Rencana Byakko: Penyelamatan Athela

2241 Kata
Sebuah meja panjang terlihat menjulang. Berukuran sekitar dua meter dengan panjang tujuh meter. Di sisi-sisinya ada beberapa kursi yang dijadikan tempat duduk oleh orang-orang berpangkat tinggi. Tak terkecuali Panglima Tertinggi. Lelaki yang bertemu dengan Byakko tempo lalu. Tampaknya, orang tua itu sedikit kaget saat melihat ada Byakko di rapat hari itu. Dia terkekeh pelan. "Aku senang kau baik-baik saja. Sudah kuduga, kau memang pemuda yang cerdas," katanya sembari menepuk-nepuk punggung Byakko dengan tawa yang menggelegar. "Aku hanya ingin melindungi apa yang ingin kulindungi," jawab Byakko sembari menghela napas. Netranya melihat semua petinggi istana yang hadir tampak menatap Byakko dengan tatapan tak suka. "Yang Mulia, saya rasa menghadirkan orang yang tidak ada kaitannya dengan ini sangatlah tidak bisa diterima. Seharusnya yang menghadiri rapat besar ini adalah para petinggi." Lantas sepersekian detik kemudian, ricuh kembali hadir. Menguasai ruangan itu dengan sangat lama. Mereka, para petinggi sombong itu seolah tengah memandang rendah Byakko. "Ya ampun. Tadi aku dipaksa ke sini. Kukira ada hal yang penting, ternyata kalian menyuruhku menonton kerusuhan tak bermutu ini?" celetuk Byakko terang-terangan. Mereka semua menatap Byakko. Saat ini, lelaki dengan paras tampan dan beriris mata oranye bening—sebagai tanda bahwa dia adalah seorang penyihir pemilik api—tengah menatap mereka satu per satu dengan tatapan malas. Kakinya disilangkan, kemudian tangan kanannya digunakan untuk menopang dagu. Beberapa di antara mereka berceletuk menyumpah-serapahi Byakko. Ada pula yang sampai berdiri dengan mata memelotot seperti mau jatuh ke lantai. Kerusuhan itu terjadi selama beberapa detik. Kemudian terhenti saat Byakko berdiri. Pemuda dengan surai berwarna pirang itu menatap mereka malas, lantas membalikkan badan menuju pintu. "Kalian rapatlah tanpa aku. Beri tahu saja bagaimana nanti hasilnya kepadaku. Aku malas menonton percekcokan kalian yang tidak menarik sama sekali." Byakko melambaikan tangan seolah simbol perpisahan, lantas membuka pintu. Hanya dalam beberapa detik setelah pintu itu tertutup, mereka sudah tak melihat batang hidung pemuda yang menyebalkan itu. *** "Kau tidak papa?" Itulah yang pertama kali didengar Kirania saat siuman. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali saat melihat langit-langit ruangan yang begitu asing baginya terlihat buram. Entah ini sudah hari keberapa dia disekap di suatu tempat. Seingatnya, beberapa saat yang lalu dia berada di ruangan yang tidak memiliki langit-langit indah dengan ukiran bunga teratai di atas sana. "Aku di mana?" Bibir mungil itu akhirnya mengucapkan sesuatu setelah beberapa jam diam. Dia tidak ingat kejadian apa saja yang telah menimpanya, yang dia ingat hanyalah saat itu dia tengah mencari salah satu kamar Raja Baren. Namun, tiba-tiba segerombolan pasukan prajurit kerajaan menahannya. Tiba-tiba setelah sadar, dia sudah berada di suatu tempat dengan nyeri yang begitu luar biasa. Yang jelas, tempat itu tidak di sini. "Oh. Kau sudah bangun. Kau siuman lebih cepat dari yang kukira." Lantas gadis itu menengok sang sumber suara. Lelaki yang dikenalinya tengah duduk di samping ranjang tempatnya tertidur. Lelaki bersurai pirang dengan pakaian prajurit dengan mata oranye bening itu menatapnya datar. "Kita di mana, Bryan? Dan, apa yang terjadi denganku?" "Apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau tanya kepadaku pertanyaan bodoh itu? Jelas sekali aku tidak tahu apa yang dilakukan orang tua bodoh itu kepadamu selama lima jam ini." Nadanya dingin nan menyakitkan. Ditambah lagi tatapan datarnya yang membuat lelaki itu tambah menyebalkan. Untung saja dia tampan. Untung pula saat ini dia belum terlalu bisa gerak, jika sudah bisa bergerak Kirania pasti akan menonjok wajah datar tanpa dosanya itu. Lalu mengajari sopan santun kepada mulut merahnya yang asal ceplas-ceplos mengeluarkan kata-kata menyakitkan. "Aku tahu. Kurasa beberapa jam yang lalu aku tidak di sini." "Ya. Kau di kandang bebek." Mata Kirania terbelalak sempurna karena kaget. Iris mata gadis itu membesar seperti kancing baju berwarna hitam kelam. Walaupun dalam keadaan kaget seperti ini pun, Kirania tetaplah cantik. Mata indah itu menjadi buktinya. "Kau tidak berbohong?" "Mengapa aku harus berbohong kepadamu? Memangnya apa untungnya untukku?" jawabnya cepat dan dingin. Kali ini mukanya tambah datar, seolah sebal dengan setiap pertanyaan Kirania. Kirania segera memeriksa tubuhnya, barangkali ada kotoran bebek yang menyangkut di bajunya. "Kau disembunyikan di bangunan dekat kandang bebek, bukan tepat di kandang bebeknya." Merasa tahu kecemasan Kirania, Byakko kembali menjelaskan. Byakko melirik badan Kirania sekejap. Dari bawah ke atas, memeriksa setiap luka-luka lebam yang diterima Kirania. Sepertinya, gadis ini telah dipaksa untuk membuka mulut selama lima jam terakhir. Namun karena tidak tahu apa-apa, dia disiksa. BUG! Sebuah bantal menghantam muka pemuda tampan yang tidak berekspresi itu. Lantas Byakko menatap Kirania dengan tatapan yang masih sama. Datar. Pipi Kirania memerah sempurna. Dia sepertinya tersipu malu. "Kau... apa yang sedang kau lihat?" Rona merah itu kini membesar sampai ke wajah. Muka Kirania kini benar-benar merah layaknya tomat yang sudah direbus masak-masak. "Aku sedang berpikir jika selama ini dia memaksamu untuk membuka mulut, padahal kau tak tahu kejadian apa pun mengenai ini." Pipi merahnya mendadak mereda sedikit demi sedikit. Sampai pipi itu benar-benar kembali ke warna kulitnya yang putih bersih. Sepertinya gadis itu sudah salah sangka. "Kuharap kau tidak berpikiran macam-macam." "Si—siapa yang berpikiran macam-macam!" sanggahnya dengan cepat. Pipinya kembali memerah. Kali ini tidak karena tersipu, melainkan rasa malu yang sudah merayap sampai ke sekujur tubuhnya. "Omong-omong, apa kau sudah menemukan gadis itu? Semenjak tadi ketika aku ditawan, aku selalu ditanya apakah aku ini manusia atau bukan. Mereka bersikukuh mengatakan jika aku ini penyihir, lalu bersekongkol untuk menculik gadis itu." Semua pertanyaan itu beterbangan mengelilingi kepalanya seperti capung saja. "Padahal, kau tahu, kan, aku ini manusia biasa yang tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba saja dituduh seperti itu." Dia mendecih pelan, lantas mendudukkan diri sendiri. Netranya menatap ke tubuhnya sendiri yang memiliki memar sana-sini. "Seperti dugaanku. Athela diculik penyihir Nedgor." Mata Kirania terbelalak sempurna. Penyihir Nedgor? Penyihir yang telah membunuh Paman Aziel. *** Hal pertama yang dilihat Kirania ketika sampai di ruangan besar nan megah itu adalah pilar-pilar besar yang menyangga bangunan. Langit-langit istana berwarna biru bertabur emas. "Bisakah sekarang kau katakan kepadaku siapa yang meculiknya?" tanyanya dengan penuh tekanan. Seperti setiap kata dari seorang raja memang dipenuhi sesuatu yang membuat si pendengar merasa takluk. Kirania bergidik ngeri. Dia terbayang-bayang beberapa jam yang lalu lelaki tua itu menyeringai kepadanya seperti psikopat yang menikmati pembunuhan. Lalu sekarang, dia berlagak seperti tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya dengan Kirania. Benar-benar natural. Kepribadian kelamnya telah sempurna tertutupi. Bagaimana dia bisa menutupi itu dengan sangat mudah? "Tapi, kau bisa menjamin aku akan mengikuti ini, kan?" "Dan aku juga," kata Kirania memohon kepada Byakko. Tangannya menggenggam lengan Byakko. Pemuda itu menatapnya sebentar. "Dan juga gadis ini." Tunjuknya kepada Kirania dengan tangan kirinya. Sedang di tangan kanannya, Kirania masih memegang lengannya. "Bagaimana? Apakah kau lupa kesepakatan kita tadi?" Raja terdiam. Dia tengah menimang. Dia tahu jika membiarkan dua orang itu berada di rencana ini nanti akan menyusahkannya. Apalagi dilihat kedua orang itu adalah temannya, sudah pasti akan menyelamatkan Athela dari tangannya. "Apa-apaan kau. Selain bodoh, kau juga tuli dan pikun?" Byakko terkekeh kecil. GLEK! Kirania menelan ludahnya sendiri, melihat betapa percaya dirinya lelaki ini sungguh membuat dirinya bernyali kecil. Dia bahkan tidak sepandai dia dalam hal memprovokasi lawan. Selain memprovokasi lawan, dia juga teman bertarung yang tangguh. Jadi tidak heran jika dia bertingkah sombong seperti itu. Namun, mengapa senyali itu sampai mengejek seorang raja adalah tuli dan pikun? Seberapa besar nyali yang dia punyai? Dari mana dia mendapatkan nyali sebesar itu? Kini matanya beralih menatap Raja Baren setelah melihat ekspresi Byakko yang di luar dugaan. Pemuda itu cekikikan, seolah sedang mengobrol dengan teman sebayanya. Atau mungkin adik kelasnya. Raja menatap Byakko tajam. Namun, nyali Byakko tak kunjung menciut. Dia masih cekikikan. "Baiklah. Sebelum itu, aku ingin tahu bukti apa yang kalian punya jika kalian itu bukan bagian dari mereka. Lagi pula, kau menyusup ke sini. Tolong jelaskan terlebih dahulu." Byakko diam sejenak, pemuda itu mengerutkan dahi lalu menghela napas. Seperti ingin memulai cerita. "Selain bukti yang kutemukan kemarin, aku juga mempunyai bukti lainnya. Saat tadi aku ke tempat di mana aku dan Kirania mengikat prajurit itu untuk memastikan sesuatu, ada sebuah aroma penyihir di sana." "Penyihir?" ulang Raja Baren seolah menegaskan. Byakko mengangguk sekali, mengiyakan. "Terkait menjadi seorang penyusup di sini sih karena kami ingin menyelamatkan teman kami." Dia mengendikkan bahu, menatap Raja Baren dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Penyihir apa?" "Hohoho. Tidak semudah itu, Ferguso. Bukankah kau harus mengiyakan permintaanku, Yang Mulia Raja Baren?" tanyanya sembari menyindir. Satu ujung bibirnya terangkat, dia menyengir. Raja Baren kembali terdiam. Dia masih menimang sesuatu itu. "Kau terlalu lama berpikir. Kita sudah tidak punya waktu lagi untuk meladeni kecemasanmu. Jika kau tidak bisa memutuskannya sekarang, aku yang akan menyelamatkannya sendiri." Kirania semakin mendekatkan diri ke arah Byakko, pokoknya dia ingin ikut ini. Seolah dia sedang mengatakan hal itu. "Baiklah. Kami akan menerimamu." "Lalu?" "Lalu apa?" "Hei, kau bercanda, kan? Apakah aku akan langsung memercayaimu begitu saja tanpa adanua jaminan? Siapa tahu kau nanti tidak jadi mengikutsertakan aku dan gadis ini saat sudah mendapatkan informasi ini." Wajah Raja Baren memerah sempurna. Byakko tahu, saat ini dia telah menyudutkan pria tua gila k**i yang menutupi dirinya yang asli melalui kursi takhta yang bergelimang harta. Dia berpura-pura ramah dengan rakyat, padahal di baliknya ada kepribadian psikopat ulung yang gemar membuat manusia menderita. Raja Baren benar-benar tersudut. Napasnya naik turun. "Baiklah, aku akan membuat surat perjanjian tentang ini." Sepertinya Byakko benar-benar sudah membuat Raja Baren skakmat. Pemuda itu menyeringai, merasa sudah berada di atas angin. "Baiklah, aku akan memberikanmu petunjuk rahasia." Dia menatap ke sekeliling ruangan. Tak banyak yang berada di sana. Raja Baren, Veer, Panglima Tertinggi, dan mereka berdua. Hanya lima orang itu yang berada di sana—termasuk mereka. "Aku mencium aroma Penyihir Nedgor." Mereka terkejut. Hanya Byakko dan Kirania yang tidak kaget. Mereka sudah tahu kebenarannya. "Kau tidak berbohong sama sekali?" Byakko menggeleng pelan. Dia tak minat menjawab pertanyaan Raja Baren dengan kata-kata. "Kau benar-benar yakin?" tanyanya lagi, membuat Byakko memutar bola matanya jengah. "Kau sedang meragukanku, ya?" jawabnya cepat. Matanya menatap tajam ke arah Raja Baren. Dia sangat sebal ketika direndahkan oleh orang lain seperti saat ini. Dan semua orang juga tak mau diperlakukan seperti itu. "Bukan begitu maksudku," ucapnya. Nadanya lembut sekali, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Mungkin karena dia tidak ingin orang lain mengetahui sisi gelapnya. Barangkali hanya beberapa yang tahu, termasuk Veer. Kecuali Panglima Tertinggi yang tempo lalu pernah becakap-cakap dengan Byakko di bawah pohon. "Aku hanya ingin memastikan." "Dan aku membawa kabar yang sangat pasti." Byakko kembali menjawab cepat dan dingin. "Kau bisa mengetahuinya dari mana? Kau kan manusia—" "Aku bukan manusia. Orang yang kau anggap penyihir inilah yang manusia. Aku juga penyihir. Seorang penyihir bisa mengendus bau penyihir sejenisnya, kan?" katanya dengan penuh kebohongan. Jelas sekali. Byakko tidak bisa disamakan dengan penyihir kelas rendahan seperti Nedgor, dia adalah makhluk bawahan langsung dari dewa yang lalu diasuh oleh Sang Penyihir Terhebat Sepanjang Masa. Mereka semua terbelalak, tak terkecuali Kirania. Dia menatap paras tampan pemuda di depannya dengan tatapan tak percaya. Iris hitamnya membesar seperti kancing baju yang indah. "Lagipula jika manusia mempunyai hidung yang tajam, mereka pasti bisa merasakannya. Amis campur anyir. Seperti darah." Dia mengeluarkan ranting pohon yang tadi sempat dia patahkan sebelum ditangkap para prajurit. "Di sini masih tersisa aroma anyir dan amis itu. Khas penyihir." Patahan ranting itu dia lemparkan ke arah Raja Baren. Membuat semua orang yang hadir meneguk ludah. Sepertinya hanya dia yang berani melakukan itu kepada sang Raja. "Dan kelompok penyihir yang mempunyai mantra untuk mengubah wujud mereka menjadi orang yang pernah mereka lihat adalah penyihir Nedgor." Mereka semua menyimak. "Kesampingkan itu, katanya kau berhadapan dengan Kirania palsu yang sangat lemah, kan?" Raja Baren mengangguk. "Mereka adalah klan penyihir yang sangat lemah yang sebentar lagi tak diragukan mereka akan musnah. Untuk mencegahnya, mereka butuh darah gadis itu untuk dijadikan tumbal di suatu upacara penyelamatan diri serta penambah kekuatan klan mereka sendiri. Itulah hipotesisku, yang kuyakin seratus persen benar—jika ada yang salah mungkin karena aku kurang teliti." Tampaknya Panglima Tertinggi sedikit bingung. Dapat dilihat dari kening pria tua itu yang sedari tadi berkerut. "Apa maksudmu darah, Nak? Mengapa darahnya sangat diincar?" Matanya menatap Byakko, kemudian beralih kepada Raja Baren. "Ya ampun, kau bahkan merahasiakan ini dari petinggi negara yang paling dekat denganmu? Astaga. Ini benar-benar rumit," kata Byakko kemudian menggelengkan kepala. Wajah Raja Baren merah padam karena marah. Namun, dia bisa meredamnya. "Pak Tua, kau bisa meminta penjelasan sendiri kepada Yang Mulia Raja Baren. Sedangkan aku, akan kembali bercerita." Panglima Tertinggi itu manggut-manggut, dia kemudian menyimak tanpa tahu kebenarannya sampai cerita Byakko selesai. "Lalu apakah kau mempunyai strategi untuk mengambilnya kembali?" Byakko mengangguk. "Kurasa ini strategi bertempur yang sangat klise. Tapi jika kau dan para bawahanmu bisa melakukannya dengan sempurna, kurasa tidak masalah soal klise. Kemungkinan suksesnya depalan puluh persen." "Apa itu?" "Kalian akan menyerangnya dari depan. Sedangkan kami, menyelamatkan gadis itu dari belakang." "Apakah peluangnya benar-benar delapan puluh persen?" tanya Panglima Tertinggi kerajaan. Byakko mengangguk mantap. Sejenak di mata Raja Baren ada sedikit keraguan. Sejak dulu, vampir sepertinya selalu mempunyai masalah dengan Penyihir Nedgor. Walaupun dia ini tipe vampir petarung, tapi levelnya yang terendah. Bahkan dia bisa dibunuh sekejap mata oleh Tetua Penyihir Nedgor itu sendiri. Apalagi pasukannya. Ini risiko, dia akan kehilangan banyak pasukan. "Kau kenapa, Raja? Apa yang membuatmu begitu cemas? Tidak seperti dirimu saja." Byakko menyeringai. Pemuda itu cerewet sekali. Bernyali besar pula. "Bukankah kau harus mengorbankan sebagian prajuritmu untuk alasan pribadimu?" Kali ini seringai yang terbit di mulutnya semakin besar. Mata orang yang berada di sana membesar, mereka menatap sang Raja yang mengeluarkan keringat dingin akibat terpojok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN