Menuju Kota Baaj

1271 Kata
Sang fajar telah tiba dari ufuk timur. Sinar kekuningan itu menyirami bumi dengan hangatnya. Sesekali menerobos dari celah dedaunan yang ada di hutan. Namun, sebagian besar pula terhalang oleh puluhan rimbun pohon di sana. Saat sinar itu sampai di mata Athela, gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali sebelum bola mata birunya benar-benar terlihat. "Kau sudah bangun?" Itu adalah kata pertama yang menyambut Athela ketika terbangun. Seorang lelaki berkimono oranye sudah berada di sampingnya sejak tadi. Kali ini dia sedang membuat sesuatu—seperti keranjang persegi panjang yang memikili tutup—dengan menganyam. Saat melihat Athela bangun, lelaki itu sempat menatapnya sejenak. Athela mengangguk, memosisikan dirinya duduk sembari menunggu semua nyawanya terkumpul. Sesekali gadis berambut pirang itu menguap, setelahnya mengucek mata dengan kedua tangan. "Kau...," ucapnya menggantung. Dia sedikit terkejut dengan penampilan Byakko saat ini. Rambut tergerainya sekarang dikuncir ke belakang, sehingga leher dan pipinya benar-benar terlihat secara keseluruhan. "Apa penampilan ini mengganggumu?" tanyanya masih memperhatikan anyamannya. Tangan putih dan kekar itu masih terampil menganyam sesuatu yang hampir saja selesai. Dia sama sekali tak minat menatap wajah cantik Athela saat bangun tidur. "Ah, tidak. Aku baik-baik saja. Kau terlihat berbeda dari kemarin." Athela bangkit dari duduknya dan menghampiri Byakko yang masih sibuk. "Ah, aku lupa," katanya sambil menepuk jidatnya pelan," kan tadi aku punya giliran berjaga." Dia duduk berjongkok di samping Byakko, kemudian memajukan bibir beberapa senti. "Mengapa kau tak membangkunkanku?" "Sudah kulakukan, tapi kau terlalu menikmati mimpi indahmu itu. Kau berkata 'aku berbohong, itu bukan nama pamanku' berulang kali." Mata Athela terbelalak, pipinya memerah sempurna. Apa Byakko tahu akan hal itu? Apakah dia harus menjelaskan akan kebohongannya atas nama yang dia berikan? "Baiklah kita harus bergegas untuk pergi ke Kota Buuj." Byakko akhirnya berdiri saat keranjang itu telah selesai dianyam. Dia mengambil beberapa buah yang kemaein sempat dia petik untuk dimasukkan ke keranjang yang baru jadi itu. Setelahnya menutup dengan rapat-rapat. Namun sebelum itu, dia harus memilih buah mana yang berpotensi busuk untuk dikonsumsi sampai besok. "Eh? Bukankah kita terlalu terburu-buru?" Athela ikut berdiri, dia berjalan sampai ke belakang Byakko. Sekilas dapat dilihat jika gadis itu tengah mengulum senyum manis. Matanya menatap rambut Byakko ketika diikat jadi satu. Dia menggunakan sebuah batang bambu yang dipotong tipis sekali—lebih tipis jika untuk menganyam—untuk dijadikan kuncir. Tangan Athela segera menyambar rambut pirang Byakko. "Bryan, seharusnya seperti ini." Dia mengambil salah satu ikat rambutnya dan mengikatkan untuk Byakko. "Bambu itu hanya akan membuat gatal lehermu. Seharusnya kau berhati-hati dalam memilih sesuatu untuk konsumsi pribadi. Jika saja aku tidak tahu, pasti nanti kau sudah terkena penyakit gatal-gatal di area leher bagian belakang." "Terima kasih." "Bukan masalah." Senyum Athela belum memudar tatkala tangannya masih sibuk mengikat rambut Byakko. Saat sudah selesai, dia hendak menepuk kedua tangannya dengan keras. Namun sebelum itu terjadi, Byakko lebih dulu membalikkan badan—membuat gadis itu kaget sekaligus malu—lalu memegang kedua tangannya untuk bertepuk tangan. "K—kau... apa yang sedang kau lakukan?" Pipinya kembali merah merona. "Jangan membuat suara di tengah hujan seperti ini jika kau tidak ingin bertemu dengan binatang buas." Diam sejenak. Detik berikutnya Athela tertawa. Tawa yang penuh dengan keceriaan. Tawa itu disinari oleh sang Matahari, membuat Byakko sedikit mengerjapkan mata. "Mengapa aku harus takut akan keberadaan binatang buas? Dari kemarin bukankah aku sudah berhadapan dengan binatang buas? Bukan begitu, Byakko?" Tawanya semakin menjadi saat melihat wajah Byakko yang sedikit tidak mengerti. Jarang-jarang sekali dia bisa melihat wajah Byakko yang seperti itu. Dia kembali tertawa, kedua tangannya melepaskan diri dari Byakko, dan menutupi mulutnya sendiri agar tawanya tidak terlalu kencang. "Aku bukan hewan—" "Tapi kemarin kau berkata jika, 'aku hanyalah harimau'," kata Athela sembari menirukan persis nada Byakko semalam ketika mereka berada di sungai. "Aku roh harimau." "Tapi kan tetap saja, namanya juga harimau." Byakko diam tak menanggapi, kemudian membalikkan badan dari Athela yang masih tertawa cekikikan dan meninggalkan gadis itu sendirian. "Hei, apa kau marah?" "Tidak, hanya sedikit kesal." "Itu berarti kau sedang marah." "Kubilang tidak, aku hanya sedikit kesal. Bukan marah." Athela tertawa sembari berlari mengejar langkah Byakko yang besar-besar keluar dari hutan untuk menuju ke Kota Baaj. Selain singgah di sana, mereka juga butuh membeli sesuatu—seperti baju Byakko yang terlalu mencolok itu. Untung saja Athela sempat membawa uang—walaupun sedikit, cukup untuk membelikan Byakko baju. "Kau sepertinya memang marah." "Tidak." Athela mencoba menyejajarkan langkah dengan Byakko, lelaki di depannya yang berjalan secepat kilat. Dari belakang dapat dilihat kimono oranye milik lelaki itu yang bergerak-gerak, dengan rambut yang sekarang diikat membuat dadanya berdebar hebat. Punggung lelaki itu benar-benar indah. "Omong-omong, Bryan, apa kau tidak bisa berubah menjadi harimau lagi dan membawaku ke sana dengan kecepatan penuh?" "Aku tidak bisa melakukan pergantian wujud semudah itu. Aku hanya bisa menggunakannya saat genting saja." "Kenapa?" "Wujud harimau itu memiliki tekanan sihir yang banyak. Jika dalam wujud manusia, tekanan sihir itu akan menghilang. Jika aku tetap menggunakan wujud itu saat sedang bersamamu, itu akan sangat membahayakanmu." "Apa maksudmu?" "Tekanan sihir itu bisa mengundang makhluk sihir rendah mendekati kita. Kau masih ingat kemarin ketika kita mengalahkan Al bersaudara? Mereka datang ke tempat kempingmu karena merasakan tekanan sihir yang besar dari wujud byakko milikku. Dan setelah melihatmu, mereka tahu jika kau adalah sang keturunan asli. Kau tahu maksudku?" Athela mengangguk. "Jadi menurutmu aku akan ketahuan jika mereka melihat tubuhku?" Byakko mengangguk. "Agar mereka tidak mendekatiku, kau mengubah dirimu menjadi seorang manusia?" Sekali lagi dia mengangguk. Rambut pirangnya kembali bergerak. "Aku berharap tidak lagi memakai wujud byakko lagi di depanmu." Athela berdeham sedikit, mereka sepertinya telah berjalan sejauh lima ratus meter. Sembari berdeham, gadis itu menatap ke sekeliling untuk melihat-lihat tanaman. Beberapa kali gadis itu memetik daun-daun yang tidak dikenali Byakko agar dimasukkan ke dalam keranjang berisi buah itu. "Apa yang sedang kau lakukan?" "Memetik daun. Memangnya apa lagi?" "Untuk apa daun itu? Tidak bisakah kau berhenti membuang-buang waktu dan tenagamu dengan tidak melakukan hal-hal bodoh seperti itu?" Athela tersenyum, kemudian menatap ke belakang, Byakko sedang berdiri di belakang untuk menungguinya memetik daun. "Jika kau tidak segera mengakhiri kegiatan konyolmu itu, kita akan—" Tiba-tiba perkataan Byakko terhenti. Dia sedikit terkejut saat sebuah jemari telunjuk lentik berada di bibir merahnya. "Kau harus memercayaiku kali ini," kata Athela dengan tersenyum. "Aku bisa membuat ramuan dari daun-daun ini. Jika nanti kita berbaur dengan manusia, kau tidak boleh menggunakan kekuatanmu. Saat itu pula, ramuan penyembuh yang kubuat akan digunakan. Apa kau paham?" Byakko menaikkan satu alisnya, lalu menatap salah satu jemari milik Athela yang berada di bibirnya. Setelah itu matanya beralih menatap wajah Athela yang memerah sembari tersenyum. "Mengapa wajahmu memerah? Apa kau sedang sakit?" Gadis bermata biru seperti langit itu menggeleng, dia kembali tersenyum. "Aku hanya suka dengan sikapmu saat ini, tidak seperti kemarin saat pertemu denganku yang terlalu kaku." Byakko memegang pergelangan tangan milik Athela, membuat wajah gadis itu semakin memerah. Mata oranye milik Byakko menatap bola mata Athela yang biru, sebiru kristal. Saat Athela menatap bola mata lelaki itu, dadanya berdebar hebat. Apalagi saat tangannya disentuh oleh pemuda itu, seakan ada aliran spektrum kecil yang menyengat. Gadis itu mengatur napas. Pipinya menggelembung, mencoba menyembunyikan rona merahnya agar tidak dilihat Byakko. Byakko membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, pipi Athela mengerjap beberapa kali. Apa yang akan dia katakan? Kedua mata mereka beradu pandang. Mata indah yang membuat d**a gadis itu berdegup kencang. "Baiklah." Dia menyingkirkan tangan Athela dari mulutnya, kemudian mendahului gadis itu berjalan. Ternyata lelaki itu menyebalkan! Athela mendengkus, kemudian kembali menyejajarkan langkahnya dengan Byakko. Lihat saja jika sampai di Kota Baaj nanti, aku akan membalasmu! katanya dalam hati. Kedua manusia itu tidak tahu jika ada sesuatu yang berbahaya tengah menunggu mereka di Kota Baaj. Sangat berbahaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN