Tersibaknya Masa Lalu Byakko (2)

2476 Kata
"Apakah sesi cinta-cintaan ini sudah berakhir?" tanya seseorang dengan nada serak memotong pembicaraan mereka. Byakko menoleh ke belakang, melihat Azem yang dikelilingi oleh energi hitam nan pekat. Wajahnya penuh dengan energi terkutuk itu, lalu dia menyeringai. Suara Azem berubah menjadi serak setelah mempunyai kekuatan itu. "Wah, akhirnya jati dirimu terlihat juga, ya?" kata Byakko sembari bangkit. Tangan kanannya kini telah pulih semula, begitupun dengan Azem yang kakinya kini kembali seperti semula. Sepertinya proses transformasinya menjadi seorang iblis bisa menyembuhkan luka itu dengan segera. Biasanya iblis kebal terhadap api neraka. Sepertinya rumor itu benar, saat Byakko mencoba menimbulkan sayatan demi sayatan di tubuh Azem, luka itu dengan perlahan menghilang. Hanys api dari neraka Jahannam-lah yang bisa melukainya. Selain itu, tidak ada yang bisa menggores tubuh Azem dengan serius. "Kau terlihat menyedihkan," ucap Azem. Dia telah membalikkan keadaan selama beberapa detik terakhir. Wujud sejatinya kini telah terlihat sepenuhnya, perlahan sayap kebanggaannya telah berubah berwarna hitam, sehitam arang. Lantar terbakar begitu saja menyisakan abu yang bertaburan di lantai yang berukuran kecil itu. "Kau yang terlihat menyedihkan. Mengacalah, gayamu tidak berkelas sama sekali. Terlihat jelek dan kuno," komentar Byakko saat melihat baju Azem yang berubah hitam. Kuku-kukunya panjang dan runcing berwarna hitam, mata hijau berliannya kini beralih ke iris mata hitam legam seperti mata burung elang. Menyeramkan. Athela bergidik ngeri. Itukah wujud iblis? Makhluk yang menyeramkan itu saat ini sedang melawan Byakko? Dia tidak salah lihat, kan? Hanya dalam sekejap seperti kecepatan cahaya, kedua kaki Byakko terluka. Kaki kanannya tak bisa lagi berpijak ke tanah, baru kali ini dia melihat Byakko meringis menahan rasa sakit. "Di mana kepercayaan dirimu yang tadi? Kau tidak sedang mencemoohku, kan? Ayo, tunjukkan lagi kesombonganmu di depanku. Apa? Kau tidak bisa?" tanya Azem bertubi-tubi. Dia menyeringai karena bisa memikul mundur lawannya. Darah segar keluar dari kaki-kaki Byakko. Tak ada lagi wajah yang penuh dengan seringaian seperti tadi, yang ada sekarang dia merasakan sakit yang tiada tara. Setiap ujung kakinya berdenyut-denyut, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Darah mengalir dari salah satu sudut bibir Byakko. "Kau cerewet sekali. Tidak seperti dirimu yang biasanya," kata Byakko dengan nada bicara yang sombong. Dalam keadaan terdesak pun, dia masih sombong. Kesombongan pemuda itu patut diberi penghargaan piala oscar. Dia satu-satunya orang yang akan membawa pulang piala oscar kesombongan tiada akhir jika ada. Sayang sekali, sepertinya tidak ada di Negara Baaj. "Kau masih saja banyak bicara padahal sudah memiliki luka sebanyak itu." CTAR-CTAR! JLEB! Byakko memutar badannya dengan bertumpu kaki kirinya, kemudian berusaha menghindari serangan milik Azem. Seberapa kali pun Byakko menghindar, sepertinya percuma saja. Pemuda itu tak bisa luput dari serangan malaikat yang baru saja bertransformasi menjadi iblis itu. Seperti setiap serangan bisa hidup sendiri dan mengikuti gerak-geriknya. Mustahil. "Dengan kekuatanmu yang masih disegel, kau tidak bisa menandingiku. Seharusnya kau sadar diri. Padahal baru saja kau mengoceh kepadaku tentang taktik dan rencana perang, mana taktik yang kau banggakan itu? Sebanyak taktik yang kau punya, jika kau lemah kau tidak bisa lepas dari jeratan yang kuat. Apa kau paham?" Tangan dengan kuku-kuku hitam itu mencengkeram rambut Byakko, d**a Athela berdebar hebat. Byakko diputar-putar tepat di atas kepalanya sendiri. Sembari menyeringai kegirangan, dia seperti bocah yang baru saja menemukan mainan. Benar-benar ekspresi yang menyeramkan, tertawa di saat menyiksa orang. "k*****t KAU!" teriak Byakko. Suaranya terputus-putus karena terbawa angin. "Cih, dalam keadaan seperti ini kau masih saja membuatku emosi, ya." Dia mendecih keras-keras. Lantas melepaskan tangannya yang tadi menjambak rambut Byakko. "Ya, aku ahlinya mengumpat orang," jawab Byakko sombong. "Kau benar-benar menyedihkan. Lihatlah dirimu." Byakko menengadah, menatap langit malam yang begitu pekat. Bulan yang putih dengan sedikit noda merah di sana. Lalu ada pula bintang-bintang yang bertabur menghiasi malam yang panjang itu. Sepertinya langit saat ini tak memihak kepadanya. Byakko meringis. Hanya dalam beberapa detik saja tubuhnya sudah merasakan sakit yang menjalar luar biasa. Luka itu tidak bisa sembuh secara cepat, mungkin butuh sekitar sehari-dua hari agar kaki kanan yang ditebas Azem bisa tumbuh kembali. "Aku sudah mengincar kakimu, nih. Terima kasih, ya, atas nasihatnya barusan," katanya sembari menendang-nendang kepala Byakko. Pemuda itu meringis kesakitan. Benar sekali, dia tidak bisa mengimbangi pertarungan jarak dekat ini dengan Azem jika dia tak menerima kembali semua kekuatan yang Sang Penyihir Terhebat Sepanjang Masa segel. Ini akan menjadi pertarungan jarak dekat yang berat sebelah. Satu-satunya yang paling memungkinkan dalam keadaannya sekarang ini adalah kabur. Akan tetapi, dia tidak bisa kabur sambil melindungi orang-orang yang sekarang seperti batu karena waktu di situ Byakko bekukan. "Kau tidak bisa kabur, Byakko. Seharusnya kau tahu itu, kan? Katamu, kau sudah tahu sifat asliku." "Ya, sifat aslimu adalah tidak akan membiarkan mainanmu lolos, kan?" jawab Byakko dengan cepat dan malas. "Ternyata kau benar-benar tahu tentangku, ya." Byakko mengangkat bau. Tentu saja, di antara semua malaikat hanya dia yang selalu Byakko perhatikan. Mengingat di antara semua malaikat, hanya dia yang bersikap congkak kepadanya. Lalu saat penduduk bumi juga congkak, Azem memprotesnya. "Kau terlihat sangat mencolok." Bagaimanapun juga, saat ini Byakko harus mengulur waktu untuk melakukan serangan balasan. "Ya ampun, maaf membuatmu menunggu. Karena terlalu fokus dengan pertarunganku melawan Byakko, aku sempat melupakanmu," katanya ramah sambil berjalan menuju Athela yang masih membelalakkan mata. Tadi pertempuran hidup dan mati antara Byakko dan Azem, kini apa? Apa saat yang tepat untuk mengakhiri hidupnya? Dia akan mati sebentar lagi di tangan malaikat yang merangkap menjadi iblis? Terlebih lagi, mati di saat Byakko sedang kesakitan? Paling tidak, dia harus mengobati luka Byakko terlebih dahulu. Pikirannya kalut. Ada banyak sekali hal-hal yang menyerang benaknya saat ini, membuat gadis itu pusing dan tertekan. Belum lagi saat gendang telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya. Lelaki yang bernama Azem itu menghampirinya dengan memasang wajah seringai yang buruk. Rambutnya yang hitam melambai-lambai terkena tiupan angin dalam beberapa detik, kemudian dia memiringkan kepalanya ke kanan beberapa inci. Azem tersenyum. ""Maaf, aku akan membunuhmu dengan cepat." Athela menatap Byakko yang berusaha bangkit, saat pecut itu hendak mengenai Athela, dengan satu kaki lagi-lagi Byakko menahannya. Walaupun dengan satu pecutan membuat dirinya ambruk karena tak kuat dengan efek yang pecut itu timbulkan jika hanya menyerang dengan satu kaki. Napas Byakko ngos-ngosan. Dia mencoba menstabilkan napasnya sendiri dengan menarik napas beberapa kali. "Kau mengotot sekali, memangnya gadis ini sepenting itukah di hidupmu?" tanya Azzem sembaari tertawa penuh kemenangan saat dia melihat badan Byakko yang tersungkur di tanah. "Sampai-sampai kau mempertaruhkan nyawa segala." "Bukan urusanmu." Diam sejenak, tawa Azem mereda. Seluruh badannya kembali dilindungi oleh energi hitam pekat tersebut. Sepertinya saat ini dia sedang marah, seluruh atmosfer yang berada di samping mereka terasa panas. Byakko terluka parah. Bahkan harimau yang melegenda itu tidak sanggup lagi berdiri. "Kau harimau k*****t. Aku berubah pikiran. Aku akan menyiksa gadis ini terlebih dahu---" Belum sempat Azem melanjutkan perkataanya, tiba-tiba sebuah cahaya kuning berpendar dan menyelimutinya dengan membentuk sebuah penjara. Mata hita Azem berubah menjadi merah menyala. Seluruh tubuhnya dikelilingi oleh api merah. Dia benar-benar marah sekarang. Wajahnya yang terlihat penuh dengan amarah itu mendelik, kedua tangannya memukul-mukul cahaya itu dari dalam. "Wah, wah, wah, dia benar-benar marah." "Kau benar, saat marah dia seperti T-rex yang sedang dikurung." Dalam keadaan sekarat pun, Byakko masih sempat tersenyum. Dia melirik dua makhluk yang memiliki sayap sedang turun. Ukurannya seperti jari telunjuknya, Seperti manusia liliput. Laki-laki dan perempuan, yang laki-laki memiliki janggut berwarna putih. "Lama sekali kau, Cebol," katanya dengan tersenyum penuh kemenangan, kemudian pandangannya dilemparkan ke arah Azem yang masih memukul-mukul cahaya itu yang seperti kaca, mencoba mengeluarkan diri dari sana. Pandangan pemuda itu sedikit buram karena kepalanya terasa pening, tetapi dia tidak akan salah mengenali mereka berdua. "Wah, wah, Tuan Byakko. Anda saat ini sedang sekarat, ya?" tanya sang pria tua itu yang telah meninggalkan rasa sopannya di khayangan. Satunya, sang wanita, menyikut pria berjenggot putih itu. "Maafkan atas kelancangan Tae, suami saya, Tuan Byakko." "Kalian berdua lama sekali. Dasar makhluk cebol." Dia berkata sambil tertawa. Tangan kirinya mengusap darah yang berada di sudut mulutnya. "Maafkan kami sekali lagi. Kereta jalur bumi sangat lama, jadi tak ada pilihan lain selain kami harus menunggu. O, ya, terima kasih selama lima jam ini sudah menahankan Tuan Azem untuk kami." Iry menunduk dengan takzim, memberikan hormat. Lantas Tae dengan terpaksa mengikutinya. "Kalau begitu, kami pamit undur diri," katanya dengan nada menggantung saat melihat luka Byakko yang serius. "Namun sebelum itu sebagai bentuk rasa minta maaf, izinkan kami menyembuhkan luka Anda," katanya lalu kembali menyikut Tae. Tae yang awalnya menolak setelah mendapat lirikan tajam dari Iry akhirnya terpaksa melakukan. Jemari mungilnya terlentang. Dia terbang berlalu-lalang di atas Byakko. Seluruh tubuhnya diselimuti cahaya seperti lampu kuning yang kadang redup dan kadang menyilaukan. Saat dia terbang, terlihat seperti capung yang sedang menari-nari di taman bunga. Mereka adalah ras peri, dan kedua peri itu---Iry dan Tae adalah raja dan ratu dari klan peri yang ditugaskan untuk bekerja langsung di bawah perintah Dewa Zeus. Saat Tae sibuk menyembuhkan luka Byakko yang sekarang berangsur pulih, Iry menatap Athela. Gadis itu menatapnya takut-takut. Iry mendekatinya. Sayap mungil itu dikepakkan beberapa kali dalam satu meniit. "Kau tidak perlu takut denganku. Aku tidak akan mencabut nyawamu," katanya kepada Athela, yang sukses membuat gadis itu terdiam sembari berpikir. "Jika kau melukainya sedikit saja, aku akan memanggangmu di neraka," celetuk Byakko, membuat Iry tertawa renyah. Dia tidak akan berani memegang kulit gadis itu barang seinci pun jika Byakko memerintahkan demikian. Dilihatnya sorot mata Athela yang ketakutan. "Jangan takut, aku ini sekutumu." Iry meyakinkan, membuat wajah gadis itu tak lagi kecemasan. Selama beberapa menit berlalu, akhirnya saat luka-luka Byakko sudah sembuh semua mereka pamit undur diri. "Maaf, Tuan. Kami permisi dahulu." Mereka lalu pergi dengan membawa Azem yang sudah tak sadarkan diri akibat terlalu lama dipenjara di cahaya yang dibuat oleh Iry dan Tae. Meskipun Iry adalah peri tingkat tinggi yang memiliki kekuatan menyerupai dewa, tetapi peri wanita itu selalu hormat dengan semua orang, tak terkecuali Byakko. Dua peri yang berperawakan seperti liliput itu dalam sekejap mata hilang, seperti melakukan sihir teleportasi. Byakko mengangkat tangan, lantas waktu yang sempat dia bekukan kini kembali seperti semula. Semua orang merasa bingung, seperti sedang mengalami deja vu yang sangat nyata. "Tu--tuan... di mana Tetua?" Salah satu dari pembawa pesan itu menatapnya cemas, lantas terdiam saat melihat mayat pria berhidung bengkong yang terduduk di samping Athela. Tubuhnya penuh dengan luka lebam. Bau gosong di sana-sini. Seperti dibunuh dengan petir. Sangat mengenaskan. Matanya masih terbuka. "Kau... kau melakukan ini, Tuan?" Byakko diam, tak tahu harus menjawab apa. Ingin menjawab iya tapi sebenarnya bukan, ingin menjawab bukan dia takut tidak percaya. Mereka tidak akan percaya jika bukan Byakko yang membunuhnya. Karena yang ada di pertempuran sejak tadi memang Byakko. Apa dia jujur saja? Jika dia mati dibunuh oleh salah satu malaikat yang bernama Azem, bawahan Jibril, karena Pria berhidung bengkok itu tak sengaja melihat wujudnya. Alasan yang lucu, ya. Orang yang mati mengenaskan dengan tubuh penuh gosong dan memar di sana-sini karena tak sengaja melihat malaikat. "Tuan?" tanya orang tua berjenggot itu yang tadi menjadi penyampai pesan dengan nada takut-takut. Yang muda berdiri di belakangnya dengan wajah pucat pasi. Pertanyaan itu cukup memecahkan lamunannya. Tiba-tiba Athela mendekati mereka, sontak mereka semua terkejut. Belum selesai mereka terkejut karena kematian Huld disusul Pria Berhidung Bengkok itu, kini ditambah Athela yang tahu-tahu bebas dari rantai yang mengekang tubuhnya. Veer tambah kaget, dia bahkan bingung dengan semua ini. Setahunya gadis itu telah dia ikat kencang-kencang, dan sedari tadi Byakko berada di medan pertempuran. Tak mungkin, kan, pemuda itu yang membebaskannya? Kapan? "Kau... membebaskannya?" tanya Veer kepada Byakko. Pandangan mereka belum lepas dari Athela. Apakah gadis itu adalah Athela yang mereka kenal? "Bryan...," panggilnya mendekat ke arah Byakko. Gadis itu mendekat ke arah pemuda bersurai pirang itu. "Kau harus memotong rambutmu," lanjutnya. Dia adalah Athela yang mereka kenal. Buru-buru Kirania mendekatinya dan mengulurkan tangan. "Maafkan aku karena baru memperkenalkan diri. Namaku adalah---" "Kirania?" tanyanya cepat, membuat Nia mengerutkan kening karena bingung. Dari mana gadis itu tahu namanya? "Aku bisa tahu dari mana?" tanya Athela lagi, gadis itu seperti bisa membaca pikirannya. Sejenak hidungnya mengembus, memastikan sekali lagi jika dia adalah Kirania yang asli. "Aku tahu... tapi ceritanya panjang. Kita sudah tidak ada waktu untuk bercerita." Ini harus dijelaskan, tetapi Byakko tidak tahu dari mana dia akan menjelaskan. Mulai dari dia yang menggunakan jurus mebekuan waktu? Atau dari mana? "Aku tak berniat memotong rambut. Itu bukan gayaku, sangat tak berkelas." Byakko berjalan mendekati mayat Huld yang tergeletak di tanah. "Tolong jawab pertanyaan saya, Tuan. Apakah Anda yang membunuh Tetua?" Byakko menghela napas. Dia kira masalah sudah selesai, nyatanya belum. "Kau ingin tahu jawabannya?" tanya Byakko serius, membuat kedua orang itu ketakutan bukan main. Salah satu di antaranya yang berwajah pucat pasi kini menelan ludahnya sendiri. "Ma—maaf. Saya tidak akan bertanya lagi." "Jika aku menjawab, apa konsekuensinya?" Byakko menatap mereka berdua yang menunduk karena rasa takut. Setelah mendengar Byakko mengatakan itu, mereka berdua mendongak. Mereka tak mengerti apa yang Byakko maksud. "Jika aku menjawab 'iya', aku akan kau apakan? Hukum? Lantas jika aku menjawab 'tidak', apa yang akan kau lakukan? Tidak percaya?" "Ti—tidak. Bukan seperti itu—" "Ya, aku yang melakukannya. Kau tahu, kan?" katanya santai sambil melipat kedua tangannya ke belakang kepala. Dia tidak suka orang-orang yang begitu kaku, walaupun dia sendiri saja kaku. Mereka berdua langsung diam. Lantas beberapa detik kemudian menekuk lutut mereka. Memberi hormat takzim kepada Byakko. "Kami mohon, jadilah Tetua kami," ujarnya dengan memohon. Suaranya lirih sekali. *** "Masalahnya sudah selesai?" Panglima Tertinggi tua itu melambaikan tangan ke arah Byakko, dia hanya mengangguk sekilas. "Apa-apaan kau. Bagaimana bisa bajumu terkena darah semua. Apa kau bertarung dengan mempertaruhkan nyawa?" Lebay sekali. Byakko langsung berjalan tanpa memedulikan lelaki tua yang sok akrab dengannya itu. Kirania, Athela, dan juga Veer ikut berjalan mengekor. Satu masalah selesai, muncul masalah lain. Dia tahu akan hal itu. Saat mereka sudah menginjakkan kaki ke tanah Baaj, otomatis sebuah masalah lama akan muncul. Masalah yang hampir saja Byakko lupa. Baren juga menginginkan gadis itu. Menyelamatkan Athela dari Penyihir Nedgor adalah salah satu kesepakatan mereka. Jika harus berunding membahas Athela, akan beda masalahnya. Gadis itu tidak akan dilepaskan oleh pria tua bangka itu begitu saja. Ngomong-ngomong, sepertinya Byakko tak memerlukan jubah itu lagi. Selama beberapa hari di istana Baaj, dia sudah belajar cara menekan kekuatannya agar tidak keluar. Dan sepertinya latihannya beberapa hari itu membuahkan hasil. Untuk Athela sendiri, karena gadis itu belum tahu kekuatannya sendiri, dia pasti akan sulit menekan kekuatan. Mau tidak mau Athela harus diberikan sebuah alat penyegel kekuatannya. Bahkan mereka tidak sempat pergi ke sebuah pengrajin tempa terbaik senegeri Baaj. Benar-benar menyebalkan. Mereka selalu saja kena masalah yang tak henti-hentinya mengalir. Seperti air terjun saja, tak pernah berhenti mengalir. Jika mereka bisa keluar dari Kerajaan Baaj, dia akan mengajak Kirania dan Athela menuju ke pengrajin tempa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN