pagi yang indah untuk memulai hari!’ batin Wulan mendengus kesal. Rentenir itu sukses membuat suasana hati Wulan rusak dalam sekejap.   Wulan berjalan perlahan memasuki lobi kantor. Ia melangkah ragu karena masih memikirkan kejadian kemarin di mana semua rekan kerjanya menatapnya dengan tatapan aneh dan menyelidik. Ia sungguh kesal mengingat hal itu karena tak seharusnya semua orang mengetahui keadaannya saat ini. Itu sangat memalukan! Wulan menatap sekelilingnya, tatapan itu kali ini berganti dengan tatapan iba yang membuat Wulan semakin kesal saat ini.   ‘Aku tak butuh dikasihani. Tolong enyahkan tatapan aneh kalian itu!’ batin Wulan kesal. Wulan duduk di kursinya, segera ia memeriksa semua hal yang ia persiapkan untuk pekerjaannya hari ini. Ya, hari ini ia akan bekerja dengan band Triggerd yang artinya ia akan bertemu dengan Bastian hari ini. Membayangkan hal itu ia merasa bingung bagaimana harus bersikap saat bertemu dengan Bastian nanti.   ‘Apakah aku harus menyapanya? Atau pura-pura tidak mengenalnya?’ batin Wulan. Segera Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya yang mulai memikirkan hal yang tidak penting. Ia harus kembali fokus, karena harus mencari uang sebanyak-banyaknya.   “Wulan, kamu sudah siap? Kalau sudah, ayo kita berangkat!” ujar Agni sambil berjalan menuju meja kerja Wulan. Wulan hanya menoleh tanpa menjawab sepatah kata pun. “Kenapa kamu sering melamun akhir-akhir ini?! Ayo kau sudah siap apa belum?!” bentak Agni gemas pada Wulan yang hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Agni sejak tadi. “Bukankah Anda bilang kalau saya sendiri yang akan menangani job kali ini? Anda bilang harus menghadiri suatu acara?” tanya Wulan yang masih kebingungan.   Agni tersenyum. “Kau tidak suka kalau aku ikut membantumu kali ini, hah? Acaraku hari ini batal, jadi aku bisa ikut. Lagipula klien kali ini memintaku hadir juga,” terang Agni menjelaskan pada Wulan membuat Wulan menganggukkan kepala tanda paham. “Baik, saya sudah siap, Bu. Mari kita berangkat sekarang, lebih cepat lebih baik,” ajak Wulan dengan semangat sambil mengumpulkan dokumen yang harus ia bawa untuk meeting membahas tentang pemotretan Triggerd yang telah ia persiapkan kemarin.   Wulan dan Agni telah sampai di tempat yang mereka tuju. Agenda hari ini adalah mereka akan rapat terlebih dahulu untuk membahas kelangsungan pemotretan, kemudian dilanjutkan dengan pemotretannya saat siang hari. Wulan dan Agni memasuki ruangan yang telah ditunjukkan, rupanya ruangan tersebut masih kosong. Tidak heran karena memang mereka berdua yang hadir 30 menit lebih cepat dari jadwal yang dijanjikan.   “Wulan, apakah kamu tahu tentang band yang akan kerja sama dengan kita kali ini? Band ini sedang naik daun. Ini benar-benar kesempatan yang bagus untuk portofoliomu!” ujar Agni pada Wulan yang sangat bersemangat tentang pekerjaannya kali ini. “Tentu saja saya tahu siapa band ini, Bu. Siapa yang tidak tahu tentang Triggerd? Mereka bahkan hampir setiap hari muncul di televisi. Penggemarnya pun di mana-mana,” jawab Wulan tak kalah bersemangat daripada Agni.   Wulan dan Agni melanjutkan pembahasan tentang Triggerd, pembicaraan mereka terhenti saat ada seseorang yang mengetuk pintu.   Ternyata pihak managemen band dan fotografer telah hadir dan siap membahas tentang konsep pemotretan dan sistematis pemotretan yang akan dilakukan. Hal ini dilakukan agar pemotretan berjalan dengan lancar dan meminimalisir adanya masalah. “Baik, jadi seperti itu konsep dan sistem pemotretan kita siang ini. Triggerd akan hadir dalam satu jam lagi. Semoga hari ini berjalan lancar,” ujar Sapto manager Triggerd menutup rapat siang ini. Wulan dan Agni bersiap untuk mempersiapkan pakaian dan hal lainnya Bersama dengan partner mereka Andi, fashion stylist yang biasa menangani Triggerd.   Saat ini Wulan berada di dalam ruangan ganti dan make up. Wulan, Agni dan Andi sudah menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Triggerd sambil bercengkrama. “Kau sudah lama menjadi fashion stylist khusus untuk band ini?” tanya Agni membuka pembicaraan. “Lumayan, kurang lebih dua tahun aku bersama mereka. Kalian biasa menangani klien apa?” tanya Andi balik pada Wulan dan Agni sambil merapikan baju yang sedikit kusut. “Kami biasanya menangani model, namun tidak ada yang menjadi klien khusus kami. Siapa pun bisa menghubungi kami,” jawab Wulan menjelaskan pada Andi. “Pasti lumayan merepotkan bekerja Bersama model. Kalian harus coba bekerja dengan klien laki-laki, jauh lebih mudah daripada klien perempuan. Apalagi Triggerd, mereka sangat menyenangkan!” ujar Andi bersemangat.   Di tengah-tengah pembicaraannya, Triggerd masuk ke ruangan tempat mereka berada. Mereka sedang bersiap untuk berganti pakaian yang telah ditentukan sebelumnya. Adit memasuki ruangan dengan ceria. “Hai Andi! Apa kabarmu? Kau bersama siapa?” tanya Adit saat melihat keberadaan Wulan dan Agni. “Ini partnerku untuk pemotretan kali ini, Agni dan Wulan. Kenalkan!” Andi mengarahkan Adit untuk berjabat tangan dengan Wulan dan Agni, begitupun dengan Tio, Abi, dan pastinya Bastian.   Setelah selesai berkenalan, Adit segera menghampiri Andi untuk berganti pakaian, Tio menghampiri Wulan, Abi yang tiba-tiba menerima telepon harus berganti ruangan, sehingga menyisakan Bastian dan Wulan yang masih saling bertukar pandangan. Wulan tidak ingin suasana menjadi canggung, ia memutuskan untuk menghampiri Bastian dan menunjukkan pakaian yang akan ia kenakan untuk sesi pemotretan kali ini.   Beberapa kali Wulan melempar senyum pada Bastian seakan bersikap mereka telah mengenal sebelumnya, namun Bastian selalu membuang muka tak ingin menatap Wulan. “Hei, kenapa kau tidak mau menatapku?” tanya Wulan pada Bastian perlahan. Bastian menatap Wulan aneh, ia menatap Wulan dengan lekat namun ekspresinya sama sekali tak dapat dibaca oleh Wulan. Tanpa mereka sadari, sejak tadi empat orang lain yang ada di ruangan saling pandang melihat kecanggungan yang ada di antara Bastian dan Wulan. Tio menatap Adit dengan mata penuh tanya. “Apa wanita ini mengenal Bastian?” tanya Tio. Adit mengedikkan bahunya tanda ia tidak mengetahui apa yang terjadi.   Tio, Adit, dan Bastian telah selesai berganti pakaian, saat ini mereka bersiap untuk make up. Sementara Abi yang sudah menyelesaikan panggilannya, menghampiri Andi untuk berganti pakaian. Merasa untuk sementara tidak ada yang perlu dikerjakan, Wulan memutuskan pergi ke coffee shop untuk membeli kopi.   “Saya pesan coffee latte satu.” Sesaat Wulan berpikir untuk membawakan satu gelas kopi untuk Bastian. Melihat ekspresi yang ditunjukkan Bastian tadi, Wulan berniat untuk memperbaiki hubungan mereka berdua. “Maaf, maksud saya dua coffee latte!” koreksi Wulan pada barista yang sedang mencatat pesanannya.   Wulan berjalan sambil membawa dua gelas kopi di tangannya, ia menemukan Bastian sudah selesai dirias wajahnya siap untuk pemotretan. Wulan terpaku melihat penampilan Bastian saat ini. Bastian terlihat sangat garang dan tentu saja … tampan! Wulan terkejut saat ia sedang memperhatikan Bastian, lelaki tersebut tiba-tiba menatapnya. “Apa yang kau lihat?” tanya Bastian ketus. “Oh, tidak! Aku hanya ingin memberikan ini,” ujar Wulan memberikan satu kopi yang ada di tangannya kali ini. Bastian menatap kopi yang diberikan oleh Wulan kemudian matanya memicing melihat ke arah Wulan.   ‘Apa maunya wanita ini? Untuk apa bersikap sok baik padaku?’ batin Bastian yang muak melihat Wulan sejak tadi. Sejak ia sampai di tempat ini, ia terkejut melihat Wulan ada di tempat yang sama dengannya. Ia tiba-tiba marah karena teringat dengan kelakuan wanita ini yang hampir saja menghancurkan karirnya dan teman-temannya.   Tak disangka, Bastian tersenyum dan mengambil kopi yang diberikan oleh Wulan. Wulan memberikannya dengan senang hati. Namun tak lama setelah itu, Bastian mengangkat tangannya yang memegang gelas kopi tersebut ke atas kepala Wulan dan menumpahkannya. Saat ini tubuh Wulan dipenuhi kopi yang ditumpahkan Bastian.   “Sebaiknya kau tidak perlu bersikap sok baik padaku. Sekali wanita rendah, kau tetap wanita rendah,” bisik Bastian tepat disamping telinga Wulan lalu meninggalkan Wulan begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN