Beberapa kali gadis itu terjatuh. Bebatuan di sana lumayan licin, lalu tanahnya benar-benar lembek. Entah dalam lima menit ini dia sdah terjebak di lubang beberapa kali. Tangannya menggenggam rok, menaikkan sedikit agar tidak terlalu menggangu saat dia tengah berlari.
Semak-semak yang jauh dipandang mata pun tersaji setelah dua menit berlalu setelah sekitar sepuluh meter dia berlari. Pandangannya was-was ke kanan dan kiri, barangkali ada suatu jalan untuk dia melarikan diri.
Entahlah.
Dia tidak ingin bertanya kepada mereka bagaimana bisa meniru Byakko dengan sangat mirip hingga dia tertipu seperti malam itu. Yang gadis itu pikirkan hanya pergi dari tempat terkutuk itu dan bersama-sama dengan Byakko.
Dalam benaknya terbesit pikiran, apakah saat ini Byakko tengah mengkhawatirkannya? Apakah saat ini lelaki super menyebalkan itu sekarang tengah sibuk mencari dirinya?
"AW!" Tiba-tiba Athela memekik keras saat jemari kaki kirinya menendang sebuah batu besar. Darah segar keluar dari jari jempol kakinya, diikuti dengan bau anyir yang menusuk indera penciumannya.
Gadis itu terlalu tergesa-gesa hingga tak memperhatikan sekelilingnya, tak terlalu memperhatikan jalan berlarinya. Terlalu banyak pikiran yang menghinggapinya, semuanya terlihat sangat runyam. Belum lagi dia bertanya-tanya sedang apa Byakko saat ini.
Ah, dia masih saja mengharapkan lelaki itu. Padahal, pemuda dengan rambut pirang sepinggang itu sama sekali tidak memiliki rasa terhadapnya. Mengapa dia masih betah dengan cinta bertepuk sebelah tangannya ini?
Dia terduduk, meluruskan kedua kakinya di bawah pohon terdekat dengan meringis kesakitan. Nyeri telah menjalar di seluruh tubuhnya, membuat gadis itu serasa ingin mati saja.
Jika saja dari awal dia tidak memiliki takdir seperti ini, pasti Athela tidak akan mempunyai luka-luka memar berwarna ungu yang sekarang telah memenuhi tubuhnya.
Dia menghela napas. Lelah sekali rasanya. Netranya diarahkan untuk menatap semburat matahari yang kian meninggi saja.
Ya Tuhan, langit telah membentang luas berwarna biru. Di sisi kirinya kawanan awan seputih kapas menggantung, berarakan, sangat segar bila dipandang mata.
"Aku lelah."
Satu kalimat yang dia ucapkan tapi kaya akan makna. Gadis itu sangat lelah—terlalu lelah—untuk melanjutkan kisah hidupnya seorang diri.
Ternyata sendiri memang menyedihkan. Tidak ada teman untuk diajak berbincang, tidak ada orang untuk diajak berdiskusi, atau orang yang bisa diajak bersantai menghilangkan penat.
Sebentar saja, sebentar saja.
Dia ingin istirahat.
Walaupun itu hanya satu menit.
Dia kembali menatap kaki kirinya yang berlumurah darah merah segar kemudian mengalihkan perhatiannya ke sekeliling hutan, mencari suatu tanaman untuk menghentikan pendarahannya.
Untuk berjalan saat ini dia terlalu pincang, mungkin akan mudah terkejar. Maka sebelum itu terjadi, dia harus menyembuhkan kakinya terlebih dahulu.
Athela bangkit dari duduk, semilir angin menerpa rambut pirangnya dengan lembut. Mereka seolah terbang, mengikuti arah mata angin dengan perlahan. Lehernya sedikit demi sedikit tertusuk oleh hawa dingin yang dihadirkan oleh angin. Menusuk hingga ke kulit dan menembus tulang-belulangnya.
Athela sedikit menggigil. Nyaris dia akan membeku tatkala angin sepoi itu menerbangkan rambutnya. Untung saja matahari di atas sana yang begitu terik cukup memberikan kehangatan di dalam dirinya.
Sekarang, dia akan mencari ke mana?
Matanya menelusuri tanaman-tanaman itu. Banyak tanaman yang tidak dia ketahui, mungkin karena tanaman itu khas dari negeri ini.
Athela kecil sudah gemar menghafal nama-nama tumbuhan yang bisa bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Dibantu Mama dan Papa sebelum kejadian pembukaan portal dulu, dia mulai mengetahui sedikit banyak tumbuhan di pekarangan rumahnya. Bahkan sejak kecil dia bisa membuat sesuatu seperti obat penghentian darah. Dan kabar buruknya, sedikit pun dia tak tahu apa saja yang ada di hutan seluas ini.
Hanya ada suara cericit burung pipit yang tengah bernyanyi di salah satu dahan pohon rindang, lalu beberapa semut ikut berjejer berjalan melewati dahan demi dahan dengan membawa sebuah gundukan besar makanan yang berada di kepala.
Ini benar-benar dunia fantasi, tidak seperti negaranya yang punya kehidupan normal. Yang menarik hanyalah lampu yang terang-benderang di malam hari, berkerlap-kerlip dengan jumlah yang sangat banyak itu membuat mata sedikit terhibur ketika menatapnya.
Lalu gedung-gedung yang besar, penduduk manusia yang padat, dan jalanan yang ramai oleh asap kendaraan roda dua maupun tiga.
Sedangkan di sini, setelah dia melihat lebih lama, hutan ini terlihat seperti hutan fantasi. Banyak sekali pepohonan rindang, kemudian tanaman hias dengan warna beragam. Mulai dari merah, biru, hijau, unggu, toska, merah muda, dan sisanya hijau tua dengan sentuhan bintik-bintik warna putih atau warna lain yang terang.
Tanaman-tanaman itu tumbuh di penjuru hutan ini. Membentuk gerombolan hingga sedap bila dipandang mata. Belum lagi saat sinar sang surya yang menepa berwarna keemasan itu menyiram bumi, menambah kesan menawan.
Cericit burung yang bertengger di dahan, kemudian sedikit suara gemercik air yang bersumber dari air terjun.
Kakinya melangkah dengan pincang. Sejak tadi karena saking paniknya dia bahkan tidak sadar akan keindahan hutan ini.
Seperti hutan hujan tropis, gadis itu nyaris tak bisa merasakan sengatan matahari karena terhalang daun-daun pepohonan yang rimbun. Hanya beberapa saja yang menyelinap di pepohonan itu, membentuk cahaya bundar dan non-simetris yang sampai ke tanah.
Untung saja demikian, jika tidak mungkin kulitnya akan terbakar karena matahari yang mulai meninggi. Jika saja memakai jam manusia, dia dapat mengira saat ini pukul sepuluh atau setengah sebelas pagi. Bukankah itu saat-saat di antara sejuk-panasnya matahari?
Dia harus segera bergegas mencari obat yang mengandung vitamin K yang tinggi agar pendarahannya cepat berhenti. Beberapa jam lagi matahari akan benar-benar sampai di atas kepalanya. Walaupun cahaya itu sulit menembus pepohonan yang rindang, setidaknya bisa menimbulkan atmosfer yang lebih panas dari sekarang ini.
Jalannya terpincang, sesekali Athela menggigit bibir bawahnya meringis kesakitan karena merasakan kaki kirinya bersentuhan dengan sesuatu—seperti tanaman kering, semak belukar—yang bisa membuat nyeri itu semakin menjalar ke segala penjuru badannya.
Matanya kembali berkeliling, menatap ke sekelilingnya untuk mencari sesuatu.
"Ternyata benar dugaanku. Seluruh tanaman yang berada di hutan ini sama sekali tidak ada yang kukenali," katanya pada diri sendiri. "Ya, maklum, sih. Mungkin karena aku sudah sampai di tengah hutan."
Setelah berlari sekitar tiga jam—dan dia tidak tahu bagaimana reaksi Kirania dan Byakko palsu jika tahu bahwa dia tidak kembali. Mungkin mereka terkejut dan menganggap dia tersesat. Itu bisa terjadi karena hutan ini sangat luas dari dugaannya.
Dia tidak mau memutar balik, sama saja degan bunuh diri. Alasannya bisa sampai jauh ke hutan karena ingin melarikan diri dari dua orang gila yang mengaku-ngaku sebagai kenalannya.
Tepat beberapa detik setelahnya dia menghentikan langkah, matanya tertuju kepada sebuah tanaman yang tak asing baginya. Tanaman dengan rupa seperti pohon ketela. Dengan menyeret langkah dia mendekati dan memeriksa tanaman itu yang memiliki daun menjari. Lantas terhenyak.
Tidak seperti tanaman di sekeliling rumahnya yang harus diekstrak, tanaman ini hanya perlu getahnya saja untuk membekukan darah.
Dia benar-benar terkejut. Tanaman itu bahkan lebih mudah digunakan dibanding punyanya dahulu.
Sesegera mungkin dia memotong ranting dan mengoleskan getah yang berwarna putih itu di kakinya yang terluka. Athela mengaduh kesakitan, lantas kembali menggigit bibir agar bisa menahan nyeri itu.
"La? Kau ada di mana?" Suara Byakko menggema, dia berteriak mencari-cari dirinya yang saat ini tengah bersembunyi.
Luka itu pun kembali muncul. Mengiris-iris hatinya hingga menyisakan derita dan kepedihan, lantas dibuat berkeping-keping agar hatinya tak pernah bisa utuh kembali.
Suara itu... benar-benar menyayat hatinya. Banyak hal yang telah dia korbankan dan akhirnya gadis itu sendiri yanh dibodohi.
Dia terlalu sesak jika harus mendegar suara Byakko sekali lagi.
"La? Apa kau tersesat?"
Dadanya naik turun, dia menatap sekeliling sembari berjongkok. Mencari sesuatu yang bergerak, barangkali kedatangan Byakko tak lama lagi.
Tiba-tiba dia tersentak saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Athela membalikkan badan, netranya menangkap seorang gadis hitam berambut gelombang tengah menatapnya sembari menautkan alis. Kepalanya dimiringkan ke kiri sekitar dua puluh derajat.
"Kau tidak apa?" tanyanya. Suaranya mendesis pelan lalu terbang bersama angin. d**a Athela tercekat, naik turun dibuatnya.
Dia... mereka....
Tak lama setelah itu terdengar bunyi rumput kering yang diinjak. Sepersekian detik setelahnya, muncullah seorang laki-laki pirang dengan wajah seperti lelaki yang dia kenali, Byakko, tengah khawatir.
"Syukurlah kau kutemukan." Byakko menghela napas pelan. Matanya tersirat penuh syukur yang begitu besar. Kekhawatirannya pun perlahan menghilang.
Sedangkan gadis di depannya yang tengah terduduk di tanah pun menatapnya dengan tatapan susah diartikan. Setiap melihat wajah Byakko, dadanya tercekat. Jantungnya seperti enggan untuk berdetak, hatinya sakit tiada terkira.
Apalagi yang membuat hatinya remuk adalah saat melihat Byakko tengah mencurahkan cintanya kepada Athela. Itu membuat hati gadis itu benar-benar remuk tak berbekas.
"Kau tak apa?" tanya Byakko saat melihat Athela yang tidak memiliki reaksi apa-apa. Yang dia lihat sekarang, Athela tengah menatapnya dengan tatapan menyedihkan. Lalu, tiba-tiba air mata gadis depannya berlinangan.
Wajah Byakko mendadak kembali cemas. Dalam hitungan detik dia segera memajukan diri mendekati Athela dan berjongkok tepat di depannya. Dia kembali memasang wajah cemas.
Wajah cemasnya Byakko itulah yang membuatnya menangis dengan berderai air mata. Entah mengapa, sekarang sesuatu yang berhubungan dengan Byakko tak lagi sama seperti dulu. Dia telah membenci segala yang dipunya pemuda berambut pirang yang tidak lagi memakai jubah itu.
Athela segera mundur, mencoba menciptakan jarak sedemikian rupa dengan Byakko. Dari raut wajahnya, Athela dapat mengetahui jika saat ini Byakko tengah berpura-pura peduli dan khawatir. Kilatan mata Byakko tersirat keterkejutan, kemudian kembali menatap Athela khawatir. Seperti dia tahu jika saat ini Athela sedang marah—dia bahkan lebih baik dalam memperlakukan gadis daripada Byakko yang asli.
"Maafkan aku." Sejurus kemudian Byakko menunduk, matanya penuh dengan kesenduan. Mata Athela semakin berkaca-kaca, menatap keduanya bergantian dengan kepedihan tiada tara.
"Kalian...." Byakko yang semula menunduk kini menatap Athela, begitupun dengan Kirania yang sejak tadi diam membisu. Mulutnya seperti diperban. Mereka memperhatikan Athela, mencoba mendengar kelanjutan dari perkataannya.
Air mata Athela akhirnya pecah juga. Beberapa menit gadis itu sudah berjuang mati-matian agar terlihat tegar di depan dua penipu ulung yang telah mempermainkan perasaannya.
"Kalian siapa?" tanyanya dengan kesenduan yang mendalam. Air matanya tumpah ruah. Setitik demi setitik jatuh membasahi bumi yang saat ini penuh dengan kehampaan.
"Aku Bryan, apa kau melupakanku? Bukankah kita sudah sepakat untuk saling mengingat?" Wajah Byakko mendadak sedih, dia kembali mendekati Athela.
Athela kembali mundur—tidak, kali ini ke samping. Di belakangnya ada Kirania palsu yang menunggunya.
"Tidak, kau bukan Bryan. Bryan yang kukenal tidak akan seperhatian ini kepadaku. Dia... dia tidak akan melakukan hal-hal yang membuat sakit hatiku," kata Athela membela. Entah mengapa, tetapi Byakko yang dia kenal memang seperti itu.
"Aku sudah memberimu perhatian supaya hatimu tidak sakit, kan? Dan lihat, di sampingmu adalah Sang Pendekar Pedang. Apa kau juga lupa tentangnya? Dia orang yang pernah bertarung denganku saat kita baru saja tiba di Kota Baaj dan membeli jubah. Kau benar-benar lupa?"
Mata Athela terbelalak. Dia tertegun. Sempurna.
Penjelasan itu terlalu sempurna.
Penyamaran mereka juga terlalu sempurna.
Jika saja gadis itu tadi tidak mendengar pembicaraan Byakko dan Kirania yang palsu, gadis itu pasti akan memercayai lelaki itu begitu saja.
"Kau... kau bukan Bryan! Kau bukan lelaki yang selama ini berada di sisiku! Katakan alasan kalian mengapa kalian menyamar menjadi mereka? Mengapa... kalian menculikku?"
Sedetik hening.
Yang terdengar di indera pendengaran gadis itu adalah sebuah lengkuhan kecil dari seekor kelinci yang sekilas melompat-lompat di sekitar mereka.
Di luar dugaan, Byakko mendecih pelan. Bibirnya menyungging seringai yang begitu menyeramkan. Perlahan-lahan wajahnya mengelupas dan berubah menjadi seorang lelaki yang berumur kisaran tiga puluh. Hidungnya bengkok, rambutnya cepak seperti mangkuk, berwarna hitam dengan sedikit sentuhan putih. Bibirnya pucat—begitupun dengan seluruh badannya. Kuku-kukunya hitam seperti dicat, sekarang yang terlihat hanyalah orang yang memakai baju-baju Byakko.
Athela membelalakkan mata saat melihat proses pengelupasan sesuatu itu. Baginya itu sangat mengerikan, bahkan dia ingin berteriak dan menangis histeris saking takutnya.
"Ternyata kau sudah tahu, ya." Byakko—ah tidak, orang itu berkata demikian.
"Aku sudah menduganya, dia pasti mendengar perbincangan kita." Suara seseorang di belakang juga ikut berubah, suaranya terdengar lebih cempreng hingga memekakkan telinga. Refleks Athela menengok ke belakang.
Dilihatnya seorang lelaki jangkung tengah menatapnya sembari berseringai liar. Di bagian pipinya ada luka mengerikan—seperti sayatan dari sebuah pedang yang mengenainya. Lalu di leher lelaki itu terlihat seperti ada bekas sayatan pedang.
Tahu akan apa yang Athela pandang, dia terkekeh. Kekekahan mirip seperti kambing yang sedang tertawa. "Kau tahu, luka ini kuperoleh dari Sang Pendekar Pedang."
Jemari dengan kuku hitamnya memegang luka itu sembari tertawa menyeramkan. Athela bergidik ngeri.
"Kau membuatnya takut, Huld." Orang itu—atau bisa disebut Kakak Huld mendekati adiknya.
Yang dipanggil Huld semakin keras tertawa. "Oh, maaf, aku terlalu terbawa suasana." Tangan kirinya melambai santai sembari tertawa cekikikan.
Kakak Huld—entah siapa namanya—duduk tepat di depan Athela, membuat gadis itu kembali membuat jarak di antara mereka.
"Padahal aku ingin identitas kita tak terbongkar secepat ini. Ya... apa boleh buat." Dia menghela napas, berjongkok sembari menatapnya.
"Kalian ini siapa? Mengapa tidak menjawab pertanyaanku?" Athela kembali bertanya, nadanya bergetar hebat karena ketakutan—wajah lelaki di depannya sangat menyeramkan, walaupun orang yang bernama Huld itu tidak terlalu seram.
Huld tertawa terbahak, sampai-sampai tangan kakannya memegang perutnya. "Jika tidak punya nyali untuk bertanya, sebaiknya urungkan saja. Oh—mungkin itu menjadi sesuatu yang sangat berharga karena keberanianmu."
Dia... dia orang yang pernah bertemu dengan Kirania? Matanya memelotot menatap Huld. Lelaki yang bernama Huld itu tidak terpancing sama sekali emosinya, malah mengabaikan gadis itu.
"Kami ini penyihir Nedgor," ungkap Kakak Huld. Dia menatap mata Athela cukup lama sebelum duduk di rerumputan.
"Apa yang kalian inginkan dariku?"
"Bukankah sudah jelas? Kami ingin membunuhmu. Kami tidak bisa membiarkanmu mati di tangan orang lain selain kami." Kakak Huld mengendikkan kedua bahu, Athela menelan ludahnya sendiri.
"Ba... bagaimana kalian bisa mengenal Bryan?" tanya Athela terpatah-patah.
"Oh... itu mudah saja." Kini Huld yang berbicara. "Kau tahu, aku pernah bertemu dengan Kirania sekali. Aku ingin membunuhnya, tetapi karena dia cantik akhirnya kuurungkan niat untuk membunuhnya." Dia tersenyum, di detik berikutnya menghela napas untuk melanjutkan ceritanya selanjutnya. Mata lelaki yang bernama Huld itu menatap ke sekitar sebentar, lalu kembali menatapnya.
Saat helaan napas itu selesai, dia melanjutkan ceritanya. "Lalu aku mulai sedikit... tertarik kepadanya." Dua tangan pucat dengan kuku-kuku hitam itu saling beradu, terlebih lagi jemari telunjuknya yang dia pautkan.
"Karena aku tertarik kepadanya, akhirnya aku pun mengawasinya. Mungkin menurut bahasa manusia adalah... stalking?" Lalu Huld berdahem sejenak. Telunjuk kanannya ditempelkan di dagu, berpura-pura berpikir. Padahal dia sama sekali tidak berpikir. Otaknya kosong melompong seperti tong kosong yang berbunyi nyaring.
"Stalking?" tanya Athela menegaskan. Huld mengangguk.
Menarik.
Baru kali ini dia melihat ada suatu ras yang tidak membenci manusia. Biasanya tidak sedikit di antara mereka akan berlomba-lomba untuk menaklukan manusia, ras terlemah yang ada di muka bumi ini.
Namun sepertinya, pandangan gadis itu salah.
Apa karena ras mereka sama dengan ayahnya?
"Aku mengawasinya melalui bola sihir. Ketika aku tahu dia bertemu denganmu, aku pun mengatakannya kepada Tetua. Saat bola sihir kami tidak bisa menjangkaumu, itu tandanya kau sedang dibawa oleh suatu ras lain. Kemudian Tetua memerintahkan untuk merebutmu dari vampir itu."
"Bagaimana kalian bisa meniru mereka persis?"
"Kami bisa mengubah diri kami sesuka hati, terutama dengan apa yang telah kami lihat. Bukankah sudah kukatakan, kami pernah melihat Nia dan Byakko melalui bola sihir. Dan ketika kami mencari jejakmu, sampai di Kerajaan Baaj, dengan Raja Baren, seorang vampir petarung."
"Jubah... dan pakaian?"
"Kami tidak tahu, ya, tapi ketika hendak ke sana kami melihat ada dua pengawal yang sedang disekap, kemudian di sampingnya ada pakaian yang mereka kenakan. Dengan begitu bukankah sudah jelas jika mereka sedang menyamar untuk menyelamatkanmu?"
Kakak Huld menghela napas. "Lalu itu menjadi keuntungan kami karena saat ini kau sedang sendirian, tidak ada yang akan menolongmu. Toh kau hanya seorang penyihir yang tidak berbakat—tidak bisa melakukan sihir satu pun. Belum lagi saat itu ternyata gedung yang menjadi tempat tahananmu berada di hutan, sedikit jauh dari istana yang sebenarnya. Untuk menculikmu, tidak perlu melakukan keributan sampai ke istana. Jika iya mungkin akan repot.
"Dari situ kami berpindah tugas. Huld menyamar menjadi Kirania sekaligus pelayan. Kami berpikir jika kedua orang ini akan menjadi orang yang dekat denganmu. Apalagi lelaki yang bernama Bryan itu. Pemuda biasa yang bahkan menggunakan sihir penyembuh pun tak bisa—dan dia menjadi seorang petualang. Benar-benar miris."
"Kalian... kalian... b******k!" d**a Athela naik turun, dia menatap kedua lelaki itu bergantian dengan tatapan marah. Mereka tertawa.
Jadi Byakko dan gadis itu—Kirania—saat ini tengah menolongnya dan berada di Kerajaan Baaj? Bagaimana jika mereka dijadikan tersangka?
"Yah, apa pun itu. Aku harus segera membawamu ke sana agar Tetua tidak marah." Kakak Huld membalikkan badan kemudian berjalan. Empat langkah kemudian, dia berhenti. Kepalanya diputar ke samping. "Oh, jangan khawatir. Kau tidak akan dikejar oleh vampir tua menjijikkan itu. Dia tidak bisa sembarangan masuk ke wilayah markas besar Penyihir Nedgor."
Sejurus kemudian kembali berjalan.
"Mar—kas... besar... penyihir?" tanyanya kepada diri sendiri dengan nada lirih seolah tak percaya.
"Ya, saat ke sini kau tahu ada batu besar yang seperti terowongan itu, kan? Nah, itu pintu gerbang markas besar Penyihir Nedgor."