Bastian perlahan membuka mata, ia menyadari bahwa di hadapannya adalah Wulan, wanita yang ia tunggu sejak malam. “Ke mana saja kau?” tanya Bastian sesaat melihat Wulan. Wulan mengalihkan pandangan karena mencium bau alkohol yang masih menyeruak dari tubuh Bastian. “Aku tidur di tempat Ibuku,” jawab Wulan singkat. Bastian berusaha berdiri namun kepalanya masih pusing. Dengan sigap Wulan membantunya berdiri, namun Bastian menghempaskan tangan Wulan yang saat ini sedang menggenggam lengannya. “Jangan berani sentuh aku, w************n!” bentak Bastian pada Wulan. Mata Wulan langsung terbelalak mendengar apa yang dikatakan Bastian. Darahnya terasa mendidih karena Bastian lagi-lagi menyebutnya w************n. Hampir saja ia memaki Bastian, tapi sesaat ia tersadar bahwa ia memb

