"Cepat turunkan aku!" Pipi Athela bersemu merah tatkala dirinya masih di gendongan Byakko. Lelaki bersurai putih dengan kimono khasnya, oranye, menatap Athela dengan menaikkan satu alis.
"Kau belum sembuh, Nona. Kakimu masih—"
"Turunkan aku, cepat turunkan aku!" Gadis bermata biru itu merengek, tidak ingin membayangkan bagaimana jadinya jika pemandangan ini dibiarkan sampai nanti. Mungkin perasaan konyolnya kepada Byakko akan semakin bersemi.
"Sebentar lagi matahari akan terbit," kata Byakko. Dia menatap ke ufuk timur, lalu menyandarkan tubuh Athela di sebuah pohon besar samping sungai.
Athela ikut mendongak, dia menatap langit malam yang dihiasi bintang itu dengan telaten. Dia baru saja mengalami kejadian yang mengejutkan.
Kejadian yang berdurasi semalam tetapi terasa seperti bertahun-tahun lamanya. Athela menghela napas lelah.
Sedangkan Byakko meletakkan tangan kirinya ke kaki Athela yang dipenuhi oleh luka bekas tusukan pelayan duyung tadi. Selama beberapa detik sebuah cahaya berpendar, seperti cahaya penyembuh keluar dari tangan kirinya. Namun, sang pemilik tangan seperti tidak menyukai itu.
"Jika saja tangan kiriku tidak cedera, luka sekecil ini dalam beberapa menit sudah pasti akan sembuh."
"Memangnya tanganmu cedera kenapa?"
Hening sejenak. Manik mata Byakko menatap mata biru Athela yang begitu menawan saat terkena sinar rembulan. Gadis itu gugup, pipinya dipenuhi rona kemerah-merahan karena rasa malu. Ini kali pertamanya ada seorang lelaki yang beradu pandang dengannya lebih dari tiga detik.
Sedangkan di pikiran Byakko, dia menimang-nimang. Lelaki itu tidak ingin memberi tahu jika tangannya cedera hanya karena dilempari batu oleh Athela. Itu akan sangat memalukannya sebagai seekor Byakko.
"Tanganku cedera karena dua ratus tahun yang lalu sempat bertarung melawan monster yang sangat kuat."
Athela menaikkan satu alis. "Bukan karena lemparan batuku kemarin?"
Byakko diam, berdeham sejenak kemudian mengambil buah-buahan yang sempat dipetik olehnya beberapa jam lalu. "Makan ini lalu beristirahatlah, Nona. Besok saat fajar menyingsing kita sudah harus bergerak."
Athela membaringkan diri, menatap Byakko yang bangkit dari duduknya. Punggung lelaki itu bergerak-gerak setelah duduk tak jauh dari sana untuk membuat api unggun.
"Setidaknya ini bisa menggantikan selimut, Nona. Kau tidak akan kedinginan beberapa jam ke depan."
Peduli apa Athela, toh dia sudah biasa disuruh tidur di depan rumah—bahkan ini lebih baik. Di rumah biasanya bahkan tidak ada api unggun sehangat itu.
Dia menatap ke atas, bulan purnama di sana terlihat sangat indah. Bintang-bintang yang biasa dia lihat di bawah sinar rembulan dekat pohon Ek depan rumah kini terlihat sama, bedanya kini dia berada di lokasi yang berbeda. Kali ini lebih hangat. Dulu sendirian, setidaknya sekarang ada seseorang di sini. Dia tak lagi sendirian.
"Omong-omong jangan panggil aku nona. Panggillah namaku, Athela."
"Aku tidak bisa memanggilmu dengan sebutan itu. Sama saja aku tidak sopan kepada Tuhanku."
Athela mendecih kesal, dia berbaring ke arah Byakko yang sedang duduk menatap api unggun.
"Kau saja menyombongkan diri sudah membuat eksistensimu sebagai seorang roh dari mitologi Jepang menurun. Kau benar-benar tidak sopan untuk ukuran makhluk yang memiliki nama besar seperti itu. Panggil saja namaku seperti biasa—kita bisa berteman. Jadi tidak usah sok-sokan membahas adab dan tatakrama saat berada di depanku. Kau paham?"
Diam sejenak, di telinga mereka berdua yang terdengar hanya suara jangkrik dan bunyi api yang membakar kayu secara perlahan. Athela menekuk badan, tangannya dia lipat di d**a untuk menjaganya agar tetap hangat. Semilir angin menerpa, gadis itu sedikit menggigil kedinginan.
"Baiklah. Akan kucoba."
"Lagi pula jika aku bertemu dengan ayahku nanti, aku tidak akan mengatakannya. Kita bisa berteman sekarang, jadi jangan panggil aku dengan sebutan itu—sebutan yang bisa membuat orang lain salah paham."
"Baiklah. Aku mengerti."
Setelah itu jeda kembali mengisi mereka. Sejenak sekali, hingga uapan Athela memecahnya.
"Kau tidak tidur?"
"Aku akan berjaga."
"Kau tidak bisa terus-terusan berjaga selama sepanjang malam."
"Sebentar lagi fajar merangkak, tidak apa jika harus terjaga selama empat jam—itu tidak lama bagiku sebagai seekor Byakko."
Gadis berambut pirang itu menghela napas sejenak, dia menatap Byakko lekat-lekat.
"Itu tidak baik. Kau harus tidur teratur. Kita bisa bergantian menjaganya," tawar Athela.
"Aku tidak yakin bisa memercayakan penjagaan kepadamu."
Byakko memang benar-benar mengesalkan!
"Kau lihat tadi aku bisa membekukan sungai sekalipun."
"Tapi sihirmu tidak bisa kau kendalikan. Bagaimana jika saat aku tidur nanti kau malah membuatku menjadi es?"
"Kau kan bisa melelehkannya seperti kemarin."
"Tapi berbeda—akan lebih sulit bagiku mencairkannya."
Keduanya kembali diam, hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Dua jam nanti bangunkan aku, biarkan aku akan menggantikanmu berjaga. Tubuh manusiamu juga butuh tidur. Jika dalam bahaya aku akan membangunkanmu, lalu kita bisa pergi ke negeri itu tanpa halangan. Apa kau ingin protes?"
"Kakimu—"
"Kau sudah menyembuhkanku, sekarang kakiku tidak apa-apa. Jika hanya menjaga saja aku bisa melakukannya sembari berbaring."
"Baiklah," kata Byakko setelah tidak bisa membantah semua perkataan Athela. Sepertinya dia menyerah.
Athela sekilas mengulum senyum, dia menatap lelaki di sampingnya yang wajah tampannya terkena sinar dari api unggun. Tampan sekali.
"Apa kau butuh nama?"
Diam. Mata Byakko menatap Athela dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Aku sudah punya."
"Apa aku akan memanggilmu Byakko walaupun ada banyak orang?"
"Tidak masalah untukku."
"Tapi masalah untukku. Aku akan memberimu nama. Nama untuk tubuh manusiamu."
Byakko terdiam sejenak, dahinya mengerut seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Bagaimana jika Conley Bryan?" Athela tersenyum, menatap langit-langit bertabur bintang. Ini pertama kalinya dia memberi nama sesuatu. Biasanya bagi orang, sesuatu yang diberi nama itu miliknya. Karena tidak ingin orang lain merebutnya, maka para manusia memikirkan nama.
Anak mata Byakko menatap mata Athela yang berbinar-binar sembari tersenyum manis itu. Sedetik kemudian lelaki bersurai putih itu menatap kembali ke arah api unggun yang masih berusaha untuk hidup. Sesekali dia melempar potongan-potongan kayu kecil ke dalamnya untuk menjaga agar tidak mati.
"Baiklah."
"Sudah kuputuskan, namamu Bryan! Conley kuambil dari elemen yang kau kuasai, yaitu api. Artinya api yang suci. Sedangkan Bryan kuambil dari nama almarhum pamanku."
"Mengapa harus pamanmu?"
"Memangnya tidak boleh?"
Athela menatap Byakko dengan tatapan malas, tetapi dalam hatinya terkekeh melihat reaksi Byakko—ah tidak, tetapi Bryan yang sedikit berubah. Tidak membosankan seperti biasanya.
"Mengapa bukan pamanku saja?"
"Siapa yang peduli? Aku yang menamaimu. Bukan pamanmu yang menamaimu. Jadi apa pun namanya, itu keputusanku."
"Baiklah."
"Sekarang namamu Bryan, ya! Ingat, Bryan." Bryan mengangguk. Dia tak ingin berdebat dengan Athela, apalagi jika mematahkan semangat gadis itu. Sepertinya jika dia melakukan itu, Bryan akan dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya. Pemuda itu benar-benar takut dengan sang penyihir sepanjang masa.
Athela sedikit menghela napas, kemudian tersenyum.
"Oh iya, sepertinya kau harus mengurus rambut panjangmu. Jangan biarkan tergerai begitu saja. Terlihat merepotkan."
Setelah itu dia memejamkan mata. Dadanya bergetar hebat sebelum benar-benar tertidur. Soal Bryan nama pamannya itu bohong, sebenarnya arti dari Bryan adalah lelaki kuat dan terhormat.
Dia tidak ingin memberi tahu itu karena takut Byakko akan lebih besar kepala.
Menurutnya, Byakko pantas mendapatkan nama itu. Setelah itu dia terlelap, menjelajah alam bawah sadarnya sendiri.