Penyusupan

2019 Kata
"Kita akan menyusup lewat sini." Seorang lelaki bersurai putih sedang mengarahkan seseorang. Gadis yang menyamar menjadi laki-laki. "Apa kau yakin? Bagaimana jika kita...." Suara Kirania terlihat panik, dia baru pertama kali melakukan penyamaran seperti ini. "Itu tidak akan terjadi jika kau bisa mengendalikan kegugupanmu." Mereka sudah memakai seragam, Kirania melipat rambut hitam menawannya itu dengan topi kerajaan, begitupun dengan Byakko. Mata hitam Kirania penuh dengan rasa kecemasan. Sepertinya, untuk ukuran gadis seperti dirinya, akan sulit menerima sandiwara yang akan dia perankan nanti. "Kau dijuluki sebagai Pendekar Pedang dan hanya ini nyali yang kau punya? Kurasa gelar itu terlalu melebih-lebihkanmu." Kambing di belakang mereka mengembik, mengalihkan pembicaraan mereka menjadi senyap seperti kedap suara. Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat. Dari balik pinti yang tertutup itu muncullah seorang wanita berpenampilan pelayan yang berbadan besar, mata bulat berkacamata, dan rambut ungunya sepundak berponi. "Kalian... apa yang kalian lakukan di sini? Cepat bawa kambing itu ke tempat di mana kita akan melakukan ritual!" Matanya menatap Byakko dan Kirania dengan tatapan meremehkan. Byakko melangkahkan kaki, diikuti Kirania. "Jangan sampai kita bertemu dengan para penyihir atau makhluk dari klan selain manusia." Itulah kata terakhir Byakko sebelum mereka berdua berpisah arah. Keduanya akan berpencar. Sesuai rencana yang akan disusun oleh Byakko, setelah masuk sebagai prajurit, Kirania akan menjadi seorang pelayan perempuan dan Byakko akan menjadi seorang prajurit penjaga kamar Raja. Penyamaran Kirania yang kedua kali sepertinya tidak mengecewakan. Rambut hitam menawan yang tergerai, kemudian hidung mancung dan kacamata yang dia ambil dari salah satu pelayan istana cukup membuat penyamarannya berjalan dengan baik. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Gadis itu telah kembali menjadi seorang Kirania, Putri angkat dari Paman Aziel seperti dua minggu lalu. Tidak ada jubah, topeng, bahkan sarung pedang yang membuatnya dijuluki sebagai Sang Pendekar Pedang. Tidak ada lagi Kirania cengeng yang selalu menyesali perbuatannya karena terlalu percaya dengan orang lain hingga membuatnya pergi menjauh dengan Paman Aziel. Andai... andai waktu itu dia tidak mengikuti penyihir yang bisa menyamar jadi Paman Aziel. Andai... andai itu tidak terjadi, pasti sekarang ini hidup dan matinya akan bersama dengan Paman Aziel. Tidak akan menderita seperti ini: hidup dengan bayang-bayang kematian paman yang dia cintai. Begitu menyakitkan, kan? Tak terasa air matanya mengalir. d**a Kirania sakit saat penggalan demi penggalan memori cerita indah bersama lelaki tua itu hadir di kepalanya. Dadanya tak kuasa menahan rasa sakit itu, akibatnya tetes demi tetes air itulah yang menjadi jawabannya. Keadaan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. Jika dia meninggal dengan Paman Aziel, gadis itu tidak akan merasa semenderita ini, kan? Jika dia meninggal dengan paman tua yang sudah dia anggap menjadi ayah, gadis malang itu tidak akan sampai ke sini dan menjadi seorang Sang Pendekar Pedang, kan? Memangnya dia dapat apa dari julukan itu? Siapa yang menginginkannya? Apa pentingnya untuk dia? Napasnya naik turun, dia mencoba untuk tidak menangis di saat-saat seperti ini. Bukankah dia juga seharusnya tidak menyesalinya? Menyesal atas apa yang sudah dia pilih. Apakah tindakannya benar? Ataukah salah? Dia tidak bisa mengetahuinya. Dia tidak bisa mengetahuinya tanpa diberi tahu oleh Paman Aziel. Dia.... Dia benar-benar menyayangi Paman Aziel dengan segenap jiwanya. Sampai-sampai tidak sanggup melihat bagaimana wujud mayatnya. "Paman, beri tahu padaku. Apakah tindakanku ini benar?" katanya kepada diri sendiri dengan tersenyum. Senyum yang menipu. Air matanya masih mengalir, dia dapat melihatnya dari pantulan kaca. Bahkan gadis itu sudah lupa bagaimana caranya tersenyum dengan tulus. Ya Tuhan, dia benar-benar menjadi gadis memprihatinkan yang baru saja kehilangan orang tuanya. Matanya sembap, dia sesenggukan. Tiba-tiba pintu ganti baju pelayan wanita terbuka. Sedetik kemudian terlihat seseorang yang memakai seragam pelayan istana berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas. Gadis cantik berambut biru sepinggang dengan pita rambut yang mengelilingi kepala. Dia menatap Kirania dengan tatapan sedih. Buru-buru gadis cantik itu menutup kembali pintu dan mendekatinya. "Kau... kau kenapa?" tanyanya iba. Kirania tersenyum dan menghapus air mata dengan kedua tangannya. Benar, ini bukan saatnya mengeluh. Dia yakin, jika Paman Aziel masih hidup, lelaki tua yang cerewet itu tidak akan membiarkannya menyerah atas pilihan hidup yang gadis itu pilih dengan sendirinya. "Aku tidak papa," jawabnya sembari tersenyum. Namun, gadis berambut biru itu tak mengindahkan perkataannya. Gadis itu bisa mengerti jika Kirania sedang sedih. "Kau tak bisa menyembunyikan suasana hatimu dengan senyum itu. Senyum manismu itu... tidak bisa membohongiku. Benar-benar tidak mempan." Kedua tangan mungilnya merangkup pipi Kirania. Sorot mata biru seperti kristal itu masih menatapnya dengan tatapan cemas dan khawatir. "Kau... rindu pulang ke desamu, ya? Sudah tidak apa-apa. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk di sini. Tapi, sudah ada aku di sini. Kau tak perlu bersedih lagi atau merasa kesepian. "Nanti, jika saatnya tiba, aku yakin kau juga akan terbiasa. Walaupun aku tahu akan sulit menerima kenyataan jika kita tidak bisa menikah dan mencari kebahagiaan untuk diri kita sendiri." Gadis berambut biru itu melepas kedua tangannya dari pipi Kirania, kemudian duduk bersandar di salah satu meja rias. Matanya menyiratkan penuh dengan kesedihan dan pupusnya harapan di depan mata. Kirania menatapnya, gadis itu menitikkan air mata. Jatuh ke pipi putihnya dengan tidak sengaja, lalu dia seka dengan sapu tangan kotak-kotak berwarna merah miliknya. "Ah, maaf, kau sudah kubuat mendengar cerita yang tidak enak didengar ini. Padahal ini masalahku yang seharusnya aku sendiri yang menyimpan—" "Kau harus berbagi." Kirania memotong pembicaraan gadis berambut biru itu. Mata birunya menatap Kirania. Entah mengapa, tetapi hati Kirania berkata jika gadis ini tidak berbahaya. Mungkin dia sama kesepiannya dengannya, jadi Kirania mampu merasakan apa yang saat ini sedang dia rasakan. "Apa yang kau maksud?" "Maksudku ketika memiliki kenyataan pelik, seharusnya kau berbagi dengan teman agar beban di pikiranmu itu sedikit terangkat. Jangan hanya memikulnya sendirian, pikirkan jika masih ada teman-temanmu yang akan membantu meringankannya. Apa kau paham maksudku?" Kirania tersenyum, mata biru gadis itu berbinar-binar menatap mata hitam legam Kirania. "Terima kasih." Dua kata yang membuat Kirania mengerti akan jawaban atas pertanyaannya tadi kepada Paman Aziel. Sepertinya dia tidak salah, gadis itu tidak salah jika mengambil jalan hidup ini. Dia bisa menolong, ditolong, dan bisa mengerti perasaan teman sebayanya. Jika jalan yang dipilihnya ini salah, gadis itu tak akan pernah mendapat itu. Terlebih lagi, dia tidak akan pernah mempunyai teman. "Gadis kecil, kau harus bisa membaur dengan teman sebayamu. Apa sampai tua nanti kau hanya akan bergaul dengan lelaki tua sepertiku? Kau tidak akan bosan?" Kirania tersenyum. Itulah harapan Paman Aziel. Lelaki tua itu ingin anak angkatnya memiliki teman dan membaur dengan orang lain, tidak hanya dengannya saja. "Suatu saat kau pasti akan membutuhkan teman." Perkataan Paman Aziel itu terngiang-ngiang di benaknya. Serta beberapa saran dan ocehan lelaki itu tentang pertemanan. Jika dipikir-pikir, cerewetnya Paman Aziel yang dulu sempat dia katakan menyebalkan ada gunanya juga, ya, sekarang. Dia jadi tahu jika lelaki tua itu tidak sedang memarahinya, melainkan mengkhawatirkannya. "Kau tidak ingin keluar?" Gadis berambut biru itu menunjuk pintu keluar yang saat ini masih tertutup. "Kau sudah selesai, kan?". Karena dia sudah percaya akan langkahnya yang benar, gadis itu akan melakukan peran ini dengan sempurna. Kirania tersenyum. "Tentu saja, aku sudah selesai berganti baju. Mari kita keluar." Gadis berambut biru itu mengangguk. Mereka berjalan melewati koridor istana. "Namaku Cecilia, panggil saja Lia. Sedangkan kau?" Mendengar itu, reaksi Kirania sedikit terkejut. Dia akan memberikan Lia nama aslinya atau nama palsu? Apa yang akan dia katakan? Apa yang lelaki berambut pirang itu katakan ketika dia ditanya nama seperti dia saat ini? Bagaimana reaksinya jika sednag berada di situasi sepertinya? Seperti kepalanya dihinggapi oleh banyak pertanyaan, sampai-sampai Kirania melamun. Dia tidak bisa menjawab, tentu saja. Ini baru pertama kali dia disuruh melakukan sandiwara seperti ini. Bagaimana ini? Apa yang dilakukan lelaki itu? "Hei?" Tangan seorang gadis mungil melambai-lambai di depannya. Kirania sedikit tersentak. "Eh? Ada apa? Apa kau tadi membicarakan sesuatu denganku?" Lia tertawa, dia menatap Kirania sembari kembali bertanya, "Siapa namamu?" "Eh? Iya, aku belum memberi tahu namaku kepadamu." Kirania terkekeh, gigi-gigi rapi bersihnya terlihat. "Nia." Lia mengangguk, dia berhenti sejenak. Diikuti Kirania. "Salam kenal, Nia." Cecilia mengulurkan tangan, Nia menyambutnya dengan hangat. "Salam kenal, Lia." *** "Kau... apa yang kau lakukan? LEPASKAN AKU!" Seorang gadia dengan mata biru menatap sesosok lelaki tua yang tengah tersenyum di depannya. Senyum yang susah diprediksi—tidak, itu senyuman gila—senyum yang membuatnya merinding. Seperti seekor harimau yang baru saja mendapat mangsa. Lelaki tua gila yang saat ini berada di depannya. Ah tidak! Pikirannya telah ke mana-mana. Dia tidak bisa berkonsentrasi sedikit lebih lama. Jika dia berkonsentrasi, barangkali sihir es itu akan muncul dan dia bisa melarikan diri. "Kau gadis yang cantik. Aku menyukaimu." Mata Athela menatap ke sekeliling ruangan. Semua barang serbamewah berada di sana. Ranjang berlapiskan emas di bagian tepi-tepinya, lantai yang terbuat dari pualam. Jika dilihat-lihat, harga pualam di sana sangatlah tinggi. Hanya bangsawan atau orang-orang yang mampu lah yang bisa membelinya. Sekali lihat saja dengan segala kemewahan ruangan serta aksesoris yang dipakai lelaki tua di depannya itulah dia bisa menyimpulkan jika ini adalah istana. Dia dikerangkeng bak burung, berada di kurungan besi yang sulit ditembus pertahanannya. Gadis itu mencoba memukul-mukul besi itu, tetapi tidak terjadi apa pun. Sang raja tertawa terbahak-bahak. "Kau tidak akan bisa lari dari sini." "Sebenarnya... kau ini siapa? Mengapa kau membawamu?" Matanya menatap raja tajam. Sang raja mengernyitkan dahi. "Mengapa aku membawamu? Bukankah itu jawaban yanh sudah pasti? Kau pun sudah tahu, kan, tanpa kujelaskan?" Kepalanya miring sekitar empat puluh lima derajat. "Kau... kau penyihir?" Raja kembali terkekeh. "Penyihir? Em, sebutan yang sangat membuatku merasa rendah. Atau, kau sengaja merendahkanku?" Gigi-giginya terbuka sempurna, dia menatap Athela dengan tatapan lapar. Dia butuh mangsa. Mangsanya adalah gadis kecil yang tidak bisa keluar dari kerangkeng besi. "Kau tidak akan mengeluarkan sihirmu? Jangan-jangan, kau bukan keturunannya yang asli? Benarkah?" Gigi-gigi Athela bergemeletuk. Setelah itu dia menggigit bibir bawahnya. Matanya menatap lelaki tua bangka itu tajam. Hawa ingin membunuh yang sangat besar. "Atau, seperti yang digosipkan, kau tidak bisa memakai sihir?" Dia tertawa keras sekali, melengking sampai di telinga Athela. Mau suara melengking atau bagus, jika orang yang berbicara menjelek-jelekkan dia pasti akan terasa sangat buruk intonasinya. "Tinggal menghitung jam lagi, kau tahu apa? Tengah malam, waktu yang sangat sempurna untuk menghabisimu." Raja menyeringai. *** "Kau... namamu Nia, bukan?" Kirania mengangguk. Salah seorang pelayan memanggilnya, jadi gadis itu mendekat. "Bisa kau antarkan makanan ini ke kamar Yang Mulia?" Matanya agak terbelalak karena kaget. Namun, sealami mungkin, dia akan bersikap biasa-biasa saja. "Baiklah. Akan kuantarkan." Pelayan muda itu berusia sekitar dua puluh tahun—seperti Cecilia. Bedanya tubuh Cecil sangat kecil hingga siapa pun mengira umurnya masih tujuh belas tahun. Mungkin karena saking cantik dan manisnya. Dia memberikan sebuah nampan yang di atasnya ada secerek air panas dengan teh. Dilengkapi sebuah mangkuk kecil yang berisi gula. Semua perkakas itu berwarna emas—entah asli atau bukan, yang penting dia harus segera mencari kamar Yang Mulia. Langkahnya agak melambat, Kirania sangat menyesali dirinya sendiri yang memakai rok. Sejak lama dia tidak memakai rok—dibilang tidak pernah. Selama ini Paman Aziel hanya memberikannya celana agar mempermudahnya dalam belajar teknik pedang. Lalu saat ini, dia memakai rok lengkap dengan sepatu berhak tinggi yang sangat membuatnya kesulitan berjalan. "Ada apa?" Tiba-tiba suara seseorang mengejutkannya. Dia mendongak, Cecilia tersenyum ramah kepadanya. Kemudian beralih menatap barang yang dia bawa. "Kau mau ke tempat peristirahatan Yang Mulia untuk membawa benda yang berada di tanganmu itu?" Kirania mengangguk. Muka Lia sedikit berubah, dia mengerutkan dahi. "Bukankah seharusnya kau berjalan berlawanan arah dari sini?" Dia berdahem panjang, sepertinya sedang kebingungan. Muka Nia mendadak berubah. Cemas. Bagaimana ini? Apakah dia tahu jika aku hanya berpura-pura? Apa aku terlalu memaksakan diri bersikap baik-baik saja? Apakah dia tahu jika saat ini aku sedang cemas? Banyak sekali pertanyaan hinggap di kepala. Dia tidak tahu bagaimana cara menjawab semuanya. Dia... tidak bisa. Dia tidak bisa berpikir. "Sepertinya aku sedang melamun sehingga tak sengaja lewat jalan sini." Apakah penjelasan itu membuat gadis itu percaya kepadanya? Bagaimana jika tidak percaya, apa yang akan dia lakukan? Satu detik. Dua detik. Ekspresi yang ada di wajah Cecilia hanya kebingungan, setelah itu tertawa. Jemarinya memainkan rambut ombaknya yang berwarna biru, seperti matanya. "Kau seperti bukan pelayan di sini saja," katanya sambil tertawa keheranan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN