Malam itu berjalan sangat lambat bagi Kirania, dia merasa semenit seperti sebulan, sejam seperti setahun. "Kau tidak boleh menangis lebih lama dari ini," kata Gavin sembari mengusap air mata Nia. Pancaran matanya penuh dengan rasa pertemanan yang lekat. Selama ini dia telah memperhatikan pemuda itu dan menaruh rasa yang dalam, tetapi pemuda itu malah sedang patah hati karena menyukai sahabatnya sendiri. Semua perhatian Gavin kepadanya hanyalah karena pertemanan, tidak lebih. Dia yang terlalu berharap kepada pemuda itu hingga bisa jatuh cinta seperti ini. "Kau harus memperjuangkan cintamu, ya. Katakan kepadanya jika kau mencintainya. Lebih baik mengatakan, kan, daripada memendamnya?" Jika Kirania mengutarakan cinta yang tersemat di dadanya, akankah Gavin akan tetap memperhatikannya sepe

