"Kita tidak akan bisa mencarinya tanpa petunjuk," kata Kirania sembari menyejajarkan langkah dengan Byakko.
Mata mereka awas memandang sekeliling. Langkah mereka dipercepat, apalagi ketika matahari sudah semakin meninggi.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Kirania kembali bertanya, tetapi sepertinya Byakko belum minat menjawab.
"Aku... aku benar-benar minta ma—" Belum sempat Kirania menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Byakko memotong. Membuat gadis itu tidak jadi melanjutkannya.
"Jika kau ingin meminta maaf, maka bantulah cari gadis itu. Permintaan maafmu tidak bisa menyelesaikan masalah."
Panas matahari menyengat, saat ini sang surya sudah berada di atas kepala. Keringat membanjiri seluruh dahi Kirania. Sudah hampir tiga jam mereka melakukan pencarian, tetapi gadis yang dicari belum ditemukan. Pun, tidak ada tanda-tanda di mana gadis itu berada.
"Menurutmu manusia mana yang piawai sekali menghapus jejak? Selama beberapa hari ini aku tidak pernah kesulitan mencari seseorang."
"Ini bukan perbuatan manusia."
Diam sejenak. Tiba-tiba Kirania merasa hawa atmosfer yang berbeda. Pepohonan hijau meliuk-liuk terkena angin, mengempaskan sedikit kulit putihnya dengan sekilas.
Dia pikir, hanya Paman Aziel yang mengetahui situasi ini. Dia pikir, tidak ada orang lagi selain dia dan Paman Aziel yang tahu keberadaan makhluk-makhluk itu.
"Kau siapa?"
"Apa maksudmu? Bisakah kau berhenti bertanya dan cepat bantu aku mencari—"
"Maksudku, tidak banyak orang yang mengetahui tentang makhluk-makhluk selain manusia—bahkan kukira hanya aku dan pamanku. Tapi, mengapa kau juga tahu keberadaan mereka?"
Byakko memberhentikan langkah, gadis itu ikut terhenti. Matanya beralih menatap Byakko yang balik badan menatapnya.
"Sepertinya kau belum mengetahui apa-apa tentang dunia ini."
Dunia ini? Kirania mengerutkan dahi sejenak, batinnya kalut. Ada apa dengan dunia ini? Saat mulutnya terbuka dan hendak bertanya, Byakko lebih dulu membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya.
"Memangnya ada apa dengan dunia ini?"
"Ada banyak sekali makhluk seperti itu—yang belum kau ketahui. Manusia yang mengetahui keberadaan makhluk-makhluk seperti itu pun juga tidak segelintir, walaupun populasinya minoritas dibanding manusia biasa."
"Maksud—nya?"
"Maksudku, kau menjadi salah satu minoritas itu, yang bisa tahu wujud dari beberapa makhluk seperti penyihir, vampir, roh, bahkan werewolf tanpa menyebrangi jembatan dua dunia."
"Jembatan dua dunia?"
"Jembatan antara dunia manusia dan dunia makhluk-makhluk seperti itu."
Byakko tahu, sepertinya gadis itu masih mencerna apa-apa yang telah dia katakan barusan. Namun seperti perkiraannya, dia menangkap informasi ini dengan cepat. Tidak seperti gadis bermata biru yang dia kenal, Athela.
"Me—memangnya ada ya yang seperti itu?"
Kirania menghela napas pelan. Dia menatap punggung Byakko yang bergerak-gerak—tidak, jubahnya yang melambai-lambai terkena angin yang mereka timbulkan dari berjalan tergesa.
"Sebenarnya... kau siapa? Kau tahu persis mengenai ini, lalu kau bisa menghentikan teknik pedangku. Sebenarnya kau ini siapa—tidak, kuganti pertanyaanku. Sebenarnya kau ini apa?"
Byakko masih diam, dia menyusuri hutan yang penuh dengan hijau-hijauan tanaman. Menurutnya, dia tidak perlu menjawab pertanyaan gadis yang bernama Kirania ini.
Semilir angin kembali datang, beberapa daun melambai-lambai menuju arah angin yang dituju. Pepohonan ini bahkan tidak ada jalannya. Kirania mengeluh tatkala kakinya menyentuh semak liar yang membuat kakinya gatal-gatal.
"Tunggu, kakiku gatal."
"Kita tidak punya waktu."
"Tapi, kakiku benar-benar gatal. Aku tidak bisa berjalan cepat menyeimbangi dirimu."
"Jika kau adalah beban, aku akan meninggalkanmu."
"Kau tidak boleh meninggalkanku. Aku sudah berjanji akan membantumu mencarinya."
Byakko menghela napas kesal. Gadis ini bahkan lebih menyebalkan dibanding Athela. Lelaki itu pikir, gadis paling menyebalkan sedunia jatuh kepada Athela. Namun sepertinya dugaan Byakko salah. Kirania menyebalkannya lebih parah, melebihi Athela sendiri.
"Kau—beri tahu aku namamu supaya aku lebih mudah memanggilmu."
"Kau tidak perlu memanggilku."
Kirania mendecih kesal. Setelah dua minggu dia berkelana meninggalkan Paman Aziel, baru kali ini dia berinteraksi dengan manusia. Yang lebih menyebalkan lagi, dia berinteraksi dengan manusia ketus seperti lelaki di depannya.
"Akan ada saatnya nanti ketika aku—"
Belum selesai berbicara, lagi-lagi Byakko memotongnya. Kali ini dia menutup mulut Kirania dengan tangannya, berharap gadis itu tak lagi bersuara.
"Kau diamlah sebentar. Ada seseorang yang akan kemari," katanya sambil berbisik, tepat di telinga kanan Kirania. Pipi gadis itu bersemu merah. Mereka berdua terlalu dekat, bagi Kirania.
Tanpa disuruh dua kali pun, akhirnya dia diam. Beberapa menit kemudian sayup-sayup terdengar langkah kaki yang mendekat. Satu, tidak, dua orang. Dua orang sedang menuju ke sana. Mereka bersembunyi di semak-semak.
"Raja Baren telah mengumumkan pernikahannya?" Suara seseorang yang berat terdengar, diiringi langkah kaki bersepatu bot yang beradu dengan tanah. Sesekali terdengar suara kresek-kresek ketika mereka tak sengaja menginjak daun-daun kering.
"Iya, sepertinya beliau telah menemukan pendamping."
"Bukankah beliau sudah punya istri? Apa dia akan menikahi gadis lagi hingga mempunyai dua istri?"
Mereka sampai di depan mata Byakko dan Kirania. Gadis itu menahan napas, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apa pun.
Dua prajurit lengkap dengan pakaian dinasnya datang. Warna merah menyala, celana panjang hitam sampai mata kaki, dan penutup kepala yang memiliki warna senada dengan celana.
Seorang lelaki tua—yang suaranya berat, dengan seorang lelaki muda—umurnya berkisar dua puluh lima. Mereka membawa sebuah kambing untuk persembahan.
"Kau tidak tahu betapa serakahnya Raja Baren?" Lelaki tua itu menjawab pertanyaan yang muda tadi.
Napas prajurit tua itu naik turun, wajahnya menyiratkan seperti sedang kelelahan. "Kita istirahat di sini sebentar." Dia mengempaskan pantatnya di tanah, kemudian kembali menghela napas. Merenggangkan otot-ototnya.
Lelaki satunya mengangguk dan ikut duduk.
"Kudengar kali ini gadis yang akan dinikahinya lebih cantik dari sebelumnya."
"Gadis berambut pirang dengan mata biru itu, ya? Tadi aku sempat melihatnya. Gadis itu berada di kerangkeng besi manusia."
Mata Kirania terbelalak sempurna. Saat dia hendak membuka mulut, Byakko kembali membungkam mulutnya.
"Jangan bergerak terlebih dahulu. Kita harus membuntuti mereka agar tahu di mana lokasi Athela."
Athela? Jadi gadis berambut pirang itu bernama Athela?
"Raja Baren memang sekejam rumornya, ya. Dulu saat aku direkrut menjadi tentara kerajaan, rumor itu sudah menyebar di wilayah desaku hingga aku bimbang akan menerima pekerjaan ini atau tidak." Kini sang prajurit muda berambut cepak giliran berbicara.
"Lalu mengapa kau menerimanya?"
"Aku ke sini untuk menyelamatkan gadis yang kucintai."
Prajurit tua itu menaikkan satu alis, seolah pertanda jika dia butuh penjelasan.
"Kekasihku ini kembang desa. Bukankah setiap kembang desa akan dikirim ke kerajaan dan dijadikan sebagai pelayan? Paman tahu akan hal itu, kan?" Nada prajurit tua itu agak parau, dia menatap langit biru di atas yang menawan. Mata cokelat kehitamannya menyiratkan gundah gulana, mencerminkan hatinya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Aku ke sini untuk melihatnya setiap hari. Apa pun itu akan kulakukan, yang pasti aku ingin melihat paras cantiknya itu setiap waktu. Walaupun kutahu ketika dia merias diri, riasan itu tidak lagi ditujukan kepadaku, melainkan Raja Baren."
Sang prajurit tua itu menatap hasil buruan mereka hari ini. Seekor kambing jantan yang besarnya seperti meja di ruang tamu milik Paman Aziel—kecil sekali jika dibandingkan dengan meja lain.
"Sebenarnya, sungguh menyakitkan ketika melihat dia tersenyum dan merias diri untuk orang lain. Tetapi, memangnya aku bisa apa? Lagi pula, bisa melihatnya setiap hari saja sudah menjadi kemurahan Raja Baren untukku."
Suasana tampak tenang, mereka duduk bersandar di salah satu pohon besar beranting banyak. Sang prajurit tua itu mengambil beberapa sigaret dan tembakau, kemudian menggulungnya hingga jadi sebuah rokok. Tangan tuanya merogoh kantung celananya untuk mengambil pemantik api. Dua detik berikutnya, lelaki itu sudah menyesap rokok dalam-dalam dan meresapinya.
"Beginilah kalau terlahir menjadi orang yang tidak punya pangkat apa-apa. Memang jika pulang ke desa, kita akan diberikan keistimewaan. Tapi jika dibanding dengan kerajaan, memangnya prajurit seperti kami ini apa? Bisa bertarung mendampingi Raja saja rasanya sudah beruntung. Apalagi prajurit seperti kita yang malah disuruh memburu binatang untuk acara pernikahan."
Perlahan kepulan asap rokok berembus dari hidung dan mulutnya. Lelaki tua itu menyodorkan sigaret dan tembakau kepada sang prajurit muda, tetapi dia menolaknya.
"Carl, kau harus bisa menerima ini semua—menerima takdir kita sebagai seorang lelaki yang tidak akan pernah menikah. Jika aku boleh memberi saran, jangan terlalu larut dengan perasaanmu sendiri. Semakin jauh kau tenggelam, semakin susah pula naik ke permukaan. Jangan lupakan jika di dasar lautan ada tekanan yang begitu besar."
Pria muda yang bernama Carl itu tersenyum kecut, mata jernihnya masih menatap awan yang seputih kapas yang ada di langit biru sana. Dia mendongak dengan menahan sesal dan kecewa yang teramat sangat.
"Aku dan dia ingin bebas dari kerajaan ini lalu menikah. Mempunyai anak, lalu kami bisa hidup bahagia. Sepertinya itu hanya sebuah angan-angan, ya."
Carl menghela napas, dia kembali memasang senyum kecut.
"Sudah, sudah. Sudah berapa lama kita ada di sini? Kambing ini akan segera dimasak."
Mereka pun segera beranjak dari duduk dan membawa kembali kambing berukuran kecil yang akan digunakan untuk persembahan nanti kemudian melanjutkan langkah.
Dari semak-semak, Kirania berkata, "Kita akan mengikuti dua orang itu?" Byakko mengangguk mantap.
Kedua manusia itu merangsek mendekati para prajurit itu dengan mengendap-endap, mencoba agar tidak sampai ketahuan.
Sekitar lima belas menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di sebuah istana megah yang dijaga oleh beberapa prajurit bertombak. Dua puluh meter mereka akan sampai di wilayah kerajaan.
Istana kerajaan itu memiliki dinding semen berbentuk bundar, sedang halamannya sendiri bisa sampai lima belas meter. Lalu di sekelilingnya ada hutan-hutan dan semak belukar yang sepertinya dibiarkan oleh sang raja untuk berlatih pedang, tombak, bahkan panah.
Hanya ada satu jalan menuju jalan utama. Dibangun dengan aspal putih dan dijaga ketat oleh para prajurit kerajaan.
"Apa yang akan kita lakukan? Di depan sana terlalu banyak prajurit. Akan lebih baik jika aku memakai teknik berpedangku, tetapi aku tidak ingin menghilangkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah," bisiknya.
Dia menatap ke sekeliling, area hutan ini tidak selebat tadi. Mungkin karena hutan tempat pertarungan antara Byakko dan Kirania belum terjamah manusia—kalaupun terjamah, paling hanya segelintir orang yang akan melakukannya. Berbeda dengan hutan yag mengelilingi istana. Pasti banyak prajurit atau anggota istana yang sudah memanfaatkan hutan ini, jadi semak-semak di sini tidak terlalu banyak.
"Kita akan menangkap dan menyamar menjadi mereka."
"Kau serius? Bukankah itu trik murahan yang sudah lama? Apa itu akan berhasil?"
"Jika tidak mencoba, kita tak akan tahu hasilnya. Apa kau tidak pernah diajarkan hal semacam itu oleh pendahulumu?"
Setelah berkata seperti itu, secepat kilat Byakko menahan mereka. Kirania menyusul, dia mengayunkan pedangnya di belakang leher kedua prajurit kerajaan itu.
"Ap—apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Carl gugup. Matanya terbelalak sempurna, dia takut bukan main. Lelaki di sampingnya tak kalah jauh, yang berbeda adalah lelaki tua itu hendak mengambil pedang yang sedari tadi berada di sarungnya. Namun sayangnya, sebelum dia berhasil mengayunkan pedang kepada mangsanya, lelaki berjubah serbahitam—yang menjadi mangsanya—dua kali lebih cepat menggenggam tangannya.
"Sudah kuduga kalian tidak bisa bertarung." Byakko menyeringai. "Apakah kalian masih sayang dengan nyawa kalian?" Mereka berdua mengangguk.
"Kumohon... kami akan melakukan apa pun, tapi jangan bunuh kami. Aku... aku...."
"Ya, kami tahu. Kau harus hidup agar bisa melihat kekasihmu lebih lama," jawab Kirania. Setelah sejak tadi gadis itu bergeming, akhirnya sekarang dia berbicara juga.
"Ka—u... kau menguping kami. Kau sudah membuntuti kami sejak ta—"
Kirania mendekatkan pedangnya ke leher mereka. "Benar sekali. Maaf, kami tidak punya pilihan lain selain membuntuti kalian berdua. Kami juga harus menyelamatkan teman kami."
"Te—teman?" Badan mereka bergetar ketakutan.
"Cepat, copot bajumu. Kami akan menyamar sebagai kalian." Kirania berkata dengan agak membentak, membuat kedua prajurit itu ketakutan. Byakko hanya terdiam.
"Tapi... tapi kami—"
"Yang perlu kau katakan kepada kami hanyalah di mana jalan menuju istana selain jalan utama itu. Tidak mungkin, kan, istana sebesar itu hanya memiliki satu pintu?" Byakko mendekatkan diri, mereka mengangkat kedua tangan setelah melepas pakaian. Kirania dengan cepat mengikat mereka.
"Berada di utara dari sini. Kau bisa melihat pintu di sana. Digunakan untuk prajurit dan pelayan kerajaan. Untuk membawa kambing ini."
Byakko berdeham sejenak. "Kau tahu di mana calon ratu itu? Gadis berambut pirang dengan mats biru? Kau tahu di mana?"
Mereka berdua mengangguk ketakutan. "Kami tidak tahu. Kami benar-benar tidak tahu." Mereka meminta ampun, keduanya duduk di tanah.
Byakko menatap mata mereka satu per satu. Matanya menyipit sedikit, kemudian menghela napas. Dia berjalan menuju istana dengan membawa seekor kambing tanpa gugup sedikit pun.
"Kami akan segera melepaskan kalian setelah ini semua selesai. Maafkan kami sebelumnya. Kami benar-benar terdesak. Untukmu, Carl. Aku berdoa semoga suatu hari kalian terbebas dari kekangan kerajaan ini. Seperti arti namamu, bebas. Lalu membuat kisah cinta yang begitu indah dengan kekasihmu itu. Sampai jumpa!" Kirania menyusul Byakko. Gadis itu tersenyum sebelum salah satu dari mereka nantinya terbunuh. Insting Kirania berkata jika itu senyuman terakhir untuk mereka.
Entah apa yang menunggu mereka di kerajaan nanti.