Mata dan sebagian besar wajahnya tertutup tudung kepala. Yang terlihat hanya bibir yang sedang menyeringai kepada mereka.
Athela masih membelalakkan mata, dia menatap seorang lelaki di depannya yang tadi sudah membunuhnya jika Byakko tidak berada di sana. Dadanya seperti belum selesai berdegup kencang sampai sekarang, kemungkinan terburuk jika tadi dia sudah dibunuh membuat gadis itu bergetar ketakutan. Apalagi ketika melihat pedang yang hendak digunakan untuk menghabisinya tepat berada di depannya.
"Apa tujuanmu sebenarnya?" Byakko berkata dingin, matanya juga menatap lelaki itu dengan dingin. Benar-benar versi esnya Byakko saat ini. Jika tidak sedang berada di situasi saat ini, sudah pasti Athela akan memuji Byakko karena lelaki itu benar-benar keren.
Tadi saat ayunan pedang itu digagalkan Byakko, lelaki itu sempat terkejut beberapa detik. Namun sampai sekarang, dia tak kunjung menjawab pertanyaan dari lelaki bersurai putih itu.
"Mengapa kau menyerang kami?" Tanpa peduli apakah lelaki di depannya akan menjawab, Byakko masih melancarkan bicaranya. Dia berkata dingin dan ketus, membuat ketampanannya menambah dua puluh lima persen.
Para orang yang tak sengaja berlalu-lalang di sana pun melihat kejadian itu dengan bergidik, kemudian ingin segera cepat-cepat pergi dari sana. Tidak ingin mencari mati dengan berurusan dengan Sang Pendekar Pedang.
Tangan sang pendekar pedang itu digenggam erat-erat oleh Byakko, sengaja dilakukan agar dia tidak melarikan diri.
"Kau mau menyelesaikan permasalahan ini di luar sana?" Saat mendengar itu, Sang Pendekar Pedang mencoba melepaskan tangannya, dan Byakko kali ini melepaskannya.
"Kita akan melakukannya di hutan, kau mengerti?" Byakko berkata santai, tetapi Sang Pendekar Pedang berjalan tergesa mendekati hutan.
Byakko benar-benar bodoh! Athela menghela napas pelan. Siapa tadi yang bilang jika mereka tidak boleh terlibat perkelahian, lalu memintanya untuk membeli jubah hingga menawar dengan ciuman.
Dia mengikuti Byakko yang saat ini sedang berjalan santai. Kaki-kaki kecilnya menginjak tanah hingga bergetar sedikit. Mata birunya menatap kaki Byakko yang sekarang sudah memakai alas kaki—mungkin si pemilik toko tadi yang memberikannya, bahkan jubah untuknya pun dapat gratisan. Hanya dia yang membayar tadi.
Pro memang jika masalah perempuan. Atau jangan-jangan, selama ini Byakko sudah sering seperti itu?
Batinnya kalut. Barangkali sejak dia hidup, lelaki itu sudah pernah mencintai beberapa wanita dalam hidupnya, atau dia menjadi seorang playboy karena tampangnya yang di atas rata-rata itu.
Ah lagi pula, mengapa kini dia memikirkan seperti itu? Matanya beralih ke punggung Byakko. Lelaki itu ternyata sejak tadi sudah menutupi seluruh badanya menggunakan jubah, itu berarti saat ini Sang Pendekar Pedang tidak tahu jika laki-laki yang sekarang sedang mengikutnya dengan santai adalah seekor Byakko.
Entah kali ke berapa, gadis itu kembali menghela napas. Mungkin ini yang dinamakan termakan omongan sendiri. Kaki-kakinya yang sejak tadi melangkah mungil kini diperbesar, dia menyejajarkan langkah dengan Byakko. Saat mereka melewati orang-orang, tidak ada yang memuji ketampanan Byakko seperti tadi. Yang ada hanyalah mereka memperhatikan Sang Pendekar Pedang. Sudah pasti mereka akan melihat rumor itu.
Acapkali mereka bergidik ngeri, kadang juga ada yang menyingkir tidak ingin melibatkan diri dengannya. Mereka takut jika Sang Pendekar Pedang menghunuskan pedangnya. Rumornya, semua orang yang melihat Sang Pendekar Pedang menghunuskan pedang, mereka tidak akan kembali hidup-hidup.
Lalu mereka menatap Athela dengan tatapan menyedihkan. Mungkin mereka pikir jika Athela adalah seorang tawanan. Saat mereka menyadari keberadaan Athela, begitu pula lelaki berjubah hitam di depannya. Mereka semakin menatap Byakko dengan tatapan menyedihkan.
Ah, andai mereka tahu jika orang yang mereka tatap dengan menyedihkan itu bahkan bisa menghancurkan kota ini dalam sekali auman. Andai saja mereka tahu.
"Apa kau gila?"
"Aku sehat-sehat saja."
"Kau tidak boleh mengeluarkan kekuatanmu ketika sedang berada di sini kecuali dalam keadaan terancam."
"Aku tahu, dan kita sekarang ini sedang terancam, bukan?"
Ingin sekali Athela menggetok kepala Byakko yang tertutup tudung. Sayang, selain dia tak berani, dia juga tidak mau. Lelaki di sampingnya ini benar-benar menyebalkan.
"Kita tidak akan mendapat masalah jika kau tidak berkata seperti tadi."
Byakko tertawa kecil.
Ini kali pertama mata biru gadis itu melihat sesuatu yang berbeda—seorang Byakko tengah terkekeh kecil di sampingnya. Walaupun memakai tudung, dalam jarak sedekat itu dia dapat melihat bibir Byakko yang sedang membuka, memamerkan gigi-gigi berderetnya yang putih.
Dia terlihat begitu tampan.
Belum pernah dia melihat Byakko setampan itu. Melebihi tampan saat masih berada di mode es.
"Santai saja, aku tidak akan menggunakannya. Aku hanya ingin mengukur pertarungan jarak dekatku."
Athela menelan ludah. Bisa-bisanya Byakko mau mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk mengukur kemampuannya.
Ya, meskipun dia tidak yakin Pendekar Pedang itu bisa mengalahkan Byakko.
Lelaki itu memang tidak bisa dimengerti, ya.
Selama kurang lebih lima menit berjalan, akhirnya mereka menjauh dari pemukiman kota.
Dada Athela berdebar hebat saat beberapa menit kemudian mereka beradu kecepatan.
Sang Pendekar Pedang mengayunkan pedangnya di leher Byakko tanpa diduga-duga. Dan Byakko menghindari serangannya selama bertubi-tubi.
Kaki-kakinya menapak di tanah. Sekali, dua kali, tiga kali. Berkali-kali dia mengayunkan pedang, di situ Byakko bisa menghindari. Sesekali bibir Byakko bergerak seperti sedang berbicara sesuatu kepada Sang Pendekar Pedang.
Athela menyaksikan pertarungan yang berat sebelah itu dari tempat agak jauh darinya. Dia menatap mereka bergantian. Sepertinya Byakko sangat menikmatinya, sedangkan Sang Pendekar Pedang berusaha untuk menggoresnya. Meski sedikit, Sang Pendekar Pedang itu yakin jika setelah menggores pertama dia bisa menggores selanjutnya.
"Apa kau sedang berpikiran seperti itu?" Kali ini Byakko berteriak. Pergerakan mereka susah dilihat oleh mata t*******g Athela. Gadis itu memicingkan mata sedikit demi sedikit, barangkali dengan melakukan itu dia bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Berpikiran apa?
Yang ditanya belum menjawab sepatah kata pun, dia masih sibuk mencari celah Byakko untuk dia tembus. Kaki-kakinya menari di tanah, tangan dan badannya meliuk-liuk seperti ikut menari. Walaupun Athela masih sangat awam, tetapi bisa dilihat jika gelar Sang Pendekar Pedang miliknya itu bukan hanya julukan saja, tetapi benar-benar kemampuannya seperti pendekar.
Namun sayangnya, sekuat apa pun manusia, dia tidak akan bisa menang melawan Byakko, sesosok makhluk mitologi yang berwujud harimau putih itu. Jika lelaki itu tahu bahwa lelaki yang sekarang sedang dia hadapi, Athela tidak yakin jika dia akan mau menantangnya.
Sekali, dua kali, tiga kali, Pendekar Pedang itu masih mengayunkan pedangnya, seperti tengah mencoba berkali-kali.
Tiba-tiba mata Athela terbelalak saat sedetik kemudian pedang itu mampu menggores lengan Byakko.
Awalnya Byakko terlihat kaget, tetapi dia kembali menghindari ayunan pedang dari berbagai arah itu dengan piawai.
"Kau berpikiran jika kau bisa menghabisiku dengan langkah pertama kali goresan, kan? Karena menurutmu, sekali goresan bisa membuatku panik dan tidak memiliki keseimbangan."
Dada Pendekar Pedang itu naik turun, sepertinya dia kelelahan.
"Seperti yang kau tahu, luka sekecil itu tidak bisa memengaruhiku."
Bagi Athela, mata biru yang masih amatir dalam hal peperangan itu, berkata bahwa tadi Byakko sedang menyiapkan celah agar Pendekar Pedang itu bisa melukainya.
Mungkin dia ingin berkata kepada Pendekar Pedang, jika kepercayaan teknik satu kali goresan itu tidak selamanya munjur, apalagi jika berhadapan dengan makhluk jadi-jadian seperti Byakko. Mungkin jika manusia, bisa saja terjadi.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu menyerang gadis yang saat ini sedang berada dalam pengawasanku. Tapi kau benar-benar membuatku marah hingga ingin membuat dirimu tercabik-cabik."
Napas Sang Pendekar Pedang semakin pendek-pendek, dia sepertinya sudah diserang rasa lelah. Namun, sejak tadi Byakko belum menyerang sekali pun. Lelaki itu selama pertandingan berlangsung hanya sibuk menghindari ayunan pedangnya.
Seperti Byakko sedang meremehkannya.
"Kau...."
Tiba-tiba tangan kanan Byakko memukul perutnya, dia mengaduh kesakitan. Sedangkan di tangan kiri lelaki itu menahan tangannya yang memegang pedang. Kejadian itu berlangsung secepat kilat, hingga Sang Pendekar Pedang tidak bisa mempertahankan keseimbangan.
Setelah keseimbangan Sang Pendekar Pedang hancur, Byakko segera memegang kedua tangannya, lalu mengikat tangannya. Sang Pendekar Pedang terduduk.
Byakko berjongkok, membuka tudung itu dengan wajah dingin. Matanya seperti sedang berkata, "Berani sekali kau mengganggu gadis yang sedang berada dalam pengawasanku."
Saat dibuka, sebuah wajah muncul. Bukan, bukan wajah asli, tetapi sebuah topeng. Topeng dengan mata merah dan wajah menyeramkan, bibirnya terlihat menyeringai. Jika dilihat manusia biasa, mungkin mereka akan berteriak ketakutan. Ini seperti wujud yang mereka desas-desuskan. Wajahnya terlampau ngeri. Untung saja Byakko yang melihat, jadi dia tidak terkejut.
"Siapa kau? Memakai topeng mengerikan seperti ini." Byakko membuka topengnya, lalu muncullah wajah seorang gadis cantik yang sedang menggigit bibir untuk menahan sakit.
Byakko masih memasang wajah datar, tetapi kemudian dia sedikit keheranan. Jika Athela di sini, dia pasti akan terkejut dan mengatakan: "Kau perempuan? Kukira laki-laki". Namun, tidak ada perkataan itu.
Mungkin Athela terlalu takut mengatakan itu. Dia menatap ke belakang, melihat tempat di mana Athela berdiri—
Mata Byakko terbelalak sempurna.
Athela tidak ada di sana!
Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru hutan, tetapi tidak ada jejak yang tertinggal mengenai di mana Athela berada.
Lantas, dia menatap ke arah gadis itu. Matanya tajam.
"Bukan aku. Aku tidak tahu. Aku pun juga baru tahu jika gadis itu menghilang," elaknya sembari mengerang kesakitan.
"Jika bukan kau, lalu siapa?" Barangkali gadis itu sedang berpura-pura, begitulah pikir Byakko.
Gadis itu mengendikkan bahu. "Aku benar-benar tidak tahu."
Mata Byakko tiba-tiba berubah menjadi merah menyala, seperti di bola matanya ada sebuah kobaran api yang siap memangsa gadis itu.
Dia menelan ludah. "Aku benar-benar tidak tahu. Aku menyerangnya karena dia mempunyai tekanan kekuatan yang berbeda. Maksudku, aromanya sangat menyeramkan. Aku takut jika dia bisa melukai penduduk sekitar."
Diam sejenak. Sebelum Byakko menjawab, "Apa kau bisa kupercaya? Bukankah kau ini Sang Pendekar Pedang yang sangat ditakuti warga itu karena kebengisannya?"
"Kau bisa memercayakan ini kepadaku. Tapi jika dugaanku memang benar, kau harus kulenyapkan."
"Kau bahkan tidak bisa menyentuhku. Lagi pula, dia bukan tipikal orang yang memiliki sifat seperti yang kau pikirkan. Dia terlalu lemah dan baik untuk melakukan hal seperti itu."
Ini kali pertama Byakko berkata panjang lebar. Dia menatap gadis itu dengan tatapan tajam. Jika Athela tahu ini, dia pasti sudah kegirangan karena telah dibela oleh lelaki yang sudah mencuri hatinya. Sayangnya itu tidak terjadi, gadis bermata biru itu sedang berada di lokasi yang tidak diketahui oleh Byakko.
Gadis yang diberi julukan Sang Pendekar Pedang itu menunduk, dia menatap Byakko yang hendak melangkahkan kaki.
"Jika itu bukan kau, percuma saja aku menahanmu di sini." Byakko melangkahkan kaki meninggalkan mereka.
"Aku—aku bisa membantumu mencarinya."
Byakko mengentikan langkah.
"Mungkin sebagai permintaan maafku karena telah menuduh kalian."
Lelaki berjubah itu membalikkan badan, menatap mata gadis itu yang penuh dengan kesungguhan. Dia terlihat sedang menimang-nimang apa bagusnya. Dan langkah apa yang paling menguntungkan baginya?
Byakko melangkah mendekatinya, kemudian melepaskan tali itu. Gadis itu tak melakukan perlawanan.
Byakko telah memperhitungkan itu.
"Namaku Kirania Schafer."
Byakko menjawab dengan ketus, "Aku tak butuh namamu."