Menawar Harga

1278 Kata
    Wulan mematung. Bastian berkata syarat yang ia berikan sama sekali tidak mudah. Dari caranya mengatakan hal tersebut, Wulan tahu betul bahwa Bastian tidak sedang berbohong saat ini. Belum lagi ia merasa ketakutan karena pukulan Bastian barusan. Belum lagi darah yang mengucur deras dari tangannya tidak juga berhenti hingga sekarang. Buk! Buk! Buk! Tangan yang terkepal itu memukul tembok terus menerus tanpa merasa kesakitan.   Tubuh Wulan bergetar ketakutan, belum lagi wajahnya yang pucat pasi saat ini. “A--apa kau baik-baik saja?” tanya Wulan tergagap. Ia ketakutan, tapi juga khawatir melihat tangan yang dipenuhi darah saat ini.  “Kau bertanya apa aku baik-baik saja? Kau masih bertanya itu padaku?” Bastian tersenyum lirih sambil memegang tangannya yang berdarah.   Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Wulan terus membuntuti Bastian membuat Bastian jengah. “Berhenti mengikutiku! Bisakah kau diam di tempatmu saja barang sebentar?!” bentak Bastian yang muak melihat wajah Wulan. “Baiklah aku akan pergi dari hadapanmu,” ujar Wulan sambil kembali duduk di ruang tamu apartemen Bastian sambil menunggu Bastian keluar dari kamar mandi. “Sebaiknya kau pergi dari hadapanku selamanya!” teriak Bastian dari dalam kamar mandi berusaha membuat Wulan mendengarkan ucapannya barusan. “Jangan pernah bermimpi!” balas Wulan tak kalah kencang dari ruang tamu saat ini.   Bastian sudah kembali dari kamar mandi dengan membawa kotak P3K. Ia duduk di bangku seberang Wulan, meletakkan kotak P3K di meja. “Baiklah, aku akan berusaha bicara dengan kepala dingin kali ini. Bagaimana jika kita membicarakan lagi kesepakatan yang kau buat?” ujar Bastian sambil mengambil perban dari kotak P3K dan memasang perban tersebut di tangannya yang terluka. “Baik, syarat dan penawaran yang kuberikan sudah cukup jelas. Sebaiknya kau yang mulai bicara apa yang ingin kau negosiasikan? Namun sebelum itu, hei bolehkah aku minta air minum? Kau benar-benar tidak memberiku minum sama sekali!” ujar Wulan santai.   Bastian memutar bola matanya sambil menatap Wulan. Ia segera berdiri meninggalkan Wulan sendirian menuju dapur untuk mengambil air minum dari dalam kulkas. “Baiklah untuk syarat pertama, bisakah kau menawarkan harga yang lebih masuk akal?” ujar Bastian sambil meletakkan gelas air minum di meja di hadapan Wulan saat ini. Tak menunggu lama, Wulan menyesap air minum tersebut hingga tandas. “Baiklah bagaimana jika 100 juta?” ujar Wulan santai membuat Bastian terkejut. ‘Bagaimana mungkin dengan mudahnya ia menurunkan harga hingga 100 juta? Kenapa tidak dari tadi kulakukan jika tahu akan semudah ini?’ ujar Bastian dalam hati merasa ini akan semakin mudah untuknya.   Wulan menyadari reaksi yang diberikan Bastian saat ini hanya tersenyum kecil, “Tunggu, kau jangan senang dulu. Yang kumaksud adalah 100 juta untuk satu video saja!” ucap Wulan mampu membuat Bastian yang sedang minum langsung tersedak. “Hei aku sudah berusaha baik, kau jangan berani mempermainkanku! Sebenarnya berapa buah video yang kau miliki?” tutur Bastian geram. Ia harus berhati-hati kali ini, jika ia salah langkah ia tidak hanya akan merusak karirnya sendiri melainkan karir ketiga temannya.   Belum lagi Sapto si manager cerewet dan perusahaan label yang menaunginya selama ini. Rasanya sudah cukup mereka pusing memikirkan masalah dari munculnya video tentang dirinya yang saat ini beredar bebas di internet.   “Aku punya tiga video, termasuk video yang sudah kutunjukkan padamu barusan. Jadi kau bisa hitung sendiri berapa jumlah uang yang harus kau berikan padaku,” ujar Wulan santai sambil menatap tangan Bastian yang sudah diperban dengan asal saat ini. “Sebelumnya, aku ingin bertanya. Dari mana kau mendapatkan video tersebut? Apakah kau berada di sana saat malam itu?” tanya Bastian.   Wulan kebingungan harus menjawab apa karena ia tidak mungkin mengaku kalau ia telah mencuri video ini dari Lisa sang model yang juga ia bodohi untuk membeberkan alamatnya. “Bukan urusanmu. Urusanmu saat ini adalah membayar mahal video yang kumiliki selanjutnya video ini akan kuhapus selamanya. Dari ponselku maupun dari dunia maya,” jawab Wulan menghindari pertanyaan Bastian.   Hal itu bisa menjadi boomerang untuknya, karena ia bisa saja dituntut, dan itu tidak boleh terjadi.   Bastian melihat ponsel Wulan tergeletak di meja. Ia mengambil ponsel itu untuk melihat dua video lain yang dimiliki oleh wanita ini. Seketika Wulan menyadari apa yang dilakukan Bastian, ia langsung merebut ponselnya kembali. “Hei apa yang kau lakukan!” bentak Wulan setelah melihat apa yang Bastian lakukan. “Aku tidak percaya ucapanmu. Dari mana aku tahu jika kau memiliki dua video lain? Bagaimana jika hal yang ada di dalam video itu sama sekali tidak merugikanku dan teman-temanku yang lain? Bisa saja kan, kau membodohiku?” tutur Bastian pada Wulan. Ia butuh bukti untuk mengeluarkan uang yang sangat besar kali ini.   Wulan mengerti apa yang dimaksud oleh Bastian. Ia membuka video yang tersisa di ponselnya, menunjukkan video tersebut hanya 5 detik saja. “Kupikir ini sudah cukup membuktikan padamu. Kau lihat kan, di video ini terpampang jelas wajahmu dan teman-temanmu? Jika kau tidak memberikan syaratku, akan kupastikan band mu akan hancur dalam waktu dekat!” ancam Wulan pada Bastian.   Bastian memikirkan apa yang dikatakan oleh Wulan. Apa yang dikatakan Wulan ada benarnya, dan ia tidak ingin merusak apa yang selama ini telah dicapai olehnya dan teman-temannya yang lain. Ia Bersama Adit, Tio dan Abi telah berusaha membesarkan band ini bertahun-tahun, tidak mungkin ia mengambil resiko sebesar ini. Sudah dapat dipastikan jika video ini tersebar, bandnya akan hancur berkeping-keping, usaha yang dilakukan olehnya dan ketiga temannya pun akan hancur begitu saja.   Bastian memikirkan kembali kesepakatan yang ditawarkan oleh Wulan, sesaat ia terpikir syarat kedua yang diminta oleh Wulan. Bastian bukan laki-laki b******k yang bisa meniduri wanita manapun, tapi wanita ini secara sukarela meminta untuk dihamili olehnya.   Apa yang dipikirkan wanita ini sebenarnya! “Tunggu. Apa kau yakin ingin kuhamili? Apa alasanmu untuk syarat ini? Karena aku paham mengapa kau minta uang sebanyak itu karena semua orang menyukai uang. Tapi syarat kedua ini sangat tidak masuk akal! Apa alasanmu sebenarnya?” tanya Bastian tidak mengerti apa yang diinginkan wanita ini. Wulan termenung tidak menjawab. “Kenapa kau tidak menjawab? Apa sebenarnya alasanmu soal hal ini?” Bastian kembali bertanya tentang hal yang sama. “Itu bukan urusanmu. Cukup jawab kau mau atau tidak?” ujar Wulan pada Bastian yang merasa terpojok dengan pertanyaannya ini. Jika Bastian tahu alasan yang sebenarnya, ia pasti tidak ingin memenuhi syarat tersebut. “Bagaimana bisa itu bukan urusanku? Kau tahu kan, kalau kau sampai hamil, anak yang kau kandung adalah anakku juga? Sudah pasti ini juga urusanku! Jadi sebaiknya kau beritahu aku apa alasanmu!” ucap Bastian pada Wulan sukses membuat Wulan terpojok. Apa yang Bastian ucapkan ada benarnya, tapi ia tidak bisa mengatakannya saat ini.   “Sebaiknya kita selesaikan dulu syarat pertama! Apakah kau sepakat untuk membayarku 100 juta per satu video?” tanya Wulan berusaha mengalihkan pembicaraan. “Tidak. Itu tidak masuk akal. 300 juta adalah jumlah yang banyak, apa kau lupa kau juga yang telah merusak karirku?” ujar Bastian pada Wulan.  Wulan tersadar akan apa yang telah ia ucapkan. Bastian jelas sangat bermasalah saat ini. Setelah insiden video tersebut, ia bahkan tidak pernah lagi muncul di layar televisi. “Baiklah itu juga salahku. Bagaimana dengan 85 juta untuk satu video?” tawar Wulan pada Bastian, dibalas dengan gelengan kecil dari Bastian. “Bisakah kau berpikir lebih normal lagi? Sudah kubilang kondisiku sedang tidak baik setelah apa yang kau lakukan padaku!” bentak Bastian pada Wulan.   Sebenarnya kondisinya tidak terlalu buruk, namun ia tidak dapat memastikan apakah karirnya bisa kembali atau tidak. Ia tidak bisa membuang-buang uangnya. “50 juta untuk satu video! Ini adalah penawaran final yang kuberikan. Kau harus memutuskan kau mau sepakat atau tidak. Kalau tidak, aku akan pergi sekarang dan menyebarkan video ini lebih luas lagi. Semua pilihan ada di tanganmu!” ancam Wulan membuat telinga Bastian panas mendengarnya.            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN