Selidik Penuh Selidik

1436 Kata
   Agni mulai sering mempercayakan Wulan untuk mengambil job fashion show. Seperti saat ini, Wulan kembali diberi kepercayaan untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk acara fashion show yang akan diselenggarakan akhir pekan ini.  Agni menghampiri Wulan yang sedang sibuk menyiapkan pakaian yang akan dipakai para model yang mempercayakannya sebagai fashion stylist. Agni mengetuk meja kerja Wulan dan memberikannya segelas es kopi.   “Apakah semua baik-baik saja? Saya bisa membantu jika kamu butuh bantuan ya, Lan,” ujar Agni pada Wulan yang sedang terlihat cukup kerepotan kali ini.  Wulan tersenyum sambil menyesap es kopi yang diberikan oleh bos nya itu. “Semua berjalan baik, Bu. Saya pasti akan minta bantuan jika saya butuh,” jawab Wulan pada Agni yang kemudian dijawab Agni dengan acungan jempol dan meninggalkan Wulan agar ia dapat melanjutkan pekerjaannya dengan nyaman.   Siang ini Wulan melangkahkan kakinya dengan hati tenang, pasalnya beberapa hari ini ia tidak dihantui oleh para rentenir itu. Video itu benar-benar membantunya, walaupun hanya memberikan kesempatannya bernapas sejenak namun itu sangat ia syukuri. Wulan tidak akan membiarkan dirinya lengah, ia akan terus memeras keringat agar saat penagihan berikutnya ia tidak akan kesulitan mencari biaya untuk memenuhi tagihan tersebut. Wulan telah sampai di gedung di mana acara fashion show akan diselenggarakan. Segera ia menuju ruangan yang telah ditentukan. Sampai pada waktu menunjukkan pukul 15.00 sore, Wulan harus segera mempersiapkan para modelnya.   Segera ia mengambil pakaian yang telah ia siapkan dan bersiap memakaikan pakaian tersebut pada model bernama Lisa. “Selamat sore, dengan Lisa?” sapa Wulan lembut pada model cantik yang ada di hadapannya saat ini. Model cantik tersebut menoleh saat mendengar Wulan menyapanya. “Iya benar, kamu Wulan fashion stylist yang menangani pakaian saya hari ini, kan?” tanya Lisa antusias pada Wulan.   “Benar, sekarang kamu make-up terlebih dahulu, setelah selesai saya akan membantumu memakai pakaian ini,” ucap Wulan sambil menunjukkan pakaian yang telah ia siapkan. Hal itu sukses membuat Lisa membulatkan matanya saat melihat pakaian yang telah dipersiapkan oleh Wulan. “Oh my God, baju ini cantik sekali! Aku tidak sabar untuk memakainya!” ujar Lisa antusias. Wulan terpaku sebentar, mengapa rasanya ia mengenali suara ini. Suara ini terdengar sangat familiar.   Wulan masih termangu. Cukup lama menunggu Lisa menyelesaikan make-upnya dengan make-up artist, selama itu pula ia memikirkan di mana ia mendengar suara tersebut. Namun tanpa sadar, ia berdiri dari duduknya dan teriak dengan antusias.   “Oh iya!” ujar Wulan dengan antusias membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya menoleh bingung menatap wanita muda itu. Wajah Wulan memerah memikirkan kebodohannya, semua mata tertuju padanya menatap kebodohannya. Saat mengetahui bahwa Lisa lah yang merekam video berisi Bastian memegang sabu-sabu, Wulan terpikir satu ide gila.   ‘Apakah ini ide yang bagus? Apakah aku benar-benar akan melakukan hal gila ini?’ Wulan terus mempertanyakan apa yang sedang dipikirannya. Namun, rentenir tidak akan berhenti menagih uangnya, hutang yang terbayar bahkan belum ada setengahnya. Mengingat jumlah hutang dan bunga yang harus ia bayar, Wulan tidak bisa berpikir jernih dan membulatkan tekad untuk melakukan ide gila yang saat ini ada di kepalanya. Kebetulan sekali saat ini Lisa sedang memutar lagu dari band triggerd yang sedang viral di kalangan anak muda belakangan ini. Wulan menghampiri Lisa yang sudah selesai dengan riasan wajahnya, dan bersiap membantu Lisa mengenakan pakaian untuk show nanti malam.   “Lisa, kamu suka band triggerd? Kebetulan aku juga suka!” ujar Wulan pada Lisa, dalam hati Wulan berdoa semoga saja Lisa terpancing dengan rencananya. “Iya, aku sangat suka band ini. Bahkan sesekali kita pergi untuk minum bersama,” jawab Lisa santai, Wulan menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban Lisa. ‘Bingo! ternyata dia mudah sekali terpancing,’ batin Wulan merayakan kemenangan. Sepertinya rencananya akan berjalan mulus kali ini. “Ternyata kalian saling kenal? Aku turut sedih mendengar berita yang baru saja diberitakan tentang Bastian itu. Video tersebut bahkan tersebar dengan sangat cepat,” ujar Wulan mencoba bersimpati soal berita Bastian baru-baru ini. “Iya! Aku sangat terkejut kenapa video itu bisa tersebar! Aku bersamanya malam itu, namun tiba-tiba video tersebut tersebar begitu saja,” jawab Lisa antusias karena sampai saat ini ia masih tidak mengerti bagaimana bisa video tersebut tersebar, karena ia yakin betul hanya ia yang merekam dan tidak mengirimnya pada siapa pun. “Kalian sering pergi minum bersama?” tanya Wulan pada Lisa. “Iya, jika band mereka sedang tidak sibuk aku sering bergabung dengan mereka. Mereka benar-benar orang yang seru jika kau mengenalnya lebih dekat,” tutur Lisa.   Wulan terus memikirkan bagaimana cara mengarahkan pembicaraan ini agar sesuai dengan rencananya. “Pasti seru sekali jika bisa mengenal mereka, di mana kalian biasa pergi bersama?” tanya Wulan sambil memperhatikan detail pakaian yang ia kenakan pada tubuh langsing Lisa. “Ada Club yang sering kami datangi, namanya Alexis di daerah Jakarta Selatan. Kami suka minum di tempat itu, karena setelah minum kita akan mampir ke apartemen Bastian yang tak jauh dari sana karena tidak mungkin mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Jadi apartemen Bastian lah yang jadi korbannya. Untungnya letaknya strategis, kami cuma perlu naik ke lantai 10, lalu kamarnya berada tepat di sebelah kiri lift.” Lisa meracau, tanpa ia sadari ia telah membeberkan alamat Bastian. Wulan menanggapi pembicaraan Lisa dengan semangat, ia merasakan kemenangannya. Saat ini Wulan sudah memiliki alamat Bastian, ia hanya tinggal melaksanakan aksi berikutnya saja.   Acara fashion show kemarin berjalan sangat lancar, semua orang menyukai pakaian yang Wulan persiapkan. Pagi ini Agni mendatangi Wulan untuk memberikan semangat karena acara kemarin sukses tanpa campur tangannya.   “Wulan kamu hebat sekali! Kamu bahkan sekarang bisa menggantikan aku. Acara kemarin berjalan sangat lancar, kabarnya banyak yang menyukai pakaian yang kamu persiapkan, ya?” ujar Agni penuh semangat memberi selamat pada Wulan. Bagaimana tidak, dengan keberhasilan Wulan artinya ia sukses mengajarkan Wulan untuk menjadi seorang fashion stylist. “Wulan mau berterima kasih banyak pada Bu Agni, Ibu yang sudah mengajarkan Wulan banyak hal. Lihat, sekarang Wulan sudah seperti ini semua berkat Bu Agni!” tutur Wulan yang kemudian disambut dengan pelukan erat dari Agni.   Setelah selesai dengan acara berpelukan, Agni sibuk mencari apartemen yang berada di dekat club Alexis. Apartemen terdekat yang memungkinkan orang mabuk dapat sampai ke sana dengan selamat. Setengah jam sudah ia mencari di internet, dan akhirnya ia menemukan satu apartemen mewah yang berlokasi tidak jauh dari Club itu. Waktu menunjukkan pukul lima sore, Wulan sedang bersiap untuk pulang, namun ia terpikir tentang rencananya. Ia mulai menyusun rencana yang akan ia lakukan setelah ia menemukan alamat laki-laki yang ada di video yang belum lama ia sebar luaskan di internet ini. Sebelum ia melakukan rencananya, ia memutuskan untuk mampir dulu melihat keadaan ibunya di rumah sakit.   “Apa kabar kamu hari ini, Nak?” sapa ibu Wulan saat melihat Wulan memasuki kamar rawatnya. Wulan menghampiri ibunya sambil mengeluarkan buah yang ia beli saat diperjalanan pulang tadi. “Hari ini Wulan senang Bu, karena pekerjaan Wulan berjalan lancar. Bos Wulan juga memuji Wulan tadi,” jawab Wulan menceritakan kejadian tadi pagi, disambut tepukan hangat pada punggung tangan Wulan oleh ibunya.   Setelah dirasa cukup menemani ibunya sebentar malam ini, Wulan pamit pergi untuk keluar sebentar pada ibunya. Ia segera memanggil taksi dan bergegas pergi ke apartemen dimana Bastian tinggal. ‘Semoga saja hari ini Bastian itu ada di apartemennya. Jangan sampai usahaku sia-sia,’ batin Wulan mendoakan kelancaran rencananya malam ini. Wulan takut jika Bastian tidak ada di rumah kali ini, ia tidak akan berani mencobanya lagi karena ia tidak berpikir ini adalah ide bagus. Ini hanyalah ide nekat!   Taksi yang ia tumpangi saat ini sudah berada di lobi apartemen Bastian. Wulan memantapkan hatinya memutuskan untuk turun dari taksi secepat kilat sebelum ia berubah pikiran. Segera ia menuju lift yang terdapat di ujung lobi, dan menekan angka 10. Saat lift bergerak menuju lantai 10, Wulan meremas tangannya, sambil meyakinkan hal yang akan dilakukannya akan berjalan sukses! ‘Ting!’ lift saat ini sudah berada di lantai 10. Wulan melangkahkan kakinya keluar dari lift dengan penuh hati-hati. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri melihat ke sekelilingnya saat ini. Ia memantapkan langkahnya ke kamar yang sudah ditunjukkan oleh Lisa tempo hari.   Wulan berdiri didepan pintu kamar dan mengarahkan tangannya pada bel yang terdapat di sisi pintu apartemen mewah tersebut namun tidak ada jawaban dari dalam. Wulan melihat jam tangannya, menunjukkan pukul 9 malam saat ini. Ia memutuskan untuk menunggu di depan kamar Bastian. Saat ini Wulan sudah terduduk di depan pintu kamar Bastian, sekali lagi ia menengok jam tangannya menunjukkan pukul 00.00, baru saja ia ingin meninggalkan tempat ini karena sudah larut malam namun ia melihat sesosok pria bertubuh tinggi kekar.   Wulan mematung sekali lagi. ‘Oh Tuhan, apakah rencanaku ini adalah hal yang benar?!’ batin Wulan mulai ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN