Akhir-akhir ini Wulan menjalani harinya dengan cemberut. Senyuman di wajahnya sudah lama tak terlihat. Sejak insiden di kamar mandi beberapa hari yang lalu, Wulan memilih untuk tidak berbicara dengan Bastian jika itu tidak terlalu penting. Berbeda dengan Bastian, ia sepertinya tidak terusik sama sekali dengan apa yang terjadi di kamar mandi tersebut. Beberapa kali Bastian memanggil Wulan hanya untuk mengurus hal yang tidak penting, dan itu membuat Wulan semakin geram dibuatnya. “Buatkan aku kopi,” perintah Bastian dari ruang keluarga saat Wulan sedang di dalam kamar. Wulan enggan menjawab dan hanya mengacuhkan perintah Bastian. “Kau benar-benar mengira aku pembantumu. Berteriak saja sampai pita suaramu itu putus,” gumam Wulan lirih sambil mencibir Bastian. “Hei cepatlah, buatk

