Sang Pemilik Elemen Air (3)

1231 Kata
"Yang Mulia, saya telah menyiapkan semua persiapan untuk ritual malam ini." Dua pelayan membungkuk memberi hormat, sang Raja mengangguk. "Sereia, terima kasih sebelumnya." Sereia melirik beberapa pelayan yang sedari tadi berada di samping sang Raja. Mereka pergi untuk melakukan ritual malam ini. "Kau memang anak yang baik." Mata Sereia berkaca-kaca, dadanya berdegup kencang. Tangan kanannya memegang d**a yang mungkin sebentar lagi akan meledak itu. "Terima kasih, Ayah. Saya tidak akan pernah mengecewakan Anda." Gadis itu berkata lalu bangkit. Sejurus kemudian memutar badan dan berjalan keluar dari ruangan sang ayah. Dadanya benar-benar bergetar karena rasa haru yang begitu kuatnya menguasai. Cukup ini... cukup ini tidak apa. Hanya ini tak apa. Dia benar-benar bahagia kali ini ayah melihat keberadaannya dan mengakuinya. Selama hampir dua ratus tahun ini dia tidak pernah diakui oleh ayahnya. Bahkan selama ini pun dia tidak diperbolehkan untuk memanggil sang Raja dengan sebutan ayah. Tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak, diikuti jeritan beberapa wanita serentak. Lantas, bumi seperti tengah gempa karena langkah mereka yang terburu-buru menujunya. Sekitar lima pelayan berhamburan pergi, dia bertanya-tanya dalam hati. "Ada apa?" tanyanya. Tangan gadis itu menghentikan salah satunya. "Manusianya... manusianya...." "Ada apa dengan manusianya?" Dia terbelalak sempurna. Salah satu pelayan yang sempat dia tahan pun akhirnya memaksakan diri untuk pergi meninggalkan Sereia dan menyusul teman-temannya yang sudah berhamburan pergi sejak tadi. Secepat kilat dia berjalan menuju tempat ritual itu. Dia melihat Athela yang berdiri dengan kedua tangan dan kakinya dikekang oleh rantai. Mata birunya menatap sayu ke arah Sereira, berharap gadis itu mau membantunya untuk melepaskan diri. "Duyung. Duyung rambut merah. Tolong aku. Badanku sakit semua. Aku—" Sereira datang menghampiri, menatap ke sekeliling ruangan yang tidak ada perubahan apa pun. Dia kira gadis itu bisa melakukan sesuatu hingga membuat para pelayan pergi. Beberapa pelayan datang menghampiri mereka. Ada yang benar-benar ditugaskan untuk menggantikan mereka, ada pula yang sekadar melihat kejadian yang baru saja terjadi. "Kau lupa apa tujuanku membawamu ke sini?" Bibir gadis itu tersinggung senyum sinis. Matanya menatap badan Athela yang dipenuhi luka lebam. Kemudian pandangannya terhenti saat sampai di leher. Seperti ada luka sayatan di leher. Terlihat darah segar mengucur deras dari sana. Gadis itu, Athela, sesekali meringis kesakitan. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa nyeri di sekujur tubuh. Detik berikutnya Sereira berdeham panjang. Dia menatap ke arah para pelayan yang bersembunyi di balik pintu. "Kalian, cepat segera urus manusia ini!" perintahnya dengan mata memelotot sempurna. Nadanya seperti diktator yang haus akan kekuasaan. Beberapa pelayan yang tahu kebenaran akan Sereira yang seorang putri kerajaan pun langsung mendekati Athela. Beberapa pelayan yang statusnya masih baru dan tidak mengetahuinya hanya mendelik, sembari berbisik-bisik kepada teman sesama-tidak-tahu-nya. Sereira mundur. Di antara sepuluh pelayan, yang menuruti perintahnya hanya segelintir, dua pelayan tua yang sudah mengabdi kepada sang Raja sejak lama sebelum dirinya terlahir. Matanya menatap galak Athela yang bola matanya meredup. Kedua telinga gadis berambut merah menyala itu mendengar bisik-bisik dari belakang. Para pelayan itu tengah membincangkan dirinya. "Mengapa kita harus mematuhinya?" "Memangnya dia siapa?" "Gadis berambut merah itu siapa? Sok-sokan sekali." "Cih, gadis bau kencur berani-beraninya memerintah kami yang lebih tua. Dia sombong sekali." Masih banyak u*****n dan cacian dari para pelayan di belakang. Dia tidak ingin mendengarnya, benar-benar tidak ingin mendengarnya. Ingin sekali kedua telinganya dilepas begitu saja agar tidak ada lagi manusia yang tidak tahu apa-apa mengomentari segala sesuati tentangnya seperti sudah tahu apa-apa. Sejak kecil bahkan raja saja tidak pernah menganggap gadis buangan itu ada. Karena raja lebih mementingkan jabatan daripada keluarganya sendiri. Ibu Sereira adalah seorang pelayan sekaligus p*****r milik kerajaan. Karena ibunya seorang p*****r itu, keberadaan Sereira ditiadakan oleh raja sendiri. Mereka berdua diasingkan karena raja tidak ingin aib itu tersebar luas. Entah itu salah ibu atau raja. Saat dia ingin menyalahkan salah satu di antara mereka, selalu saja ada kata "cinta" yang menghalanginya untuk menyalahkan. Bukankah cinta itu tak pernah salah? Barangkali salahnya adalah raja tidak menganggap mereka. Kendati demikian, kata orang-orang pun orang yang paling dicintai raja hanya ibu Sereira. Cinta apa-apaan itu? Kisah cinta klasik antara dua manusia yang terhalang jabatan dan juga aib. Yang dia tahu sampai sekarang adalah ibunya yang seorang p*****r tidaklah salah. Raja yang mencintai wanita seperti ibunya juga tidak salah. Setelah dewasa dia semakin mengerti. Namun ketika lelaki tua tadi baru saja memujinya, gadis itu benar-benar terharu. Itu kali pertamanya raja memanggilnya dengan sebutan layaknya ayah kepada anak. Dan kali pertama dia merasakan sesosok ayah selama dua ratus tahun ini. Dia menatap ke jendela, rumput laut tumbuh di mana-mana. Matahari buatan sebentar lagi akan terbenam. Matahari itu dibuat dengan sihir api yang tahan akan air. Jika dipikir memang mustahil, tapi itu adalah sihir dari sang naga Madora yang mempunyai kekuatan dan ketahanan bahkan terhadap air sekalipun. Napas Athela memburu. Dia juga menatap ke matahari bewarna oranye itu yang sebentar lagi akan lenyap. Bentuknya bukan bundar, tetapi lonjong. Terlihat seperti lampu neon warna emas lima watt yang biasa ada di warung-warung makan kecil seberang jalan. "Cepat!" Kedua pelayan itu mengangguk. Salah satu di antaranya—yang paling tua, mengambil sebilah pisau untuk digunakan sebagai s*****a menyayat kulit putih Athela. Yang satu lagi mencoba memotong lehernya. Dengan dipotongnya leher, darah akan mengalir dengan derasnya. Mereka bahkan sudah menyiapkan beberapa ember yang dijadikan sebagai wadah. Athela benar-benar ngeri, dia menelan ludah beberapa kali. Byakko... apa yang kamu lakukan saat ini? Bukankah ini saat yang tepat untuk melaksanakan tugasmu? Ah, saat memikirkan Byakko pun kemungkinannya untuk selamat hanya kecil. Makhluk itu bahkan hanya punya kekuatan elemen api, kebalikan dari air itu sendiri. Dengan kata lain dia tidak mungkin menyelamatkannya. Jika ingin selamat, dia harus berjuang keras sendiri. Tiba-tiba air matanya mengalir deras tatkala sebilah pisau sudah berada di leher. Satu gerakan yang dia cipatakan bisa membuatnya berada di ujung maut. "Aku akan memulai dari kakinya." JLEB! Sebuah pisau tertancap di kaki gadis itu. Athela meringis kesakitan. Pisau itu bahkan diputar-putar hingga darah menggenangi lantai. Dikatakan jika ini adalah bawah laut sangatlah tidak bisa dipercaya rasanya, karena di sini benar-benar seperti daratan. Mungkin di sini ada semacam sihir yang mampu membuatnya seperti daratan hingga cairan seperti darah pun terjatuh ke lantai, tidak ikut arus air. Athela tidak bisa lagi menggigit bibir bawahnya. Dia berteriak sekencang mungkin untuk menahan sakit dan nyeri di sekujur tubuhnya. Tiba-tiba sesuatu terjadi, air laut berubah menjadi es dalam sekali teriakan. Gadis itu terbelalak sempurna. Hanya dia yang bisa melihat. Semua orang membeku dengan keadaan tertutup mata. Dengan masih membelalakkan mata, dia bertanya-tanya, apakah ini ulahnya? Ulah teriakannya? Tiba-tiba es menghangat lalu mencair, beberapa duyung kembali ke wujud aslinya—termasuk kakinya berubah menjadi sirip berekor. Mereka tak sadarkan diri. Dari atas dia dapat melihat seseorang mendekat. Seseorang yang dia tunggu-tunggu kehadirannya. Lelaki dengan rambut berwarna pirang dengan kimono oranye sedang menghampirinya. Byakko! Athela tersenyum menyambut Byakko. Dengan segera Byakko melepaskan kekangan rantai dan membawa Athela ke daratan. "Apakah ini alasanmu tidak ingin menolongku di bawah sana?" tanya Athela. "Aku hanya ingin memberitahukanmu jika di dalam dirimu masih ada jiwa penyihir, Nona. Dan kau penyihir air. Kejadian ini cocok sekali untuk memberi tahumu betapa besarnya energi yang kau miliki." "Setelah semua berubah menjadi es?" "Aku melelehkannya." "Kau hebat juga." "Makhluk sepertiku memang diakui karena kehebatannya." Athela tertawa di gendongan Byakko. Setidaknya, Byakko masih sama—tidak pernah berhenti menyombongkan diri sedikit pun. Dia merasa lega.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN