Wulan melangkahkan kaki dengan ringan menuju kantor, senyum di wajahnya terlihat lebih cerah daripada biasanya. Pasalnya, kemarin ia baru saja mencairkan cek yang diberikan Bastian.
Saat ini ia memiliki uang senilai 50 juta di rekeningnya. Hatinya tenang karena untuk sementara ia bisa membayar hutangnya saat para rentenir itu mendatanginya.
Ketenangannya hilang saat ia tiba di kantor, beberapa temannya di kantor menatapnya dengan tatapan menyelidik. Tidak biasanya rekan kantornya bersikap seperti ini padanya, begitu pun dengan Debi, rekan yang duduk tepat di sebelahnya.
“Deb, boleh aku tahu ada apa sebenarnya? Mengapa semua orang menatapku seperti itu?” ujar Wulan pada Debi. Ia tak tahan dengan tatapan yang diberikan pada semua rekan kantornya sehingga ia tak malu bertanya pada Debi yang bahkan tidak ia kenal dengan akrab.
Debi menoleh ke arah Wulan, wajahnya terlihat ragu saat melihat Wulan. “Hm, aku tak tahu. Lebih baik kau tanyakan pada yang lain,” jawab Debi singkat.
‘Ada yang disembunyikan oleh Debi. Pasti ada yang tidak beres saat ini!’ batin Wulan curiga melihat gerak-gerik Debi yang tak seperti biasanya.
“Apa kamu yakin kamu tidak tahu tentang apa yang sedang terjadi?” tanya Wulan penuh selidik pada Debi yang masih tidak ingin memberi tahu tentang apa yang terjadi.
“Ti--tidak Wulan. Lebih baik kau tanya yang lain!” ujar Debi tak sabar. Ia bukannya tidak ingin memberi tahu Wulan tentang apa yang terjadi. Namun, ia merasa tidak begitu dekat dengan Wulan untuk memberi tahu yang sebenarnya. Ia rasa itu kurang sopan.
“Baiklah, maaf jika aku mengganggumu,” jawab Wulan seketika kembali ke mejanya lagi.
Wulan terus berpikir apa yang telah ia lakukan. ‘Sebenarnya apa kesalahan yang telah kulakukan hingga membuat orang satu ruangan ini terus menatapku?!’ batin Wulan kesal dengan apa yang terjadi.
Semakin ia berpikir, semakin ia tidak mengerti apa yang terjadi. Hal ini jelas memengaruhi kinerjanya hari ini.
“Wulan? Kamu belum menyelesaikan keperluan untuk besok?!” tanya Agni pada Wulan ketika sampai di meja kerja Wulan.
Betapa terkejut Agni saat melihat pekerjaan Wulan yang masih berantakan. Besok ia harus mendampingi fashion stylist yang menangani band Triggerd.
Walaupun mempersiapkan pakaian untuk laki-laki tidak akan serepot mempersiapkan pakaian untuk para model wanita, namun Triggerd bukan band sembarangan yang bisa seenaknya seperti ini. Semua harus tetap dipersiapkan dengan baik.
“Ma-maaf, Bu. Saya akan bereskan hari ini juga. Ibu tidak perlu khawatir,” jawab Wulan tergagap saat Agni datang dan membuyarkan lamunannya.
Agni menatap curiga pada Wulan, tidak biasanya ia teledor dengan pekerjaannya seperti ini. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu tahu ini akan dibutuhkan untuk besok 'kan?” tanya Agni menyelidik apa yang terjadi pada Wulan saat ini.
Wulan menengadahkan wajahnya menatap wajah Agni dengan lekat dan memberanikan untuk bertanya. “Bu, apakah Ibu tahu apa yang sedang terjadi? Kenapa semua orang menatap saya dengan tatapan yang aneh? Apakah saya melakukan kesalahan yang tidak saya sengaja?” Wulan memborbardir Agni dengan pertanyaan yang sejak pagi bersarang di kepalanya.
“Wulan ....” Agni membuka suara sambil mengambil kursi yang terletak di dekatnya untuk berbicara dengan Wulan. “Kamu tidak lupa 'kan saat aku bilang berbahaya jika kamu meminjam uang lewat perusahaan pinjaman online?” tanya Agni pada Wulan.
Wulan menganggukkan kepalanya. “Iya Bu, tentu saja saya ingat. Saya tidak pernah lihat Ibu mengingatkan orang lain seperti itu sebelumnya. Tentu saya tidak akan lupa,” jawab Wulan yakin.
Agni menghembuskan napasnya dengan berat. “Oke. Jadi saya tadi malam dapat telepon dari nomor yang tidak dikenal. Ternyata telepon itu dari rentenir dari perusahaan pinjaman online tempat kamu meminjam uang. Dia membeberkan bahwa kamu memiliki sejumlah hutang yang belum kamu bayarkan. Sepertinya semua orang di kantor mendapatkan telepon yang sama. Aku memang pernah mendengar bahwa perusahaan pinjaman online seperti itu dapat mengakses nomor telepon yang ada di kontak ponselmu. Maka dari itu mereka bisa menghubungi kami semua,” ujar Agni perlahan menjaga Wulan agar tidak terlalu terkejut.
Wulan mematung, semua orang di kantor sekarang sudah tahu kalau dia sedang terlilit hutang. Seketika ia merutukki kebodohannya saat tidak menjawab telepon dari nomor tak dikenal ketika sedang berbicara dengan Bastian di apartemennya beberapa hari yang lalu.
‘Astaga betapa bodohnya aku! Itu pasti panggilan dari rentenir itu. Andai saja aku menjawab teleponnya, pasti semuanya tidak akan seperti ini!’ batin Wulan.
Agni menatap Wulan yang masih mematung, seperti tenggelam dengan pikirannya sendiri. “Wulan? Wulan? Apa kau baik-baik saja? Apa yang bisa aku bantu?” tanya Agni pada Wulan, namun Wulan tidak menjawab pertanyaan itu. Wulan bahkan tidak tahu bantuan apa yang bisa ia minta pada orang lain saat ini.
Wulan tidak bisa berkata apa-apa, ia masih mematung saat ini. Bahkan pekerjaannya masih tergeletak dan tidak tersentuh hingga sore hari. Wulan tersadar dari lamunannya, ia tak ingin membuang waktu, menyadari jika ia tidak mengendalikan dirinya semua akan lebih kacau.
‘Ayo Wulan fokus! Kamu tetap harus mencari uang untuk kelangsungan hidupmu!’ batin Wulan yang seketika mengumpulkan fokusnya untuk mengerjakan semua yang ditinggalkannya sejak tadi. Waktunya tinggal sedikit sampai hari esok di mana ia harus menjadi Triggerd.
Wulan terpaksa harus lembur malam ini karena harus menyelesaikan pekerjaannya yang terlantar karena apa yang terjadi hari ini. Wulan Lelah dan merasa malu, membayangkan bagaimana ia bisa bertemu dengan rekan kantornya lagi setelah semua orang di kantor mengetahui bahwa ia sedang terlilit hutang saat ini.
Ia melangkahkan kaki di lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Langkah kakinya berhenti melihat ada dua orang laki-laki bertubuh besar sedang berdiri di depan ruang rawat ibunya.
“Hei, akhirnya kau sampai juga!” sapa salah seorang laki-laki pada Wulan saat mereka menyadari keberadaannya saat ini.
“Maaf. Anda siapa, ya? Sedang apa Anda di sini?” tanya Wulan berhati-hati pada dua orang tersebut. Wulan sudah mengira bahwa laki-laki di hadapannya adalah rentenir yang menghubunginya tempo hari. Wulan ketakutan saat ini, ia sangat tidak ingin ibunya mengetahui ini semua.
Tentu saja kami mencarimu. Apa kau ingat beberapa hari yang lalu kau tidak mengangkat teleponku? Kau berusaha melarikan diri kali ini?!” bentak pria itu.
Wulan menegang. Beberapa kali ia menengok ibunya lewat celah kecil di pintu ruang rawatnya, memastikan apakah ibunya mengetahui semua ini.
“Tidak, saat itu aku hanya sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menjawab teleponmu. Aku akan membayar cicilan kali ini besok pagi. Aku janji, aku harus ke bank dulu karena tidak bisa kukirimkan uangnya sekarang juga. Bank sudah tutup, kau pasti tahu itu!” jawab Wulan pada lelaki itu.
Dua orang laki-laki itu menganggukkan kepalanya seraya berjalan meninggalkan Wulan. “Kuharap kau tidak main-main,” bisik salah satu laki-laki itu.
***
Pagi-pagi sekali ia berangkat, ia memutuskan untuk pergi ke bank terlebih dahulu. Ia harus mengirimkan uang sebesar 15 juta pada rentenir tersebut. Untungnya antrian bank kali ini tidak seramai hari biasanya. Ia segera mengurus proses pengiriman uang tersebut.
Proses pengiriman uang tersebut berjalan lancar, saat Wulan berjalan meninggalkan bank ia mendapatkan panggilan masuk dari rentenir yang baru saja mendapatkan kiriman uang dari Wulan. “Halo, uangnya sudah saya terima. Sebaiknya untuk pelunasan cicilan yang mendatang kau tidak perlu membuatku repot seperti ini!” ancam laki-laki itu pada Wulan.
Wulan menghembuskan napasnya berat. Ia langsung memutuskan panggilannya begitu lelaki itu selesai berbicara. Wulan benar-benar tidak ingin ambil pusing dengan ini. Ia harus terus memutar otak bagaimana cara melunasi hutang yang lainnya.
Saat Wulan berada di bus menuju tempat kerjanya, ia membuka catatan di ponselnya dan mencatat semua sisa hutang yang ia miliki. Betapa tenang Wulan saat sisa hutangnya hanya tersisa 45 juta lagi.
Wulan tenang karena bulan berikutnya ia masih akan menerima uang dari kesepakatannya dengan Bastian.