Byakko menatap ke sekitar. Dia berjalan tergesa mencari ruangan itu. Sudah sekitar lima jam dia di sana, tetapi pemuda itu belum menemukannya juga. Terlebih lagi, gadis yang bernama Kirania itu pun belum memiliki tanda-tanda akan bertemunya dia dengan Athela.
Lalu lalang manusia kian cepat saja arusnya. Jelas sekali, di tengah semrawutnya orang-orang ini pasti ada alasannya. Sebentar lagi-seperti yang dikatakan prajurit itu, akan ada ritual yang biasa dilakukan. Mereka pasti sibuk.
Untung saja seperti itu. Jika situasinya tidak kacau seperti ini, dia tidak akan bebas menyelinap ke ruangan satu ke ruangan lain.
"Kau sudah mempersiapkannya?"
"Ah, aku harus mencari gaun permaisuri Yang Mulia."
"Ah... bagaimana ini. Rendangku... belum matang-matang juga. Padahal aku sudah lama memasaknya."
Di tengah-tengah itu Byakko menghela napas. Mataya jeli menatap ke arah mereka satu per satu. Dia akan sangat berterima kasih jika tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya.
Sebenarnya Byakko ingin menggunakan salah satu sihir pencarian, tetapi dia tidak mau orang lain akan mengetahui keberadaannya. Seandainya saja dia dan Athela sudah menjalin kontrak, itu akan sangat memudahkan dia dalam mencari gadis yang suka menghilang itu.
Satu ruangan. Dua ruangan. Tiga ruangan.
Sial, umpatnya dalam hati. Mencari-cari orang dengan membuka setiap ruangan memang sangat menyusahkannya.
Tiba-tiba terdengar seseorang yang berlarian. Tidak, melainkan gerombolan prajurit berzirah yang berlarian-seperti tengah membawa berita penting. Mereka berlari dengan terburu-buru.
"PERHATIAN-PERHATIAN. LIMA MENIT LAGI UPACARANYA AKAN DIMULAI. DIMOHON PARA PELAYAN DAN PRAJURIT KERAJAAN TURUT MENYAKSIKANNYA."
DEG!
Mata Byakko memelotot sempurna. Dia refleks menengok ke arah sang sumber suara.
Lalu dilihatnya, kekacauan itu semakin merajalela. Mereka semakin sibuk mempersiapkan diri sendiri.
Apakah dia terlambat?
***
"Yang Mulia, dimohon berganti pakaian. Sebentar lagi rirualnya akan dimulai." Gadis itu menunduk takzim. Rambut hitam bergelombangnya diikat agak ke atas, lalu dia memakai seragam hitam-putih khas pelayan.
Raja tua itu menghela napas sejenak. "Aku akan berganti sejenak. Kau bisa keluar." Dia sedikit menatap pelayan itu curiga.
"Baik, Yang Mulia. Akan saya siapkan pakaiannya."
Sebelum gadis itu pergi, dia sempat menatap Athela yang terkapar di lantai. Keduanya bertatapan mata.
***
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya. Veer menepuk pundak Byakko yang saat itu tengah mengendap-endap di suatu ruangan.
"Ah, maafkan aku. Aku tersesat."
Byakko menari sudut bibirnya hingga membentuk senyuman. Kemudian berganti menjadi meringis, menunjukkan gigi-gigi putihnya dengan canggung.
Orang mana yang akan memercayainya semudah itu? Tidak ada, kan? Dia bahkan sudah mengira Veer tidak akan memercayainya.
"Bagaimana mungkin kau tersesat sampai di ruangan ini?" tanyanya curiga.
Benar sekali. Dibanding dengan yang lain, ruangan ini yang paling berbeda. Nuansanya lebih menyeramkan dari sebelumnya. Kemudian dinding-dindingnya belum diplester dan diwarnai. Terlihat batu bata besar di sana sini yang bisa dipandang t*******g mata.
Setelah kedua belas ruangan itu dia masuki dan tidak ada apa-apa, dia yakin sekali ini kamar terakahir sang raja. Jika pun Athela tidak ditempatkan di sini, pasti akan ada petunjuknya barang sekecil apa pun.
"Aku tak sengaja terdorong ke sini ketika keributan yang terjadi barusan. Lalu, kau sendiri mengapa berada di sini? Sepertinya ini adalah salah satu kamar Yang Mulia. Sedang apa kau di sini?"
Byakko melihat reaksi lelaki yang semula ceria itu berubah sedikit terkejut. Walaupun tidak terlalu kentara, dia dapat melihat dengan mata harimau miliknya. Lelaki itu mencurigakan.
"HAHAHA! Kau bertanya aku sedang apa di sini? Tentu saja aku sedang melakukan tugas penting dari Yang Mulia, dan yang pasti keberadaannya sangat rahasia. Kau tahu, kan, beberapa tugas yang diberikan Yang Mulia sangat penting. Saking pentingnya sampai dirahasiakan. HAHAHAHA!" Veer kembali tertawa. Lelaki itu menepuk pundak milik Byakko.
Seperti yang dia duga, lelaki itu sepertinya sangat mencurigakan. Untuk ukuran manusia biasa pun bisa melihat sesuatu yang jelas itu.
"Baiklah karena tugasku di sini sudah selesai, aku akan segera pergi dari sini."
Veer pergi meninggalkan Byakko di sana sendirian. Langkahnya dipercepat, seperti sedang terburu-buru.
Sedangkan kini Byakko tengah mengamati ruangan ini-benar-benar ruangan yang sangat berbeda. Orang mengira tidak akan percaya akan menemukan ruangan ini.
Sebenarnya, Athela hilang di mana?
Langkahnya semakin ke sini kian diperlambat, sampai berjinjit kalau-kalau nanti raja tiba di sini dan menemukannya.
Ruangan yang tidak besar itu hanya berisi rak buku, tempat tidur yang sedikit kumal, meja kerja, dan dia dapat mencium sedikit bau anggur di kamar itu. Bisa diasumsikan kamar tersebut hanya digunakan untuk bermabuk-mabukan sang raja.
Mungkin saja di situ ada sebuah petunjuk. Lagi pula lima menit, waktu apaan itu? tanyanya dalam hati. Dia sedikit mendecih kesal karena telah membuang-buang waktu.
Dia melihat-lihat ke rak buku, di sampingnya ada lentera yang menyala. Apinya berkobar-kobar berwarna merah, membuat penerangan malam itu serasa meredup.
Benar-benar ruangan yang menyeramkan.
Apakah para pelayan tahu jika dia ada suatu ruangan yang bentuknya seperti kuburan di sini?
Lalu, apa yang dilakukan Veer di sini? Tugas apa yang diberikan sang Raja kepada lelaki superramah itu di sini?
Ah, sungguh menyebalkan. Dia tidak bisa memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang bergumul di otaknya itu satu pun.
Pandangannya terhenti saat melihat ada sesuatu di sana. Sedikit sekali, sangat kecil bahkan jika dilihat oleh t*******g mata. Hidungnya kembang-kempis, mencium sesuatu yang familier.
Darah.
Ya, darah.
Seperti tetesan darah yang dipaksa untuk dikeluarkan. Sedikit bau daging yang dikoyak. Matanya terbelalak sempurna.
Ternyata ruangan ini ditata sedemikian rupa. Bau alkohol yang menyengat di hidungnya ini digunakan untuk menutupi bau anyir dari darah.
Ini masih dugaan, tetapi dia sedikit meyakininya bahwa sang raja adalah seorang vampir.
Seseorang dari klan vampir.
Tidak dipastikan apakah ini benar atau tidak, tetapi entah mengapa dia meyakininya.
"NONA ATHELA, SANG PERMAISURI HILANG! BARANG SIAPA YANG MELIHATNYA AKAN DIBERIKAN IMBALAN UANG TUNAI SENILAI LIMA RATUS JUTA RELARR."
Matanya semakin terbelalak sempurna.
Sial. Dia benar-benar sudah kecolongan.
***
"Kau dengar tidak berita sang calon permaisuri raja menghilang?"
"Eh? Apa itu benar-benar terjadi? Kukira itu hanya bohong belaka."
"Eh-bagaimana mungkin? Aku mendengarnya sendiri tadi para prajurit kerajaan yang ditugaskan sebagai penyampai berita menyampaikan berita itu kepadaku."
Berita itu telah menyebar luas sampai ke Kota Baaj. Banyak orang yang mulai memburu sang calon permaisuri demi iming-iming uang yang telah dijanjikan Yang Mulia. Tak sedikit dari mereka mencari dengan cara ekstrim.
Seseorang yang tak sengaja mendengarnya pun menarik satu sudut bibirnya, membentuk seringaian. Tudungnya yang menutupi kepala semakin dia benahkan.
Dia sedang duduk di warung terbuka. Hanya terdiri meja dan dua kursi sepanjang meja. Kisaran tiga meter panjangnya. Di atas meja terdapat jajanan dan minuman eceran. Berbeda dengan restoran, warung ini menjajakan makanan yang sangat terjangkau. Banyak orang yang mengerumuni.
"Wah, hadiah sebanyak itu bisa membuatku kaya." Orang itu tertawa.
"Hadiahnya seharga dua buah rumah mewah, kau tahu."
Gerombolan orang pembawa berita-yang sejatinya kumpulan petualang yang sedang membicarakan hadiah-itu pun pergi. Mendesal ke kerumunan manusia-manusia yang masih berlalu-lalang.
Ah, manusia-manusia yang seperti semut itu berkerumunan tanpa curiga satu sama lain. Katanya, mereka adalah makhluk yang paling sempurna; diberi akal kesehatan oleh Allah, Tuhan Semesta Alam ini. Namun, tampaknya mereka tidak menggunakan otak itu sama sekali. Yang mereka urusi hanya kesenangan diri. Lalai akan bahaya yang siap datang menghampiri.
Ah, manusia itu sejatinya makhluk yang paling menjijikkan. Serakah, penuh tuntutan, dan tidak pernah menggunakan akal pikiran sebagaimana mestinya.
Kelicikan dalam menyusun strategi perang yang membuatnya tambah muak. Jelas sekali manusia menginginkan perluasan wilayah. Ambisinya yang begitu besar itu bisa membuat mereka dijuluki sebagai monster.
Semilir angin menerpa jubahnya. Tudung seseorang itu berkibar sedikit karena terkena sapuan angin. Tangannya kembali membenahkan tudung agar wajahnya tidak terlihat oleh khalayak.
"Tuan, apakah kau ingin menambah makanan?" Orang itu menggeleng. Sejak tadi dia belum bersuara. Kemungkinan dia adalah salah satu orang yang datang untuk berpetualang.
Dia meninggalkan uang sebanyak dua puluh lima relarr untuk makan dan minum. Masing-masing makanan seharga lima relarr dibeli sejumlah tiga, sedangkan minumannya sendiri seharga tiga relarr. Saat penjual itu hendak mengembalikan uang sisa, orang bertudung hitam itu menggeleng dan buru-buru pergi.
Langkahnya sedikit berat. Kaki-kakinya dibungkus sepatu bot yang suaranya teramat nyaring. Dalam beberapa detik saja punggungnya sudah hilang ditelan keramaian para manusia yang berdesak-desakan.
"Apa kau dapat informasi?" tanya seorang lelaki berambut sebahu warna merah. Dia memakai kacamata bundar yang melindungi bola mata cokelatnya. Beberapa orang juga menatapnya. Mereka sama-sama memakai jubah seperti dirinya, duduk di sebuah kendaraan bak terbuka berukuran kecil yang hanya muat empat orang.
Seseorang itu mengangguk, membuka tudung itu hingga terlihatlah wajah seseorang yang sejak tadi dia tutupi.
"Seorang gadis, calon permaisuri Raja Baaj hilang. Orang yang bisa menemukannya mendapatkan hadiah sebesar lima ratus juta relarr."
Ketiga lelaki yang duduk di mobil itu kaget, terlebih lelaki berambut merah itu. Beberapa detik setelahnya dia menyeringai senang. Seringai yang sangat menyeramkan.
"Kau memang bisa diandalkan." Lelaki berambut merah itu menepuk pundaknya, dia tertawa.
"Kita tidak perlu lagi merampok lagi saat ini. Kau tahu, kita akan mengincar hadiah besar itu lalu mendapatkan uang untuk bersenang-senang."
Dia kembali tertawa. Sepertinya lelaki berambut merah itu adalah seorang pemimpin dari kelompok perampok kecil itu. Tidak seperti pemimpin perampok lain, wajahnya sangat berbeda-benar-benar menipu.
Senyum, mata, hidung, dan wajahnya benar-benar terlihat seperti orang baik. Lalu setiap saat dia selalu tersenyum.
Senyum yang mengerikan.