Malam Ritual

1620 Kata
"Mengapa kamu masih ada di sini?" "Saya... saya...." Gadis itu tergagap. Raja menatapnya dengan tatapan curiga. "Saya ingin memberi tahu Yang Mulia jika sudah saatnya untuk ritual persembahannya, Tuan." Dia membungkuk memberi hormat kepada sang raja. Athela menelan ludahnya sendiri. Getir rasanya. Dia menatap gadis di ambanv pintu dengan tatapan ketakutan. Lagi-lagi, siapa pula orang yang mau percaya pada orang yang tidak dikenalinya? Dan orang itu berkata akan membebaskannya? Apakah itu benar? Apakah itu salah? Bagaimana ini? Dia akan memercayai orang itu begitu saja? Raja menatap ke jam dinding, matanya sedikit memicing. Kemudian dia menyeringai. Tertawa terbahak-bahak. "Kau... kau benar-benar akan habis hari ini, Athela!" Gadis itu ikut tersenyum. Namun, sinyal untuk menyelamatkannya masih terpancar. Tidak, gadis bermata biru itu bisa merasakannya. Entah kenapa, dia merasa, ada sesuatu buruk yang akan terjadi. *** "Kau bilang Yang Mulia akan melakukan ritualnya malam ini, ya?" Seseorang berbaju zirah dengan membawa pedang tengah bertanya kepada sesamanya. Yang ditanya mengangguk. Mereka berjalan melewati koridor sembari bercakap-cakap. "Kukira gadis secantik itu akan dijadikan sebagai permaisuri. Ternyata aku salah. Raja akan membuat gadis itu sebagai tumbal untuk malam ini." Salah seseorang dari pelayan mendekat kedua orang berbaju zirah tersebut. Mereka bertiga sepertinya sudah akrab. "Tapi dengar-dengar, persembahan kali ini akan mutlak dimiliki oleh raja, ya?" "Kukira juga begitu. Tidak selamanya raja akan memperhatikan rakyatnya melebihi perhatiannya kepada diri sendiri seperti saat ini." Salah seorang prajurit berkata, dia sedikit tertawa. "Heh, kau tidak boleh berkata lancang seperti itu jika kau tidak ingin mati muda. Bagaimana jika ada orang yang tahu lalu mengadukan perbuatanmu kepada raja?" "Ah, maaf-maaf." Dia masih terkekeh kecil. Salah satu prajurit selainnya dan sang pelayan laki-laki itu pun menatapnya maklum sembari menggeleng-geleng. Keadaan di luar istana stabil, tidak ada kekacauan sedikit pun. Sepertinya mereka belum menyadari akan kedua orang yang sedang menyusup ke sana. "Maaf, bisakah kau jelaskan kepadaku tentang ritual ini?" Seorang lelaki dengan kedua tangannya membawa ember berisi air bertanya kepada seorang prajurit yang tengah duduk-duduk di depan istana kerajaan. "Oh? Kau orang baru di sini, ya?" tanya prajurit yang memakai baju zirah tersebut. Sepertinya prajurit di sini digolongkan menjadi dua. Satu bertugas berperang, sedangkan satu berperan sebagai urusan diplomatik. Prajurit khusus berperang menggunakan baju zirah yang terbuat dengan logam beserta pedang perak. Sedangkan prajurit biasa yang digunakan untuk urusan diplomatik memakai seragam kerajaan, membawa pedang juga untuk berjaga-jaga. Karena tidak memiliki bakat bertarung, mereka biasanya hanya ditugaskan untuk menerima dan memberi pesan antarnegara. Namun, tidak sedikit pula para prajurit diplomatik yang tidak cakap akan disuruh membantu para pelayan. Contohnya saja seperti Carl dan prajurit tua yang Kirania dan Byakko temui di hutan. Dengan kata lain, prajurit diplomatik lebih mengutamakan kecerdasan ketimbang kemampuan bertarung, sedangkan prajurit berbaju zirah lebih mementingkan teknik berperang ketimbang menggunakan taktik. Sebelum berperang, mereka akan bekerja sama. Benar-benar sistem yang merepotkan. Jika saja raja lebih selektif dan mencari orang yang bisa keduanya, bukankah istana ini tidak akan seramai ini? "Kau... orang baru di sini?" ulangnya. Lelaki berbaju zirah itu kembali bertanya. Sepertinya dia tahu sang penanya sedang melamun. "Ah, maafkan aku. Aku memang orang baru di sini. Jadi tidak terlalu tahu dengan adat-adat seperti itu." Sang prajurit duduk di dekat pohon, diikuti olehnya. Sebenarnya di dekat sana ada tempat duduk, tapi sepertinya prajurit tua berambut cokelat dengan muka yang dihiasi kumis itu tak memedulikan di mana dia akan duduk. Menurutnya akan tetap sama saja. "Ritual itu biasanya dilakukan selama lima tahun sekali. Ritual suci yang mengorbankan daging hewan sebagai persembahan. Tapi ini belum ada lima tahun sejak terakhir kali kami melakukan ritual. Dan, sepertinya kebengisan Yang Mulia memang akan terlihat di sini. "Ritual itu ditujukan sebagai berkat dari Dewa Zeus kepada kami. Kerajaan Baaj sendiri punya keyakinan jika Dewa Zeus sudah melihat kami dari atas sana. Kau tahu, kan, Dewa Zeus perlambang takdir. Beliau telah memberikan kami takdir yang baik. Maka dari itu sudah menjadi kewajiban penduduk di sini mempersembahkan kepada beliau darah dari peternakan yang sudah Dewa berkati sebagai bentuk terima kasih. Para penduduk istana akan diberi daging persembahan itu sebagai pralambang atas keberkahan Zeus walaupun sangat sedikit. "Tapi saat mendengar jika Raja akan mempersembahkan seorang manusia, kami agak terkejut. Ya, walaupun hanya segelintir saja yang tahu akan hal ini. Para petinggi kerajaan dan selir-selir raja. Para pelayan dan prajurit istana tidak ada yang tahu akan hal ini. Jadi para prajurit dan pelayan biasa hanya akan merasa jika hari ini terlalu cepat untuk melakukan ritual. Selain itu, ritual kali ini sangat berbeda daripada biasanya—keberkahan dari Dewa Zeus akan dimiliki oleh raja seorang diri." Kumis cokelatnya bergerak-gerak ketika berbicara. Dia menatap langit malam. "Mereka, para prajurit rendahan diperintahkan untuk membawa seekor kambing dari peternakan jauh yang berada di tengah hutan ini untuk menutupi fakta ini. Lalu, saat ada seorang gadis, karena kebiasaan Yang Mulia, mereka menganggap Yang Mulia akan kembali menikahinya sebagai seorang permaisuri—seperti yang sudah-sudah." Lalu kakek itu menghela napas. "Apakah ini rahasia kerajaan?" "Ah, bisa dibilang begitu, bisa dibilang juga bukan." Prajurit itu terkekeh, dia menatap orang di sampingnya dengan tatapan hangat. "Mengapa kau memberi tahuku soal ini?" Tatapannya beralih menuju langit malam, dia menyandarkan diri di pohon. "Banyak sekali prajurit-prajurit yang sangat loyal kepada Yang Mulia. Kurasa, keloyalanku selama lima puluh tahun ini sedikit demi sedikit terkikis saat melihat sendiri kebengisan beliau. Lagi pula, aku bisa melihat dari matamu jika kau ini orang yang bisa dipercaya." "Sebentar, sebentar." Orang itu menyetop pembicaraan lelaki tua dengan isyarat kedua tangan. "Kau bilang jika yang mengetahui ini hanya para petinggi kerajaan?" Prajurit tua itu mengangguk. "Jadi, kau petinggi kerajaan?" Dia kembali mengangguk. "Jabatanku panglima di sini." Mata orang itu memelotot sempurna. "Ma—maaf. Maafkan aku." Yang dimintai minta maaf masih terkekeh. Orangnya ramah sekali. "Kau tidak perlu meminta maaf, Nak. Omong-omong, kau sedang mengepel lantai, ya?" Orang itu menggeleng. "Aku ditugaskan untuk mengambil air. Karena penasaran dengan ritual ini, aku pun bertanya." "Kira-kira, kemarahan apa yang akan Dewa Zeus turunkan setelah melihat kekacauan ini, ya?" Satu alisnya naik, dahinya mengernyit. "Apa yang kau maksud?" "Ya, memang jika dilihat dari luar istana ini baik-baik saja. Tapi sekarang ini di dalam istana sedang dilanda kekacauan yang teramat besar. Sejak rapat para petinggi beberapa jam yang lalu—setelah Yang Mulia menemukan gadis itu, beberapa orang yang menghadiri merasa keberatan dengan ini. Ada tiga orang dari empat belas yang keberatan. Termasuk aku. Pasti istana sedang dilanda kekacauan. "Selain itu pun, Dewa Zeus tidak akan diam saat melihat manusia membunuh satu sama lain, kan? Apalagi membunuh tanpa alasan yang jelas." Dia diam sejenak. Prajurit tua itu menghela napas lagi. Entah ke berapa kalinya lelaki itu menghela napas, sepertinya pundak lelaki itu memikul beban yang berat. "Kau percaya dengan Zeus?" Prajurit itu mengangguk, dia kembali tertawa. Seperti terhibur. "Kau bertanya kepadaku tentang sesuatu yang sudah memiliki jawaban yang jelas, Nak." Tangan kekarnya itu menepuk-nepuk pundak sang lawan bicara. Kemudian memegangi perut buncitnya yang dilapisi baju zirah. "Oh, Zeus tidak sebaik itu. Aku pernah bertemu dengannya sekali. Dan dia sangat merepotkan. Kau tahu, dia bahkan tidak bisa berhenti membuat masalah." Diam sejenak. Prajurit tua itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Saat itu hanya terdengar suara jangkrik nyaring dari hutan yang mengelilingi istana. Beberapa detik berikutnya kembali tertawa. "Kau benar-benar manusia yang sangat humoris, Nak." "Aku tidak sedang berbohong. Zeus pernah menantangku duel satu lawan satu." "BWAHAHAHA! Aku tahu, saat ini kau sedang menghiburku, tapi mengatasnamakan dewa saat bercanda itu tidak baik, Nak." Saking lucunya, panglima perang itu sampai meneteskan air mata. Lelaki itu mendengkus kesal. Ya sudah kalau tidak percaya, begitulah kira-kira perkataannya jika dilihat dari raut muka. "Omong-omong, kau tidak diberi tahu alasan apa yang membuat raja menggunakan gadis itu sebagai jalannya ritual." Prajurit itu menggeleng. Dia menatap ke arah para pelayan yang sedang berlalu-lalang melakukan aktivitasnya masing-masing. "Oh, jadi, kau tidak diberi tahu." Dia ber-oh ria, panglima perang itu kembali mengangguk. "Lagi pula, apa-apaan kau ini? Pelayan macam apa yang berani berkata kepada panglima besar tanpa rasa sopan seperti itu?" Panglima tertawa, menepuk pundaknya kembali. "Seumur hidup baru kali ini aku bertemu pelayan yang seberani dan humoris seperti dirimu." Tawanya tidak berhenti. Bahkan tepukannya semakin mengeras. Dia merasa sedikit kesakitan. "Maaf, tubuhku sangat rentan dengan—" "BWAHAHAHA! LIHATLAH ANAK MUDA INI. BENAR-BENAR KURANG AJAR. BWAHAHAHA!" Bukannya dipelankan, tepukan itu semakin dikeraskan. "Ah, maaf-maaf. Sudah lama aku tidak tertawa. Sangat menyenangkan bisa berbicara denganmu seperti ini." Panglima itu menurunkan tangannya. Dia mengusap air matanya yang keluar karena tertawa dengan tangan sapu tangan kotak-kotaknya. "Biasanya orang-orang akan menjauhiku karena takut denganku. Aku jarang sekali berbicara dengan orang lain. Tapi kamu pemuda yang berbeda, Nak. Selain pemberani, kau juga sangat tidak sopan. Dan lihatlah dirimu ini, wajah ketusmu sangat mengesalkan. Jika saja tidak tampan, aku bersedia menamparnya. BWAHAHAHA!" "Tertawamu sangat keras. Kupingku ingin meledak rasanya." "BWAHAHAHA! Maafkan aku. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Seperti mengobati stres saja. Semoga kita bisa bertemu lagi. Aku benar-benar menyukai nyalimu yang besar itu. BWAHAHAHA!" Tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan memakai zirah mendekatinya. Prajurit itu menekuk lututnya dan membungkuk, memberi hormat kepada panglima. "Panglima, ada sesuatu yang harus saya laporkan." "Apa?" Nada panglima mendadak berubah menjadi serius. Berbeda dengan beberapa saat yang lalu. "Ritualnya akan dilakukan sebentar lagi. Sekitar satu jam." Panglima itu berdiri, dia menatap lurus ke depan dengan sangat serius. Kemudian menatapnya sejenak. "Ada sesuatu yang harus kulakukan sekarang ini. Aku berharap kita bisa bertemu lagi, Nak." Dia menatap punggung panglima dengan antek-antek prajuritnya yang semakin menjauh. "s**l, aku terlalu mencari banyak informasi hingga tidak menyadari bergulirnya waktu secepat ini." Byakko pun berjalan masuk ke istana. Dia benar-benar sudah kecolongan. "s**l, lelaki itu juga terlalu banyak bicara." Dia pun mendengkus. "Sial."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN