Dua orang berada di ambang pintu. Salah satunya adalah lelaki tua berhidung bengkok. Dia menyeringai menatap mereka, seperti menangkap basah seekor kucing yang mencuri ikan.
Mereka ketahuan.
Pria berjubah dengan hidung bengkoknya itu terkekeh pelan, mata hitam legamnya satu per satu menatap ketiga penyusup itu yang pucat pasi. Veer dan Kirania bahkan sampai mengeluarkan keringan dingin sampai di sekujur tubuhnya. Gadis berambut hitam berombak yang diikat rapi itu menelan ludah, melihat seringaian seram yang hadir di pria berhidung bengkok seperti Beo itu. Lantas beralih menatap seseorang di belakangnya.
Pemuda yang berdiri tepat di belakang pria berhidung bengkok itu menatapnya dalam-dalam. Kulit putih pucatnya sebagian tertutup jubah hitam yang dia kenakan. Dia adalah pemuda yang beberapa saat lalu keluar dari sini. Hampir saja Kirania tidak mengenalinya jika dia tak membuka tudungnya.
Huld.
Jelas sekali itu adalah Huld. Indera penglihatannya tak pernah salah dalam mengenali orang, terlebih orang itu mempunyai luka sayatan yang pernah dia lihat di malam itu.
Melihat wajahnya saja sudah membuatnya seperti kembali ke malam yang menyedihkan itu.
Dada Kirania berdegup kencang karena menahan amarah. Air matanya hendak mengalir dengan deras tepat di saat itu.
"Wah, kebetulan sekali Nona Kirania ada di sini," ucap pria berhidung bengkok yang sering dipanggil Tetua itu saat melihat Kirania dan Huld melakukan kontak mata. Di mata Kirania, dia dapat melihat dendam yang begitu membara.
Kirania menggertakkan gigi hingga menimbulkan suara. Sudah cukup dia merasa menderita, tidak perlu lagi ikut merasakan malu di sana. Mata gadis itu berkaca-kaca. Lelaki tua bangka itu adalah pemimpin dari Penyihir Nedgor yang sudah membunuh pamannya. Untuk melihat senyuman licik dari lelaki tua bangka itu rasanya sangat tidak sudi.
"Berani-beraninya kau k*****t tua mengucapkan namaku," katanya dengan nada bergetar. "Lelaki tua sepertimu tidak pantas mengucapkan namaku dan Paman Aziel."
Tetua terkekeh, kumis hitam panjangnya bergerak-gerak, kemudian berbalik menghadap Huld. "Lihat, ini semua karena kecerobohanmu yang membiarkannya hidup."
Cecunguk itu... kata Kirania dalam hati sambil mengepalkan tangan. Giginya kembali berbunyi gemeletuk.
"Bagaimana kau bisa tahu kami ada di sini?" tanya Veer kemudian, membuat pandangan pria berhidung bengkok itu beralih dari Kirania menujunya. Di matanya, dia tahu jika saat ini Veer sedang kebingungan. Masalahnya mereka sudah menggunakan sihir transparan milik salah sati penyihir kerajaan Baaj.
Tetua Penyihir Nedgor itu tertawa keras-keras. "Dari awal memang aku sudah merencanakan ini semua. Kau tidak bisa mengelabuhiku dengan sihir murahan yang dibuat oleh seorang amatir seperti itu. Kau terlalu meremehkanku, Nak. Aku tahu kau ke sini dengan menggunakan sihir amatir itu. Lalu aku membiarkan kalian masuk ke sini tanpa penjagaan yang ketat. Bukankah lebih menyenangkan jika memergoki kalian seperti ini daripada menghabisi kalian sedari awal?"
Tawanya semakin menggelegar, memecah langit-langit malam. Byakko masih menatap Athela, begitupun sebaliknya. Kedua insan itu bahkan tidak peduli pembicaraan apa yang saat ini ada di sekeliling mereka.
Hati Byakko kalut bercampur sedih. Bagaimana tidak? Melihat gadis berambut pirang itu yang menatapnya datar, tetapi matanya berlinangan air mata itu sungguh menyedihkan.
Mata itu penuh dengan kesedihan. Warna biru cantiknya seperti lautan itu memancarkan pilu yang teramat dalam.
Ini semua salahnya. Benar, ini salahnya. Sampai-sampai gadis yang dimandatkan untuk dijaga olehnya menjadi seperti ini. Dia bahkan tidak tahu selama beberapa hari ini gadis itu sudah menderita dan mengalami hal-hal yang sulit.
Air matanya kembali menetes.
Lagi-lagi begitu.
Wajahnya tanpa ekspresi lagi.
"Apa kau membenciku?" tanya Byakko dengan mata memelas. Dia berharap bisa meluluhkan hati Athela dan membuat gadis itu kembali seperti semula.
Tidak ada jawaban.
Athela masih memasang wajah datarnya, lalu tatapan kebencian itu tumpah-ruah meluap sampai mendidihkan otak.
Sepertinya dia benar-benar membenciku, ya, ucap Byakko dalam hati.
"Aku minta maaf—dan berjanji tidak akan mengulangi ini lagi di kemudian hari. Akan kulakukan apa pun agar mendapat permintaan maaf dari—"
PLAK!
Semua orang terkejut. Mata Byakko ikut membesar karena kaget. Athela menampar pipi Byakko keras-keras, cukup untuk mengalihkan perhatian mereka semua.
Lagi-lagi, wajah tanpa ekspresi itu.
Tangis tanpa isakan itu.
Mengapa gadis itu selalu memamerkan hal yang menyedihkan seperti ini?
Mengapa hanya dengan melihat saja dia sudah tahu betapa pilunya Athela saat ini?
PLOK-PLOK-PLOK!
Suara tepuk tangan itu terdengar, keras sekali. Bahkan suaranya menggema sampai penjuru ruangan berukuran enam kali enam meter itu.
Kirania dan Veer teralihkan pandangannya, mencari sosok lelaki tua yang saat ini sedang kegirangan melihat sebuah pertunjukan yang menarik. Baginya ini adalah mahakarya hiburan yang memanfaatkan orang-orang lemah di sekitarnya.
"Kalian sedang reunian ternyata." Mata pria berhidung bengkok itu menatap Athela dan Byakko secara bergantian. Setelah menatap bergantian, kini dia beralih menatap Byakko yang menunduk. Tatapannya tidak bisa diprediksi bagaimana ekspresinya. Atau lebih tepatnya datar. Keduanya tak saling menatap lagi, kini hanyalah Athela yang menatap Byakko nanar.
"Kau...." Suara itu menggema. Terdengar jelas dan berat. Byakko perlahan-lahan menatap ke arah pria berhidung bengkok itu dengan tatapan tajam. Muka Byakko memerah sempurna karena penuh dengan amarah. Sepertinya amarah pemuda itu sudah sampai di ubun-ubun.
"Ya?" Lawan bicaranya menatap remeh sembari menyuungging seringai yang tak nyaman. Licik sekali tetua penyihir Nedgor.
"APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA---"
Belum sempat Byakko meneruskan perkataannya dan bangkit sepenuhnya, Athela lebih dulu menahan tubuh Byakko dengan kembali menusuknya di bagian kaki. Mata Athela menyala, rasa penuh kebencian meluap-luap bagaikan air mendidih yang tumpah-ruah. Perlahan air matanya kembali mengalir. Kepedihan terpancar jelas di sana.
Tak sampai dua menit keheningan tercipta, suara tawa kembali menggelegar. Dua penyihir Nedgor itu tertawa terbahak-bahak. Menatap wajah melas mereka bertiga.
"Maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Kumohon maafkanlah aku," kata Byakko lirih. Matanya sendu menatap Athela yang juga menatap tajam ke arahnya. Dia bisa saja membunuh penyihir itu segera dengan mudah, tetapi untuk meyakinkan kembali hati gadis bermata biru yang indah bagaikan permata itu sangatlah susah.
Bayangkan saja, ketika kamu memberikan kepercayaanmu penuh kepada orang lain, tetapi orang lain itu malah menghancurkan harapannya. Apa yang akan kamu lakukan? Bukankah membenci diri sendiri dan orang yang telah menghancurkan harapan itu?
Mata redup Byakko kembali menatap Athela sendu. Entah sudah berapa kali mereka saling pandang menyedihkan seperti ini. Yang satu memandang dengan penuh kebencian, dan yang satu memandang dengan penuh penyesalan serta kesenduan yang teramat dalam.
"Dia akan memaafkanmu jika bisa membunuhmu," celetuk pria berhidung bengkok itu. Pria tua bangka yang menjijikkan itu berdiri sembari menikmati rasa sakit ketiga tikus itu yang berani menyelinap secara diam-diam.
Veer dan Kirania terkejut, sedangkan Byakko yang sejak tadi duduk sembari memegang kaki dan perutnya kini dengan susah payah berdiri. Pandangan mata Byakko suram, penuh dengan kesedihan dan gurat sendu yang mendalam. Byakko berjalan mendekati Athela dengan kaki terseret, tangan kirinya memegang perut bekas tikaman Athela beberapa saat yang lalu.
"Benarkah kau akan memaafkanku jika aku mati?"
Semeter, dua meter. Hanya dalam beberapa menit Byakko sudah memangkas jarak di antara mereka. Athela mengacungkan belati yang penuh dengan darah segar miliknya. Pandangannya beralih menatap tetesan darahnya sendiri yang berada di belati milik Athela. Bau anyir menemainya dalam melangkah, terseret-seret dengan mata yang penuh dengan kepedihan. Yang terpenting baginya saat ini adalah dia bisa menjamin keselamatan Athela, gadis yang menjadi kunci pencegah peperangan antarklan dan tidak akan ada lagi fenomena bulan purnama yang penuh dengan darah. Darah bulan purnama. Tragedi yang bisa membinasakan hampir seluruh klan.
"Jika itu maumu, aku akan melakukannya. Aku siap terbunuh di tanganmu jika itu bisa membuatmu memaafkanku."
Air mata kembali mengalir dengan derasnya di pelupuk mata indah bagaikan permata milik Athela. Bulir-bulir bening itu dengan bebasnya merembes keluar dan membasahi wajah Athela yang tanpa ekspresi. Sepertinya gadis itu merintih dalam hati, tetapi tidak bisa mengekspresikannya.
Semenit sudah seperti satu jam saat itu. Ini seperti kisah romansa dalam novel yang mengharuskan sang pemuda rela mati untuk kebahagiaan sang kekasih. Bedanya Byakko melakukan itu tanpa ada cinta, melainkan kepatuhannya kepada tuannya.
Semakin dekat Byakko kepada Athela, gadis itu semakin mengacungkan belatinya. Air matanya tumpah-ruah sekarang ini, seperti ingin mengatakan: selamatkanlah aku, tolonglah aku.
Byakko tidak peduli, karena dia tahu dari awal Athela memang akan menghabisinya. Jika dia mati untuk membuat gadis itu memaafkannya, bukankah terlihat sangat keren? Setidaknya dia bisa melakukan tugasnya yaitu melindungi putri Penyihir Sepanjang Masa itu sampai di saat-saat terakhirnya.
Bruk!
Tangannya memeluk Athela. Dapat dia rasakan bau tubuh gadis iitu menyeruak sampai di hidungnya. Sebentar saja dia melihat leher jenjang gadis itu. Bau itu sangat dia rindukan beberapa hari belakangan ini. Mungkin manusia mengatakan jika itu adalah sebuah rasa yang bernama kerinduan.
"Nah, cepat, lakukanlah." Dia berkata sembari melirih. Tubuhnya menghangat saat berada di pelukannya. Setidaknya dia bisa menebus kesalahannya walaupun mempertaruhkan nyawa.
Diam. Athela tak meresponsnya sedikit pun. Gadis itu bungkam, diam seribu bahasa. Dapat dirasakannya lengan pemuda itu basah oleh air mata.
"Apa yang kau lakukan, Nona Athela? Kau tidak bisa membunuh lelaki yang kau sukai?"
Diam sejenak.
Hening telah menguasai malam itu. Tidak ada sedikit pun suara yang mereka dengar kecuali jangkrik yang nyaring bernyanyi. Mata Byakko terbelalak sempurna.
Cinta?
Athela mencintainya?
Jleb!
Tusukan belati kembali menyambutnya, membuyarkan lamunan Byakko. Darah segar kembali hadir di perut bagian kirinya, dapat dirasakan Byakko rasa nyeri yang teramat-sangat di sana.
"Bagus, bagus sekali, Nona. Walaupun kau mencintainya, tetapi dalam hatimu menyimpan kekecewaan yang besar kepadanya, kan? Ikuti hati kecilmu jika dia benar-benar lelaki yang kau benci." Ocehan itu seperti kicauan burung yang beberapa menit kemudian terbang dibawa oleh angin dari barat.
"Sebenarnya, apa yang sudah kau lakukan kepada gadis itu?" Kini Kirania yang bertanya dengan nada keras-keras. Tangannya masih mengepal, melihat drama menyedihkan di depannya membuat darai gadis itu mendidih karena amarahnya sampai di ubun-ubun. Terlebih ketika melihat wajah pria tua yang menjadi dalang di balik semua kejadian mengerikan ini; baik itu kematian Paman Aziel, ataupun kejadian saat ini. Tidak mungkin, kan, dia akan diam saja di saat-saat seperti ini? Gadis itu tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
"Aku hanya membuat Athela membenci Byakko. Bagaimanapun juga, sekecil apa pun kekuatan temannya, itu akan menjadi penghambat untuk mendapatkan Athela. Lihatlah, sekarang saja kalian sudah berlagak menyelamatkan gadis itu tanpa tahu kemampuan kalian sendiri. Seperti tikus yang baru saja masuk ke sarang harimau, mungkin itu perumpamaan yang cocok untuk kalian."
Lengang sejenak, pria berhidung bengkok itu melanjutkan perkataannya. Di sela-sela dia bercerita, lelaki tua itu menghela napas panjang. "Kau ingin tahu aku melakukan apa agar gadis itu membenci pria yang dicintainya?" Tiba-tiba senyuman licik hadir di mulut tua yang sudah penuh dengan keriput itu.
"Aku menyuruh dua bawahanku untuk menyamar sebagai kalian berdua," katanya sambil menunjuk Byakko dan Kirania. "Aku tahu kalian adalah teman berharganya, terlebih lagi pemuda yang bernama Bryan ini."
"Lalu kubuat gadis itu semakin mencintai Bryan, dan kuberikan mantra memikat agar dia tetap mencintainya. Dengan cara tidur dengannya." Lanjutnya. Ocehan pria tua itu membuat Byakko geram bukan main.
"Setelah tidur dengannya, Bryan kubuat meninggalkannya agar gadis itu merasa kecewa. Kau pasti tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang benar-benar kau cintai? Bahkan bersedia tidur bersamamu. Sangat menyakitkan, bukan?"
Tidur bersama?
Ini benar-benar tidak bisa dimaafkan lagi. Byakko geram bukan main.
"k*****t KAU!!!" Byakko segera melepaskan pelukannya dan menyerang pria berhidung bengkok yang seejak tadi seenaknya bicara. Namun, belum sempat pemuda itu menyerang, Athela kembali mengganggu. Gadis itu kini menendang tubuhnya yang sempooyangan keras-keras.
"Lihatlah, bahkan gadis itu sekarang sudah menjadi tamengku. Jika kau membunuhku, aku tidak bisa membayangkan jika dia mengamuk dan memenggal lehermu nanti. Oh, mungkin kau tak lagi peduli dengan nyawamu, tetapi nyawa teman-temanmu juga akan melayang, lo."
Byakko tersungkur, tekapar di tanah dengan berbaring. Dia menatap tajam ke arah pria tua itu dengan kebencian yang mendalam. Bisa-bisanya pria tua busuk itu mengatakan hal mengerikan itu dengan cengiran yang mengerikan, seperti tanpa dosa saja wajahnya.
Keparat itu... gigi-gigi Byakko bergemeletuk menahan amarah.
"Mengapa pria tua nan menjijikkan sepertimu hobi sekali membuat orang menderita?" Kini Kirania yang ganti bertanya. Mata gadis itu berkaca-kaca menatap lelaki tua yang mengeluarkan ekspresi durjana dan tanpa dosa itu. Mengapa dia begitu mengerikan? Bermain-main dengan nyawa manusia hanya untuk kesenangan sendiri.
"Wah, wah, jangan membuatku mengira jika saat ini kau ingin berdiskusi denganku tentang Paman Aziel-mu itu?"
Napas Kirania naik turun mencoba meminimalisir rasa amarah yang saat ini telah hinggap ke seluruh badannya. Gadis itu bahkan heran, mengapa lelaki tua yang sebentar lagi masuk liang lahat itu mesti dilahirkan? Menyusahkan dunia saja.
"Mengapa kau membunuh Paman Aziel?" tanya Kirania dengan tatapan dingin dan penuh dengan amarah. Dadanya sesak saat melihat kedua penyihir itu satu per satu, terlebih pria berhidung bengkok yang bentuknya mirip beo tersebut.
"Karena aku menginginkannya, mengapa? Kau ingin membalaskan dendammu kepadaku sekarang?" Pria berhidung benngkok itu sengaja menyulutkan emosi milik Kirania, lantas mata tua berkeriput itu melihat tangan Kirania yang mengepal.
"Kau seperti seorang anak gadis yang ingin membalaskan dendam ayahnya."
Suasana malam itu tak lagi dingin seperi malam-malam biasanya, yang ada hanyalah hawa panas karena amarah yang menyeruak di samping mereka. Membunuh kedinginan pada malam itu tanpa ampun. Ketiga orang itu sama-sama menggemeletukkan gigi menahan amarah.
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah beberapa orang menuju ruangan itu. Temponya terburu-buru. Jika didengar dengan saksama, itu seperti derap langkah segerombolan orang.
Ah, tidak. Hanya ada dua orang.
Tak lama kemudian pintu yang semula tertutup pun kini terbuka. Menyembullah dua orang berjubah hitam yang berdiri di ambang pintu. Dua-duanya memasang wajah cemasnya, keringat mengalir ke sekujur tubuh mereka. Dengan tergesa dia melaporkannya kepada sang pria berhidung bengkok itu.
"Maafkan kami, Tertua. Ada hal yang ingin kami sampaikan. Ini benar-benar mendesak, jadi maafkan kami jika mengganggu waktu bersenang-senang Anda." Semua orang yang berada di ruangan itu mengalihkan pandangannya ke pria kurus kering yang saat ini sedang melapor sembari membungkuk hormat kepada pria beo itu yang mereka panggil Tetua.
Tetua Nedgor itu sedikit memicingkan mata, melihat dua anak buahnya yang melapor membelakangi cahaya bulan sedikit membuat penglihatannya terganggu. "Ada apa? Apa hal penting yang ingin kau laporkan?"
Keduanya saling tatap setelah Tetua Nedgor mengatakan itu. Napas mereka yang tadi tersengal sedikit demi sedikit pulih, lalu satu di antaranya menjawab. Kali ini pria yang tadi berada di belakang lelaki kurus kering tadi. Perawakannya sedikit berbeda dengan pria satunya. Dia memiliki kulit putih segar, lalu berumur sekitar lima puluhan. Sedangkan badannya sendiri gemuk seperti keranjang. Pantas saja saat mereka tadi berlarian dan menimbulkan derap langkah, bumi serasa seperti sedang gempa.
Pria gendut itu menghormat, berdiri di samping pria kurus kering itu sembari membungkuk takzim. "Pasukan kita telah dikalahkan semua, Tetua. Hanya ada beberapa yang selamat'" katanya dengan nada cemas, menunggu respons Tetua Nedgor.
Hampir-hampir saja Kirania membelalakkan mata karena rasa tidak percayanya yang menyerang. Benarkah Penyihir Nedgor selemah ini? Bagaimana penyihir lemah itu bisa membunuh Paman Aziel? Itu tidak mungkin, kan?
Di sebelah Tetua Nedgor, pemuda bernama Huld yang sejak tadi diam membisu kini bersuara. "Tetua?" tanyanya pada pria tua berhidung bengkok itu saat dia belum juga merespons perkataan bawahannya.
"Itu karena Anda melarang mereka untuk menggunakan sihir," lanjut pria tua itu melaporkan sembari menekankan kkalimat tidak memperbolehkan memakai sihir. Sepertinya saat ini pria gendut itu sedang menyalahkan orang tua yang saat ini dia ajak bicara. Seperti semuanya salahnya.
"Wah, bagus sekali. Seperti kata pepatah 'sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui', kan?"
Mata Huld dan dua orang yang melapor itu mendelik karena kaget, begitupun dengan Veer dan Kirania.
Apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki tua licik itu? tanya Kirania dalam hati
Byakko sendiri tak peduli dengan itu, dia lebih memikirkan bagaimana cara membuat Athela kembali seperti semula.
"Ya, maksudku, aku tidak perlu campur tangan untuk membasmi para serangga itu, kan?" katanya tanpa dosa. Benar-benar mengerikan saat dia menyeringai di saat-saat seperti ini.
"Maksud Tetua apa?" tanya Huld dengan nada tak percaya.
"Dari awal aku ingin melenyapkan kaum kita, dan saat dengar para manusia itu ingin menyerang, bukankah aku tidak usah repot-repot membasmi mereka?"
"Bukankah Anda ingin melestarikan keturunan kami dengan menculik Nona Athela?" tanyanya terkejut. Dia tidak bisa melihat tetua yang dulu.
Bahkan sampai sekarang, para penyihir yang gugur itu tetap memercayainya dan bahkan bersumpah setia kepadanya. Namun, bagaimana perasaan mereka saat mengetahui semua ini?
"Kau bodoh, Huld. Benar-benar bodoh. Aku menculik gadis itu supaya aku mempunyai kekuatan yang tak terbatas serta hidup dalam keabadian. Mengapa aku menyia-nyiakan gadis itu untuk kepentingan kalian?"
Dia tertawa menggelegar, lalu kembali berkata, "Aku akan membuat sejarah baru: menyeleksi mereka yang lemah, dan menyisakan mereka yang kuat untuk membangun kampung halaman yang baru. Aku lelah saat kita diremehkan oleh mereka-mereka yang bilang bahwa kita adalah yang terlemah dari ras penyihir. Kau juga setuju dengan pendapatku, kan?"
"Ini semua... sudah Anda rencanakan?"
"Ya, dan kamu akan menjadi—"
"Kau terlalu banyak mengoceh." Tiba-tiba suara Byakko ada di belakangnya. Pria berhidung bengkok itu membelalakkan mata.
Sejak kapan Byakko ada di sana?
Diliriknya Athela. Gadis itu menatapnya dengan tatapan nanar. Kaki dan tangannya diikat menggunakan rantai tadi yang digunakan untuk mengikatnya oleh Veer yang sejak tadi diam tak bersuara. Ternyata dia sudah mengikat gadis itu, membuat pergerakannya terbatas dan Byakko bisa cepat-cepat menghabisi pria tua yang terlalu banyak mengoceh itu.
"Kau...." Suaranya melirih, lantas berbalik menatap Byakko. Pemuda bersurai pirang itu berpindah-pindah dengan cepat.
"Bahkan levelmu tidak bisa menyamaiku," katanya dengan dingin nan sombong. Matanya seperti elang yang siap untuk menerkam mangsanya.
Pria berhidung bengkok itu tertawa, lantas cepat-cepat Huld mengeluarkan pedang dari sarungnya.
Hanya dalam satu gerakan, bahkan pemuda yang bernama Huld itu tak berkutik. Dari situ, lewat kedua matanya sendiri dia tahu jika Byakko saat marah benar-benar mengerikan.
"Pengganggu lebih baik enyah." Begitulah katanya saat Huld sudah tersungkur di tanah. Entah menggunakan jurus apa, tiba-tiba tadi dia merasakan seluruh darahnya seperti terhenti dan tidak bisa beroperasi.
Tetua—yang tidak tahu siapa namanya—itu menyeringai, seolah menyombongkan segalanya. Baginya, kekuatan Byakko bahkan sangat rendah di matanya.
"Kau benar-benar pemuda yang sombong. Sebelum ini kau tidak pernah kalah dalam bertarung, ya? Aku bisa memahami betapa sombongnya dirimu. Tapi, mulai sekarang ini aku akan memperkenalkanmu apa itu yang namanya kekalahan." Dia kembali menyeringai, seperti tikus yang menantang singa tanpa tahu perbedaan kekuatan di antara mereka.
"Spesialismu hanya bisa berpindah-pindah tempat seperti ini?" katanya sembari berpindah-pindah tempat, mempraktikkannya dengan sombong. Sebuah teknik teleportasi yang membuat penggunanya bisa berpindah tempat secara cepat.
Saat ini dalam hitungan detik pria berhidung bengkok itu sudah berpindah di mana-mana. Hampir semuanya ternganga, itu adalah sihir tingkat tinggi yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Bukannya minder, Byakko malah menyeringai penuh dengan rasa sombong. Pemuda itu telah kembali ke dirinya yang dulu. Dulu dia hanya punya rasa sombong sebelum ditemukan oleh tuannya, Sang Penyihir Sepanjang Masa. Sekarang dia telah kembali. Seperti kembali dilahirkan di saat-saat seperti ini.
"Kau masih merapalkan mantra? Benar-benar menyedihkan," katanya dengan sombong. Dia membusungkan d**a, lantas menekankan kata benar-benar menyedihkan.
"Sombong sekali kau," ucap pria berhidung bengkok itu. Matanya menatap tajam ke arah Byakko yang melihatnya dengan tatapan remeh. Apalagi seringaian sombongnya itu membuat darahnya mendidih.
Sepersekian detik kemudian saat dia hendak membuka mulut untuk merapalkan mantra, Byakko sudah dulu berteleportasi di belakangnya dan membungkam mulut tua bangka itu.
"Kau terlalu banyak mengoceh, padahal mulutmu sangat bau. Sampai-sampai seisi ruangan ini hanya dipenuhi bau mulutmu yang busuk itu."
Tangan-tangan pria tua yang berkuku hitam itu mencoba melepaskan tangan Byakko yang menempel di mulutnya. Byakko tertawa kecil.
"Tanpa mulut—mantra—kau bukanlah siapa-siapa. Sebagai orang yang mengaku menjadi penyihir kelas atas, bukankah seharusnya hanya dengan membayangkan elemennya saja kau bisa membuat sihir? Jika kau masih mengucapkan mantra, itu berarti kau tidak lebih baik dari mereka semua yang kau bunuh di medan pertemuran. Kau sama saja dengan para bawahanmu yang kau korbankan. Sungguh menyedihkan menjadi seseorang yang tidak bisa mengukur kemampuannya sendiri. Merepotkan sekali."
Setelah berbicara panjang lebar, Byakko mendengkus kesal. Dia menatap pria tua itu lagi.
"Berani-beraninya kau membuatku marah dengan menculik gadis itu." Dalam hitungan detik saat dia mengangkat telapak tangan kanannya, pedang yang dibawa oleh Huld terangkat. Di sekelilingnya muncul cahaya yang berpendar berwarna oranye seperti api membimbingnya menuju tangan Byakko yang sedari tadi terangkat. Dalam hitungan detik pun, dia bisa menghabisi penyihir kelas rendahan ini tanpa sakit sedikit pun.
"Kau kuberikan dua pilihan. Ingin kubunuh dengan rasa sakit atau tidak?" tanyanya dengan wajah menyeringai mengerikan. Semua orang di sana membelalakkan mata, kecuali Athela yang masih tidak sadar. Gadis itu menghentakkan kakinya beberapa kali mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan rantai ini. Walaupun tidak memakai sihir, tetapi sebagai orang biasa sepertinya tidak bisa melarikan diri. Ralat, bukan manusia biasa, tetapi seorang penyihir yang tidak tahu akan kekuatannya sendiri.
Mereka tidak ada yang berani menolong pria hidung bengkok itu. Sekalipun dia meronta-ronta, kedua orang yang membawa pesan itu hanya diam melihatnya. Mereka bahkan melempar pandangan jijik kepadanya dan ingin cepat-cepat pria tua itu mati. Rasa sakit di d**a mereka seperti mewakili ribuan prajurit yang gugur dalam pertempuran tadi. Jika dia mati mungkin saja beberapa prajurit akan merasakan ketenangan, tidak lagi memikirkan perkara jika mereka telah dikhianati oleh pemimpin yang bahkan tidak menganggap mereka ada. Padahal bertahun-tahun beribu prajurit itu loyal terhadapnya.
Kisah yang sungguh tragis. Pengkhianatan yang penuh dengan drama ini mungkin akan berakhir jika lelaki tua bangka itu mati di tangan pemuda yang juga memendam benci kepadanya. Bukankah ini semua buah dari rencananya yang mempermainkan nyawa manusia? Begitulah pemikiran mereka berdua.
Huld belum bisa berdiri. Entah menggunakan apa, tapi pemuda dengan bekas luka sayatan di pipinya itu tidak bisa menggerakkan kaki. Seakan-akan kakinya lumpuh dan berdenyut sakit. Padahal tidak ada luka apa pun di sana.
"Oh, Pemuda. Kau sedang bertanya teknik apa yang saat ini kugunakan kepadamu? Itu teknik pelumpuhan, seperti yang saat ini sedang kau tebak."
Keempat penyihir itu membelalakkan mata.
Teknik langka yang katanya sudah tidak digunakan di zaman ini. Keberadaannya telah terhapuskan oleh peradaban dunia. Lalu kini, teknik itu berada di depan mereka? Siapa yang tak terkejut dengan ini semua?
Teknik langka yang sangat sulit dipelajari itu... apa dia benar-benar seorang penyihir? Jika benar demikian, tidak ada lagi kesempatan menang untuknya. Begitulah pikir pria berhidung bengkok itu. Dia melihat ke sekeliling, mencari cara bagaimana agar dia bisa lolos dari terkaman harimau ini.
Dia benar-benar ceroboh! runtuknya dalam hati kepada diri sendiri. Pria tua itu bahkan tidak bisa lagi mengharapkan bantuan dari kedua anak buahnya yang tadi menyampaikan berita, lalu sekarang Huld juga terkapar tidak bisa apa-apa. Mustahil bisa menyelamatkannya.
Sedikit saja.
Hanya dengan kejadian sekejap mata, mungkin bisa memutar balikkan kejadian. Barangkali nanti dia yang mengancam lelaki angkuh yang saat ini sedang membungkam mulutnya.
Apa yang membuat kejadian itu berubah? Dia berpikir. Bola matanya ke sana kemari tanda jika dia sedang berpikir.
Apa yang harus dia lakukan?
Tiba-tiba pandangannya terhenti ke arah Kirania yang berdiri tak jauh darinya.
Benar sekali.
Dia akan membuat gadis itu sebagai sandera.
Bibir pria licik itu menyuguhkan seringai yang tak mengenakkan. Untung saja tertutupi oleh tangan kekar Byakko. Jika tidak, semua orang pasti akan bergidik ngeri.
Mereka tidak tahu betapa piciknya lelaki tua yang sudah bau tanah itu.
Tangannya kirinya mengganggu keseimbangan Byakko, lantas tangan kanannya terangkat. Dalam waktu yang sedikit itu, dia sudah bisa menggunakan mantra.
Manta satu kata yang bisa diucapkan satu detik.
Dan itu satu-satunya mantra. Mantra yang terlarang, bahkan Penyihir Terhebat Sepanjang Masa pun tidak pernah menggunakannya dan memutuskan untuk melarangnya.
"Vdes!" katanya lantang, membuat Byakko dan ketiga penyihir itu terkejut. Tak terkecuali Huld sendiri.
Dari telapak tangannya muncul cahaya yang berpendar, berwarna hitam pekat yang berbentuk seperti bola berdiameter lima sentimeter.
Orang yang mengenai bola hitam yang terlarang itu akan dipaksa tidur selama-lamanya.
Dalam bahasa Albania, Vdes adalah matilah.
Tetua Nedgor itu kembali menyeringai, pucat pasi wajah Byakko yang tadi terlihat sangat sombong, kini dia tidak bisa berbuat apa-apa. Mantra itu adalah mutlak. Itu tandanya, tidak bisa dibatalkan atau dihentikan. Bahkan oleh Penyihir Terhebat Sepanjang Masa sekalipun.
Apa yang akan dia lakukan?
Melancarkan sihir itu membutuhkan waktu tidak lebih dari sepuluh detik untuk mencapai tahap kesempurnaan. Sebelum itu, dia harus melakukan sesuatu.
Jika membunuh sang pemantra, itu tidak akan berpengaruh. Karena itu adalah mantra mutlak. Maka jika Tetua Nedgor meninggal, mantra itu masih tetap melanjutkan prosesnya untuk mencapai kesempurnaan, di mana bisa mematikan sang target tanpa meninggalkan butiran debu.
Mantra ini benar-benar dilarang karena seperti bom bunuh diri bagi penyihir. Konon katanya, setiap penyihir memiliki dua nyawa. Salah satu nyawanya bisa ditukarkan dengan mantra terlarang ini. Mantra mutlak yang mengerikan, mantra yang harus ditukar dengan nyawanya sendiri.
Ini salah satu sihir kuno seperti pelumpuhan milik Byakko tadi, bedanya ini menganut ilmu hitam yang sangat pekat. Benar-benar mantra yang menyusahkan.
Refleks kedua tangannya tak lagi membungkam mulut Tetua Nedgor.
Pria tua itu tertawa licik. Dia benar-benar sudah berhasil membalikkan keadaan.
"Ada apa denganmu? Wajahmu terlihat pucat pasi. Di mana wajah sombongmu yang baru saja kau perlihatkan tadi?" ejeknya. Byakko hanya diam. Wajahnya kian pucat saat bola itu beberapa detik lagi siap untuk mengenai Kirania.
Kurang dari tiga detik.
Dua detik.
Sedetik.
Bola hitam pekat itu menerjang.
Bug!
Lantas, diikuti suara seorang tubuh terpelanting jatuh. Tersungkur di tanah dengan batuk-batuk berat.
"A—ayah," lirih Huld. Air matanya berlinangan.
Mata Kirania membesar saat melihat kejadian itu.
Kejadian di mana Huld menyelamatkannya dari kematian.
Pemuda itu menghadap ke arah Kirania dan membelakangi Tetua Nedgor. Kendati demikian, lelaki tua itu sudah tahu jika anaknya sudah hampir sekarat.
"Kau bodoh, Huld. Benar-benar bodoh. Langkahmu yang mengedepankan perasaanmu itulah yang membuatku membencimu. Kau bahkan tak mengenalnya, mengapa menyelamatkannya? Kuperintahkan kau untuk membunuhnya, tetapi mengapa kau tak membunuhnya? Padahal kau mampu membunuhnya.
"Kau sekarang ini sudah menjadi pemuda menjijikkan yang bahkan tidak bisa mengendalikan diri. Yang kau utamakan saat ini hanyalah perasaan." Tetua Nedgor menghela napas.
"Kau tak pantas menjadi anakku lagi. Matilah sana."
Setelah Tetua Nedgor berhenti berkata, Huld tersenyum kepada Kirania. Senyum yang penuh dengan kebahagiaan.
"Mengapa aku menyelamatkanmu, ya?" katanya. Lantas kembali terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar. Matanya menatap Kirania yang berlinangan air mata. Menangisinya mungkin karena rasa bersalah setelah mengorbankan diri untuk menyelamatkannya?
Mungkin sebentar lagi dia akan diistirahatkan selamanya secara paksa. Matanya penuh dengan pancaran kebahagiaan yang begitu mendalam.
"Karena aku mencintaimu, mungkin?" Dia kembali tersenyum.
Ini kali pertama pemuda itu tersenyum dengan bahagia selama Kirania melihatnya.
Akhirnya, Kirania tak bisa membendung seluruh air matanya. Dia menangis sesenggukan, menarik kepala pemuda berkulit putih pucat itu di pangkuannya. Meminta lelaki itu untuk kembali membuka mata.
Gadis mana yang mau mendengar pernyataan cinta di situasi seperti ini?
"Dia benar-benar anak yang bodoh," oceh Tetua Nedgor itu lagi.
Yang sukses membuat Byakko kembali marah. Dia, sebagai ayah, bahkan tidak punya rasa penyesalan saat melihat anaknya mati.
Ayah macam apa dia?
"Aku tidak mengira jika kau adalah orang yang bisa mengembalikanku ke diriku yang dulu." Byakko menyeringai.
"Kau lebih k*****t dari yang kuduga," lanjutnya sembari menodongkan s*****a milik Huld ke kepada Tetua Nedgor.
Tiba-tiba atmosfer berubah menjadi menyeramkan. Pria berhidung bengkok itu tidak tahu jika dia seperti tikus yang baru saja menyulutkan amarah seekor singa, sang raja hutan.
~~~
Vdes (Albania) = matilah.
Hohoho~ semangat, Minna. Huhuhu~