“Ti—tidak, maksudku tidak sekarang. Tolong, jangan sekarang.” Wulan memohon pada Bastian, namun sepertinya apa yang ia lakukan sia-sia.
Bastian berhenti tepat saat wajahnya hanya tersisa beberapa senti di depan wajah Wulan. Senyum dari bibirnya menyungging, tangannya menyentuh wajah Wulan perlahan membuat Wulan bergidik, namun berhenti di dagu Wulan dan mencengkramnya erat.
“Kau pikir aku sudi melakukannya untukmu, hah?! Wanita rendahan sepertimu bahkan tidak pantas kusentuh sama sekali. Apalagi uangku. Dasar w************n!” bentak Bastian sambil melepaskan tangannya dari dagu Wulan dengan kasar.
Wulan membereskan posisi duduknya, kali ini ia harus mengendalikan dirinya. Ia tidak boleh lemah lagi, karena sudah melangkah sejauh ini ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan dari laki-laki di hadapannya ini.
“Kau yakin dengan apa yang kau katakan, hah? Kau yakin ingin video ini semakin tersebar luas dan menghancurkan karirmu?” ujar Wulan lirih, melihat Bastian yang tak bergeming atas kata-katanya ia segera mengambil ponsel yang ada dalam kantongnya dan memperlihatkan video tersebut pada Bastian.
“Kau lihat ini baik-baik. Apa kau pikir setelah ini semua karirmu akan baik-baik saja? Hanya karena tingkahmu yang tidak hati-hati ini kau bisa membahayakan tiga temanmu yang lain! Sekarang kau masih bisa berlagak sok jual mahal seperti ini? Sekarang siapa yang lebih rendah, hah?!” hardik Wulan yang kini telah berdiri sambil mengarahkan ponselnya ke hadapan Bastian.
Bastian geram dibuatnya. Segera ia mengambil ponsel Wulan dan menghapus video tersebut. Wulan melihat apa yang dilakukan Bastian dan tertawa melihatnya. “Apa kau pikir aku sebodoh itu? Itu bukan satu-satunya salinan video yang kumiliki,” ujar Wulan yang kemudian mengambil ponselnya dari tangan Bastian dengan kasar.
“Apa maumu sebenarnya?!” bentak Bastian yang sudah kehilangan kesabaran. Napasnya saat ini terengah-engah berusaha menahan emosi yang sejak tadi sudah meluap-luap. Ia benar-benar butuh memukul seseorang saat ini.
“Aku sudah bilang, aku hanya ingin dua hal yang tadi sudah kusebutkan. Apa kau tuli?” jawab Wulan yang kali ini sudah berani menjawab Bastian dengan percaya diri. Entah kemana rasa takutnya yang sedari tadi menyelimutinya. Saat ini yang tersisa hanyalah keberanian menghadapi laki-laki yang ada di depannya saat ini.
“Apa kau sudah gila? Aku bisa terima jika kau meminta uangku, tapi kenapa kau minta kuhamili? Benar-benar tak masuk akal, kurasa kau sudah gila!” tandas Bastian membuat Wulan tertawa. Seketika Bastian menatap Wulan dengan tatapan aneh.
“Itu bukan urusanmu. Yang harus kau lakukan saat ini adalah menuruti apapun permintaanku, atau video tersebut terus kusebarkan agar semua orang di dunia ini bisa melihat kelakuanmu dan teman-temanmu itu!” ujar Wulan dengan tenang.
“Tapi apa kau gila?! Jumlah uang yang kau minta itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa kau memerasku setelah apa yang telah kau lakukan padaku?” ujar Bastian berusaha bernegosiasi dengan Wulan.
“Apakah kau mencoba bernegosiasi denganku? Haha, apakah artis terkenal ini sudah tidak memiliki uang saat ini?” ucap Wulan meledek Bastian, membuat Bastian menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi wanita gila ini.
Bastian menggeram pelan, meninggalkan Wulan begitu saja di ruang tamu dan memasuki kamarnya.
Wulan membulatkan matanya melihat Bastian meninggalkannya begitu saja padahal pembicaraan di antara mereka belum selesai.
‘Aku harus selesaikan kesepakatan ini malam ini juga. Aku tidak bisa menundanya lagi, aku tidak yakin apakah masih ada keberanian yang tersisa untuk esok hari.’ batin Wulan tidak tenang.
Ia harus memastikan ia mendapatkan uang malam ini, karena beberapa hari ke depan anak buah Juan pasti akan mendatanginya untuk menagih sisa hutangnya, belum lagi bunga dari hutang tersebut.
Mengingat hal itu, Wulan berdiri dari kursinya dan langsung berlari menuju kamar yang baru saja dituju Bastian.
“Hei, pembicaraan kita belum selesai!” teriak Wulan dari depan pintu kamar Bastian, tidak mendengar jawaban apa pun, Wulan mengetuk-ngetuk pintu tersebut hingga akhirnya orang di dalam kamar itu bersuara.
“Diam! Aku butuh istirahat, aku tidak butuh kesepakatanmu!” ujar Bastian dari dalam, masih dalam posisi meringkuk dalam selimut tanpa memerhatikan Wulan yang ada di luar.
“Oh, apakah kau lupa bahwa aku memiliki dua video lainnya?” Wulan berkata lirih namun ia memastikan suaranya dapat terdengar oleh Bastian. Rencananya kali ini berhasil, Bastian bangun dari tidurnya dan membuka pintu.
“Apa kau bilang barusan?” ujar Bastian Ketika membuka pintu kamarnya dan mendapati Wulan masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Wulan berdiri sambil menggoyangkan ponselnya di depan Bastian. “Video yang kumiliki, bukan hanya satu. Kau tahu kan?” ucap Wulan dengan santai.
“Tidak! Kau tidak pernah memberi tahu bahwa kau memiliki video lebih dari satu!” bentak Bastian. Seketika Bastian sadar bahwa Wulan sempat berkata ia bisa membahayakan karir tiga temannya yang lain. Padahal video yang ditunjukan padanya barusan dan video yang tersebar hanya menunjukkan dirinya sendiri.
“Tunggu, kau memiliki berapa video sebenarnya?” tanya Bastian pada Wulan, kali ini ia bertanya baik-baik pada wanita gila di hadapannya. Ia tidak mau termakan emosinya sendiri dan mengakibatkan kerugian yang lebih daripada yang telah ia alami saat ini.
“Bukan urusanmu! Aku akan beri tahu semuanya, jika kau sepakat dengan penawaranku. Kau paham maksudku kan? Ayolah jangan membuat aku mengulangi perkataanku terus. Aku tahu kau tidak bodoh!” tutur Wulan pada Bastian.
Bastian menghembuskan napasnya dengan berat. Kesepakatan yang ditawarkan Wulan tidak masuk akal, meskipun Bastian saat ini mengakui bahwa Wulan adalah tipe ideal wanita yang ia sukai.
Bastian menghela napasnya berat sambil berdiri dengan siap meledakkan emosinya. Pemberitaannya akhir-akhir ini cukup berdampak bagi dirinya.
Sebenarnya jumlah uang yang diminta oleh Wulan bisa saja ia berikan, namun ia harus memikirkan hal yang akan ia hadapi apabila memberikan uang sebesar itu pada Wulan. Setidaknya ia harus berhemat untuk saat ini.
Bastian terduduk di pinggir kasurnya sambil menunduk lemas. Wulan perlahan menghampirinya, ia berdiri di sisi tembok dekat pintu kamar Bastian. Menatap Bastian lekat.
‘Kalau saja aku tidak membutuhkan uang saat ini, aku tidak akan berbuat seperti ini denganmu. Maafkan aku,’ batin Wulan yang iba melihat Bastian saat ini.
Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Wulan terkejut ternyata ia sudah lupa waktu. Pantas saja dari tadi matanya terasa sangat berat. Tak ingin membuang waktu, ia kembali membuka suara.
“Hei, ayolah apakah kau sepakat? Kalau tidak, aku akan pergi sekarang dan beberkan video lain yang masih ada padaku,” ancam Wulan pada Bastian, membuat Bastian menengadahkan wajahnya menatap dalam pada Wulan seperti siap untuk memangsanya saat ini juga.
“Apa kau tidak merasa cukup membuatku sengsara, hah?! Kau sudah membuat hidupku berantakan seperti ini. Sekarang kau mengancam untuk menghancurkan hidup semua teman-temanku. Sebenarnya apa salah kami padamu?” tanya Bastian pada Wulan, ia bangkit dari duduknya menatap Wulan semakin lekat.
“Justru karena aku tidak mengenalmu, kau pikir untuk apa aku peduli dengan hidupmu dan teman-temanmu itu? Harusnya kalau kau peduli dengan hidupmu kau tidak akan menggunakan barang haram tersebut, kau tahu itu kan?” ucap Wulan pada Bastian yang saat ini telah berdiri di hadapannya.
“Kau mengguruiku hah? Kau pikir kau siapa?” Bastian tidak dapat menahan emosinya lagi kali ini. Belum cukup rasanya stress yang ia dapatkan akhir-akhir ini, malam ini ia malah dihadapkan pada wanita aneh nan gila satu ini.
Wulan menyadari kalimatnya yang menggurui Bastian, namun saat ini bukanlah waktunya untuk meminta maaf atas kalimatnya barusan. Ia harus mempertahankan argumennya agar mendapatkan apa yang ia inginkan dari Bastian.
“Apakah kau sadar kita menghabiskan tiga jam untuk membicarakan hal ini? Ini sangat buang-buang waktu. Yang kuinginkan tidaklah sulit untukmu. Syarat pertamaku pasti mudah kau penuhi apalagi hanya uang 350 juta, itu sangat mudah bagimu bukan? Untuk syarat kedua, kau tidak perlu sok suci. Kau pasti bisa memenuhi hal itu,” ucap Wulan. Wulan sudah tidak ingin berlama-lama lagi di apartemen ini bersama Bastian.
Wulan sudah terpojok saat ini, Ia tidak dapat menghindari Bastian lagi. Bastian meletakkan tangannya di sisi kepala Wulan dan mengurungnya.
“Apa kau bilang? Mudah? Kaupikir aku apa hah?!” bentak Bastian dengan sangat keras. Emosinya benar-benar sudah meluap saat ini, Bastian seketika meninju keras tembok yang berada di sisi kanan kepala Wulan, dan menyisakan tangannya penuh darah karena pukulannya yang sangat keras.
“Ini sama sekali tidak mudah bagiku!” ujar Bastian lirih.