Sebuah kota ramai dengan berbagai macam manusia berkumpul jadi satu di beberapa tempat. Lelaki, perempuan, tua, muda, hampir seluruh ras didominasi oleh manusia. Beberapa duyung dan penyihir menyusup di antara mereka, menyamar menjadi seorang manusia—memakai baju dan berperilaku layaknya manusia biasa.
Keramaian itu menimbulkan kebisingan. Suara tawar-menawar di sana-sini tengah terjadi, seperti bertalu-talu saling menjawab kegundahan masing-masing. Lelaki berjubah hitam dengan memakai sepatu bot mendatangi kedai roti. Saat berjalan, kakinya seperti tak benar-benar menginjak di tanah. Dua gadis berambut hijau dan perak sedang mencari bahan katun terbaik untuk dijadikan sebagai baju sehari-hari yang nyaman. Penyamaran mereka sepertinya berhasil—atau mereka memang sudah lihai berpenampilan seperti itu karena telah lama hidup di dunia manusia, jadi tidak ada yang mencurigai mereka sebagai seorang penyihir dan putri duyung.
Di tengah-tengah pasar, ada sebuah air mancur raksasa yang tingginya hampir sepuluh meter dengan diameter kolamnya sekitar delapan meter. Air mancur itu dijadikan simbol ikonik bagi Kota Baaj sendiri. Bagi mereka, Kota Baaj memilili harapan yang akan selalu mengalir dan tidak pernah berhenti seperti air mancur besar itu yang dibangun oleh raja terdahulu. Konon waktu pembuatannya sekitar delapan ratus tahun yang lalu.
Di sebelah barat daya terdapat banyak burung yang masuk dalam kerangkeng yang terbuat dari kayu. Bentuknya setengah lonjong, persis seperti penjara burung yang biasa Athela lihat.
"Kota ini terlihat lebih norak dari perkiraanku." Dia menghela napas pelan. Tadi saat Byakko bercerita jika kota tujuan mereka adalah kota yang begitu ramai, kini dia harus memakan rasa menyesal hingga kenyang. Dia kira, definisi ramai akan seperti pasar pada umumnya—banyak orang dengan gedung-gedung tinggi dan gemerlap lampu peh dengan kemewahan, seperti kota zaman sekarang.
Namun yang dia lihat hanyalah sebuah pedesaan kecil yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai seorang pedagang. Rumah-rumah serta stand mereka dikunjungi oleh beberapa pelancong yang melakukan petualangan. Persis seperti dunia fantasi yang selalu Athela tonton dalam anime dan dia baca di manga.
Yang berbeda keadaannya sekarang ini, tidak banyak manusia yang memiliki hewan peliharaan—naga kecil, mungkin? Kucing aneh yang berwarna hitam dengan mata kuning berjalan tanpa memedulikan sekitar, saat sampai di pemiliknya dia mengeong seakan tengah berbicata dengan sang majikan.
"Ini kota terbesar di wilayah timur Negara Cetigid." Byakko membenahkan kimononya, berjalan mendahului gadis di belakangnya yang masih terheran-heran dengan sistem jual beli di sini.
"Tetapi aku tidak mengira kota sebesar ini terlihat begitu kuno. Dan yang paling penting sebelum kau melangkahkan kaki menuju ke sana, apa kau punya mata uang negeri ini?" tanya Athela dengan sedikit menyindir, dia masih mengamati keadaan ramai pasar tradisional yang kuno itu, seperti kembali ke zaman barter. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada lampu, dan tentu saja tidak ada alat-alat yang menunjang perdagangan.
"Kau masih punya sisa uang, kan? Cukup mampu untuk membeli dua pasang baju—atau jubah, apa pun itu yang paling penting bisa menekan tekanan kekuatan kita."
"Aku? Harus?" Gadis berambut pirang itu mendengkus kesal. Jemari telunjuknya menunjuk diri sendiri dengan malas. "Mengapa aku juga?" tanyanya. Dia menatap Byakko yang lebih dulu berjalan meninggalkannya.
"Kau kan juga mempunyai hawa kekuatan yang sangat besar. Tekanan itu akan mengundang berbagai macam makhluk untuk mendekati. Kadang ada yang penasaran, ada pula yang ingin mengajak bertanding satu lawan satu."
"Memangnya mengapa mereka bertanding satu lawan satu ketika bertemu orang yang memiliki tenanan energi besar?"
"Biasanya mereka ingin mengukur kemampuan bertarungnya sendiri dengan mengorbankan diri. Jika kebetulan lawannya terlalu lemah, mereka akan merasa jika kekuatan mereka meningkat.
"Namun sebaliknya, jika bertemu dengan yang lebih kuat, bisa saja dia mati. Tergantung si pemilik kekuatan terkuat, akan menghabisi lawannya atau membiarkannya. Biasanya, mereka akan langsung dibunuh. Tak jarang pula di antara mereka ada yang berbaik hati memaafkan. Dan pada intinya, nyawa yang lemah tergantung pada si kuat. Itulah orang-orang yang begitu berambisi untuk memiliki kekuatan."
"Apa menurutmu jika kita tidak menyembunyikan hawa kekuatan, bisa saja kita diburu?"
"Tentu saja. Maka dari itu kita harus berganti pakaian serbatertutup—setidaknya sebelum kita mengunjungi ahli tempa pembuat segel terkenal di daerah sini."
"Jadi kita akan mengunjungi pandai besi ahli tempa?" Byakko mengangguk.
"Walaupun kekuatanku sudah tersegel, tetapi tetap saja sisa kekuatanku yang tidak tersegel ini masih mengundang para makhluk datang. Jika mereka melihatmu, sudah pasti mereka akan segera menghabisimu." Dia berkata dengan agak sombong.
Cih, baru saja Byakko tengah memamerkan kekuatannya yang tumpah-tumpah itu.
"Omong-omong, bagaimana kabar klan mermaid yang tidak tahu-menahu soal aku yang jadi keturunan murni sang penyihir sepanjang masa itu?"
Mereka berjalan melewati beberapa manusia yang sedang berdesak-desakan. Mendorong-dorong diri mereka untuk mendekatkan diri ke tempat tujuannya masing-masing.
"Kau bisa menjualnya kepadaku seharga lima ratus relarr."
"Tidak, tidak bisa, Tuan. Harganya sudah pas seribu relarr, tidak bisa ditawar setengah harga."
Byakko masih memimpin di depan, tak menjawab pertanyaan Athela tadi. Sepertinya, lelaki itu sekarang jadi bahan perbincangan karena terlalu mencolok. Mirip pelancong luar negeri—lebih tepatnya Jepang—yang begitu tampan, seperti karakter-karakter animasi dari Negeri Sakura tersebut. Apalagi ketika berkimono, dengan rambut pirang putih membuat para gadis tak bisa membiarkan mata mereka beralih dari Byakko.
"Siapakah lelaki itu? Tampan sekali!"
"Kau lihat, rambutnya benar-benar indah."
Sekali-dua kali gadis itu mendengarkan percakapan super menyebalkan dari para gadis yang tak sengaja mereka lewati. Dengan sedikit berlarian dan menerobos paksa para manusia yang tengah berdesakan, dia berjalan di samping Byakko, mengikutinya dari belakang seperti sepasang kekasih.
"Itu siapa? Kekasihnya?"
"Wah, lelaki tampan itu sudah mempunyai kekasih ternyata."
"Kekasihnya jelek sekali jika dibandingkan dengan dia."
"Tidak mungkin pria tampan itu mau memacari gadis itu. Paling itu pembantunya."
Perkataan manusia terakhir itu membuat Athela tersenyum malas. Para manusia syirik yang sekarang tengah menghujat dirinya kemungkinan besar ingin berada di posisi yang dia tempati sekarang ini.
"Jangan pedulikan mereka, beradalah di sampingku." Dengan cepat Byakko menarik tangan Athela dan membuat gadis itu berdiri di sampingnya.
Pipi Athela memerah sempurna. Dia menatap sekeliling orang yang juga menatapnya. Mereka sedang menjadi pusat perhatian saat ini. Jika tadi hanya Byakko, sekarang menjadi mereka berdua. Pikirnya tersenyum senang karena mendapat pembelaan dari Byakko.
Beberapa menit kemudian saat sampai di toko paling pojok, mereka berhenti. Sebuah bangunan tua berdinding kayu yang sudah dicat warna cokelat berdiei di depan mata. Bangunan bergaya klasik dengan aksen ala-ala rumah kayu, dengan atap berbentuk setengah lingkaran. Di atas atap sana ada sesuatu yang seperti menara, juga terbuat dari kayu. Atau lebih tepatnya rumah biasa berukuran kecil, berfungsi seperti pajangan saja.
Byakko masuk, kaki telanjangnya menyentuh tanah hitam yang tidak ada tekstur. Sampai di depan saja tanah itu. Di bagian depan sudah ada lantai yang dibuat dari campuran semen dan pasir—tidak menggunakan keramik, sepertinya di antara semua toko hanya inilah toko yang paling sederhana. Entah pemilikmya tidak punya uang untuk memperbaiki atau sekadar sebagai hobi saja. Barangkali sang pemilik toko menyukai hal-hal yang sederhana.
Athela ikut masuk, mata birunya dia edarkan ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada pelanggan selain mereka. Beberapa pakaian siap dipakai ditata rapi di rak-rak bagian tengah bangunan ini, lalu dindingnya hingga atap benar-benar terbuat dari kayu. Dia jadi membayangkan bagaimana wujud sang pemilik toko ini. Apakah seorang pria tua dengan janggut lebat sampai di d**a? Ataukah kakek tua dengan kacamata yang bertengger di telinga dengan mata sinisnya, penikmat desain klasik di era dulu.
Namun sebelum dia memikirkannya terlalu jauh, Byakko sudah dulu berbincang dengan seorang gadis berambut merah muda yang matanya dibingaki dengan kacamata. Dia memakai baju serbahitam dengan sentuhan warna putih di bagian d**a. Di rok yang tingginya lima sentimeter di atas mata kaki, ada sebuah renda putih yang menambah kecantikan pakaian pelayan yang gadis itu kenakan.
Athela segera mendekat.
"Baju yang berukuran seperti Anda biasanya harganya dua ribu relarr, Tuan. Tidak ada yang lebih murah dari itu."
Byakko segera menatap Athela, gadis itu semakin mendekat.
"Ada apa?" tanyanya.
"Pria ini ingin membeli baju dengan harga lima ratus relarr, sedangkan standar baju di sini paling murah seribu relarr." Dahi Athela sedikit mengernyit. Sebelum ini dia tidak pernah ke pasar dan menawar barang. Biasanya gadis itu pergi berbelanja ke supermarket, jadi tidak tahu bagaimana caranya tawar-menawar.
"Kau memasang harga baju seperti itu dengan harga mahal, ya?" Athela mengangguk-angguk. Sepertinya perlu dicoba. Barangkali cara ini bisa berhasil.
"Itu harga pasaran, Nona. Bahkan bisa dibilang, seluruh pakaian di sini sangat murah. Kau tidak akan menemukan harga semurah itu walaupun keliling ke Kota Baaj berapa kali pun."
Sekarang dia menghela napas. "Hah, memangnya di mana pemilik rumah yang hampir roboh ini? Aku butuh komplain dengannya."
Gadis berambut merah muda itu menelan ludahnya sendiri. "Maaf, saya sendiri pemiliknya."
Byakko memasang wajah datar, sedangkan Athela memerah sempurna. Separuh malu, separuh takut. Pikiran gadis itu kalut, membuatnya salah tingkah.
Tiba-tiba Byakko menarik pergelangan tangan milik Athela dan menjauhkan dari sang pemilik toko.
"Kau pilihlah saja jubah yang paling murah dan pas untukmu. Aku akan mencoba merayunya."
"Kukira... pemiliknya om-om tua—"
"Kau terlalu ceplas-ceplos saat berbicara. Kau harus belajar mengendalikannya."
Byakko segera meninggalkan Athela yang merengut. Bibirnya maju beberapa senti, kemudian dia melihat punggung lelaki itu yang bergerak-gerak.
"Nona, maafkan atas kelancangan temanku barusan."
Pipi gadis itu memerah sempurna saat Byakko mendekatkan diri padanya. "Ah, ti—tidak papa," jawabnya dengan tergagap.
"Memangnya benar tidak bisa ditawar, atau memberi kami harga murah?" Dia menggeleng keras-keras, hendak mengiyakan hal itu tapi sepertinya lidah perempuan itu kelu.
"Yah, jika saja kau bisa memberikan kami separuh harga, kau bisa memintaku sesuatu—dan tentu saja aku akan melakukan sesuatu padamu."
Mata gadis bulat itu berbinar dan pipinya semakin merona merah. Dia menatap mata jernih milik lelaki di depannya yang sedang berpenampilan aneh. "Sungguh kau akan melakukan apa yang kuminta?"
"Iya, misalnya bersih-bersih, atau cuci pir—"
CUP!
Sebuah bibir merah mendarat di bibir Byakko. Dia sempat terkejut, tetapi detik berikutnya diam saja. Tidak ada reaksi aneh selain itu.
Sedangkan Athela yang saat itu memilih-milih model baju dan mengawasi mereka terbelalak sempurna. Wajahnya memerah menahan marah. Entah untuk ukuran gadis sekolah menengah atas sepertinya, orang-orang mengungkapkannya dengan kata: cemburu.
Kecemburuan gadis itu tak bisa terelakkan. Bisa-bisanya, Byakko, yang selama beberapa hari ini berpetualang bersama dengannya sedang berciuman dengan seorang gadis aneh. Gadis genit. Seharusnya, kan, dia! Bukan gadis itu!
Lagi pula, kenapa Byakko diam saja dan tak melakukan perlawanan? Mereka terlalu jauh melangkah walaupun hanya untuk meminta potongan harga.
Cih. Cih. Cih.
Gadis bermata biru itu mendecih beberapa kali, menyumpah-serapahi gadis yang berani mencium Byakko mendahuluinya.
Tangannya meremas baju-baju itu. Lalu dia mengalihkan pandangan. Tidak ingin melihat lebih jauh hal itu. Dia tidak ingin hatinya lebih sakit.
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya. Dia menoleh, melihat wajah datar Byakko dengan sekantung plastik yang berisi dua pasang pakaian milik mereka.
"Kita sudah mendapatkannya, ayo kembali."
Tanpa disuruh pun, Athela sudah ingin menginjakkan kaki dari bangunan ini sejak beberapa menit yang lalu. Dia menatap Byakko sinis.
"Sepertinya bahagia sekali saat mendapatkan sesuatu bermodal ketampanan dan bujuk rayu." Mereka keluar, Athela mendahuluinya.
"Apa maksudmu?"
"Lupakan. Aku tidak ingin berbicara dengan lelaki yang mudah sekali menggoda gadis-gadis cantik."
"Aku tidak menggodanya."
"Lalu apa tadi itu? Kau kira sebuah ciuman akan tercipta tanpa adanya yang memulai?"
"Aku tidak memulai. Memangnya kenapa? Kenapa kau sewot sekali?"
"Kau menyebalkan. Seharusnya ciuman pertamamu bukan gadis itu. Kau sangat menyebalk—"
Tiba-tiba sebuah pedang berayun ke leher Athela, membuat gadis itu menghentikan perkataannya. Namun sebelum itu, secepat kilat Byakko menahan tangan sang pemegang pedang.
Menurut rumor, seorang lelaki dengan sepatu bot dan memakai pakaian serbahitam, dengan membawa sebuah pedang tajam yang katanya mampu membelah Pohon Oak sekalipun. Dia memakai jubah dan tudung hitam.
Matanya merah yang sekali kedipan bisa membunuh manusia-manusia biasa. Seorang ahli bela diri yang tidak terkalahkan ketika memegang sebuah pedang yang bahkan mampu membelah lautan.
Rumor yang baru-baru ini dia dengar dan menjadi hangat diperbincangkan, Sang Pendekar Pedang.
Sekarang ini sedang berada di depan mereka.
Dan, memegang sebuah pedang.