Ketiga manusia itu mengendap di antara hilir mudik para penyihir yang sedang kewalahan. Bau anyir amis bercampur tanah menyeruak saat satu per satu dari kaum berjubah itu melewati mereka. Bau penyihir Nedgor memang sangat menyengat, Byakko tak habis pikir jika Raja Baren tidak bisa membedakan antara mereka yang asli atau sekadar penyihir.
Salah satu ciri khas penyihir adalah kuku-kukunya yang sangat tajam, lantas dicat warna hitam kelam yang mengerikan. Mata mereka bundar-bundar dengan hidung ada yang bengkok, ada yang lurus, ada pula yang pesek. Kulit mulusnya benar-benar pucat.
Kirania menatap mereka satu per satu dengan tatapan sengit. Dadanya naik turun menahan amarah yang sepertinya saat ini membuncah.
"Kau tak apa?" Suara seseorang itu memecahkan lamunannya. Bukan Byakko, tetapi pemuda satunya. Lantas Kirania menggeleng dan tersenyum.
"Jangan pedulikan aku. Lebih baik kita fokus mencari Athela saja," katanya dengan menghela napas berat. Ditatapnya lagi penyihir-penyihir yang berlalu-lalang. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bencinya kepada para penyihir ini.
Setiap mendengar namanya saja, selalu teringat tragedi malam itu. Malam yang sangat mengenaskan.
Mereka kembali berjalan menyusup sembari meringkuk. Veer memimpin di depan. Tak butuh lama mereka sampai di depan pintu ruangan pengurungan Athela.
Seorang pria berjalan tergesa menuju pintu itu. Matanya melirik ke sana kemari, memastikan jika tidak ada siapa-siapa yang melihatnya. Kemudian masuk ke ruangan itu.
"Aku akan pergi sebentar."
"Kau kan baru saja tiba. Aku ingin pergi juga. Sudah beberapa jam aku di sini tanpa makan apa pun!" Bentakan itu terdengar sampai di luar. Suaranya sedikit berat, sepertinya berumur sekitar lima puluh tahun ke atas. Sedikit serak basah.
"Aku punya hal yang penting." Satunya lagi menjawab dengan nada yang datar.
"Aku juga penting. Memangnya manusia mana yang tidak punya rasa lapar? Kau benar-benar—"
BLAM!
Pintu tertutup. Seorang penyihir muda dengan usia sekitar dua puluhan tahun keluar. Dia adalah pemuda yang baru saja datang tadi.
DEG!
Mata Kirania terbelalak sempurna. Dadanya berdebar hebat saat kedua matanya menyaksikan sesuatu yang menurutnya sangat mengerikan—saking mengerikannya sampai bisa menyulut amarahnya sampai ke ubun-ubun.
Dia... Huld.
Spontan dia memegang pedang perak yang sejak tadi dibalut oleh sarung, tetapi Byakko berhasil menghentikannya.
"Jangan bertindak gegabah. Kau bisa mengacaukan rencana kita." Nadanya dingin. Sepertinya pemuda bersurai pirang itu sedikit sebal karena dirinya yang seperti bocah ini. Bertindak gegabah hanya karena emosinya diri sendiri.
"AH, DIA BENAR-BENAR MENYEBALKAN!"
BRAK!
Suara meja ditendang, lantas orang bersuara serak basah nan berat itu bergumam keras.
Sedetik kemudian pintu terbuka. Terlihat seorang penyihir dengan tudung hitam keluar. Wajahnya memerah karena amarah, lantas mata hitam kecokelatan itu menatap ke sekitar, seolah tengah memastikan bahwa tidak ada siapa pun di situ.
"Pemuda gila itu tidak akan mengizinkanku untuk pergi. Jika sekarang aku tak mencari makanan, bisa repot nanti."
Pintu kembali tertutup. Mereka bertiga melihat sepatu yang beradu dengan lantai itu, menimbulkan bunyi tuk-tuk-tuk yang mengganggu telinga. Semakin jauh langkahnya kian dipercepat, temponya rusak.
"Kita akan masuk?"
Veer dan Byakko mengangguk.
Untung saja saat ini mereka berdua sudah pergi, jadi mereka bisa masuk.
Byakko membuka pintu.
Satu hal yang dia lihat pertama kali saat membuka pintu itu adalah sesosok gadis ringkih berambut pirang gelombang dengan wajah penuh dengan luka dan kusam. Lantas matanya terpejam, iris biru lautnya tak terlihat karenanya.
Athela tergeletak di lantai. Kaki dan tangannya diikat dengan rantai yang sudah diberikan energi sihir. Tubuhnya penuh dengan luka lebam. Bibir yang biasanya merah merona kini putih memucat. Dia seperti mayat saja.
Kirania memejamkan mata sejenak, lantas kembali menatap kondisi Athela yang begitu memprihatinkan. Dia menatap Byakko yang mendekati tubuh gadis itu. Matanya susah diprediksi, tetapi sangat jelas jika wajahnya sedikit khawatir.
"Kau bisa mendengarku?" tanya Byakko saat melihat mata Athela yang masih terpejam.
Tentu saja tidak ada jawaban.
Byakko menekuk lututnya, duduk dengan kaki terlipat ke belakang, membiarkan kepala gadis itu bersandar di kakinya.
"Kita harus menghilangkan energi sihir itu agar bisa melepas rantai." Veer mengomando. Tampaknya dia tahu situasi sekarang. Mereka bertiga melepas sihir yang membuat tubuh transparan.
"Siapa yang bisa sihir?" tanya Kirania. Dia menatap kedua pemuda di depannya bergantian. Tentu saja bukan dia. Dia tidak bisa.
Veer menggeleng. Lantas menatap Byakko. Kedua pasang mata itu menatap Byakko dengan sedikit berharap. Sedangkan Byakko yang awalnya menatap mata mereka yang penug harap kini dialihkan menatap wajah manis Athela yang matanya terpejam.
Tangan kirinya memegang pergelangan tangan Athela, lantas beralih ke rantai yang mengikat gadis itu. Dalam sekejap cahaya berwarna putih kekuningan muncul, borgol rantai itu telah terbuka.
Kirania dan Veer menatap kejadian itu dengan terpana bercampur tidak percaya. Terlebih Kirania. Dia sudah berhari-hari berteman dengan Byakko, tetapi tidak tahu jati diri pemuda itu jika dia adalah seorang penyihir.
Byakko beralih ke kaki Athela dan melakukan hal yang sama, sekarang saatnya membuat Athela sadar.
Telapak tangan Byakko menyentuh kepala Athela. Muncul cahaya berpendar mengelilingi tubuh gadis bersurai pirang itu.
Semenit yang menegangkan.
Akhirnya Athela membuka mata. Matanya mengerjap.
Kali pertama yang dia lihat adalah wajah pemuda tampan yang tersenyum tipis kepadanya.
"Akhirnya kau siuman. Kita akan pergi dari si—"
JLEB!
Mata Byakki memelotot. Sebuah belati menusuknya di bagian perut. Dia menatap Athela yang melihatnya dengan tatapan benci yang membara.
Gadis itu berjingkat dan menjauhi Byakko.
Semua terdiam melihat kejadian secepat kilat itu. Veer maupun Kirania, mereka kaget.
Apalagi Byakko.
Pemuda itu adalah manusia yang paling terkejut.
Dia melirik ke arah perut bagian kanannya yang ditikam pisau. Jemari kirinya meraba perut dan menemukan pisau itu masih tertancap di sana.
Tangan kanan pemuda itu kini berlumuran darah setelah melepas pisau. Kemudian mata hijau jernihnya menatap Athela yang kini menangis. Dia masih menatapnya dengan kebencian yang mendalam.
"Maaf." Kalimat itu meluncur di bibir Byakko. Athela masih bergeming, air matanya berjatuhan tanpa isak tangis.
"Maafkan aku yang terlambat menyelamatkanmu. Maafkan aku yang pergi dari sisimu selama beberapa hari ini," ujar Byakko lirih. Matanya menatap Athela dengan tatapan sedih, sedangkan yang ditatap masih mendelikkan mata.
"Kau boleh membenciku, tapi yang terpenting saat ini kita harus pulang—" Byakko berusaha berdiri, tetapi lagi-lagi Athela menyerangnya.
Air matanya kembali mengalir. Deras sekali. Namun, ekspresinya tidak sedih. Kali ini datar. Tangis tanpa isakan itu malah membuat gadis itu kian menyedihkan.
"Kau tidak boleh mendekatiku."
Tepat setelah itu, pintu terbuka. Mereka terkejut karena tidak mendengar derap langkah sedikit pun.
Dua orang berada di ambang pintu. Salah satunya adalah lelaki tua berhidung bengkok. Dia menyeringai menatap mereka, seperti menangkap basah seekor kucing yang mencuri ikan.
Mereka ketahuan.