Athela menatap ke jam yang menempel di dinding. Napasnya memburu. Sejak tadi dia sibuk melepaskan kerangkeng yang membelenggunya. Namun, sepertinya usaha gadis itu sia-sia. Dia tidak bisa melakukannya. Setelah beberapa jam dia berada di kurungan berbentuk setengah bundar, baru saja dia dipindahkan ke suatu ruangan. Tangan dan kakinya dibelenggu. Gadis itu tersungkur.
Andai saja jika dia bisa menggunakan kekuatan itu. Andai saja, mungkin dia bisa melepaskan diri dari sini.
Tinggal tiga jam lagi untuk ritual itu, kemudian dia tidak yakin-mungkin gadis itu akan dipanggang untuk kepentingan raja, atau kulit putih langsatnya itu disayat-sayat untuk mendapatkan darah. Bahkan jika hanya membayangkan, itu sangat membuatnya bergidik ngeri.
"Apa yang kau cemaskan?" Raja bertanya sembari terkekeh. Lelaki tua itu duduk di kursi tepat di depan gadis itu dengan tersenyum sinis, mata tua itu memandangnya remeh.
"Kau tidak akan bisa keluar dari sini."
"Tidak, aku bisa. Aku bisa keluar dari sini. Kau kira aku sudi bertatapan denganmu seperti ini? Bertatapan dengan lelaki tua k*****t yang bahkan tidak tahu bagaimana cara memakai sendok."
BUG!
Athela menjerit keras. Sebuah tendangan dari raja itu mengenai perutnya. Mata sang raja memelotot sempurna.
"Kau kurang ajar!" Kaki sang raja berada di kepala Athela. Mukanya merah padam akibat sedang marah.
Diam sejenak. Tiba-tiba Athela tertawa.
"APA YANG KAU TERTAWAKAN?" Nadanya meninggi, membelah langit. Kakinya semakin kuat menginjak kepala Athela.
"Singkirkan kaki bau itu dariku."
BUG!
Athela menggigit bibir bawahnya menahan sakit tatkala sang raja menendang kepalanya. Sekujur tubuhnya nyeri, luka lebam di mana-mana. Sejak tadi dia memang sedang berlidah tajam. Suka sekali mengejek orang yang disebut raja di sini.
"k*****t kau! Berani-beraninya kau berkata seperti itu kepada seorang raja di sini. Kau kira tindakanmu itu terhormat?"
Sebuah darah mengalir di sudut bibir Athela karena gesekannya dengan lantai yang begitu kasar. Apalagi dorongan dari kaki sang raja membuatnya kepalanya pening.
"Mengoceh apa kau? mulutmu juga bau."
Mata raja semakin memelotot. Dia mendelik, seperti ingin copot saja mata merah itu.
KLETAK!
"ARGHHH...." Tulang tangannya patah. Mata biru Athela menatap kaki raja yang seenaknya menginjak tangan.
"Kau itu k*****t cilik yang belum tahu apa-apa. Jangan merendahkan orang tua yang telah lama menjadi raja sepertiku!"
Athela mendecih. Sengaja membuatnya kesal.
Entah sejak kapan kepribadian gadia itu berubah menjadi seperti itu. Kata-kata yang dia lontarkan selalu membuat lawan bicaranya naik pitam.
"KAUUU...."
Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang gadis sedang berada di ambang pintu dengan membawa sebuah nampan.
***
"Sepertinya aku baru melihatmu. Kau orang baru?" Seseorang mendekat, Byakko mengangguk.
"Kau akan mengantar makanan ke mana?" tanyanya lagi. Lelaki dengan postur tubuh tinggi menjulang, dengan rambut cepak dan pakaian istana itu memiringkan kepalanya ke kanan. Dia menatap Byakko sembari terheran-heran.
"Aku ingin mengantarkan makanan." Byakko menunjuk meja rodanya yang berisi hidangan-hidangan makanan, yang ditujukan untuk raja.
"Oh... aku akan menemanimu mengantarkan makanan. Lagi pula, saat ini aku sedang senggang."
Kaki-kaki dengan beralaskan sepatu bot itu sesekali membuat kegaduhan. Setiap menyentuh tanah, sepatu itu selalu menimbulkan suara yang kurang mengenakkan. Apalagi terdengar sedikit keras.
"Kau-"
"Tidak apa, sepertinya kau membutuhkan bantuanku."
Mereka berjalan di koridor. Memang sebelumnya dia dan Kirania akan sepakat melakukan tugas ini. Berpura-pura menjadi pelayan lalu mengantarkan makanan kepada sang raja-sangat klise, tapi dia sangat berharap. Dia ingin secepatnya membawa Athela sebelum bulan yang penuh dengan darah nanti datang.
"Kau mencemaskan apa?"
"Ah? Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu."
"Begitu. Ngomong-ngomong, namamu siapa?"
Byakko diam sejenak. Sedang memikirkan sesuatu.
Sejenak dia bergumam, kemudian dia menjawab, "Bryan."
"Oh, Bryan. Senang berkenalan denganmu. Namaku Veer. Semoga kita bisa menjadi temain baik, ya." Veer tersenyum lebar. Gigi-gigi rapinya terlihat, wajahnya riang sekali.
Byakko berdahem sejenak seperti tidak peduli. Wajah lelaki berambut pirang itu dingin. Veer kembali tertawa.
"Kau laki-laki yang kaku. Pasti kau tidak punya pacar."
Tawanya kian kencang. Byakko semakin sebal. Melihat itu, Veer menepuk pundak Byakko. Lagi-lagi menunjukkan tawanya. "Ayolah kawan, kau tidak boleh sekaku itu. Bagaimana nanti kau bisa membuat anak."
Seiring dengan tawanya yang keras, tepukan lelaki itu semakin keras. Pundak Byakko serasa mati rasa.
"Kau benar-benar kaku," ocehnya setelah tak mendapat respons dari Byakko. Lelaki itu benar-benar dingin. "Kau harus berteman denganku, Kawan. Aku akan mengajarimu cara tersenyum dan menembak para gadis. Omong-omong, banyak sekali gadis yang menembakku duluan."
Byakko menghela napas pelan, mendorong meja yang di atasnya berisi makanan dengan cepat. Dia ingin cepat-cepat meninggalkan lelaki tidak jelas itu.
"Hei, Kawan. Tunggu aku. Aku akan membuatmu menjadi lelaki paling riang sedunia-tentunya setelah aku. Kau akan menjadi kedua setelahku."
Veer mengejar Byakko. Lelaki yang dikejar tak kunjung menghentikan langkah, malah sebaliknya. Byakko mempercepat langkah. Dia tidak ingin berurusan dengan lelaki aneh sepertinya.
***
"Kau sudah mendapatkan sang keturunan murni?"
Lelaki tua dengan hidung melengkung itu menggeleng. Sejenak dia menatap ke atap, samar-samar cahaya menerangi tempat itu. Sebuah lentera berbentuk lonjong dengan empat sisinya ada sebuah penyangga digantung ke dinding. Mata lelaki tua itu menyipit.
"Apa yang kau tunggu, Tetua? Penyihir Nedgor benar-benar ada dalam keterbelakangan."
Lelaki tua berhidung melengkung yang dipanggil tetua pleh penyihir Nedgor itu pun diam sesaat. Dia merapalkan beberapa kata mantra dan melihat benda berbentuk bola yang memerlukan kekuatan sihir untuk bisa digunakan. Manusia-manusia biasanya memanggilnya bola sihir.
Tidak muncul apa pun di sana.
"Bagaimana jika werewolf atau penyihir lain yang menemukan-"
BRAK!
Tetua menggebrak meja. "KAU KIRA AKU TIDAK MEMPERHITUNGKAN INI?"
Lelaki di sampingnya yang sejak tadi mengoceh diam seribu bahasa. Dia menunduk. Tetua Penyihir Nedgor menatapnya sembari mengantur napasnya yang naik turun karena amarah.
"Kirimkan beberapa penyihir ke Kerajaan Baaj. Aku yakin sang keturunan asli sedang berada di sana."
Tepat setelah itu lelaki yang sedari tadi di samping tetua membelalakkan mata. "Mak-maksudmu, Tetua?"
"Cepat ke sana sebelum matahari terbenam. Aku punya firasat dia berada di sana."
Lelaki itu membungkukkan badan. "Laksanakan, Tetua!"
***
"Sepertinya kita sudah berjalan-jalan memutari sini sebanyak dua kali." Kemudian berdahem, dia menatap seseorang di sampingnya dengan tatapan minta persetujuan.
"Eh? Sungguh?" Cecilia sedikit kaget. Dia menatap ke sekeliling koridor. "Sepertinya memang iya."
Gadis berambut ombak itu meletakkan jari telunjuknya ke dagu, seolah menandakan jika dia tengah memikirkan sesuatu.
"Bukankah kau bilang jika kita akan menemui sang raja?"
Lia sedikit tertawa. "Maaf, kamar raja di sini sangat banyak. Ada sekitar tiga belas. Setiap raja memilih kamar satu di antaranya, sisanya dihuni oleh para selir Yang Mulia."
"Ada berapa selirnya?"
"Sekitar empat. Sisanya dibiarkan kosong. Dan setiap hari beliau tidur di tempat-tempat yang berbeda. Hanya kaki tangan beliaulah yang tahu. Atau kau tadi diberikan peta dan petunjuk di mana kamar beliau tidak?"
Kirania menggeleng. Keringat mengucur di pelipisnya. Ini benar-benar menyebalkan. Dia harus mencari paling tidak tiga hal-di mana kaki tangan, di mana pelayan yang mengantarkan makan hari ini sebelum dia, atau mencari secara acak kamar sang raja. Bukankah itu semua sama-sama menyebalkan? Dia harus memilih yang mana?
"Wah, pasti akan susah." Lia bergumam sebentar. "Aku akan bertanya kepada kepala pelayan. Kau tunggu saja di sini. Jangan ke mana-mana. Jika kau pergi, aku malas mencarimu."
Gadis itu melambaikan tangan, rambut ombaknya bergerak terkena semilir angin. Kaki-kaki mungilnya melangkah menjauh dari Kirania. Sedangkan Kirania menatap punggungnya yang semakin mengecil. Roknya ikut melambai-lambai karena dia berjalan sembari melompat.
Beberapa menit kemudian lengang. Punggung gadis itu sudah hilang di balik tembok istana. Kirania menghela napas.
Setidaknya dia bisa lebih cepat menemukan gadis itu-ah tidak, namanya Athela-tanpa diketahui siapa pun. Baik Cecilia, gadis yang beberapa jam lalu bertemu dengannya.
Karena di istana ini, dia tidak boleh memercayai siapa pun.
Dengan bergegas dia berjalan mengelilingi istana. Mengetuk dan membuka-tutup pintu dengan dalih berharap gadis itu dapat dia temukan.
Gadis yang baru dia kenal, tetapi rasanya seperti sudah dekat saja.
Entah itu perasaan miliknya atau hanya kebetulan saja. Akan tetapi, gadis yang bernama Athela itu sungguh membuatnya merasa dekat. Menurutnya, dari pancaran mata Athela sudah terpatri kesamaan dengannya. Istilahnya cocok satu sama lain karena memiliki kesamaan.
Banyak manusia yang seperti itu.
Sudah hampir satu jam dia berkeliling istana-untung saja dia tidak berpapasan dengan Cecilia. Dia yakin gadis itu saat ini masih mencarinya. Namun, belum bertemu juga dengan Athela.
Gadis itu menghela napas, kaki mungil itu protes minta berhenti berjalan karena dia merasa pegal. Sudah beberapa hari dia berjalan dengan minim istirahat-sebelum bertemu dengan lelaki bersurai pirang itu sampai sekarang. Kakinya terlalu lama menginjakkan kaki di tanah, kemudian mereka harus diistirahatkan. Apalagi ketika kamar sang raja memiliki jarak yang jauh, itu akan mengerahkan lebih banyak tenaga.
Dia butuh istirahat sekarang ini juga.
Matanya menatap ke depan. Mungkin setelah ini dia akan istirahat. Badannya sudah pegal semua, begitupun dengan kaki.
Dengan langkah agak gontai karena kelelahan dia mendekati pintu itu. Pintu berwarna cokelat dengan panjang sekitar lima meter dengan lebar sekitar tiga meter. Dengan tenaga tersisa dia mendorong pintu itu.
***
Mata Athela terbelalak sempurna. Dia menatap seseorang di depannya dengan agak tidak percaya.
"Oh... kamu. Makanannya taruh seperti biasa."
Mata pelayan itu mengerjap beberapa kali, meletakkannya ke meja dekat pintu.
Apa dia akan menyelamatkannya dari ini? Tidak, tidak. Ini terlalu berbahaya. Athela tidak mau dia dalam bahaya.
"Mengapa kamu masih ada di sini?" Sang raja berujar dingin.
Athela dan orang itu sama-sama menelan ludah. Sebenarnya dia tidak tahu gadis itu siapa, tapi baru saja gadis itu mengisyaratkan untuk membebaskannya.