Wulan termangu melihat laki-laki di hadapannya saat ini. Lelaki yang hanya ia lihat di televisi dan video tersebut, saat ini sedang berdiri sambil menatapnya dalam. Walaupun laki-laki itu hanya diam, namun Wulan cukup merasa terintimidasi.
Bagaimana tidak, laki-laki ini benar-benar berbadan tinggi dan kekar sedangkan Wulan hanya perempuan kurus dan lemah.
‘Astaga, belum apa-apa nyaliku sudah hilang duluan!’ batin Wulan mengutuk kebodohannya sendiri karena menyesal kenapa sudah berani datang ke apartemen laki-laki ini.
“Kamu siapa?” tanya laki-laki tersebut dengan suara baritone-nya. Benar-benar tipikal suara laki-laki yang Wulan suka.
“Saya datang untuk mencari Anda!” kata Wulan setelah sebisa mungkin mengumpulkan keberaniannya yang hanya tersisa seujung kuku.
Bastian menyipitkan matanya memandang Wulan dengan aneh.
“Apakah saya kenal dengan kamu?” tanya Bastian pada wanita aneh tak dikenal yang datang ke apartemennya.
Wanita di hadapannya tak langsung menjawab, seketika Bastian menjentikkan jarinya di hadapan wajah wanita tersebut.
“Ah, iya ... eh tidak, kamu tidak kenal saya. Tetapi ada yang harus saya bicarakan dengan Anda,” jawab Wulan tergagap. Bastian menggeleng pelan melihat tingkah aneh wanita ini.
Beberapa orang lalu lalang di lorong apartemen di mana mereka berbicara saat ini. Padahal sejak tadi Lorong ini kosong, entah mengapa beberapa orang lalu lalang di tengah malam saat ini.
Ternyata Bastian merasakan ketidaknyamanan yang sama. Enggan mengambil pusing atas apa yang terjadi, laki-laki berkepala plontos ini memutuskan untuk membuka pintu apartemennya dan membicarakan hal ini di dalam karena ia sudah terlalu lelah.
“Whatever, silakan masuk. Kita bicara di dalam,” ujar Bastian sambil mengarahkan kartu akses apartemennya ke pintu untuk membuka pintu dan mempersilakan Wulan masuk.
Wulan memasuki apartemen Bastian penuh rasa ragu. Sesekali ia memerhatikan sekeliling apartemen lelaki ini.
Apartemen Bastian terlihat seperti apartemen lelaki pada umumnya. Ruangan bernuansa minimalis ini didominasi warna abu-abu dan putih, di pojok ruangan terdapat satu set drum dan beberapa alat musik lain, selain itu tergantung foto empat orang laki-laki yaitu personel band Triggerd.
Semua orang yang memasuki apartemen ini pasti langsung menyadari bahwa pemilik apartemen ini seorang musisi.
“Silakan duduk, saya tidak akan menawarkan minuman atau apa pun karena saya sama sekali tidak mengenalimu. Lebih baik kamu cepat bicara. Saya terlalu lelah,” tutur Bastian tak ingin ambil pusing.
Wulan bergeming, ia terus menggerakkan kakinya dan memainkan buku-buku jarinya. Wulan sangat gelisah saat ini.
“Euhm ... a—aku yang menyebarkan videomu!” lontar Wulan begitu saja.
Bastian membulatkan matanya, tangannya sudah terkepal saat ini. Kalau saja yang di hadapannya ini bukan perempuan, ia pasti sudah memukul habis-habisan orang yang sudah sembarangan menyebarkan videonya dan merusak karirnya.
“Apa? Apa kau bilang?” Bastian berusaha mengatur napasnya untuk mengatur emosinya agar tidak meledak saat ini juga.
“Iya, saya yang menyebarkan videomu,” jelas Wulan sekali lagi. Wulan berdoa mati-matian di dalam hatinya saat ini.
“Apa kau gila?! Untuk apa kau datang padaku saat ini hah! Kau menyerahkan mayatmu saat ini?!” bentak Bastian yang sukses membuat Wulan terperanjat.
Wulan mengumpulkan keberaniannya, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak terlihat ketakutan saat ini, atau semuanya akan hancur berantakan.
“Saya datang ke sini untuk menawarkan kesepakatan padamu,” lanjut Wulan. Lebih baik ia langsung mengatakannya saat ini juga, daripada ia harus mati ketakutan.
Apalagi ia sadar saat ini tangan Bastian sudah mengepal siap meninju wajah kecilnya kapan pun ia mau.
“Kesepakatan macam apa yang ingin kamu tawarkan?” ujar Bastian setelah menghela napas panjang. Namun Wulan terdiam, dan terpaku di hadapannya.
Kesabaran Bastian sudah hampir habis saat ini. “Hei wanita gila! Cepat katakan apa maumu sekarang juga!” Bastian sudah kehilangan kesabarannya saat ini. Andai saja ia memiliki cukup rasa tega untuk memukul seorang wanita, namun Bastian bukanlah pria berengsek. Tapi wanita di hadapannya ini sungguh sukses membuat Bastian siap dicap sebagai pria berengsek!
‘Bagus Wulan, sikapmu saat ini akan mengantarkannya pada pintu neraka saat ini juga!’ Wulan merasa sangat bodoh saat ini. Tadi saat menunggu kehadiran Bastian, Wulan telah mempersiapkan semua kata-kata yang akan ia katakan pada laki-laki di hadapannya saat ini. Namun lihatlah hasilnya sekarang, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
Andai ia punya kekuatan super, ia pasti sangat ingin menghilang saja saat ini.
“Hei!” bentak Bastian pada Wulan. Bastian memegang kedua bahu kecil Wulan. Bastian teriak tepat di depan wajahnya. Tubuh Wulan bergetar hebat saat ini, ia benar-benar telah sukses membuat Bastian hilang kesabaran.
“Ba—baik, saya punya dua syarat, untuk menarik peredaran video itu dari internet. Syarat pertama, berikan saya uang 350 juta dan syarat kedua …” Wulan menghentikan ucapannya. Ia memikirkan hal yang sangat nekat saat ini.
Jika dilihat-lihat, Bastian memang tipe idealnya. Mulai dari fisiknya, suaranya yang berat, bahkan pekerjaannya. Wulan sangat menyukai musisi sejak dulu.
‘Baiklah, aku harus melakukan apa pun sekarang. Buang jauh-jauh gengsi dan akal sehatmu Wulan! Ibu membutuhkanmu!’ batin Wulan menguatkan dirinya untuk mengatakan syarat berikutnya. Hal tergila yang pernah terpikirkan dalam pikirannya.
“Hah, ternyata kau hanyalah w************n yang menginginkan uangku! Sebutkan apa syarat yang kedua? Apa lagi yang kau mau selain uang?” bentak Bastian pada Wulan. Kali ini Wulan tidak akan terlihat lemah.
“Hamili aku,” ujar Wulan tenang.
Bastian termenung, mulutnya bahkan terbuka lebar saat ini karena terkejut atas apa yang wanita ini katakan.
Wanita ini memintanya untuk menghamilinya seakan ia meminta ibunya untuk membelikan permen.
“Apa kau sudah hilang akal? Aku sudah mengira kau adalah perempuan rendahan, tapi aku tak mengira kau bahkan serendah ini. Wanita mana yang secara sukarela minta untuk dihamili setelah meminta uang sebanyak itu!” tutur Bastian sembari menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan masih sibuk memikirkan wanita gila macam apa yang ada di hadapannya ini.
“Hamili aku,” ucap Wulan sekali lagi. Kali ini Wulan menekankan setiap kata yang ia katakan. Wulan Nampak yakin sekali atas apa yang ia katakan.
Bastian berdiri dari kursinya, menertawakan apa yang baru saja ia katakan. Entah mimpi apa yang mendatanginya semalam. “Jadi, kau datang ke sini untuk uangku dan benihku?” ucap Bastian dengan nada mengejek, membuat Wulan menegang. “Lalu apa yang akan kudapatkan, hah?” bentak Bastian pada Wulan.
“Aku akan hapus semua videomu yang sudah kusebar di internet!” jawab Wulan dengan yakin.
Bastian menatapnya lekat.
“Apa kau bercanda? Bagaimana kau bisa menghapus video yang sudah jelas-jelas tersebar luas di internet?!” tutur Bastian pada Wulan.
“Ada orang yang bisa membantuku untuk menghapus itu semua. Kau bisa pegang omonganku. Lagipula aku tidak akan ke mana-mana, kau bisa mencariku apabila aku tidak menepati janji,” jelas Wulan pada Bastian dan berusaha meyakinkannya.
Bastian terdiam memikirkan perkataan Wulan. Ini satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk mengembalikan karir dan nama baiknya. Lagipula, uang 350 juta bukanlah jumlah yang mustahil untuk ia berikan saat ini juga, apalagi hanya menghamilinya itu adalah hal yang mudah untuk Bastian apalagi wanita ini yang meminta.
Bastian menatap Wulan dari kepala hingga kaki, menatap lekat pada wanita di hadapannya.
Penampilannya memang terlihat lusuh, pakaian yang ia kenakan sangat lusuh. Namun jika diperhatikan lebih dalam lagi, wanita di hadapannya ini sungguh cantik.
Badannya memang sedikit kurus, tapi kulitnya putih. Bisa dibilang sebagian besar tipe wanita idaman Bastian ada di diri wanita ini.
Bastian berjalan ke arah di mana wanita ini duduk, ia berjalan perlahan sambil menatap mata wanita itu dengan lekat. Wulan menegang menatap lelaki itu menghampirinya.
Bastian berjalan perlahan semakin lama semakin mendekat ke arah Wulan. Wulan yang ketakutan menggeser tubuhnya menjauhi Bastian, namun saat ini ia sudah mencapai ujung kursi. Sudah tak ada lagi ruang untuknya menjauh dari Bastian.
“Kenapa kau menjauh, hah? Kau bilang ingin kuhamili?” ujar Bastian pada Wulan yang sudah memasang wajah ketakutan saat ini, namun Bastian tak henti mendatanginya seakan ingin memangsanya.
“Ti—tidak, maksudku tidak sekarang. Tolong, jangan sekarang.” Wulan memohon pada Bastian, namun sepertinya apa yang ia lakukan sia-sia.