Tagihan Hutang

1428 Kata
  Beberapa hari terakhir Wulan menjalani hari-harinya dengan hati yang tenang. Selain ia sudah melunasi cicilan pertama pinjamannya, kondisi ibu Wulan akhir-akhir ini menunjukkan tanda-tanda membaik walaupun belum signifikan, namun hal ini sangat disyukuri oleh Wulan.   Saat Wulan sedang asyik mengerjakan laporannya, ponselnya tiba-tiba berdering menunjukkan nomor yang tidak dikenal. Tanpa banyak berpikir Wulan mengangkat telepon itu seperti biasa.   “Halo, dengan siapa ya?” sapa Wulan pada penelepon. “Selamat pagi, dengan ibu Wulan? Kami dari perusahaan peminjaman online, ingin mengingatkan bahwa tanggal jatuh tempo jatuh pada hari ini,” ucap laki-laki yang ada di seberang telepon, sesaat Wulan terdiam untuk mencerna kalimat yang baru didengarnya. “I—iya Pak, benar saya dengan Wulan,” jawab Wulan tergagap pada laki-laki tersebut. Wulan mendadak lemas, baru saja dia merasa tenang namun sekarang ia harus mencari uang untuk melunasi hutangnya lagi. “Bagaimana, apakah Ibu bisa bayar cicilannya sekarang?” tanya laki-laki itu membubarkan lamunan Wulan. “Ehm ... maaf Pak, boleh saya minta waktu lebih? Saya butuh waktu untuk menyiapkan uangnya,” jawab Wulan jujur. Laki-laki di ujung telepon berdeham, kemudian menjawab, “Baik, saya beri waktu anda 3 hari. Nanti akan saya hubungi Kembali,” sahut laki-laki tersebut yang kemudian memutus panggilan telepon begitu saja.   Wulan terdiam menatap kosong pada layar ponselnya. Hatinya berkecamuk meratapi nasibnya saat ini. Ia terdiam memikirkan harus ke mana lagi ia mencari uang untuk menutup hutangnya. Wulan mengacak-acak rambutnya kasar memikirkan nasib buruknya kali ini.   “Wulan, kamu kenapa?!” tanya Agni yang saat ini berada di seberang Wulan, menatap Wulan aneh karena ia mengacak-acak rambutnya. “Tidak apa-apa, Bu, saya hanya sedang pusing banyak pikiran saja,” jawab Wulan singkat pada Agni.   Sebenarnya ia sedang butuh teman untuk bercerita saat ini, tapi Agni sepertinya bukan orang yang tepat sehingga Wulan tidak ingin banyak bercerita tentang masalahnya.   “Oh iya, kabar Ibu kamu bagaimana? Sudah membaik?” tanya Agni yang baru teringat tentang kabar ibu Wulan yang sedang dirawat di rumah sakit. “Kabar Ibu sudah membaik Bu, namun sampai hari ini masih di rumah sakit karena masih membutuhkan perawatan intensif,” jelas Wulan pada Agni yang ditanggapi dengan anggukan kecil pada Wulan. “Maaf ya, saya masih belum sempat jenguk Ibu kamu. Masih repot sekali mengurus baby,” ujar Agni pada Wulan yang kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan tentang bayi kecil Agni yang mulai tumbuh besar dan cantik. Wulan menatap foto anak dari Agni dengan lekat, membuat tersenyum dan perlahan melupakan masalahnya sejenak.   Malam hari ini setelah pulang kerja seperti biasa Wulan menemani ibunya di rumah sakit, setelah kejadian tadi siang Wulan belum mendapat telepon lagi dari para penagih hutang itu. Wulan tidak dapat duduk tenang memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika ia terlambat membayar hutangnya, apalagi saat ini ia belum memiliki uang karena baru saja membayar cicilan pada anak buah Juan si rentenir.   Tiba-tiba tangan lembut ibunya menyentuh pipi Wulan, membuatnya terkesiap. “Kamu memikirkan apa, Nak? Biaya rumah sakit Ibu, ya?” tanya Ibu pelan, seraya menatap mata anaknya yang sudah lelah banting tulang dari pagi hingga malam. “Tidak ada Bu, Wulan tidak apa-apa. Bagaimana kabar Ibu hari ini?” ujar Wulan mengalihkan arah pembicaraan Ibunya. Wulan tidak ingin Ibunya ikut memikirkan soal pembayaran rumah sakit ini. “Dokter bilang kondisi Ibu sudah membaik walaupun masih belum ada perubahan yang signifikan, Nak. Perawatan yang diberikan dokter masih harus Ibu jalani,” jawab ibunya pelan.   Melihat raut sedih dari wajah ibunya, Wulan seketika memasang senyum di wajahnya kemudian menceritakan tentang anak dari Agni atasannya yang sedang tumbuh dengan sangat cantik membuat senyum keduanya merekah. ‘Hanya senyum ini yang aku butuhkan dari ibu,’ batin Wulan.   Pagi ini jalanan Jakarta terlihat padat, tidak biasanya Wulan membutuhkan waktu dua jam untuk menempuh perjalanan dari rumah sakit menuju kantor. Namun pagi ini, karena jalanan macet sekali, Wulan menempuh perjalanan selama dua jam yang menyebabkan ia terlambat datang ke kantor.   “Kamu terlambat hari ini, Lan. Ada apa?” tanya Agni yang melihat Wulan baru sampai setelah terlambat 30 menit, Agni tampak heran karena Wulan tidak pernah terlambat sebelumnya. “Iya Bu, tadi macet sekali di jalan. Bus yang saya tumpangi hampir tidak bergerak karena jalanan macet sekali,” ujar Wulan menceritakan kejadian pagi tadi seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Betapa kaget Wulan mendapati 15 panggilan tidak terjawab dari nomor penagih hutangnya. “Lan? Wulan? Hei!” Agni menghampiri Wulan berusaha menyadarkan Wulan dari lamunannya. “Eh, iya Bu,” jawab Wulan masih kaget. Wulan benar-benar ketakutan saat ini. Kondisi bus pagi ini sangat ramai menyebabkan Wulan tidak berani mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Namun lihatlah sekarang, 15 panggilan tidak terjawab. “Kamu sedang ada masalah? Baru saja ngobrol dengan saya, tiba-tiba kamu melamun. Ada apa Wulan?” tanya Agni curiga. Agni sangat khawatir dengan perubahan sikap Wulan akhir-akhir ini yang sering melamun. “Tidak Bu, saya hanya lapar. Belum sempat sarapan hehe,” jawab Wulan asal pada Agni membuat Agni mendengus kesal. “Kamu ini setiap ditanya jawabannya selalu tidak apa-apa. Kalau butuh bantuan kamu harus cerita Wulan. Siapa tau saya bisa bantu kamu,” ucap Agni pada Wulan dan hanya ditanggapi anggukan halus darinya.   Jam istirahat makan siang tiba, namun Wulan benar-benar tidak memiliki nafsu makan hari ini. Pikirannya masih berkelana memikirkan beberapa panggilan tak terjawab pagi ini. ‘Aku harus jawab apa jika orang tersebut menghubungiku kembali?’ batin Wulan cemas sambil menggoyang-goyangkan kakinya.   Ia benar-benar tidak dapat tenang dari tadi pagi. Tak lama ia memikirkan tentang telepon tersebut, ponselnya berdering. Wulan terpaku menatap layar ponselnya menunjukkan panggilan dari si penagih hutang. “Ha--halo,” sapa Wulan tergagap saat mengangkat panggilan teleponnya. Wulan ketakutan membayangkan apa yang harus ia katakan pada orang diseberang telepon ini. “Anda ke mana saja? Dari pagi saya mencoba menghubungi Anda tapi tidak ada jawaban. Anda jangan main-main dengan saya, ya. Jangan coba-coba kabur dari saya!” ujar laki-laki di seberang telepon mencecar Wulan dengan kalimat-kalimat yang dapat memojokkan Wulan. “Maaf Pak, saya tidak bermaksud untuk lari dari tanggung jawab. Namun bisakah saya diberikan waktu lebih? Saya belum punya uang saat ini,” jawab Wulan setengah berbisik.   Siang ini kantor memang terlihat sepi karena kebanyakan karyawan lain makan siang. Namun Wulan tidak ingin mengambil resiko apabila pembicaraannya terdengar oleh karyawan lainnya.   “Saya harus beri waktu berapa lama lagi? Saya masih berusaha sabar dengan Anda saat ini. Jangan berani-berani menguji kesabaran saya,” tukas laki-laki diujung telepon dengan nada yang mulai meninggi membuat Wulan bergidik ngeri. “Beri saya waktu satu minggu lagi, Pak. Saya akan melunasi hutang saya,” jawab Wulan pada laki-laki itu.   Jujur saja, Wulan tidak yakin apakah ia mampu melunasi hutangnya dalam waktu satu minggu. Namun, Wulan tidak mampu mendengar kalimat-kalimat ancaman yang keluar dari mulut laki-laki tersebut.   Tiga hari setelah panggilan telepon itu, Wulan bekerja seperti biasa. Wulan Kembali mengambil job ekstra seperti saat ini, Wulan sedang berada di tengah-tengah acara fashion show. Tiba-tiba ponsel Wulan kembali berdering. Penagih hutang dari perusahaan pinjaman online ini masih saja berusaha menelepon Wulan. Wulan menghela napas dan mengangkat telepon itu dengan ketakutan.   “Halo, apakah uangnya sudah disiapkan? Jangan lupa dengan janji kamu bahwa kamu akan melunasi hutang empat hari lagi,” ujar laki-laki di ujung telepon tersebut. “I--iya Pak, sedang saya siapkan uangnya,” jawab Wulan ketakutan. Pasalnya, Wulan tidak terpikir bahwa ia akan diteror seperti ini. “Sebaiknya kamu tidak bohong lagi kali ini. Saya dapat berbuat nekat jika kamu tidak menepati janjimu lagi. Kamu harus ingat itu!” ancam laki-laki tersebut yang sukses membuat Wulan terdiam mematung. Wulan mengusap wajahnya dengan kasar, memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan uang karena tabungannya saat ini tidak cukup untuk melunasi hutangnya.   Seketika Wulan teringat dengan cicilan hutangnya pada Juan yang sebentar lagi jatuh tempo. Wulan yang saat ini berada di acara fashion show langsung lari menuju kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya. Di tengah tangisannya, Wulan mendengar ada dua orang wanita sedang membicarakan sesuatu yang terkesan rahasia. Wulan perlahan mengakhiri tangisannya dan tidak sengaja mendengar ucapan dua wanita tersebut.   “Kamu tahu tidak, aku baru saja mendengar berita kalau band Triggerd terlihat membawa sabu-sabu ke Club malam!” ujar seorang wanita pada temannya. “Benarkah? Sayang sekali, padahal band itu sedang naik daun. Bisa-bisa karir mereka mendapatkan dampak buruk karena berita ini,” jawab salah seorang wanita. “Iya benar! Lihatlah, aku bahkan punya videonya. Coba kamu lihat sendiri!” ucap wanita tersebut meyakinkan.   Wulan mendengar ucapan dua wanita itu dengan seksama, ‘Triggerd? Video? Rasanya aku pernah dengar nama itu. Oh my God, Triggerd band besar itu!’ batin Wulan terkejut. Tiba-tiba ide nekat muncul di benak Wulan.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN