Batinnya merintih. Malam itu benar-benar menyayat hatinya. Gadis itu seperti telah masuk ke perangkap yang paling mengerikan, lalu dibohongi.
Bagaimana perasaanmu ketika mulai dibuat jatuh cinta oleh seseorang tetapi orang itu malah memberi harapan palsu kepadamu?
Seharunya dia tahu, dia tahu jika Byakko tidak pernah punya hawa nafsu. Dia adalah seekor Harimau Putih Suci yang dijadikan sebagai salah satu mitologi.
Bukankah dari awal Byakko sudah mengatakan hal itu? Namun, mengapa dia masih saja gegabah?
Dari awal memang ini semua salahnya.
Athela terlalu dibuai oleh rasa cintanya sampai tidak bisa membedakan mana yang palsu dan mana yang tidak. Gadis itu benar-benar telah dibodohi sekarang ini.
"Jika kita meminum darahnya, kita akan awet muda. Benarkah itu?" Suara Kirania menggema sampai di telinganya, getaran itu awalnya terbang dan merangkak sampai ke dinding-dinding indera pendengar Athela.
"Ya, kau tahu itu. Dan yang lebih penting, kita memiliki kekuatan. Semakin banyak kau meminum darahnya, maka akan semakin besar kekuatan yang kau peroleh. Bahkan sampai memperoleh kekuatan abadi melebihi Sang Penyihir Terhebat Sepanjang Masa sendiri. Sekarang ini kita membutuhkan kekuatan untuk melawannya."
Gadis dengan rambut hitam berombak itu mengangguk. "Kau benar. Kita harus membunuh penyihir k*****t itu sebelum peristiwa darah bulan purnama."
Darah bulan purnama? Apa itu? Dan mengapa mereka ingin sekali membunuh ayahnya?
"Jika saja penyihir itu melakukan hal lain—dan tidak menganggap dirinya sebagai seorang Tuhan, sudah pasti ingin kututup mulutnya."
"Ya. Dia berbeda level dengan kita. Bahkan untuk melawan kroco-kroconya saja kita tidak mampu."
Desisan angin menerbangkan getaran-getaran suara mereka. Perlahan menghilang sedikit demi sedikit terbawa udara yang bergeral menuju lembah yang sebentar lagi akan mereka tuju.
Sebenarnya, mereka ini siapa? Mengapa mereka sangat membenci ayahnya? Apa yang telah Penyihir Terhebat Sepanjang Masa itu lakukan hingga membuat dirinya dikejar-kejar oleh makhluk astral yang kekuatannya berada di luar nalar?
Terlebih lagi, bukan hanya itu yang ingin dia tanyakan. Sebenarnya, mereka ini siapa? Bagaimana bisa mereka meniru penampilan Byakko dengan sangat sempurna dan berhasil mengelabuhinya?
Pohon-pohon kembali bergoyang ikut terpaan angin dengan lembut. Matahari telah merangkak naik setelah beberapa jam yang lalu. Kaki gadis itu masih berposisi berlutut di bawah Pohon Ek raksasa yang rindang.
Matanya seperti tak pernah berkedip menatap mereka satu per satu. Sedangkan tangan gadis itu berpegangan salah satu tumbuhan hijau merambat yang berparasit pada Pohon Ek. Tangan kirinya membawa tanaman yang baru saja dia ekstrak yang akan digunakan untuk sabun.
"Dia aib bagi keluarga Penyihir." Kirania palsu duduk, menekuk lututnya. Kemudian kedua tangannya melingkar seperti tengah memeluk lutut. Byakko palsu masih berdiri sekitar lima meter darinya. Badan lelaki kekar itu bersender di batu cadar berukuran besar dengan tinggi sekitar dua meter setengah.
"Kau benar. Jika saja dia tidak melakukan eksperimen ini itu dan mengubah dirinya menjadi seorang penyihir. Dia manusia menjijikkan yang hanya haus akan ilmu pengetahuan, tidak peduli lagi dengan dunia ini. Pemikirannya yang gila itu membuatku sedikit bergidik.
"Katanya, di dalam genggamannya dia ingin mengubah dunia ini menjadi lebih baik dengan melakukan seleksi alam. Siapa yang bertahan dia lah umat yang direstui olehnya." Byakko mendecih pelan. "Dia berlagak seperti seorang Tuhan, benar-benar menjadi seorang Tuhan."
"Dari awal aku memang sudah tidak menerimanya sebagai seorang penyihir. Jika saja dua ratus tahun yang lalu Tetua tidak memberikan izin kepadanya, mungkin rakyat kita tidak akan berkurang."
Kemungkinan dua orang itu adalah penyihir. Terlihat dari cara mereka yang sepertinya tengah membicarakan kaum sendiri.
Maksud mereka apa? Berkurang bagaimana? Athela menelan ludahnya sendiri. Matanya masih belum terlepas dari kedua manusia yang sedang berbincang-bincang itu di pesisir sungai. Sesekali saat matahari menyorot, Kirania menyipit karena silau terkena pantulan cahaya sang surya.
"Menurutmu apa benar gadis itu adalah keturunannya?" Kini Kirania duduk bersila sembari menatap arus sungai yang semakin deras. Dia menengadahkan wajah menatap air terjun itu, bak air yang terjatuh dari langit yang cerah membiru tanpa satu pun awan yang menggantung. Peduli apa dia, toh menurutnya apa pun cuacanya para penyihir seperti dirinya tidak akan terpengaruh.
Para penyihir memiliki beberapa mantra yang dapat melindungi diri dari berbagai cuaca. Hujan, panas, ataupun bersalju.
"Kurasa begitu." Mata indah Byakko mengerjap sekali, dia membuntut tatapan Kirania yang berakhir menatap awan biru tanpa sedikit awan. Cerah sekali hari ini. Mungkin jika Athela membawa jam, sekarang pukul tujuh pagi. Saat matahari masih terlalu malu-malu untuk beranjak dari persembunyiannya menuju singgasana. Awan-awan pun tidak ada satu pun menggantung, hanya ada segelintir Burung Kondor Andes yang terbang di angkasa. Mereka membentuk huruf V tanpa mengepakkan sayap sama sekali.
"Tapi mengapa dia tidak mempunyai suatu kekuatan? Kau tahu, dia terlihat sangat lemah." Kirania berdiri, lalu berjalan mendekati Byakko. Dia ikut menyenderkan badan di samping batu cadas itu. Rambut hitam gelombangnya terlihat berkilau ketika sinar mentari menerpa malu-malu melewati celah-celah daun.
"Dan yang lebih penting, apa kau sudah membuatnya jatuh cinta?" Lelaki bersurai pirang itu mengangguk, Kirania menyeringai.
Mata Athela semakin terbuka. Dadanya berat sekali seperti matanya. Mengingat hal itu membuatnya mengutuk diri sendiri.
Itu semua hanya rekaan.
Dari awal sepertinya memang Byakko asli tidak akan pernah melakukan itu. Semua cinta yang dia berikan kepada Byakko seperti cinta bertepuk sebelah tangan, seakan hanya dia yang mencintai dalam kesendirian. Seharusnya gadis itu tak berharap lebih kepada Byakko. Jika dia tidak terlalu mencintai Byakko, mungkin tidak akan ada kejadian seperti ini. Dia seperti sudah masuk dalam perangkap musuh.
"Sepertinya dari awal memang gadis itu menyukai lelaki ini. Siapa namanya tadi? Bryan, ya?" Tanpa wajah dosa dia pura-pura berpikir. Athela sangat membenci penyihir yang berada di balik wajah Byakko itu. Benar-benar membuatnya muak bukan kepalang. Mengapa dia harus melakukan itu dengan wajah Byakko? Apa mereka berniat menyakitinya?
Sebenarnya, mereka ini siapa?
"Kau memang bisa diandalkan, Kak!" Kirania menepuk pundak Byakko keras-keras sembari tertawa kencang. Mulut manisnya terbuka lebar hingga menampilkan gigi-gigi putihnya yang membuat Kirania tambah cantik. Mau apa pun posisi Kirania, gadis itu tetaplah cantik.
"Omong-omong, dari mana kau tahu wujud Sang Pendekar Pedang?" Byakko menautkan alis, tangan kanannya memegang dagu. Dua detik berikutnya dia berdahem, seolah tengah memikirkan sesuatu yang sangat keras—seperti ingin memecahkan misteri yang sulit.
"Aku pernah bertemu dengannya."
"Kapan?"
"Saat kita membunuh Aziel," katanya. Wajahnya tak ada tanda-tanda berdosa juga. Malah seringaian yang tercipta. Kirania kembali menengadah.
Setelah beberapa detik Kirania berkata, Byakko sedikit terkejut. "Apa maksudmu? Kau kenal gadis ini?"
Byakko memegang kepala Kirania lalu matanya dengan jeli menatap dari atas sampai bawah. "Kau... jangan-jangan...."
"Iya," potong Kirania cepat. Dia tersenyum kemudian beralih menatap sungai yang airnya mengalir sangat jernih. Sekali lagi orang itu mengerjap dengan menggunakan mata Kirania. Mata Byakko terbelalak.
"Apa maksudmu? Kau akan dianggap sebagai—"
"Ya, aku tahu. Aku akan dianggap sebagai pengkhianat nantinya, karena tidak bisa membunuh seseorang yang harus dibunuh. Akan tetapi, aku tidak bisa membunuhny. Entah mengapa aku merasa gadis itu terlalu manis untuk mati muda."
"Kau konyol. Pemikiran konyolmu itu nanti akan membawa bencana. Mengapa kau tak membunuhnya? Bisa saja nanti dia akan menjadi penghalang bagi kita. Lagi pula dengan kemampuanmu saat ini kau bisa menandinginya."
Kirania menunduk. Dia menghela napas pelan. "Entahlah aku tidak tahu. Aku merasa ingin saja membiarkan gadis itu hidup lebih lama. Kuurungkan niat untuk membunuh gadis yang tidak ada kaitannya dengan itu sama sekali."
"Kau bilang tidak ada kaitannya dengan itu? Dia, Kirania, yang menjadi wujudmu sekarang ini adalah anak dari Aziel, lelaki yang telah mengukir bekas luka di pipimu. Apa kau tak ingat, Huld?"
Athela menghela napas pelan. Jadi gadis itu bernama Huld, dan dia adalah seorang lelaki yang tempo lalu pernah ingin membunuh Kirania tapi diurungkan. Karena... suka, mungkin?
Ah, tidak-tidak. Bagaimanapun sifatnya, dia tetaplah penjahat. Orang yang sekarang memakai wajah dan lekuk tubuh Kirania juga menginginkan kekuatan, maka dari itu mereka menculik Athela.
Apalagi dia... lelaki bersurai pirang—tidak, penyihir yang memakai wujud Byakko untuk menghancurkan harga dirinya.
Benar-benar lelaki b******k.
Tidak ada waktu lagi.
Mata Athela menatap ke sekitar, tampak cahaya matahari semakin menyengat. Tak lagi malu-malu menyapa belahan bumi yang dipenuhi dengan tanaman hijau-hijauan.
Gadis itu menunduk, berbalik kembali menuju hutan. Dia akan pergi menjauh dari mereka.
Tidak peduli bagaimana jika dia nanti tersesat di hutan, bahkam menurutnya itu lebih baik daripada mati konyol di tangan orang-orang b******k yang hanya menginginan kekuatan.
Perlahan jemari kakinya kembali menyentuh tanah yang penuh dengan ilalang. Kakinya t*******g, dan dia tidak peduli itu semua.
Semakin dia memikirkan kakinya yang t*******g semakin sakit pula hatinya.
Untung saja... dia tak melihat cahaya remang sang bulan di pagi-pagi seperti ini.
Gadis itu sudah tak sanggup mengingat kejadian malam itu yang membuatnya terpaksa meminum pil kehidupannya yang begitu pahit dan pedih.
***
Seseorang tengah duduk bersila di halaman istana. Dengan topi kebesaran dan pakaian abu-abu compang-camping, dia menengadahkan wajah ke langit malam.
"Kau... mengapa pengemis sepertimu ada di sini?" Wajah orang itu mendadak memelas.
"Maafkan aku, aku sudah dua hari tidak makan. Bisakah aku meminta makanan di sini?" Dia menatap kedua orang di depannya. Yang satu bersikap biasa, satunya lagi memasang wajah jijik. Keduanya memakai pakaian kebesaran sebagai prajurit petarung. Yang satu membawa sebuah tombak dengan tinggi sekitar satu setengah meter, tepat setelinganya. Sedangkan prajurit yang satu tidak membawa apa-apa, hanya menatapnya hampa.
"Kau... kau tidak boleh berada di sini. Nanti bisa mengundang marah Yang Mulia!" bentak prajurit yang membawa tombak itu. Tangannya siap hendak melayangkan tombak, tetapi dihentikan oleh prajurit satunya. Dia masih saja menatap dengan tatapan kosong.
"Mereka bilang Yang Mulia sangat baik." Orang itu menatap mereka bergantian. Lalu beralih ke arah prajurit yang tadi menahankan tombak untuknya.
"Ah! Bryan, kau urus dia. Temani dia ke dapur dan beri dia makan. Aku benar-benar pusing karena Yang Mulia tidak ada di sini—sepertinya dia tengah pergi."
Orang yang dipanggil Bryan itu mengangguk, kemudian meangkahkan kaki menuju suatu tempat. Dia segera berdiri mengekor.
Selama lima menit akhirnya dia pergi ke dapur. Bahkan di saat-saat begini banyak sekali orang yang meminta makanan kepada kerajaan. Di saat situasi sekarang yang amat genting—dan ini sudah kelima kali dia mengantarkan pengemis untuk makan.
Raja Baaj memang gila kepercayaan oleh rakyat. Banyak para rakyat yang memuja-muja lelaki tua itu dengan sebutan baik, dermawan, dan tentu saja hal-hal yang bertolak belakang dengan kepribadian aslinya.
Baren adalah lelaki tua picik yang haus kekuasaan, haus jabatan, dan haus akan kekuatan. Tentu saja karena lelaki tua itu menculik Athela. Dia menatap ke sekeliling, suasana istana tampak kacau—sangat kacau.
Tadi dia hendak pergi menemui Kirania setelah tahu fakta bahwa Raja Baren adalah vampir. Dia benar-benar terkejut, sayangnya selama dua jam ini dia belum bertemu dengan gadis itu—dan malah disuruh membawa pengemis ke dapur. Padahal ini sangat penting, apalagi sejak dilancarkan berita bahwa Athela menghilang. Dia yang belum menemukannya sudah tidak punya waktu lagi.
"Kudengar Yang Mulia Raja Baren sudah pulang," kata orang yang bercakap-cakap dengan teman sebayanya. Mereka melintas begitu saja di samping Byakko dengan memberikan informasi yang sangat penting.
"Katanya dia tengah menghukum seorang gadis pelayan."
Dia terkejut, dadanya tercekat karena kaget. Apakah pelayan yang dimaksud adalah Kirania?
Lalu Byakko mempercepat langkah dia menyejajarkan diri dengan mereka.
"Maksudmu menghukum seorang gadis?" Tiba-tiba Byakko nimbrung.
Awalnya mata mereka berdua mendelik karena Byakko yang asal-asalan saja memotong pembicaraan. Namun salah satu dari mereka membiarkannya kemudian melanjutkan bicara.
"Ya, seorang gadis yang dikira menjadi dalang penculikan selir Yang Mulia."
Mereka bertiga berjalan melewati lalu-lalang campuran prajurit dan pelayan. Tak dihiraukan mereka, ketiganya asyik berbicara sendiri. Terlebih lagi Byakko yang terus bertanya-tanya.
"Katanya dia akan dihukum mati."
"Kau tahu saat ini gadis itu di mana?"
Mereka berdua berhenti berjalan, spontan Byakko mengikuti mereka. Lalu keduanya menatap Byakko.
"Gadis itu kekasihmu?"
"Ah tidak, tidak. Dia hanya kenalanku. Em... teman masa kecil, mungkin?"
Kedua prajurit itu mengangguk lalu memasang wajah serius. "Kau akan menyelamatkannya?" Salah satu dari mereka akhirnya berkata begitu, sedikit berbisik agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Kedua matanya menatap ke sekitar, tidak ada orang.
"Y—ya... jika itu memungkinkan."
Tiba-tiba lengan Byakko dicengkeram salah satu dari mereka kuat-kuat. Matanya yang bulat semakin bulat di depan mata Byakko. "Apa kau gila? Kau tidak bisa melepaskannya sendirian!"
Yang satu mengangguk mantap, masih menatapnya dengan tatapan serius sekaligus prihatin. "Setidaknya kau harus membawa lima ratus pasukan prajurit tempur jika ingin melawan Yang Mulia. Dan jika kau kalah, kau akan dihukum mati karena membela pengkhianat."
"Li—lima ratus?" tanyanya pura-pura terkejut. Dalam hatinya dia berkata jika bisa menghabisi kroco vampir itu sendirian, tidak perlu lima ratus prajurit siap tempur itu. Dia tidak ingin membuat dua prajurit di depannya menaruh curiga kepadanya.
Mereka berdua mengangguk mantap, lantas menarik tangan Byakko menuju tempat yang jarang dijangkau orang-orang.
"Kau tahu, katanya, Yang Mulia adalah orang yang sangat berbahaya. Kau tidak bisa membunuhnya, beliau punya umur yang abadi. Kau tidak akan selamat jika berurusan dengan beliau! Belum lagi kau akan bertarung dengan beberapa prajurit terlebih dahulu. Kau tak akan menang—jikalaupun menang, presentasinya di bawah nol."
Presentase di bawah nol? Ejekan apa-apaan itu? Di bawah nol bukankah sama saja tidak bisa menang? Dari mana mereka belajar matematika tentang peluang? Apakah tidak diajarkan seperti itu?
Lagi pula, apa-apaan mereka? Mengatakan seperti itu kepada seorang Byakko, Harimau antologi yang memiliki kekuatan api. Gelarnya penguasa api langit dan bumi.
Ya Tuhan, andai saja dia bisa memamerkan kekuatannya di sini. Dia bahkan bisa meluluhlantakkan kerajaan ini hanya dalam satu menit.
Byakko pura-pura menunduk. Dia sedang berusaha menjadi seorang pemuda yang paling melas sedunia—seperti seorang lelaki yang akan kehilangan kekashinya. Matanya menatap lantai pualam istana itu dengan tatapan sendu.
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki prajurit berjumlah lima pasang mendekati mereka. Dari langkahnya saja sudah terlihat sedang terburu-buru.
"Dia... dia ada di sana!" teriak seseorang. Orang itu menunjuk Byakko, lantas para prajurit-prajurit itu bergegas lari menuju arahnya.
Mata Byakko sedikit terkejut, dia menatap mereka yang berlari tunggang-langgang mendekatinya. Seperti kerumunan semut yang diberi tetesan air. Bedanya semut akan pergi berpencar tanpa arah, sedangkan makhluk yang diberikan akal sehat oleh Allah ini memiliki arah, yaitu dia.
Eh? Ada apa ini?
Kedua prajurit di depan Byakko tersentak, mereka lantas menelan susah salivanya masing-masing. Lalu beralih menatap Byakko yang masih membelalakkan mata.
"Apa kau sudah ketahuan?" Salah satu dari mereka menatap takut-takut.
Wah, apakah ini akan menarik? Aku ikut ditangkap. Bukankah berarti penyelidikan ini akan lebih mudah? pikir gilanya dalam hati.
Byakko yang tadi menatap prajurit yang mendekati mereka pun beralih menatap mereka. "Kalian tidak usah mencemaskanku. Aku akan baik-baik saja."
"Kau! Lelaki yang bernama Bryan! Jangan pergi! Jangan kabur!"
"Kau kaburlah, aku akan menyisakan waktu untukmu kabur." Prajurit itu berkata demikian. Dia menatap Byakko iba.
Ya ampun!
"Kalian sendiri bagaimana?"
"Aku dan dia akan mencoba berbincang dengannya. Kalau tidak bisa, aku akan bertarung dengan mereka. Toh aku sudah muak dengan ini semua. Dengan sistem kerajaan yang menyebalkan ini." Yang satu hanya mengangguk.
"Pergilah."
Ya ampun, tidak ada pilihan selain pura-pura kabur. Padahal dia ingin segera ditangkap oleh mereka dan bertemu dengan Kirania.
Kakinya melangkah, menggesek lantai beberapa kali dalam semenit. Menciptakan getaran-getaran di bumi yang sangat kecil. Kemudian berlari, pura-pura menatap ke belakang dengan tatapan cemas.
Rahasianya tidak boleh terbongkar! Apalagi dia harus memakai jubah itu agar hawa keberadaannya tidak bisa dirasakan oleh Raja Baren nanti.
Dia berlari menuju hutan, pura-pura tersengal agar mereka berpikir bahwa dia serius sedang melarikan diri. Kemudian masuk ke sana dan mencari benda yang mereka—dia dan Kirania tinggalkan saat hendak kemari, dua hari yang lalu.
Di belakang sana dua menit kemudian terdengar suara derapan langkah kaki mereka. Kali ini heboh sekali, bahkan bisa menggetarkan tanah yang dia pijaki sekarang ini.
Ya ampun. Dia tak menemukannya. Bahkan Carl dan prajurit satunya. Apa Byakko dan Kirania terlalu lama membiarkan dua prajurit itu hingga keberadaan mereka diketahui oleh prajurit lain?
Astaga. Ini benar-benar persoalan yang sangat rumit.
Ini seperti akhir hidupnya.