Rencana Byakko: Penyelamatan Kirania

3112 Kata
"Astaga, sepertinya aku harus berpura-pura kalah. Barang yang kuperlukan tidak ada di sini." Begitulah kata Byakko sebelum menghela napas kesal. Sembari menunggu para prajurit kerajaan, dia harus segera mengamankan barang-barangnya. Namun sepertinya barang itu tak ditemukan olehnya. Terlebih lagi jubah miliknya. Akan sangat berbahaya jika dia bertemu dengan Sang Raja. Sudah pasti identitasnya sebagai makhluk tak wajar akan terbongkar, terlebih lagi dia adalah seorang vampir. Hal yang paling mengerikan dari seorang vampir bukanlah taring dan kuku-kuku hitam runcing miliknya, tetapi ada pada indera penciumannya. Makhluk yang dianggap menjadi legenda di dunia tempat terlahirnya Athela itu bisa saja mengendus baunya dan membongkar penyamarannya yang sudah berjalan sukses selama dua hari ini. Kaki kanannya menendang pohon yang jangkauannya paling dekat dengan Byakko, kemudian dia kembali menghela napas kasar. Ini semua adalah kesalahan yang telah dia perbuat karena tak langsung mengamankan barang-barangnya. Jika sebelum menyamar dia sudah mengamankan barang-barang dan menyembunyikan dua prajurit itu, mungkin rencananya akan berjalan lebih mulus daripada ini. Sayang sekali, sepertinya benda miliknya dan Kirania telah ditemukan oleh beberapa prajurit di sana bersamaan dengan kedua tawanan yang mereka ikat dua hari lalu. Lagipula, manusia mana yang akan bertahan selama dua hari di pinggiran hutan yang paling dekat dengan istana ini tanpa tak ketahuan keberadaan mereka? Bagaimana jika jubah hitam itu sekarang sudah ada di tangan Raja Baren? Jika dugaannya benar, ini akan menjadi salah satu skenario buruk dalam hidupnya. Netranya menangkap ada gerakan di tanah. Kecil sekali gerakannya, tetapi dia dapat merasakan hawa keberadaan manusia yang menghampirinya. Tidak salah lagi, mereka adalah para prajurit perang istana. Bagaimana nasib kedua orang itu tadi, ya? pikir Byakko. Dia bergumam beberapa detik sembari mematahkan satu ranting terdekat dengannya, lantas membuat sebuah tanda yang barangkali suatu saat akan berguna. "JANGAN BBERGERAK!" perintah salah satu dari mereka. Dilihat dari mana pun, orang yang memberikan perintah itu adalah atasannya. Mereka membawa pedang, beberapa di antara mereka juga ada yang membawa busur, sebuah alat bertempur jarak jauh yang terbuat dari kayu. Sedangkan benangnya memakai nilon sangat tebal. Byakko menaikkan kedua tangan, dia menatap mereka dengan tatapan menyedihkan. Seolah baru saja dikalahkan oleh para kroco-kroco itu. Untung saja mereka manusia biasa. Jika tidak, identitas dirinya sebagai seekor Byakko akan benar-benar terbongkar di sini. Dia tidak boleh terlalu khawatir. Dua di antara mereka merangsek maju menginjak semak-semak hijau setinggi mata kaki. Lantas langkah berikutnya membuat suara menginjak daun kering. Keduanya menatap Byakko tanpa rasa ragu. Satu di antarany membawa pedang, sedangkan satu lainnya membawa busur panah. Sepertinya dia sedikit salah memperhitungkan prajurit tempur di istana ini. Mereka sudah mulai belajar strategi bertarung. Contohnya saja mereka berdua datang dengan membawa dua jenis s*****a bertarung. Jarak dekat dan jauh. Orang yang lihai akan pertempuran jarak jauh akan mengecoh musuh hingga keseimbangan mereka goyah, barulah orang yang bertugas dalam pertempuran jarak dekat menunjukkan giginya. Namun, mereka berdua tidak melakukan itu. Tentu saja. Mereka hanya diperintahkan untuk menangkapnya hidup-hidup, dan tentu saja mereka pikir jika Byakko adalah orang biasa. "Jika kau bergerak seinci saja, pedang ini bisa membunuhmu." Prajurit pembawa pedang yang masih berada di sarungnya itu sedikit menggertak, berpura-pura akan mencabutnya jika Byakko menolak. Sedangkan prajurit yang membawa busur panah melangsungkan tugasnya, mengikat kaki dan tangan Byakko dengan tali besar dengan sangat erat, harapannya semoga tawanan mereka tidak kabur lagi. Mereka menyeret Byakko kembali masuk ke istana. Baru lima langkah mendekati gerbang, dirinya sudah dinanti beratus-ratus prajurit tempur dengan seragam yang sangat lengkap—mungkin orang lain akan merasa terhormat karena dinanti oleh ratusan prajurit seperti itu, tetapi Byakko biasa saja. Menurutnya, sebanyak apa pun prajurit, kroco tetaplah kroco. Dia bisa menaklukkan mereka kapan saja. Akan tetapi, dia selalu teringat dengan perkataan Athela agar dia jangan mengeluarkan kekuatannya di muka umum. "Penghianat sebaiknya mati!" "Pengkhianat seharusnya mati!" Sorak-sorai itu kini memenuhi dua daun telinga Byakko. Langkah demi langkah yel-yel itu semakin keras hingga berdengung. Hal yang mematikan dari manusia bukanlah kekuatan, melainkan lidah mereka yang begitu tajam. Sorak-sorai itu buktinya. Ini benar-benar bukan sikap yang terhormat bagi seorang prajurit. Mereka berteriak sembari menghentakkan tombak ke tanah, lantas menganggapnya manusia rendahan yang bisanya hanya berkhianat. Manusia dari dulu memang sangat licik. Lidahnya pun licin. Banyak dari makhluk klan lain sepertinya yang tidak ingin mengganggu manusia karena hal itu. Bahkan digadang-gadangkan, manusia adalah makhluk yang paling mengerikan di muka bumi. Mengalahi semua klan yang ada. Sorak-sorai dari ratusan prajurit itu pun lenyap saat Byakko melangkahkan kaki di istana. Tepat di karpet warna merah yang panjang menjulang. Kemudian matanya langsung dimanjakan beberapa pilar yang menyangga dengan sangat besar dan kukuh. Mewah sekali interior istana itu. Empat prajurit mengawalnya, berjalan dengan membawa tombak. Dua di depan, sedangkan dua berada di belakang. Byakko di tengah-tengah, seperti iring-iringan saja. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana dia harus menghilangkan kekuatannya sendiri. Dia tidak mungkin tampil di depan Raja Baren dengan kekuatan yang melimpah-ruah. Semakin lama jaraknya semakin terpangkas. Dia berjalan menuju tempat takhta kerajaan, di mana sang Raja Baren duduk di kursinya mengikuti karpet merah kebesaran istana. Tentu saja, nanti dia akan memutuskan hukuman mati apa yang akan menunggu mereka. Salah seorang prajurit di depan membuka sebuah pintu besar berukuran empat kali tiga setengah meter dengan ukiran kuno berwarna cokelat terang. Pintu terbuka. Yang pertama ditangkap oleh netranya adalah seroang raja tua yang duduk di takhtanya dengan sangat angkuh. Di atas rambut putih keriting itu tersemat mahkota emas asli yang memiliki pertama di tengah-tengahnya. Sangat indah. Entah berapa banyak kekayaan yang dia peroleh dari menjarah orang-orang tak berdosa di luar sana. Terlebih lagi pajak rakyat juga ditinggikan. Dia benar-benar lelaki picik. "Beri hormat kepada Yang Mulia Raja!" perintah sang prajurit yang berada di depannya. Raja Baren menatap Byakko dengan tatapan remeh, salah satu sudut bibirnya terangkat. Membentuk seringai yang menakutkan. Semua prajurit bersujud. Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Tidak terjadi apa-apa. Para prajurit membelalakkan mata karena tak percaya. Baru kali ini mereka melihat ada seorang prajurit yang tak membungkukkan badan dengan takzim ketika berhadapan dengan Yang Mulia Baginda Raja. Lelaki yang duduk di singgasana itu pun menghilangkan seringai menakutkannya. "Apa yang kau lakukan? Cepatlah beri hormat kepada Yang Mulia Baren!" Saat salah satu prajurit hendak menendang Byakko, tangan Raja Baren terangkat. Menandakan jika cukup sampai di situ saja. Prajurit itu pun menaati, lalu kembali bersujud seperti teman-temannya. Dia berjalan menuruni takhta, lalu melewati anak tangga yang dilapisi karpet merah. Netranya tak pernah berhenti menatap pemuda tampan berambut pirang di depannya yang tak gentar melihatnya. Semeter. Dua meter. Terdengar ketukan sepatu Raja Baren yang menyentuh tanah. Byakko mendecih pelan, membuat Raja Baren menghentikan langkah kakinya. Matanya membulat sempurna, wajahnya memerah karena amarah. Pemuda di depannya itu seakan tengah mengejeknya. Namun sepertinya amarah Raja Baren diredam. Lelaki itu kembali menyungging seringai menyeramkan sembari mendekati Byakko yang tanpa takut berdiri berhadapan dengannya. "Kau—" "Di mana temanku?" tanyanya memotong perkataan Raja Baren dengan dingin. Pandangan matanya yang memiliki iris bening itu juga menatap Baren dingin. Raja Baren berhenti, dia menatap pemuda tampan di depannya yang berhadapan dengannya tanpa rasa takut. Iki kali pertama dia melihat ada prajurit yang sangat tidak sopan seperti dirinya. "Sebentar lagi kau akan bergabung dengannya. Kalian akan segera dihukum mati." "Oh." Begitulah jawab Byakko. Singkat, padat, dan jelas. Tentu saja Raja Baren terlihat sangat marah karena jawaban Byakko barusan. Pemuda itu benar-benar bernyali. Dia merasa kekuasaannya sebagai raja di Baaj tidak diakui olehnya. "Kau cecunguk ulung," kata Raja Baren setelah memerintahkan beberapa pengawal meninggalkan mereka. Tangan kekar tua yang sudah berkeriput itu memegang dagu Byakko dengan sangat kuat, membuat siapa saja orang akan merasakan kesakitan. "Oh, jadi ini yang kau lakukan kepada temanku," ucapnya tenang. Mata beningnya melihat ada aura hitam pekat yang mengelilingi Raja Baren. Dia sedikit mengerutkan dahi. "Kau... b******k. Prajurit yang tidak punya tata krama dengan Raja. Seperti seekor anjing nakal yang tidak pernah mau melakukan apa yang diperintahkan majikannya." "Oh, jadi, kau menganggapku seperti anjing?" Tatapannya tajam ke arah Raja Baren. Dari sudut matanya dia melihat aura hitam itu semakin pekat. Lalu, wajahnya memerah sempurna tanda jika dia benar-benar marah. Matanya pun mendelik seperti mau copot dari tempatnya. "k*****t!" BUG! Raja Baren menendang perut Byakko kuat-kuat, darah segar keluar dari sudut bibirnya sebelah kiri. "Kau hanya prajurit biasa yang sebentar lagi akan menjadi mayat! Berani-beraninya kau mengatakan itu kepadaku!" Nada suaranya meninggi. Kakinya masih menendang sana-sini, membuat Byakko berkali-kali harus memuntahkan darah dari mulutnya sendiri. Kaki kanan. Kaki kiri. Perut. Perut. Beralih ke Raja Baren yang mengepalkan tangan meninju wajah Byakko kuat-kuat. Byakko menatap ke wajah Baren dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Lantas tanpa diduga, sudut kanan mulut pemuda itu terangkat. Byakko tengah menyeringai kepadanya tanpa tahu kondisi tubuhnya sendiri. "s****n KAU!" Raja Baren semakin naik pitam, diambilnya salah satu tombak yang berada di belakang Byakko yang tadi ditinggalkan oleh prajurit kepadanya. Kemudian.... TRASH! Sebuah darah segar mengalir di perut Byakko. Perutnya terasa berdenyut-denyut dan nyeri. Sedangkan di kepalanya pusing karena kehilangan darah. Lalu nyeri merambat ke sekujur tubuhnya, semua kesakitan miliknya seperti dilipatgandakan. Byakko terjatuh di lantai. Lemas lunglai karena terlalu banyak cairan darah yang dia keluarkan. Matanya sedikit meredup, lalu pemuda itu menatap Raja Baren yang menyeringai penuh kemenangan di dekatnya. Ini belum saatnya untuk merayakan kemenangan, Vampir bodoh. Bau anyir menyeruak mengisi ruangan itu. Bercampur dengan udara hingga sampai ke indera penciuman Raja Baren. Lelaki tua bermahkota itu menyeringai. "Coba kita lihat, apakah dengan keadaan ini kau masih tetap bisa menyimpan seringaian burukmu it—" Iris mata hitam kelam seperti kelereng itu terbelalak. Tak percaya menyaksikan pemuda di depannya yang masih menyungging seringai seolah merendahkannya. Padahal, baru beberapa detik yang lalu dia terkulai lemas karena kehabisan darah. "KAU k*****t! AKU AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG JUGA!" Tombaknya diarahkan menuju kepala Byakko. Dari jarak satu meter dia sudah menggenggam erat tombak yang berujung runcing hingga bisa mengeluarkan usus-usus Byakko tersebut. Hanya masalah waktu saja dia bisa menghabisi Byakko dengan kedua tangannya. Sepersekian detik kemudian, tombak itu meluncur. Matanya membesar, mulutnya menyeringai karena rasa senang bisa membunuh seseorang dengan kedua tangannya sendiri. Sudah lama dia tidak menyaksikan kematian tragis. Dan kali ini dia sendiri yang akan membuatnya. Sebelum dikubur, dia bisa saja membedah isi perut dan otak pemuda tak diuntung itu dengan mudah lalu memakannya. Darah-darahnya tak dibiarkan tersisa hingga tubuhnya kering-kerontang seperti bentuk tulang. Dia tertawa menyeramkan. Saat ujung tombak itu sudah berada di depan kepala Byakko persis, jaraknya sekitar sepuluh sentimeter, dia menghentikannya. Kembali tertawa menyeramkan. Tawa yang mengundang aura hitam pekat mengelilinginya. Tawa yang dapat membelah seisi ruangan ini. "Aku akan menyiksamu dulu sebelum membunuhmu. Kau tahu, aku sangat ingin melihat wajah bodohmu itu semakin menderita. Karena... wajah menderitamu itu sangat indah." Gelak tawa kembali hadir. Iris matanya yang hitam kelam itu membesar satu, kuku-kuku hitamnya terlihat. Sudut bibirnya terangkat dengan sangat mengerikan. "Kau adalah pemuda bodoh yang ceroboh." "Kau suka menyiksa orang?" Byakko bertanya dengan tatapan datar. Raja Baren memiringkan kepalanya ke kiri, kemudian sedikit berdahem, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. "Ya. Kurasa begitu. Apalagi orang-orang muda sepertimu yang darahnya masih sangat segar." "Mengapa kau hobi sekali menyiksa orang?" "Mengapa, ya? Karena... kau lemah?" Kini tawanya berubah menjadi cekikikan yang mengerikan. Penampilannya belum bertransformasi, tetapi benar-benar mengerikan. Seperti psikopat ulung yang hobi membunuh dan menyiksa orang. "Ah, sudah-sudah. Kurasa aku terlalu mengoceh dan membiarkanmu sendirian tanpa belaianku. Pertama-tama aku akan memulai dengan membedah isi kepalamu." Raja Baren mengelus rambut Byakko yang bersimbah darah. Rambut pirangnya berubah sebagian berubah menjadi merah karena terkena cairan kental merah itu. "Kau mau tahu siapa orang yang lebih bodoh dariku?" Raja Baren diam. Saat mulutnya terbuka hendak mengucap kata, Byakko langsung melanjutkan perkataannya. "Kau. Kau orang yang lebih bodoh dariku." Tepat setelah dia berhenti tertawa, wajahnya berubah menjadi lebih mengerikan. Kembali memerah karena amarah dengan kedua mata hitam kelam itu membesar sebesar kancing baju. Tangannya menggenggam erat tombak dengan mata kesetanan dan hawa membunuh yang kuat. "k*****t KA—" Tombak itu dihujamkan ke kepala Byakko. Dia ingin melihat bagaimana reaksi pemuda itu, apakah masih bisa mengejeknya atau— Byakko menggulingkan badan ke kanan, mencoba menghindari tombak itu dengan melakukan perlawanan. "Kau vampir bodoh yang tidak tahu posisimu." Seringai ejekan kembali terbit di bibir merahnya yang penuh dengan darah. Pemuda itu tak gentar membuat lawannya berhenti marah. Sepertinya bakatnya adalah membuat orang lain menyulut emosi. "KAU YANG HARUS MENYADARI POSISIMU, k*****t! KAU ADALAH AIB BAGI KERAJAAN INI! KAU ADALAH AIB DARI CIPTAAN TUHAN!" BLEDAR! Sebuah sinar putih berbentuk seperti tombak datang. Dengan panjang satu diagonal ruang tempat ini. Pintu terbuka, terlihat seseorang yang dia kenali berada di ambang pintu. Dengan membawa dua orang lainnya. Lantas sinar berbentuk tombak itu hilang. Ketiga orang itu tidak asing baginya. Raja Baren buru-buru menghentikan siksaannya kepada Byakko di depan orang-orang itu dengan agak takut. Sepertinya dia tidak ingin kehilangan jabatan dan pamornya yang sangat dijunjung tinggi oleh warga seantero Kerajaan Baaj. Veer dengan dua prajurit yang dua hari lalu yang tubuhnya dia ikat di pinggir hutan. Sepertinya dugaannya benar. Mereka sudah ditemukan oleh para prajurit kerajaan. Byakko menghela napas pelan. Setidaknya yang dia khawatirkan saat ini tidak terjadi. Raja Baren tidak tahu dia adalah harimau yang melegenda itu. Jika dipikir-pikir, menyembunyikan kekuatan dan berpura-pura menjadi orang yang lemah sungguh merendahkan martabatnya. Lain kali jika bertemu dengan Athela, dia akan mengatakan kepada gadis itu bahwa tidak akan menyembunyikan kekuatannya lagi. Mereka bertiga membungkukkan badan takzim, lantas kembali menegakkan diri. Veer melirik Byakko yang saat ini terkulai lemas di lantai dipenuhi luka-luka lebam. Sepertinya tidak ada waktu lagi. Jika dia tidak cepat-cepat menyelamatkan Kirania dan menjemput Athela, waktu tak akan berpihak kepadanya. Ini sesuatu yang sangat mendesak! "Maaf mengganggu, Yang Mulia." Veer berkata dengan halus. Dia tersenyum simpul dan penuh hormat. Raja Baren kembali ke kursi takhta miliknya seperti tak terjadi apa-apa. Sepertinya para petinggi kerajaan dan orang-orang yang dekat dengan raja sudah tahu akan hal ini dan mereka merahasiakannya. "Apa yang kau laporkan?" "Saya melaporkan jika kedua manusia ini ada kaitannya dengan pemuda yang saat ini tengah tersungkur di depan Anda, Yang Mulia." Raja Baren membenahkan duduknya senyaman mungkin. Tangan kanannya menyangga kepala, lantas menatap ketiganya satu per satu. "Dia, Carl, telah membantu para penyusup ini datang, Yang Mulia." Lelaki yang kemarin dia ikat bersama Carl berkata lantang dan penuh dengan keyakinan. Seperti perkataannya sangat benar saja. "Kau bilang dia penyusup?" Raja menatap Carl. Dia menundukkan kepala. Pemuda itu tidak mau memperlihatkan matanya yang sendu. "Iya, Yang Mulia. Saya sangat yakin jika Carl adalah kaki tangan mereka. Saya sempat diikat dengan dia, dan lelaki ini membiarkan mereka berdua lolos." Orang tua itu membungkuk lagi sebagai tanda akan selesai melapor. Sedangkan Carl yang tadi menunduk kini menatap lelaki di sampingnya dengan membelalakkan mata kaget. Matanya seperti berkaca, dengan kedua tangannya gemetar karena takut. Ya ampun, drama macam apa ini? "Aku tidak pernah mempunyai kaki tangan seperti dia." "Bohong, Yang Mulia. Saya yakin pemuda yang bernama Bryan itu ingin melindungi prajurit seperti Carl ini." Byakko mendecih pelan, mereka berempat menatap pemuda yang tidak sopan itu. "Kau, katanya seorang raja. Tapi, kenapa kau sangat mempercayai omong kosong seperti itu? Kukira kau menggunakan otakmu untuk berpikir, ternyata kau selalu menganggap laporan dari bawahanmu adalah kebenaran. Aku penasaran, bagaimana negara ini bisa maju padahal rajanya adalah seorang bodoh seperti—" "TUTUP MULUTMU!" Raja mendelik. Suaranya menggelegar sampai membelah keheningan. Entah kapan, Byakko tidak menyadari jika Raja Baren telah berada di sampingnya. Dan saat itu dia tidak sadar jika mulutnya telah dijejali sepatu Sang Raja. Byakko berontak, Raja Baren mencabut sepatunya dari mulut Byakko. "Jauhkan kakimu dari mulutmu. Kakimu bau." Saat Raja Baren mengepalkan tangan dan hendak meninju wajah pemuda yang kurang ajar itu, Veer kembali berdahem. "Saya mohon, Yang Mulia. Tetaplah tenang." Raja Baren mendadak diam. Sepertinya Veer adalah penasihat kerajaan. Byakko telat menyadarinya. "Apa pun itu, pemuda ini tetaplah penyusup. Dan kau telah membantunya," kata Raja Baren sembari menunjuk Carl. Pemuda itu menggeleng perlahan, ingin melakukan perlawanan tetapi tak bisa. Lidahnya terlalu kelu, tidak seperti Byakko yang ingin berkata apa saja kepada Sang Raja dengan bebasnya. "Kau menangkapku dan Kirania karena menduga kami yang menculik gadis itu, kan?" tanya Byakko di sela-sela percakapan mereka. Dia terbatuk dan muntah darah. Namun, masih tetap tersenyum seringai. Benar-benar manusia yang tangguh. "Gadis itu yang menculiknya. Lalu, kau berhubungan dengannya." Raja menatapnya tajam seraya membalas dengan nada yang malas. Byakko tertawa, kemudian dia terbatuk. "Kau benar-benar raja yang bodoh. Bagaimana kau bisa menjelaskan soal gadis itu yang kembali lagi ke sini padahal sudah mengambil sesuatu darimu? "Ibarat maling yang sudah ketahuan dan berhasil kabur. Apa dia akan kembali ke rumahmu dan berpura-pura menjadi pelayanmu? Ini seperti Kirania masuk ke kandang harimau." Byakko terkekeh menyebalkan. Raja Baren sedikit kesal, tetapi dia tahan. Perkataan Byakko ada benarnya. "Lalu menurutmu, ini ulah siapa?" Kekehan Byakko semakin keras, dia menatap Raja Baren dengan tatapan merendahkan. "Mengapa aku harus katakakan kepadamu?", "s****n KA—" "Yang Mulia, saya mohon. Tolong jaga amarah Anda." Veer mendekati Raja Baren, meninggalkan dua prajurit itu yang masih mematung karena ketakukan setelah melihat Sang Raja murka. Raja Baren menghentikan gerakannya. Napasnya naik turun menahan amarah. "Bagaimana jika kau memberikan kami petunjuk itu, Bryan?" tanyanya dengan lembut. Tangannya membantu Byakko terduduk. Dia menyeret tubuh pemuda berambut pirang itu ke salah satu pilar kerajaan dan mendudukkannya. Dengan segera dia mengambil air minum yang telah dia sediakan, lalu memberikannya kepada Byakko. "Kawan, kondisimu sangat memprihatinkan. Seharusnya kau tak menahan informasi yang membuat Yang Mulia marah seperti ini. Seharusnya kau juga jangan menyulut amarah Yang Mulia," katanya sembari berbisik tepat di telinga Byakko. "Yang Mulia, Bryan adalah teman saya. Bolehkah saya melepaskan ikatan itu? Toh sudah jelas sekali jika bukan Bryan-lah pelakunya." Veer mengiba, membungkuk takzim kepada Raja Baren. Berharap permintaan itu dikabulkan olehnya. Baren, raja tua itu diam saja. Lantas melirik kondisi Byakko yang mengenaskan. Luka lebam di mana-mana karena perlakuannya sedari tadi. Namun, pemuda itu masih saja menyeringai menyebalkan. "Akan kuanggap sebagai persetujuan," bisiknya lagi. Dia segera melepaskan Byakko dari ikatannya. "Kau... Raja Bodoh. Dan kau... teman yang tidak diuntung." Byakko menunjuk Raja Baren, kemudian beralih menunjuk prajurit di samping Carl. Mereka mendelik marah. "Hei, apa kau keberatan jika aku memanggilmu teman tak diuntung. Ups—kau ini bukan teman. Mana ada teman yang mengadu domba teman lainnya. HAHAHAHA." Tawanya menggelegar. Mereka diam saja. "Oh... maafkan aku yang terlalu banyak mengoceh." Byakko beralih menatap Raja Baren yang sejak tadi menahan amarah. "Aku akan memberikan informasi tentang itu, tapi sebagai imbalannya ajak aku dan Kirania di misi menyelamatkan Athela. Bagaimana, kau setuju? Raja Baren diam saja. Dia tampak menimang sesuatu. "Kurasa kita sudah tidak punya waktu lagi untuk berunding. Jika kau tidak mau, aku akan menyelamatkannya sendirian." Byakko menyeringai karena sudah berada di atas angin sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN