Kesepakatan Pertama

1318 Kata
  Bastian memikirkan tentang penawaran terakhir yang diberikan oleh Wulan. Sebenarnya penawaran Wulan itu sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Bahkan jika dikalikan untuk tiga video, totalnya lebih sedikit daripada penawarannya yang pertama. Lagipula Wulan mengancam bahwa ini adalah penawarannya yang terakhir.   “Baiklah, 50 juta untuk setiap video. Namun, aku tidak bisa membayar semua di awal. Bagaimana kalau aku cicil satu per satu?” ujar Bastian bernegosiasi sekali lagi. Wulan nampak berpikir. ‘Sebenarnya tidak masalah jika orang ini membayarnya terpisah. Yang penting aku memiliki uang saat rentenir-rentenir itu mendatangiku,’ batin Wulan. Wulan melipat kedua tangannya di depan d**a merasakan kemenangan. Setidaknya dalam waktu dekat ia tidak akan pusing mencari uang untuk membayar hutangnya.   “Baiklah, deal. 50 juta setiap bulan? Setiap kamu memberikan uang, akan kuhapus video itu langsung di hadapanmu,” ujar Wulan pada Bastian sambil mengulurkan tangannya pada laki-laki di hadapannya ini. “Dari mana aku tahu bahwa kau tidak memiliki salinan lainnya? Bisa saja kau licik, aku bahkan tak mengenalmu,” ucap Bastian memastikan kesepakatannya. “Tenang saja, semua  yang kupunya hanya ada di ponsel ini. Aku hanya membohongimu tadi, dan dengan bodohnya kau percaya ucapanku,” ujar Wulan santai, sedangkan Bastian hanya menghembuskan napasnya berat merutukki kebodohannya. “Sudahlah, aku lelah bermasalah denganmu. So, deal. 50 juta setiap bulan untuk satu video,” ujar Bastian sambil mengulurkan tangannya.   Mereka bersalaman setelah menyetujui kesepakatan mereka yang pertama. “Untuk kesepakatan yang kedua, kau hanya perlu untuk menghamiliku. Itu saja, itu hal yang mudah, kan?” tutur Wulan pada Bastian santai. Sekali lagi Bastian menatapnya dengan tatapan aneh. “Hei, sebenarnya apa yang kau rencanakan? Kenapa syaratmu yang kedua begitu aneh? Untuk apa kau minta dihamili?” tanya Bastian memastikan. “Sudahlah, kenapa kau bertanya hal itu terus?! Sudah kubilang ini bukan urusanmu, lagipula aku pastikan tidak akan mengganggumu jika kesepakatan ini telah selesai. Aku dapat uangmu, dan kau menghamiliku. Setelah itu kita tidak perlu bertemu lagi, karena urusan kita sudah selesai,” ujar Wulan santai.   Bastian sudah tak ingin ambil pusing dengan Wulan lagi. Lagipula apa pun yang ia rencanakan, tidak akan jadi urusannya. “Baiklah, terserah apa maumu saja. Kalau begitu besok jam empat sore kita bertemu di Hotel Padma. Sebaiknya kau jangan terlambat jika kau menginginkan uangku,” ujar Bastian singkat lalu meninggalkannya begitu saja di ruang tamu apartemennya. ***   Sore ini Wulan menuju Hotel Padma, ia sangat bersemangat. Bagaimana tidak, dalam semalam dia dapat memastikan akan dapat 50 juta, begitu pula dua bulan berikutnya. Saat ini pukul 15.30, namun Wulan sudah sampai di restoran yang ada di Hotel Padma. Ia duduk sambil sesekali melihat pesan di ponselnya, karena ia izin meninggalkan pekerjaannya di kantor hanya untuk mengambil uangnya.   “Hei nampaknya ada yang tidak sabar untuk menerima uangnya sore ini,” sapa Bastian ketika sampai di restoran. Ia langsung duduk di kursi di sebelah Wulan. Wulan menoleh ke arah sumber suara dan melihat keberadaan Bastian saat ini. “Hei, tentu saja aku tidak sabar. Apa kau membawa uangnya? Kau bahkan tidak membawa tas sama sekali. Di mana uangnya?” Wulan panik seketika, ia takut kalau Bastian akan membodohinya. “Santai saja, apa kau tidak tahu apa yang namanya cek? Kenapa aku harus repot-repot membawa uang 50 juta cash?” ujar Bastian. Wulan yang mendengarnya pun seketika merutuki kebodohannya. ‘Ini benar-benar memalukan!’ batin Wulan dalam hati.   “Baiklah, serahkan ceknya padaku dan kau akan lihat aku menghapus salah satu videomu,” tegas Wulan pada Bastian. “Aku ingin yang pertama kau hapus adalah video yang telah kau sebar di internet. Artinya, kau harus membereskan kegaduhan itu di internet juga. Kau bisa 'kan? Kau sudah janji denganku,” tawar Bastian pada Wulan. Wulan tidak ambil pusing hanya mengedikkan bahunya. “Itu masalah gampang. Setelah kuhapus video itu di ponsel, aku akan hubungi temanku yang kuceritakan tadi malam,” jawab Wulan.   “Baiklah, aku lapar jadi kita makan dulu. Kita selesaikan setelah aku makan. Kau mau makan juga?” tawar Bastian pada Wulan, Wulan yang saat ini sedang lapar menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Ternyata makanan di restoran ini lumayan enak. Aku tidak pernah mengira makanan di sini enak, jika tahu aku akan lebih sering datang ke sini,” ucap Bastian sambil membersihkan sisa makanan di sekitar mulutnya dengan tisu yang disediakan. “Kau terlalu banyak basa-basi, bagaimana dengan uangku! Kau tau aku harus izin keluar kantor dengan bosku. Aku tidak bisa terlalu lama di sini, sebaiknya kita selesaikan dengan cepat,” ujar Wulan. Bastian mengeluarkan sebuah cek dan langsung diberikannya pada Wulan. “Ini. Sekarang mana videonya, tunjukkan padaku. Aku sendiri yang akan hapus!” pinta Bastianmemaksa.   Wulan tak ingin ambil pusing, ia langsung mengambil ponselnya dan membuka file video yang dimaksud. “Video yang kusebar yang ini. Hapus yang ini saja, jika kau berani-berani menghapus semuanya, kubunuh kau sekarang juga!” ancam Wulan yang takut Bastian merencanakan hal licik di kepalanya. “Diam, kau cerewet sekali. Ini, lihatlah sendiri.” Basian menghapus video tersebut tepat di hadapan Wulan. “Baik, urusan ini sudah selesai. Sekarang hubungi temanmu untuk hapus sisa videonya di internet!” lanjut Bastian pada Wulan menagih janjinya.   Wulan mengambil ponselnya, saat sedang mencari kontak yang ingin ia hubungi ada panggilan masuk dari Agni bosnya di kantor. “Astaga aku pasti terlalu lama pergi!” ujar Wulan panik. “Halo, Bu. Ada apa? Maaf, sebentar lagi saya akan kembali ke kantor,” ucap Wulan pada Agni panik.   Sementara Agni tertawa di ujung telepon. “Wulan tenanglah. Aku hanya ingin memberi tahu soal pekerjaan, jika ditunda aku takut akan lupa memberi tahu kamu,” jawab Agni. “Baik, Bu. Ada pekerjaan apa untuk saya?” ujar Wulan bersemangat. “Akhir pekan ini apakah kamu sibuk? Karena kamu diminta mendampingi fashion stylist untuk sebuah band yang akan tampil akhir pekan ini. Aku tidak bisa handle pekerjaan ini karena harus pergi ke acara keluarga suamiku. Jadi kumohon, kau bisa tangani kali ini, ya?” bujuk Agni pada Wulan. Wulan berpikir sebentar, band apa yang akan ia tangani kali ini. “Kalau boleh tahu apa nama bandnya, Bu?” ujar Wulan berbisik tak ingin didengar oleh Bastian yang ada di dekatnya. “Kalau tidak salah Triggerd. Iya, Triggerd! Kau tahu 'kan, band itu sedang terkenal sekarang. Ini kesempatanmu.” Agni bersemangat sekali kali ini. Wulan menyunggingkan senyumnya saat mendengar nama band itu yang disebutkan. “Baik Bu, saya akan handle pekerjaan itu,” jawab Wulan seraya memutuskan panggilannya saat itu juga.   “Panggilan itu nampaknya membuatmu senang, apakah itu dari pacarmu?” tanya Bastian yang dari tadi tidak mendengarkan beberapa kali Wulan memanggil Agni dengan sebutan, bu. “Kenapa kau bertanya? Itu bukanlah urusanmu. Sekarang lebih baik kau diam. Aku akan menghubungi temanku untuk menghapus videomu itu sekarang karena aku harus kembali ke kantor,” ujar Wulan pada Bastian yang ditanggapi Bastian dengan anggukan-anggukan kecil. “Aku sudah hubungi temanku, dia bilang akan dia kerjakan malam ini. Kau bisa lihat besok videomu tidak akan lagi beredar di internet,” ujar Wulan setelah menutup teleponnya. “Apa kau yakin videonya akan hilang besok? Kau harus bisa pastikan, karena ini adalah karirku. Aku sudah berikan cek ini padamu,” tutur Bastian pada Wulan memastikan keselamatan karirnya. “Kau tidak percaya padaku? Kau bisa cari aku dengan mudah apabila aku tidak menepati janji. Kita sudah sepakati ini sejak awal, aku tidak akan ingkar janji,” ujar Wulan meyakinkan Bastian.   “Oke ... oke. Baiklah, akan kupastikan besok pagi. Sekarang, serahkan nomor teleponmu padaku agar aku bisa pastikan kau tidak akan kabur setelah membawa uangku!” ucap Bastian pada Wulan sambil memberikan ponselnya untuk meminta nomor telepon Wulan. “Kau terlalu panik, apa kau lupa kalau aku menunggu 100 jutamu selanjutnya? Aku pun masih memiliki dua video di ponselku. Kesepakatan kita belum selesai. Tenanglah!” Wulan meyakinkan Bastian sambil berdiri dari bangku bersiap untuk meninggalkan Bastian dan kembali ke kantor. “Baiklah, sampai bertemu bulan depan!” ujar Bastian yang juga bersiap meninggalkan restoran itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN