Malam telah menguasai hutan sepenuhnya. Langit yang semula cerah kini telah dimakan kepekatan malam yang begitu menyeramkan. Terdengar beberapa kali suara jangkrik yang menyanyi nyaring sampai ke gendang telinga mereka.
Masing-masing orang yang berada di depan batu besar itu was-was, d**a mereka berdegup lebih kencang dari biasanya karena di depan sana, tepat di balik batu yang berada di depan mereka sekarang ini adalah markas besar musuh.
Penyihir Nedgor.
Banyak warga penduduk Negeri Baaj akan ketakutan kala mendengar dua kata itu. Mereka para penyihir Nedgor adalah orang-orang yang sangat keras dan suka menyiksa. Lantas kekuatannya bisa membelah sebuah gunung besar dalam sekali mantra.
Prajurit yang jumlahnya sekitar seratus orang itu bergidik ngeri. Raja Baren telah memerintahkan mereka sebagai prajurit dalam garda terdepan. Satu-dua di antara mereka bergidik ngeri, ada yang menelan ludah, bahkan membawa tombaknya dengan tangan gemetar karena takut.
Mereka melihat, dari balik batu itu adalah tempat mereka meregang nyawa. Mereka akan kehilangan kehidupannya di sana. Sebagai seorang prajurit, mati di medan pertempuran adalah hal yang terhormat. Namun, sebagai seorang manusia mereka tidak bisa menyembunyikan ketakutan itu.
Di depan sendiri, Sang Panglima Tertinggi memberikan semangat. Suaranya lantang dan begitu keras, hingga bumi yang dipijakinya ikut mendengar. "Bertarung adalah sebuah kehormatan bagi kami para prajurit kerajaan! Hari ini, kalian akan berperang dengan bangsa penyihir. Jangan sampai ketakutan menguasai diri kalian! Prajurit yang kulatih tidak akan mempunyai mental selembek itu! Kita ditakdirkan untuk menang. Kemenangan itu adalah hal mutlak yang kita miliki!" Suaranya menggelegar hingga memecah langit malam.
Suara berisik-berisik prajurit yang berada di bawah langit yang hitam pekat tanpa satu bintang yang menggantung itu membisingkan. Mereka bersorak-sorak, mencoba melupakan kepedihan dan kekhawatiran yang ada di dalam d**a masing-masing.
"Kami tak terkalahkan!" ucap mereka dengan lantang.
"Oi, oi, kurasa mengerahkan kita melawan para penyihir Nedgor tidak ada untungnya bagi kita. Kau tahu, perbedaan kekuatan kita sangat besar." Tak sedikit prajurit yang mengeluh akan hal seperti itu. Namun karena tuntutan, mereka hanya bisa pasrah.
Dari semak-semak belukar yang sangat lebat, seseorang menyeringai. "Boleh juga Pak Tua itu," katanya kemudian.
"Kau berkata seperti itu dengan wajah yang mengerikan." Kirania bergidik ngeri, menatap Byakko yang masih menyeringai.
"Kau tahu, aku sangat menginginkan saat-saat seperti ini."
Sehari berlalu sejak kejadian pemanggilan Byakko ke hadapan sang Raja. Mereka membicarakan pertempuran ini dengan sangat matang. Kendati rencana yang klise, mereka selihai mungkin memainkannya sampai para musuh tidak sadar mengenai hal itu.
Banyak yang terjadi, tetapi sekaranglah saatnya. Puncak dari diskusi mereka selama seharian penuh kemarin.
Mereka berdua memakai jubah. Menyamar menjadi seorang penyihir dan membaur dengan mereka. Langsung pura-pura seperti yang dia lakukan di istana, sudah pasti mereka tidak akan ketahuan. Walaupun dikatakan jika sekarang penyihir Nedgor melemah karena keturunan, penghuni wilayah itu masih bisa dikatakan besar. Walaupun tidak sebanyak klan-klan lain.
Kirania memberikan aba-aba. Gadis itu melambai-lambai, tanda jika mereka akan masuk.
Salah seorang penyihir kerajaan membuat mantra agar mereka tak kasatmata. Mereka berdua dan Veer ditugaskan untuk menyusup ke wilayah musuh, sedangkan mereka secara terang-terangan menyatakan perang. Seperti seratus prajurit itu dijadikan sebagai pengalih perhatian mereka dari Byakko, Veer, dan juga Kirania.
"KAMI MENYATAKAN PERANG!"
Bergegas mereka berdua berlari menuju bebatuan, lantas mengandalkan Veer sebagai pemandu jalan. Dia memiliki sihir yang dapat memperkuat indera penciuman, katanya.
"Aku bisa mencium bau Athela dari sini. Mungkin sekitar kemarin pagi? Dia sempat berjalan ke sini." Pemuda itu berjalan sedikit lebih lama, menciptakan jarak yang lumayan jauh dari sana. Saat ini Veer sedang memimpin, kemudian Kirania dan Byakko mengekor. Sedangkan pasukan mereka mulai berjalan melintasi batu.
Veer berhenti tepat di pesisir sungai. Tempat di mana kemarin Athela mengetahui kebusukan kedua penyihir lainnya.
"Ada tiga orang sebelumnya. Kuyakin mereka adalah Nona Athela dan kalian berdua versi palsu."
Pa-palsu?
Mata Kirania membulat sempurna. Palsu, katanya?
"K—kau—" Belum sempat gadis itu melanjutkan perkataannya, tangan Byakko lebih dulu berada tepat di depan wajahnya dengan dalih ingin menyetop pembicaraannya.
"Bagaimana kau yakin jika itu mereka?"
"Aku bisa mencium bau orang-orang yang sudah pernah bertemu denganku. Dan bau ini tidak asing. Berarti mereka berdua pernah berinteraksi denganku." Dia menjawab lancar, kemudian masih menatap ke depan.
"Lalu?" Byakko mulai serius. Walaupun mereka transparan, tetapi bisa melihat ketiganya satu sama lain. Sihir ini adalah sihir kuno yang sudah jarang digunakan—bahkan sudah dikatakan punah. Hanya beberapa orang yang bisa melakukannya.
"Kita harus segera ke sana. Kau tahu, kan, upacara itu...." Veer sedikit menggantungkan kalimatnya. Kendati demikian, mereka berdua sudah tahu apa kelanjutannya. Pemuda yang bernama Veer itu menatap ke langit yang terhampar. Penuh dengan kepekatan.
"Ya, upacara itu digelar besok malam." Lirih Byakko. Matanya menatap bulan yang meredup. Warna putihnya sedikit demi sedikit menjadi warna merah.
Memang saat ini belum terlihat, tetapi mungkin saat itu—entah berapa bulan lagi—dia harus menyerahkan Athela kepada tuannya, Tuhan dari seluruh makhluk tak kasatmata, Sang Penyihir Sepanjang Masa agar tidak ada perpecahan lagi.
Jika bulan telah berwarna merah sepenuhnya, mungkin perang antarklan akan benar-benar terjadi.
Sepertinya dia harus bergegas. Tidak ada waktu lagi baginya.
"Kita harus bergegas," ucap Byakko dengan nada yang sangat panik. Keduanya mengangguk. Veer kembali memandu, indera penciumannya sangat tajam berkat skill sihir yang dia miliki.
Mereka berjalan tergesa. Melewati beberapa batuan yang kemungkinan menjadi jalur Athela.
Saat sudah sekitar lima menit berjalan, tiba-tiba bumi seperti bergetar. Bola api ada di mana-mana. Rombongan penyihir Nedgor berjubah hitam tampak terbang kocar-kacir menuju gerbang. Sepertinya mereka penyihir bawahan yang sangat lemah. Kekuatannya kemungkinan setara dengan para prajurit.
"Apa mereka menyatakan perang karena kami membawa Athela?"
Sudah Byakko duga. Insting pemuda itu tidak pernah salah. Athela ada di sini dari kemarin.
"Jangan bodoh, jawaban itu sudah jelas!" ucap salah satu penyihir yang melintasi mereka dengan berbisik-bisik. Hampir kebanyakan laki-laki, tetapi tidak sedikit pula yang perempuan.
Veer menatap ke belakang, melihat ke arah Byakko dan Kirania lantas mengangguk. Diikuti oleh mereka berdua. Mereka akan melanjutkan perjalanan.
"Butuh berapa jam lagi sampai kita di markas musuh?" tanya Byakko sembari melompat dengan hati-hati demi menghindari beberapa duri. Berkat mata harimaunya, dia bisa melihat dengan sangat jelas.
Sedangkan di belakang, Kirania seorang diri. Gadis itu menggenggam erat jubah yang dikenakan Byakko yang sudah dimantrai tembus pandang itu.
Setiap orang tidak akan mengetahui keberadaan mereka kecuali ada manusia yang juga menggunakan jubah itu dengan mantra yang sama. Jadi bagi Veer, Byakko, dan Kirania, kondisi tembus pandang itu tidak mengubah apa pun. Mereka tetap bisa melihat satu sama lain.
"Sekitar lima menit lagi. Kurasa kita sudah dekat."
Setelah lima menit kemudian akhirnya mereka sampai di pemukiman para penyihir Nedgor. Hutan itu sangat luas, lantas pemukiman yang terdiri dari beberapa rumah itu berada di tengah-tengahnya. Rumah yang terbuat dari kayu jati berkenop pintu berbentuk seperti cula badak. Terlihat sangat aneh, tapi selain itu tidak ada yang berbeda bentuk rumahnya. Seperti rumah-rumah biasanya yang berada di perkotaan.
"Kau bisa mencium aromanya, kan?" Byakko kembali bertanya, dia mematahkan ranting di salah satu pohon di sana. Veer mengangguk.
Terlihat para penyihir berlalu-lalang, mereka tampak terkejut dengan serangan itu yang secara tiba-tiba. Setiap penyihir semrawut ke sana kemari karena kecemasan yang tiada akhir. Di pikiran mereka kalut kalau-kalau pasukan kerajaan itu bisa menembus pertahanan penyihir garda depan mereka.
***
Suara Kutilang bercicit, dia berada di dalam kandang yang terbuat dari kayu kopi. Tampaknya binatang malang itu ingin segera keluar dari penjara dunianya.
Lentera masih hidup, menimbulkan bayangan dua sosok penyihir yang memakai jubah. Yang satu tengah terduduk dengan mata terpejam sembari merapalkan mantra. Jari-jari panjang nan keriput dengan kuku gelap layaknya kegelapan malam itu berada di atas bola sihir. Sedangkan yang satu berdiri di sampingnya dengan tatapan yang penuh dengan kecemasan. Janggutnya naik turun beberapa kali, ingin berkata kepada orang di dekatnya tapi diurungkan. Sepertinya dia tidak ingin mengganggu orang itu merapalkan mantra.
Sontak beberapa detik kemudian, dalam sekejap sebuah sinar berpendar menyilaukan mata mereka. Sinar itu dari bola sihir yang sudah dia rapalkan beberapa saat yang lalu.
Tampak dari bola sihir, pertempuran tak terelakkan. Hampir seperempat prajurit dibantai habis oleh para penyihir. Di pihak penyihir pun tidak kalah banyak menewaskan korban, ada sekitar seperenam yang mati di medan pertempuran.
Suara pedang yang beradu, lantas anak panah yang mengenai sasarannya. Semua itu menjadi hiasan malam itu, di suatu ruangan sempit dan tersembunyi tanpa penerangan satu pun kecuali lentera yang apinya semakin mengecil.
"Mereka terlalu meremehkan kita," ucap orang itu yang tadi merapalkan mantra. Bibirnya yang bengkok mengendus-endus di bola sihir, bau anyir di mana-mana. p*********n antar klan telah terjadi mulai hari ini. Bulan sudah sedikit menunjukkan warna kebengisannya, merah.
"Apa Anda yakin kita akan memenangkannya, Tetua?" tanya orang berkumis itu. Sejak tadi dia di situ, seperti tidak bergeser sedikit pun.
Hening.
Lelai tua berhidung bengkok yang dipanggil tetua Penyihir Nedgor itu diam sejenak. Tak tahu harus menjawab apa. Dalam hatinya masih ada sedikit kebimbangan.
"Aku tidak tahu, tapi untuk saat ini penyihir kita memimpin. Boleh jadi nanti akan ada sesuatu yang menyebalkan menunggu kita." Napasnya berembus kasar. Lelaki berhidung bengkok itu bangkit, mengepakkan jubahnya yang terkena debu sedikit demi sedikit.
"Aku tahu jika akan terjadi hal seperti ini, tapi tak kusangka secepat ini. Kau, katakan kepada Huld untuk mengamankan gadis itu." Tetua berhidung bengkok itu berkata dengan suara yang lirih, suara orang yang sudah berumur tujuh puluh tahun.
"Siap laksanakan, Tetua!" Pria berkumis itu segera keluar dari tempat itu. Saat pintu tertutup, keheningan kembali menyelimuti ruangan kecil nan dingin itu yang tidak pernah tersentuh matahari sedikit pun.