Sejak kejadian itu, Athela mulai menjaga jarak dengan Byakko. Dia bisa merasakan bahwa rasa cintanya kepada Byakko bisa membuat gadis itu terjerumus ke dalam jurang yang tiada bertepi. Rasa sakit, penyesalan, lalu rasa ketakutan selalu hadir di sana.
Mungkin sudah waktunya melupakan rasa cintanya sekarang ini. Cinta bertepuk sebelah tangan terlalu menyakitkan jika terus-terusan disandang. Sudah masanya dia harus berhenti berharap kepada seseorang yang bahkan tidak mau tahu tentang cinta.
"Kau menjauhi Bryan?" tanya Kirania mendekati Athela. Gadis itu menyibakkan rambut gelombang hitamnya tepat di depan Athela, lantas mengikatnya.
Kirania duduk di samping Athela saat gadis itu menekuk lututnya sampai ke d**a. Mata biru bagaikan permata gadis itu menatap Byakko yang saat itu sedang mengajari beberapa teknik pedang kepada para prajurit.
Dalam beberapa hari ini, entah mengapa tiba-tiba Raja Baren mengurungkan niat untuk menangkapnya. Dia meminta maaf kepada Athela dan menyesal atas perbuatannya dulu yang menginjak-injak gadis itu.
Lalu, dia meminta Byakko untuk mengajari prajurit itu teknik berpedang. Sepertinya Veer telah menceritakan kehebatan Byakko yang bisa dengan mudah membunuh Tetua Penyihir Nedgor hanya dalam sekejap mata. Raja Baren menjadi segan terhadap mereka bertiga.
Carl telah menyatakan perasaannya kepada gadis pujaannya, yang ternyata adalah Cecilia. Gadis yang menjadi teman pertama bagi Kirania. Wajahnya yang merah merona tertutupi oleh rambut birunya saat Carl mengatakan mencintainya.
Entah mengapa, masalah ini terlihat cepat sekali selesai. Menurut Athela begitu.
"La?" tanya Kirania memecahkan lamunannya.
Oh, dan tentu saja, selama beberapa hari ini dia telah berteman dengan gadis sebayanya yang cantik, Kirania.
"Eh? Maafkan aku."
"Kau melamunkan apa?" Kepala Kirania miring sedangkan matanya mengikuti arah pandang Athela yang berakhir di Byakko.
"Tidak ada."
Tampak Kirania menghela napas pelan. "Kalau kau suka, katakan saja."
Tiba-tiba pipi Athela memanas. Dia menggelembungkan pipi dan menatap Kirania dengan salah tingkah.
"Eh!! Ti—tidak!!!"
"Padahal kelihatan."
Mata beriris biru itu membesar. Memangnya sekelihatan itu, ya? Urat malunya seperti mau putus saja. Dia bahkan tak berani melihat Kirania, takut jika gadis itu tahu jika pipinya saat ini sedang dijamuri oleh warna merah.
Tiba-tiba Kirania memanggil Byakko. "Bryan!" panggilnya lantang sembari melambaikan tangan.
Wajah Byakko yang semula serius saat mengajari para prajurit tiba-tiba menjadi menyeramkan saat menatap Kirania. Seolah dia sedang berkata, "Mengapa kau menggangguku, Lalat Kecil?"
Begitulah kira-kira jika Kirania bisa mendengar suara hati milik Byakko. Sayangnya, gadis itu tidak punya kemampuan telepati. Toh dia bukan penyihir.
Wajah judes Byakko semakin terlihat saat yang ditunggu untuk bicara tak kunjung bicara. "Kau apa sedang tidak ada kerjaan lain, hingga harus memanggilku di saat-saat sibuk seperti ini?" tanyanya dan melempar wajah dingin.
Dia memang rajanya dingin, ya.
"Ke sinilah sebentar," kata Kirania lagi melambai-lambaikan tangan. Byakko mendecih, setelah itu mengabaikan Kirania.
"Kau... menyebalkan sekali!" Kirania marah-marah tak jelas. Dia menatap Byakko dengan amarah yang membuncah.
"Kau yakin tidak ingin mengutarakan cintamu padanya?"
Athela diam. Batinnya saat ini tengah simalakama. Rasa sakit tiba-tiba menyerangnya secara diam-diam. Dadanya berdetak hebat karena rasanya kembali hadir. Setiap melihat wajah pemuda itu di bawah sinar matahari, ketampanan Byakko semakin meningkat. Apalagi di saat-saat seperti ini yang menurutnya adalah momen berharga.
Jarang sekali dia melihat Byakko dengan ekspresi yang banyak seperti itu—multi-ekspresi. Selama mengenal kucing besar itu, dia selalu melihat wajah Byakko yang selalu melakukan mimik yang sama setiap hari: dingin.
Namun, sekarang dia tahu jika lelaki yang dia kagumi tidak jauh berbeda seperti pemuda kebanyakan. Mereka mempunyai emosi, tidak hanya satu emosi saja yang tertanam di dalam jiwanya.
Semerbak wewangian bunga hinggap di indera pendengarannya, lalu masuk menembus ke selaput demi selaput hidung itu.
Dia tidak tahu bagaimana sikapnya terhadap rasa yang semakin membesar itu. Sialnya, walaupun dia sudah mencoba melupakan pemuda itu tetapi bayangan Byakko selalu menghinggapi kepalanya.
"Baiknya kau katakan saja kepadanya. Beberapa laki-laki tidak akan peka terhadap perasaan seorang gadis yang menyukainya, apalagi tipe-tipe pemuda seperti Byakko."
"Em... kurasa, biar cintaku seperti ini saja."
"Kau yakin tidak akan memberi tahu pemuda itu?"
Lagi-lagi Kirania membuat hati Athela bimbang. Dia takut mengatakan, bagaimana jika Byakko menjawab sesuatu yang bisa menyakiti hatinya? Jika tidak mengatakan, apakah dirinya akan baik-baik saja?
Menahan beban cinta yang begitu dalam ini, bahkan tak mampu ditutupi saking tak bertepinya.
Mengapa dia mencintai pemuda seperti Byakko?
"La?" Kirania berdecak marah. Sudah berapa kali gadis itu melamun dan melihat Byakko dengan tatapan cinta seperti itu. Baginya saat ini Athela seperti gadis yang sangat menyedihkan. Dia layaknya gadis yang berharap cinta dari seseorang, tetapi takut untuk mengutarakan rasanya sendiri.
Dilihat dari mana pun memang menyedihkan, tapi menurut Kirania itulah sisi lucu dari Athela.
"Maafkan aku." Dua kata itu meluncur dari bibir merah muda milik Athela. Dadanya kini sesak. Semakin dia melihat Byakko, maka semakin ingat pula dengan kejadian malam itu.
Malam yang tak pernah dia lupakan.
Semua gadis jika seperti dia pasti akan menyesali dan menyalahkan diri sendiri.
"Entah mengapa tiap detik melihat Bryan, dadaku semakin sesak. Seperti penuh. Rasanya ingin menangis," akunya kepada Kirania.
Kirania kini bukanlah orang lain lagi, baginya gadis itu adalah sahabatnya. Dia yakin itu. Jadi setidaknya dia ingin membuka hatinya kepada teman barunya itu. Istilahnya, berbagi perasaan.
Jadi, mungkin tak masalah jika dia curhat perihal Byakko kepadaya.
Lengang sejenak.
Suara angin sepoi masuk ke telinga mereka. Rambut dua gadis itu yang sedang duduk di bawah pohon rindang milik istana itu melambai-lambai seperti ingin mengejar angin. Mereka sama-sama diam dan tidak ada yang memulai percakapan. Suasananya berubah menjadi sangat canggung.
"Apa yang membuatmu merasa sesakit itu?"
"Aku takut. Semakin lama aku memandanginya, maka semakin dalam pula rasa cintaku padanya."
Menyedihkan memang, tetapi itulah adanya ketika kamu mencintai seseorang sendirian. Rasamu tak akan pernah sampai jika memendamnya secara diam-diam. Namun, kamu tak kuasa untuk menyatakan cinta kepadanya.
Ah, ini benar-benar suatu pemandangan yang sangat klise. Cinta secara sendirian memang selalu menyakitkan.
Apalagi cinta yang mengakar dan membekas sampai di d**a, membuat orang-orang buta arah dan tujuan mereka masing-masing. Yang ada dalam otak mereka hanyalah suatu rasa bahagia yang mereka namakan cinta.
"Apa kau akan lebih baik jika tidak mengatakan itu padanya?"
Dan lagi-lagi, dia terombang-ambing. Cinta telah memaksanya untuk berpura-pura memikirkan sesuatu yang tak pernah ada ujungnya.
"Entahlah. Aku tak tahu. Aku benar-benar tak tahu apa maunya perasaanku saat ini," kata gadis beriris mata biru itu yang masih setia menatap Byakko di bawah sinar matahari. Rambut panjang pirangnya sesekali mengilat saat terkena sinar sang surya. Semua hal yang Byakko punya adalah harapan Athela.
Gadis itu bahkan tidak tahu sejak kapan dia menjadi b***k cinta yang menyedihkan seperti ini.
Didekapnya semakin erat kakinya. Celana panjang bergaris ke atas yang dipakainya sudah tampak berdebu. Sejak tadi butiran debu beterbangan ke sana kemari karena angin dan menempel ke sana.
Tiba-tiba Kirania kembali memecahkan lamunannya. Gadis itu tak suka jika Athela melamun. Jadi dia memberikan sesuatu seperi air minum dalam botol kepadanya. Jika di negara Athela, itu adalah air mineral.
"Nah, kau berikan kepadanya. Kau tahu, kan, dia saat ini sangat membutuhkannya." Tunjuknya dengan kepala. Benar sekali, Byakko saat ini sedang mengusap keringat yang ada di dahinya. Terlihat dari kejauhan jika dia saat ini sedang menghela napas panjang karena dehidrasi.
"Eh? Tapi—"
Tangan Kirania dengan lembut menepuk pundak Athela, sengaja memotong bicara gadis itu.
"Jangan terlalu larut-larut dengan perasaan. Ketakutan yang kau punya itu suatu saat bisa menjadi bumerang untukmu. Nah, sekarang, cobalah perbaiki hubungan kalian beberapa hari terakhir dengan metode ini," katanya sembari menarik Athela dari duduknya dan mendorong tubuh gadis yang tak tahu apa-apa itu mendekati Byakko.
"EH???" Dia berjalan patah-patah ke arah Byakko.
Setiap langkah gadis itu selalu bertanya, apakah Byakko nanti marah saat dia mengacaukan sesi latihannya?
Satu meter.
Dua meter.
Tiga meter.
Dia semakin memangkas jarak di antara mereka berdua. Saat kurang dari dua meter lag—
"Kenapa kau ke sini, Nona?" potongnya dengan ketus. Dia menatap Athela dengan tatapan dingin.
Darah Athela mengebul. Dia menatap Byakko dengan rasa ingin menampol. Dia benar-benar menyebalkan seperti biasa!
Namun, tingkah Athela yang memberikan sebotol minuman itu membuat tatapan dingin Byakko berubah heran. Dapat dilihat dari dia yang menautkan kedua alisnya.
"Em... ini ada air."
"Lalu?"
"Silakan diminum. Aku tahu kau pasti kecapekan."
Setelah diterima Byakko, Athela lari tunggang-langgang seperti baru saja dikejar pocong. Dia terlalu malu untuk melihat Byakko, dan tentu saja dia tak ingin Byakko melihat dirinya yang saat ini.
Baru berlari sekitar lima meter, tiba-tiba Byakko menarik kerahnya. "Hei, mengapa kau lari seperti itu?"
"Ti—tidak apa-apa." Dia tergagap. Tubuhnya berada di udara karena diangkat oleh Byakko. Saat melihat ke bawah, rasa takut mencekam. Dia benar-benar ketakutan.
"Cepat turunkan aku, Bodoh! Dasar kucing bodoh!" umpatnya, yang sukses membuat Byakko menurunkannya.
"Akhir-akhir ini kau terlihat sangat aneh, Nona."
"Berhentilah memanggilku nona. Panggil aku Athela. Bukankah sudah kukatakan kepadamu jika jangan memanggilku dengan sebutan itu. Kau juga sudah berjanji, kan, Byakko?" Athela mendesis pelan, gadis itu perlahan melangkahkan kaki menjauhinya.
Byakko melambaikan tangan ke belakang, tanda jika para prajurit harus belajar sendiri, sedangkan dia berjalan mengekori Athela.
"Mengapa kau tak suka dipanggil nona? Padahal sebagian wanita akan tersanjung dengan sapaan itu."
"Sayangnya aku bukan tipe wanita seperti yang kau ceritakan barusan. Aku rasa ketika kau memanggilku dengan sebutan nona, kita tidak bisa lebih dekat. Seolah-olah kita ini jauh."
"Mengapa?"
"Ya aku tak ingin jauh darimu."
"Hanya itu?"
"Apa maksudmu hanya itu?"
"Aku sudah berjanji padamu, kan? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sebelum menyelesaikan tugasku."
Huft!!!
Athela kesal bercampur marah. Dirinya tidak bisa menahan diri untuk ingin menjitak kepala Byakko.
Dilihatnya keadaan sekitar. Saat ini mereka sedang menyusuri belantara hutan berduaan. Itu tandanya, tempat yang baik untuk melakukan ritual perjitakan.
Lima menit berjalan akhirnya mereka sampai—tidak, lebih tepatnya Athela memberhentikan diri. Memaksa Byakko juga ikut berhenti.
"Heh, Kucing Garong."
"Panggil aku Byakko. Byakko. Apakah kurang jelas? Byak—ko," kata Byakko mengejanya dengan jelas.
"Panggil aku Athela, paham? A-the-la!" Kini Athela ikut-ikutan mengeja, dia berbalik menatap Byakko.
Byakko menaikkan satu alis, menatap Athela yang saat ini sedang menghela napas. Jemari Athela menangkap kedua bahu pemuda itu.
"Kau tahu...," katanya dengan menggantung. Dia merapikan baju Byakko, menggodanya.
Byakko menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Ekspresi pemuda itu tak lagi dapat diprediksi. Bahkan psikiater pun akan kesulitan jika disuruh membaca ekspresinya.
"Kau ini...."
PLETAK!
Sebuah tangan menjitak kepala Byakko, pemuda itu mengaduh kesakitan.
Sedetik kemudian, Athela tertawa. Dia rasa, gadis itu sudah selesai mengajari Byakko cara mengekspresikan wajahnya sendiri. Dia tak ingin melihat Byakko selalu datar—itu sangat membosankan.
"Kau harus mengubah gaya rambutmu. Terakhir kali kau dijambak oleh lelaki yang berubah jadi iblis itu. Kau terlihat sangat tak berdaya," katanya mencemooh Byakko. Gadis itu sepertinya menikmati itu. Dia tertawa kencang-kencang.
Namun, tawanya tak berakhir lama karena tangan kekar Byakko menariknya. Hingga membuat gadis itu dekat dengannya. Saat pemuda itu sedikit berjongkok, kedua wajah mereka bejarak hanya beberapa inci. Mata Athela terbelalak karena rasa keterkejutannya.
"A—apa maksudmu?" tanya Athela tiba-tiba. Dia mencoba memprotes malah yang keluar dari bibirnya adalah kata itu. Dia juga ingin Byakko berhenti melakukan ini, tapi dalam hatinya berteriak jika dia ingin selalu seperti ini dengan pemuda itu.
Pemuda yang sudah mencuri cinta pertama miliknya.
Tangan Byakko menggenggam jemari lentik Athela. Pili gadis itu semakin memerah. Jamur tomat masak ada di mana-mana.
"Jika kau ingin menangis, menangislah."
DEG!
Benar sekali.
Dia ingin menangis saat ini. Hatinya gundah karena tidak bisa memilih bagaimana perasaannya saat ini. Perkataan yang selaly dilontarkan Kirania tadi sangatlah mengganggunya.
Dia ingin menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala keluh-kesahnya ke dalam tetesan air mata. Dia ingin mencurahkan betapa sesak dan penuhnya dadanya saat ini karena simalakama tersebut.
Apa dia akan mencintai pemuda itu sampai nanti?
Matanya meredup.
Benar sekali. Dia menjahili Byakko karena ingin mengalihkan masalah ini. Nyatanya gadis itu walaupun sudah berumur remaja, tapi pola pikirnya seperti anak TK.
Dia selalu menjauhi masalah. Tidak ingin dekat-dekat dengan masalah.
Padahal, semakin dewasa seseorang akan semakin hebat pula cara mereka untuk berdamai dengan masalah. Menghadapi dan mecahkannya dengan perlahan.
Dia benar-benar sudah kembali menjadi bocah saja.
Mata Athela semakin meredup. Dilihatnya wajah pemuda pujaan hati itu dengan rasa sakit dan debaran jantung yang cepat.
Hanya dalam beberapa detik setelah memandang mata oranye indah milik Byakko, akhirnya tangisnya pecah juga. Segala keluh kesah dan amarah telah dia tuangkan ke dalam bulir-bulir air mata yang sangat berharga.
"Aku... aku mencintaimu," katanya dengan tersedu.