Tersibaknya Masa Lalu Byakko

4146 Kata
"Kau lebih k*****t dari yang kuduga," lanjutnya sembari menodongkan s*****a milik Huld ke kepada Tetua Nedgor. Tiba-tiba atmosfer berubah menjadi menyeramkan. Pria berhidung bengkok itu tidak tahu jika dia seperti tikus yang baru saja menyulutkan amarah seekor singa, sang raja hutan. Semuanya diam membisu, sama-sama menatap kemarahan Byakko yang begitu dahsyat. Sekeliling tubuh pemuda itu dikelilingi oleh suatu energi biru sebening mata milik Athela. Mata Byakko yang tadi berwarna oranye kini menjelma menjadi merah menyala, layaknya api yang berkobar mencari mangsa untuk dilahapnya. Api Byakko tidaklah sama dengan api seperti biasanya. Sekali orang itu menyentuhnya, niscaya mereka akan hangus terbakar. Rumor itu adalah kebenaran. Mata pria berhidung bengkok itu terbelalak, rasa terkejut telah menyelimuti seluruh dirinya. Lantas saat melihat mata merah Byakko, timbullah rasa ketakutan yang mencekam. Rasa itu menyelinap di hatinya hingga membuat nyali lelaki tua itu menciut. Sedahsyat itu kekuatan Byakko, hingga membuat para musuhnya ketakutan setengah mati. Setelah energi itu telah sepenuhnya menyelimuti tubuh pemuda bersurai pirang itu, tiba-tiba dalam sekejap mata energi biru itu berubah menjadi kobaran api. Api seperti melahap seluruh tubuh Byakko, bahkan dalam beberapa detik tubuhnya tak terlihat sama sekali. Perlahan atmosfer di sekeliling mereka menjadi lebih panas. Tidak, memang memanas karena pengaruh dari api yang ditimbulkan oleh Byakko. Tetua Nedgor menatap itu semua dengan tatapan ngeri, dia menelan ludah. Sesekali dia menatap ke sekitar untuk kembali mencari cara agar bisa lolos dari sana. Pria tua yang beberapa saat lalu tertawa atas kematian anaknya saking liciknya itu kini mencicit seperti tikus yang tinggal menunggu ajalnya menjemput. Dia... tidak salah lagi. Dia adalah tangan kanan Tuhan, Sang Penyihir Terhebat Sepanjang Masa itu sendiri. Makhluk legendaris yang bisa membunuh sepuluh ribu pasukan penyihir elit sepertinya hanya dalam satu kedipan mata. Andrenalinnya menegang.. Seluruh badannya tidak dapat bergerak hanya dengan melihat mata merah menyala Byakko yang berada di tengah-tengah kobaran api. Dia menelan ludah. Terlambat sudah dia menyadarnya jika makhluk itu bukanlah lawannya. Makhluk legendaris itu bahkan rumornya bisa menandingi malaikat. Menjadi seorang murid dari Dewa Zeus, lalu suatu saat dia dibuang karena memiliki dendam dengan salah satu malaikat. Diia... nama pemuda itu yang sebenarnya.... Byakko.... Tiba-tiba setelah mengocehkan itu di dalam hati, seluruh waktu seperti membeku. Terhenti kecuali mereka berdua. Api itu perlahan menghilang dari tubuh Byakko dengan sendirinya. Dalam sepersekian detik, hanya tersisa sedikit api yang menyelimuti tubuh kekarnya. Mulutnya menyeringa, kedua bola matanya merah berkobar seperti api. "Kau telah salah memilih lawan, Kawan," katanya dengan nada menyombong. Tak sekalipun pemuda itu tak menyombongkan diri ketika sedang bertarung. Entah apa yang mendasarinya menyombongkan apa yang dia punya dari bertarung, tetapi dia berpikir jika lawannya akan merasa resah. Jika itu terjadi, maka sang lawan akan banyak menimbulkan gerakan sia-sia. Itu sangat memudahkannya untuk menang dalam pertarungan. Terakhir kali dia pernah berlatih tanding dengan salah satu malaikat berada di khayangan sebelum dia diusir oleh Dewa Zeus karena menimbulkan banyak masalah. Saat itu pula dia menyombongkan diri, serta memancing emosi sang lawan. Jadilah dia adalah makhluk bumi yang pertama kali bisa menandingi kekuatan yang besar dari para penguasa langit. Karena beberapa malaikat tidak suka, mereka yang membenci pencapaian Byakko pun memfitnahnya dengan membuatnya sebagai kambing hitam dalam suatu masalah yang lumayan besar. Sejak bertemu dengan Sang Penyihir Terhebat Sepanjang Masa, kekuatannya disegel. Bukan hanya kekuatannya saja, tetapi juga sifat congkak dan sombongnya yang membuat orang-orang mulai membencinya. Menurut rumor juga, Byakko adalah tangan kanan Tuhan yang digunakan oleh Penyihir Terhebat Sepanjang Masa untuk mengurusi pekerjaan kotor. Dikenal bengis dan tidak pernah memberikan ampunan kepada orang-orang yang mampu membangkitkan amarahnya yang membuncah dan kesombongan yang sempat disegel. "Kau... Byakko?" tanyanya gemetaran. Bibirnya sangat sulit digerakkan, tetapi dia memaksanya untuk bergerak. Membuatnya seperti memiliki suara kecil nan lirih. Suara yang lemah, bahkan Byakko sendiri sudah menanggapnya sebagai cicitan tikus meminta tolong yang akan segera sekarat. Dia bodoh sekali. Tidak mungkin jika gadis seberharga Athela didiamkan tanpa penjagaan. Tidak mungkin, kan? Di akhir-akhir dia baru tersadar betapa bodohnya dia yang tidak bisa berpikir jernih setelah mendengar kabar bahwa Keturunan asli Sang Penyihir Terhebat Sepanjang Masa sudah jatuh di tangan salah satu vampir petarung, Raja Baren. Dia benar-benar ceroboh! Ini kelalaiannya. "Kau baru tahu, ya?" Seringai menyeramkan itu kembali terbit di bibir Byakko. Tetua Nedgor itu gemetaran, seluruh badannya menegang. Dia bahkan tidak berani lagi menatapnya. Pria tua itu menunduk karena takut. Merinding, bulu kuduknya berdiri. "Jadi... kau memilih yang mana? ingin kuhabisi cepat atau dengan penderitaan?" Tetua Nedgor hampir kencing di tempat saat Byakko mengatakan kalimat itu tepat di belakang lehernya. Kengerian, sebuah sensasi yang katanya bisa membuat para musuh Byakko merasakan seperti masuk ke neraka. Apakah ini? Byakko adalah makhluk legenda yang mempunyai api tak biasa. Api yang dimilikinya konon diambil langsung dari neraka. Bisa membumihanguskan satu negara bila dia bersungguh-sungguh dan mengeluarkan seluruh energinya. Bahkan menurutnya, energi yang dikerahkan Byakko saat ini hanya secuil dari semua kekuatannya. "Aku...." "Kau terlalu lama memilih. Akan kubunuh kau dengan meninggalkan bekas luka yang mendalam." Byakko tertawa mengerikan. "Kau tahu, kau sudah melukai banyak orang yang seharusnya kulindungi. Aku takkan memaafkanmu." Tawanya kembali menggelegar, membelah kesunyian malam. Jika saja waktu saat itu tidak dibekukan oleh Byakko, mungkin mereka juga akan merinding mendengar suara tawanya yang bisa memecahkan pekatnya langit malam. Tiba-tiba tawa itu terhenti saat sebuah petir menyambar di area mereka. Byakko menatap sengit petir itu, lantas mendongak, menatap salah satu makhluk yang berdiri di atas sana. Terbang bagaikan burung dengan kedua sayapnya membelah bumi. Setiap bulu-bulunya berwarna putih bersih. Suci sekali. "Kau, Malaikat Gila. Berani-beraninya mengentikan pertarunganku!" serunya ketus sembari berkacak pinggang. Dia menatap sebal ke arah makhluk yang terbang melayang di atasnya. "Maafkan aku, tetapi Dewa Zeus menyuruhku untuk menghentikanmu." Makhluk yang bernama malaikat itu mengatakannya dengan sopan, membuat Byakko mendecih pelan. "Mengapa dewa k*****t tua itu selalu saja ingin mencampuri urusanku?" tanyanya jengkel. Dia masih berkacak pinggang seperti ibu-ibu yang sedang memasak.. "Jaga ucapanmu, Beliau adalah dewa tertinggi di antara para dewa. Bisa dibilang beliau adalah bapak dari para dewa. Jangan sekali-kali menyebut namanya dengan embel-embel kata-kata kotor seperti tadi." Byakko mendengkus kesal. Bola matanya berputar. Setelahnya kembali menatap malaikat yang masih terbang seperti burung di atasnya. Sayap itu tak pernah mengepak sama sekali. Konon katanya, jika sayap itu dikepakkan, dunia akan hancur. Sebegitu besarnya kekuatan para malaikat. Jika saja kekuatannya tidak disegel, Byakko sudah menjadi harimau bersayap seperti makhluk cerewet itu. "Kau cerewet seperti biasa, Ezam," katanya lalu melipat kaki. Dia duduk di bawah rumah yang sekarang atapnya roboh karena sabetan dari Malaikat yang bernama Ezam tadi. "Kau juga gegabah seperti dulu, Byakko," jawabnya dengan nada yang sangat halus, seperti nyanyian nina bobo pengantar tidur yang bisa membuat semua orang menguap beberapa kali karena diserang kantuk. "Kita seperti sedang reuni saja, ya?" lanjut Ezam sembari tersenyum. Dia adalah malaikat terakhir yang sempat dia ajak latih tanding sekama lima ratus tahun yang lalu. Dan malaikat inilah dalang di balik semua kejadian yang menimpanya. Kejadian yang membuat Byakko harus ditendang dari khayangan oleh Dewa Zeus sendiri. "Jibril di mana?" Byakko menyelonjorkan kaki, duduk di samping Tetua Nedgor yang saat ini sedang berwajah pucat pasi. Katanya, makhluk apa pun yang tak sengaja melihat malaikat walaupun hanya sekejap akan dimasukkan ke neraka oleh mereka. Apalagi jika malaikat itu adalah Malik, sang penjaga pintu neraka. Untung saja dia tidak bertemu dengan malaikat itu. Tetua Nedgor yang mereka lupakan sesaat itu pun hanya terdiam, duduk di samping Athela yang masih membeku. Dibekukan oleh waktu. "Kau lancang sekali memanggilnya dengan nama saja, Byakko. Kamu masih sama seperti lima ratus tahun yang lalu, ketika terakhir kali kita bertarung. Kau masih saja sombong. Congkak sekali." Byakko tertawa terpingkal-pingkal, seperti baru saja mendengarkan lelucon yang paling lucu sedunia. "Eh, Tuan Penyihir," panggilnya. Refleks Tetua Nedgor kembali terdiam. Tubuhnya menegang hanya dengan mendegar sang Byakko memanggil namanya. Berada di situasi ini saja menurut pria berhidung bengkok itu merasa ingin mati saja. Mungkin manusia biasa akan benar-benar mati, tekanan kekuatan kedua makhluk itu saling bertabrakan, dan sama-sama kuat. "Kau pasti belum pernah mendengar namanya, kan?" tanyanya lagi. Menengok ke belakang, menemukan wajah pria berhidung bengkok itu yang pucat pasi. Dapat dilihatnya jika pria tua itu mengeluarkan banyak keringat di bagian dahi, walaupun memakai tudung sekalipun, tetapi terlihat dengan sangat jelas. Penyihir tua itu menggeleng patah-patah. Lengang. Selama dua detik tidak ada suara apa pun. Hingga Byakko tertawa memecahkan keheningan itu. "Kau tidak akan mengenalnya. Dia memang malaikat yang tidak terkenal." Tawanya kini semakin keras, sampai dibuat terpingkal-pingkal. Azem menatapnya dengan tersenyum dingin. "Ada banyak sekali malaikat, pantas saja tidak ada manusia yang mengenaliku." Jibril, Mikael, Izrail, Israfil, Mungkar, Nakir, Raqib, Atid, Ridwan, dan Malik. Mereka adalah sepuluh pimpinan malaikat yang Allah ciptakan. Dan hanya kesepuluh malaikat itu yang diajarkan oleh para manusia. Terkait bawahan-bawahan mereka itu sangat tidak dihafal, dengan alasan sangat banyak. Bahkan katanya, pada saat hari di mana dunia ini berakhir, Malik memiliki tujuh puluh ribu malaikat di Neraka Jahannam. Itu belum neraka-neraka yang ada di atasnya berjumlah enam. "Hahaha! Yang benar saja! Kau ke sini hanya untuk mengocehkan hal yang tidak berguna itu?" "Aku hanya menjalankan tugasku untuk meleraimu dengan penyihir itu," katanya dengan senyum. Byakko menyipitkan mata. Tidak mungkin jika Azem diperintahkan langsung oleh Dewa Zeus. Mengingat dulu saat masih berada di khayangan, makhluk licik itu bahkan memfitnahnya agar bisa ditendang ke dunia manusia. Ini benar-benar aneh. Jika Byakko boleh berpendapat, Azem pasti mencapuri urusannya seorang diri, tanpa diperintahkan oleh Dewa Zeus. "Sama saja. Jika tidak kubunuh, ujung-ujungnya juga akan kau bunuh." Byakko mengangkat kedua bahu, dia tidak peduli lagi dengan betapa senangnya merenggut nyawa lelaki tua picik yang semalaman sudah mempermainkannya. Pria tua itu gagap, menatap kedua makhluk itu bergantian dengan mata takut. Dia tidak memercayai ini. Dia kira Byakko akan menyelamatkannya. Paling tidak, berkata, "Kau jangan memangsa targetku. Dia akan kubunuh." Lalu mereka berdua bertempur. Selagi ada kesempatan, dia bisa kabur meninggalkan Byakko dan dia dengan membawa Athela. Sayangnya, itu tak sesuai dugaan. Lelaki bersurai pirang itu duduk-duduk santai sembari menatap ke atas, melihat Azem yang berdiri tepat di atasnya dengan tenang. Bahkan dia malah meminta Azem untuk membunuhnya? Ini benar-benar tak masuk akal! "Jika kau ingin membunuhnya, bunuhlah sekarang. Selagi aku belum berubah pikiran." Dia memejamkan mata, menyandarkan tubuhnya ke salah satu puing-puing bangunan di dekatnya—tepatnya di dekat Athela. Hei, dia tidak ingin menolongnya? Ini tidak bohongan? Dia akan mati langsung di tangan seorang malaikat? Kemalangan apa ini? Apalagi malaikat itu bukan Izrail, spesialis pencabut nyawa. "Kau tahu saja," jawabnya dengan cengiran kuda. Nadanya meremehkan sekali. Kadang-kadang Byakko berpikir, mengapa malaikat seperti Azem masih ada? Malaikat yang penuh dengan taktik busuk dan licik, mengapa tidak ditendang dari titelnya sebagai malaikat saja? Padahal, Allah telah menciptakan semua malaikat tanpa satu pun kedengkian. Dia patutnya menjadi iblis ketimbang malaikat. Titelnya sebagai malaikat hanya akan merusak nama yang diagung-agungkan manusia di bumi ini. Mereka sangat menghormati para malaikat yang sangat patuh kepada Allah, tapi tak bisa dimungkiri ada beberapa di antara mereka yang berbelot dan mengkhianati Allah dengan cara menciptakan rasa iri itu sendiri. Dia jadi mengingat bagaimana dulu salah satu leluhur iblis, Lucifer, pernah dibuang oleh Allah, Tuhan Semesta Alam ini dari Surga karena tidak mau mematuhi perintah-Nya. Padahal dulunya sebelum menjadi Lucifer, dia menjadi seorang malaikat yang sangat taat kepada Allah. Setelah malaikat diawasi oleh para dewa, mereka jadi tidak bisa diseleksi mana yang murni dan mana yang kotor. Tidak sedikit mereka telah berubah menjadi seorang iblis. Entah dari mana dan siapa yang menyebabkan ini, yang pasti ini benar-benar sudah mengubah ekosistem khayangan. "Aku tahu bagaimana sifat aslimu." Byakko berkata dengan nada datar, diliriknya Athela yang masih membeku di sampingnya. Tatapan mata gadis itu sendu, kesedihan campur aduk di matanya. Dia tak minat melihat wajah Azem yang saat ini pasti sedang menatapnya dingin. "Kau boleh membunuhnya," katanya lagi. Spontan membuat Azem turun ke bumi. Sayapnya yang membentang itu perlahan mengecil dan menghilang. Sayap itu tidak sebesar sepuluh malaikat yang bisa mengibaskan dunia, tetapi sayap yang dimiliki oleh Azem bisa menghancurkan tingkat negara sepertiya—atau bahkan lebih kecil. Seringai terbit kembali di mukut Azem. Sepertinya makhluk itu sedang bersenang-senang dengan mengatasnamakan kedok sebagai hukuman manusia. Suara guntur terdengar, masuk ke indera pendengaran pemuda itu yang masih menutup mata. Dia enggan untuk membuka mata barang sekejap, sebelum benar-benar selesai. Dia tidak akan membuka mata. Clap! Guntur kembali menggelegar. Cahaya sekejap mata bisa dirasakan dengan mata pemuda itu yang sedang tertutup. Sepersekian detik setelahnya, terdengar suara seseorang yang meronta-ronta hingga akhirnya berteriak sekarat. Dia seperti iblis saja, bukan lagi malaikat. Bahkan saat dia membunuh manusia saja disiksa hingga meronta-ronta. Kapan dia pensiun dari pekerjaannya sebagai malaikat? Atau paling tidak, ditendang sepertinya. Tidak adil rasanya jika dia yang hanya punya sifat sombong dilempar ke dunia manusia, sedangkan Azem yang seperti psikopat ulung itu masih dijadikan sebagai malaikat. Bahkan dia selalu menyiksa manusia dengan pura-pura menampakkan diri lalu menghabisinya. Dalam aturan malaikat, manusia tidak boleh melihat mereka sebelum ajal menjemput. Jika tak sengaja melihat hal yang tak boleh dia lihat, maka para malaikat memiliki wewenang untuk membunuhnya. Terdengar egois dan kejam. Apalagi sebenarnya tugas mencabut nyawa itu awalnya hanya diperuntukkan bagi malaikat Izrail. Entah siapa yang membuat dunia menjadi terlihat semrawut seperti ini. Pasti ada dalang di balik semua ini. Barangkali dewa? Salah satu dari dua belas dewa yang saat ini sedang bersenang-senang di khayangan. Apa mereka tidak takut jika nanti Allah menegur mereka? Mereka ini mempunyai Tuhan, tetapi seperti nama Allah hanya simbol. Lancang sekali para pengkhianat itu. "Wah, kau melihatku, Gadis kecil?" DEG! Gadis kecil? Siapa yang dia maksud? Jangan-jangan.... Dengan segera dia membuka pelupuk mata. Sebuah sinar rembulan hadir menyinari matanya. Buru-buru Byakko melihat ke samping, hanya untuk memastikan sesuatu. Dia berharap jika kecemasannya tidak terja— Matanya membesar saat melihat Athela yang melongo menatap makhluk yang berwujud pria itu sedang menghampirinya dengan tatapan layaknya psikopat ulung yang siap menerkam mangsa. Tangannya terangkat, siap-siap untuk menyiksa gadis itu. Setelahnya, terdengar suara guntur yang menggema di langit malam. BLEDAR!!! Athela menutup mata. Melihat Byakko yang menahan serangan itu dengan pedang milik Huld tadi. Dapat dia lihat punggung pemuda itu berdiri di depan untuk melindunginya. Azem menyeringai. "Mengapa kau mencapuri urusanku?" "Mengapa aku tak boleh melindungi sesuatu yang seharusnya kulindungi?" Kini Byakko yang kembali melempar pertanyaan. "Dia sudah bukan orang yang kau kenal, kan?" Byakko diam. Bagaimanapun, gadis itu masih diberi mantra oleh penyihir tua itu. Celakanya dia lupa bagaimana caranya untuk mengembalikan Athela seperti sedia kala. "Lagi pula apa kau tak keberatan jika dihukum oleh Dewa Zeus? Kau masih ingat, kan, peraturan khayangan adalah siapa pun makhluk yang mengganggu para malaikat yang sedang menghukum manusia akan dimasukkan ke neraka selama beberapa hari?" Kini Byakko balas menyeringai. "Sepertinya kau salah paham." Malaikat yang mengambil wujud sebagai anak laki-laki bermata hijau bagaikan permata itu sedikit memiringkan kepala, berusaha mencerna apa yang saat ini sedang dikatakan Byakko. Aku yang lebih dulu mengirimmu ke neraka. Jadilah babu di sana dan nikmati hari-harimu dengan api, kata Byakko dalam hati. Dia menyeringai. "Kau lupa, ya? Aku pernah ke sana. Bahkan Malaikat Malik itu sudah kuanggap kakak." Dia menengadahkan tangan kanannya, menciptakan bola api sebesar kepalan tangan. Api itu berubah warna, yang semula merah biasa kini menjadi biru. Azem mendecih, dia berujar, "Tak kusangka kejadian lima ratus tahun lalu akan kembali kita lakukan." "Kau benar. Sama sekali. Sama persis malahan. Ketika kau berpura-pura dan bersandiwara, menyalahkan semuanya kepadaku." Mereka berdua sama-sama menatap tajam sang lawan bicara. Jaraknya sekitar lima meter, tetapi rasanya seperti satu senti saja. Kedua makhluk itu sama-sama mengeluarkan energi yang bisa menghancurkan markas besar Penyihir Nedgor. Tangan kiri pemuda itu membuat sebuah portal pelindung bagi mereka yang sedang membatu. Dia tidak tahu mengapa Athela bisa terbebas—dan ini bukan waktunya untuk memikirkan itu. Dia akan bertanya nanti saat sudah selesai bertarung. "Apa yang sedang kau lamunkan?" CTAR! Sebuah kilatan cahaya menyambar tangan Byakko. Pemuda itu lengah. Darah mengucur deras di tangannya. Byakko kembali menyeringai. "Oh, aku tak sengaja memikirkan apa yang akan kulakukan saat sudah mendapatkan mayatmu," ujarnya dengan nada sombong. "Cih, kau memang tak pernah berubah." "Tentu saja." "Meskipun kekuatanmu tidak seperti dulu." Seringaian itu semakin melebar. Kilatan cahaya kembali mengisi kekosongan ruang itu secara cepat. Cepat sekali, sampai Athela saja tidak bisa melihat pergerakan itu. CTAR! Petir itu berevolusi menjadi sebuah cambuk. Tangan kanan Byakko dicambuk. Hanya dalam beberapa detik, tangan Byakko melepuh. Lantas darah segar keluar dari sana. Tangan kanannya terpotong. Tidak meringis, tetapi pemuda itu malah tertawa senang. "Sudah lama aku tak mendapatkan luka sebesar ini," katanya sambil tertawa kembali. Dia seperti ingin melakukan itu lagi dan lagi. Mungkin di kepala Byakko hanya terisi bertarung saja. Dia terlihat menikmati lukanya sendiri. "Kau terlihat sangat senang. Apa di dunia ini tidak ada yang bisa menyamaimu?" BLEDAR!!! Kini Byakko yang giliran menyerang. Api biru itu menyelimuti pedang milik Huld tadi. Dia menyeringai, tidak peduli jika lengannya sudah terpotong dan darahnya menetes ke lantai, Kini lantai itu sudah seperti lautan darah, penuh dengan tetesan cairan kental amis milik sang legenda, Byakko. CRAT!!! Byakko mengayuhkan pedangnya ke kaki Azem. Dalam sedetik kakinya terpotong, Byakko menyeringai saat melihat Azem menggertakkan gigi. Setelah itu Byakko berkilah ke belakang, depan, dan samping Azem sembari mengayunkan pedangnya tanpa disadari sang lawan menggunakan teknik teleportasi. "Kau pasti berpikir jika aku tidak bisa menggunakan tangan kiriku, bukan?" Byakko masih berteleportasi dengan cepat ke sekeliing Azem, membuat malaikat itu tak bisa berkelit. Yang dia lakukan hanya melihat dan menebak di mana Byakko berada. "Kau terlalu sibuk bermain-main dengan nyawa manusia sampai tidak bisa berpikir jernih." CLAP! CLAP! CLAP! Goresan semakin goresan sudah terpatri di kulit pucat pemuda yang sejatinya adalah malaikat busuk itu. Rival Byakko selama lima ratus tahun ini. Byakko akan menyiksa sebelum benar-benar membunuhnya. Fitnah yang dia berikan kepada Byakko belum juga hilang sampai sekarang. Masih berbekas di hati pemuda bermata oranye yang kini telah berubah menjadi warna api nerakanya, biru. Azem meletakkan tangan kanannya ke kakinya yang patah, berusaha melakukan mantra penyembuhan agar lengannya cepat tumbuh, tapi sepertinya usaha malaikat itu sia-sia. Luka itu bahkan tidak mengering, padahal biasanya luka yang dia dapat bisa dengan mudah sembuh dalam dua menit. Dia tidak bisa berdiri. "Kau tahu perbedaan terbesarku denganmu apa? Kau ini bodoh sekali. Menyerang tanpa memikirkan sebab-akibat. Dengan kata lain, kau bertarung tanpa memikirkan strategi. Tahu, kan, betapa bodohnya dirimu? Dan kau masih sombong-sombongnya berlagak ingin menghukum manusia. Kau seperti anak kecil yang kesepian saja," oceh Byakko. Pemuda itu hilang-terlihat secara cepat. Serangannya pun tak terlihat, hanya meninggalkan bekas luka. "Kau berpikir jika menghilangkan tangan kiriku, aku akan kesusahan karena tidak bisa lagi menggunakan pedang. Asal kau tahu saja, aku bahkan melatih tangan kiriku menggunakan pedang tiga per empat kali dari tangan kanan. Dengan kata lain saat melakukan empat latihan, tiga latian dengan tangan kiri, dan satunya di tangan kanan. Dan biar kuperjelas. Tangan kiriku lebih ahli dari tangan kanan. Jika saja gerakan pertamamu tadi mengincar kakiku, akan berbeda hasilnya," lanjutnya mengoceh tanpaa henti, tetapi seperti tak didengarkan oleh Azem. Pemuda itu masih sibuk mencari tahu mengapa lukanya tak kunjung sembuh sembari berusaha berkelit, menghindari serangan pedang secara tiba-tiba milik Byakko dengan firasat. "Oh, aku lupa menjelaskan. Kau pasti saat ini sedang kebingungan kenapa lukamu tak kunjung sembuh, benar?" tanyanya dengan nada yang menjengkelkan. Azem terdiam. "Kau tahu, kan, api neraka tidak bisa sembuh kecuali jika dibasuh dengan air dari Sungai Firdaus." Dia kembali tertawa. Merasa sudah di atas angin. Dua menit Azem diam, tidak berkelit ketika mendapat luka dari Byakko seperti tadi, membuat pemuda bersurai pirang dengan mata oranye itu berhenti menyerang dan menampakkan diri. Dilihatnya Azem menunduk. "Kau sudah merasa terpojok, ya? Ah, kau benar-benar mengecewakanku seperti lima ratus tahun yang lalu. Kukira selama lima ratus tahun ini kau berlatih untuk mengasah kekuatanmu sendiri, eh ternyata malah bermain-main dengan nyawa manusia dan mengintip kehidupanku dari atas sana, kan?" Byakko melirik ke atas, sebuah bulan purnama yang terlihat sedikit memerah menghiasi malam yang gelap itu. Azem terduduk, darahnya sudah memenuhi lantai. Pemandangan ini benar-benar membuat orang biasa mual. Simbahan darah di sana-sini, lantas melihat Byakko yang memegang kepala sesosok malaikat yang sudah tak berdaya. "Bagaimana? Rasanya sakit, kan? Tapi kau harus tahu, rasa sakitnya hati bahkan lebih hebat daripada sakit dan lebam-lebam di tubuhmu ini," bisiknya tepat di telinga Azem yang runcing, seperti telinga kucing. Azem masih diam tak berkutik. Mulutnya bungkam dan enggan terbuka. Rambut hitamnya masih menutupi wajahnya yang pucat tampan. "HEH! ZEUS! KAU TIDAK INGIN MENYELAMATKAN MURID KESAYANGANMU INI, HEH? DIA BAHKAN TIDAK BISA BERDIRI. TULANG SAYAPNYA PUN SUDAH KUPATAHKAN. BENERAN NIH AKAN KAU DIAMKAN DAN DIBIARKAN DIA MATI DI BUMI DENGAN KEADAAN SEPERTI INI?" tanya Byakko ke langit-langit sembari berkacak pinggang. Dia sangat berharap Zeus bisa ke sana dan menjemput Azem agar dia bisa menantangnya berduel lagi. Seribu tahun yang lalu dia kalah, tetapi sekarang dia yakin bisa menang melawannya. Benar-benar kesombongan tingkat dewa. "KAU BENERAN TIDAK KE SINI?" Raut wajah Byakko mendadak cemberut, dia menatap langit dengan pura-pura sedih. Dari khayangan, seorang pria tua yang sedari tadi memantau pertarungan mereka berdua di sebuah benda seperti proyeksi mendesah. Dia mengelus-elus janggut putihnya yang panjangnya sampai di d**a. "Bagaimana, Dewa Zeus? Byakko kembali membuat masalah. Tidak, kali ini bukan Byakko, tetapi salah satu anak buah Malaikat Jibril. Dia yang pernah mengajak tanding dengan Byakko lima ratus tahun lalu. Salah satu murid Anda juga." "Byakko menitipkan pesan kepadaku?" "Dia berkata ingin bertemu dengan Anda dan menantang duel satu lawan satu. Katanya seribu tahun yang lalu, dia belum kalah." Dewa Zeus tertawa, rambut putihnya bergerak sedikit, kemudian beralih ke kumis dan jenggotnya. Byakko memang benar-benar selalu membawa kejutan untuknya. Dilihatnya wajah Byakko yang pura-pura sedih dari proyeksi. "OI, PAK TUA ZEUS! APAKAH KAU TIDAK MENDENGARKU? TIDAK MUNGKIN, KAN? KAU BISA MELIHATKU DARI ATAS SANA, KAN?" tanyanya bawel. Dia masih berkacak pinggang. Setelah beberapa menit dan tak melihat Zeus datang, akhirnya dia mendengkus kesal. "Dia benar-benar lelaki tua yang merepotkan." Dewa Zeus kembali tersenyum. Pemuda itu bahkan seperti hiburan baginya. Dalam hitungan detik, tiba-tiba senyumnya lenyap. Saat matanya melihat Azem yang diselimuti oleh energi berwarna hitam pekat. Ini masalah serius. Dengan kekuatan Byakko yang saat ini masih disegel, dia tidak bisa menahan serangan itu. Serangan maha dahsyat yang ditimbulkan dari amarah dan kebencian. Kedok Azem telah terbongkar, malaikat itu telah berubah menjadi iblis seutuhnya. "Tae, pergilah dan hentikan Azem. Bawalah ke sini hidup-hidup bersama Iry. Aku akan memutuskan hukuman apa yang akan diterimanya setelah sampai di sini," katanya dengan raut wajah yang serius. Lelaki tua yang bernama Tae itu mengangguk, menunduk takzim, lantas mencari istrinya, Iry. Sedangkan di Bumo, tempat area pertempuran dua rival itu, Byakko tak menyadari hawa keberadaan malaikat yang berubah menjadi iblis. Saat ini dia berjalan menuju Athela yang menatap semuanya dengan tak percaya. Matanya terbelalak sempurna. Wajah Byakko berubah menjadi sendu. "Maafkan aku," ucapnya saat sampai di depan Athela. Dia berharap bisa dimaafkan oleh Athela, walaupun saat ini dia bukanlah Athela yang dikenal. Namun, Athela masih menatapnya dengan tatapan benci. "Jangan mendekatiku. Sampai nanti aku tidak akan pernah memaafkan kesalahanmu. Kau adalah lelaki biadab yang hanya mempermainkan perasaanku," katanua dengan nada melirih. Kali ini tak lagi kebencian yang ada di sana, melainkan sebuah rasa sakit yang teramat sangat. "Kau... telah menghancurkan hatiku sampai berkeping-keping. Tega sekali kau melakukan itu padaku. Kau memberiku harapan palsu. Aku benar-benar membencinya." Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi gadis itu. Dia menangis sesenggukan. "Aku benar-benar membenci diriku sendiri yang masih mengharapkanmu, padahal sudah tahu jika selama ini aku mencintaimu sendirian." Tangisnya kian pecah. Dadanya berdebar hebat saking sesaknya. "Aku membenci sisi diriku yang mencintaimu sendirian." Ulangnya lagi. Dadanya benar-benar sesak, air matanya mengalir banyak sekali, bahkan tak lagi terbendung. Matanya yang beruraian air mata menatap Byakko dengan sendu. "Aku membencimu." Hening sejenak. d**a Byakko seperti berhenti berdetak. Saat gadis itu mengatakan jika dia membencinya, rasanya dunia tak memihak kepadanya. Dadanya... sangat sesak. Entah perasaan apa itu. Tangan kirinya yang tadi memegang pedang kini beralih memegang kepala Athela. Sepertinya dia Athela yang biasa, mantra itu sudah tak berguna. Kepala gadis itu sengaja disejajarkan dengan wajahnya. Membuat gadis itu semakin menangis. Melihat itu hanya akan mengingat kejadian lalu. Bodohnya dia karena saking cintanya dengan Byakko, sampai tak bisa membedakan mana yang asli Byakko dan bukan. "Tidak... aku tidak membencimu. Aku membenci diriku sendiri yang mencintaimu secara berlebihan hingga timbul tragedi seperti ini," lanjutnya. "Dengarkan aku," kata Byakko lembut. "Ini bukan salahmu. Dari awal memang sudah salahku yang membiarkan penjagaanku memiliki celah. Jika saja kau tidak diculik, kau tidak akan melalui kenyataan buruk ini." Begitulah Byakko. Dia bahkan tak memikirkan perasaan Athela saat ini, langsung ceplas-ceplos mengatakan ini-itu tanpa peduli bagaimana hati gadis di depannya itu. "Apakah sesi cinta-cintaan ini sudah berakhir?" tanya seseorang dengan nada serak memotong pembicaraan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN