Byakko diam di tempat. Merasakan sekujur tubuhnya disetrum oleh spektrum-spektrum kecil. Dirinya sedikit tersengat, kemudian menatap wajah tirus gadis di depannya yang berderai air mata.
Dia menghela napas, mengumpulkan niat untuk mengucapkan sesuatu. Lalu hanya dalam beberapa detik, kata itu menusuk d**a Athela yang membuatnya semakin bersedih.
"Maaf, aku tidak bisa membalas cintamu."
Enam kata yang mampu meluluhlantakkan hati gadis itu. Dadanya sesak tiada terkira. Sakit seperti diiris-iris oleh sebilah pedang.
Dan, urat nadinya seakan berhenti. Air matanya semakin tumpah-ruah tidak karuan sebanyak apa. Seharusnya dia harus tahu kapan harus berhenti mencintai sebelum semua ini terjadi.
"Maafkan aku," jawabnya dengan nada melirih. Matanya melihat iris Athela yang meredup.
"Aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal-hal itu. Ada suatu hal lain yang harus kuurus—yaitu menjagamu sampai ke tangan ayahmu. Selain itu aku tidak punya waktu memikirkan hal-hal seperti itu."
Mungkin itu terdengar menyakitkan, tetapi Athela memang harus menerimanya. Byakko tidak punya waktu lagi untuk memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan asrama. Menurutnya itu tidaklah penting.
Byakko berbalik badan setelah menepuk pundak Athela pelan. Seolah-olah tengah menguatkan.
Byakko, lelaki itu... benar-benar pemuda yang sangat tidak tahu kapan harus bersikap. Dia bahkan tidak tahu bagaimana keadaan hati Athela yang baru saja diremukkan.
Berjalan tanpa beban, lantas mengatakan sok-sok menguatkan, padahal baru saja menolak dengan mentah-mentah.
Sepertinya di dunia ini tidak ada pria yang lebih buruk dari Byakko. Kucing itu lebih buruk—bahkan sangat buruk bagi dunia.
Pergi meninggalkan seorang gadis yang baru menerima luka. Tersedu-sedu sembari menatap ke langit, mengadu kepada awan-awan seputih kapas jika sepertinya dia salah mengambil tindakan.
Lantas, secara menyedihkan mengusap air matanya yang terjatuh beberapa kali dengan lengannya.
Entah bahkan Athela sendiri tidak tahu bagaimana nanti dia akan bersikap dengan Byakko. Mungkin tidak seperti dulu lagi.
***
"Legenda itu memangnya nyata?" Gadis berambut hijau dengan sorot mata keheranan menatap Kirania yang duduk di dekat dapur. Cecilia membawa beberapa makanan untuk diberikan kepada Raja Baren. Karena Raja sedang tidak ada di singgasananya, akhirnya dia harus mengembalikan ke dapur.
Namun sebelum sampai di dapur, dengan cerita yang panjang dia sampai duduk di sini bersama Kirania.
"Cil! Sebelum itu, letakkan makanannya dulu ke dapur."
Benar juga, jika melihat orang lain yang duduk di dekat dapur dengan membawa nampan yang berisi makanan memang tidaklah etis. Gadis itu buru-buru mengembalikan makanan itu ke dapur dan kembali duduk di dekat Kirania.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Namun, aku merasa jika Bryan adalah salah satu dari legenda itu. Kau merasakan yang sama atau tidak?" Kini Kirania yang beralih bertanya. Dia ingin memastikan apakah instingnya itu benar atau tidak. Jika Cecilia juga merasakan, dia yakin Bryan adalah makhluk itu.
"Hm... kurasa tidak. Aku tidak merasakan apa pun saat berdekatan dengan pemuda itu." Cecillia bergumam, dia menautkan kedua alis.
Apa hanya dia yang merasakan itu? Biasanya makhluk legendaris seperti Byakko itu memiliki pancaran kekuatan yang melimpah-ruah yang bahkan orang biasa bisa mengenalinya.
Jika hanya dia yang merasakan, itu tandanya Bryan hanyalah makhluk biasa. Tidak, akan dia ralat. Bryan adalah penyihir biasa.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" Tiba-tiba suara itu memecahkan lamunannya. Dia beringsut menatap seorang lelaki bersurai pirang yang sedang menatapnya tajam. Pemuda itu tengah berdiri di depannya.
"Memangnya harus, ya, aku melaporkan semua yang kulamunkan padamu?" jawab Kirania malas. Wajahnya tertekuk saat melihat Byakko tengah memandanginya dengan tatapan datar.
"Kau tidak bersama dengan Athela?"
"Tidak."
Hening sejenak. Cecilia menatap Byakko dari atas sampai bawah. Pemuda itu telah berubah. Tidak, ada penampilannya yang saat ini berubah. Mencolok sekali.
Saat ini warna rambutnya tak lagi pirang, melainkan perak. Lantas, tidak panjang seperti dulu. Sekarang pendek seperti gaya-gaya rambut lelaki pada umumnya.
"Kau mencukur rambutmu karena mendengar permintaan Athela?" tanyanya sembari tertawa. Sekarang Cecilia tidak lebih seperti Kirania menurut pengamatan pemuda berparas tampan itu.
"Tidak."
"Kau terlihat sangat jelek. Kau tidak malu berpenampilan seperti itu jika bertemu dengan Athela?"
"Tidak."
Kirania memajukan bibirnya. Padahal dia sudah membuat Byakko marah. Dia ingin sekali melihat wajah berparas tampan itu saat marah. Karena sejauh ini dia tidak pernah marah.
Byakko memutar badan, berjalan ke arah taman istana.
"Kau mau ke mana?"
"Mencari Athela. Ada suatu hal penting yang harus kukatakan kepadanya," ucapnya lalu pergi. Meninggalkan dua gadis yang saat ini sedang membelalakkan mata.
Apakah Byakko sekarang sangat menyesal karena telah menolak Athela mentah-mentah kemarin itu? Lantas dia ingin meminta maaf tapi saat itu Athela menghilang?
Ini seperti kata pepatah: kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga.
Tidak, bukan lagi pepatah. Namun, itu adalah sebuah lagu yang dinyanyikan oleh musisi besar di Negara Indonesia, H. Rhoma Irama.
***
"Kau ada di sini rupanya." Byakko berkata dingin. Sama seperti biasanya. Yang ditanya dalam beberapa detik belum menjawab, entah dia tidak mendengar atau malas menjawab saja. Orang itu membelakangi Byakko.
Karena tidak ada jawaban selama beberapa detik, akhirnya pemuda itu pun mendekat.
"Kau selalu menjauhiku akhir-akhir ini," katanya sambil duduk di sampingnya. Athela masih diam tanpa suara, menatap salah satu bunga di taman yang berwarna-warni itu.
"Apa aku punya salah denganmu?"
Salah katanya? Pemuda itu bahkan tidak tahu di mana letak kesalahannya. Baginya, penolakannya kemarin itu tidak berdampak bagi siapa pun termasuk gadis yang ditolak.
Athela menatap bola mata Byakko yang berwarna oranye itu. Sebelum sempat melihat ke wajahnya yang kini benar-benar bertambah rupawan.
"K—kau... memotong rambutmu?" tanyanya perlahan. Matanya membesar karena rasa terkejut. Byakko mengangguk.
Matanya masih saja berwarna oranye. Hanya warna rambut dan gayanya yang berbeda. Saat ini warnanya berubah menjadi perak. Pandangan tajamnya semakin menawan hati. Dengan rambut pendek itu, dia terlihat semakin tampan. Yang sama selain iris matanya hanyalah sikapnya yang masih dingin dan tidak peduli dengan orang lain.
"Ya—dan itu tidaklah penting. Sekarang juga kita harus pergi dari kerajaan ini."
Mata Athela mengerjap. Sepertinya gadis itu sudah hilang kegalauan setelah melihat Byakko dengan gaya rambut baru yang menurutnya sangat keren itu.
"Kenapa?"
"Kau sudah lupa dengan tujuan kita pergi dari rumahmu?"
Benar sekali. Tujuannya adalah menemui ayahnya, Sang Penyihir Terhebat Sepanjang Masa. Entah mengapa saat hidup damai di Kerajaan Baaj ini membuatnya lupa akan semua hal itu.
Ya, menghentikan peristiwa perang antarklan. Menghentikan peristiwa bulan purnama yang penuh dengan darah. Peristiwa di mana p*********n antarklan yang menimbulkan lautan darah.
Saat Athela menarik napas dan hendak berbicara, tiba-tiba mereka mendengar suara semak-semak yang sedang bergoyang. Sepertinya di sana ada sesuatu. Seekor makhluk—
"Kalian kenapa dari tadi tidak keluar dari sana?" tanya Byakko dingin. Tatapannya malas ke arah semak-semak yang sejak tadi bergerak-gerak.
Sedetik kemudian seorang gadis berambut hitam bergelombang dan hijau keluar. Mereka sama-sama meringis, menatap Byakko dan Athela bergantian.
"Maaf, maaf. Tapi, aku penasaran dengan apa yang ingin kau sampaikan kepada Athela. Jadi kamu mengikutimu sampai di sini." Kirania tertawa patah-patah, dan Cecilia hanya tersenyum. Gadis itu tak seperti Kirania, dia sedikit merasa bersalah.
"Aku hanya menyampaikan itu, tak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak ada waktu untuk—"
"Oke, oke, kau tidak ada waktu." Athela menyumpal kedua telinganya dengan tangan. Malas mendengar lanjutan dari perkataannya. Jika dilanjutkan hanya akan membuatnya kembali mengingat luka.
"Kalian akan segera pergi dari sini?" tanya Cecilia dengan sorot mata sedih. Athela mengangguk, sedangkan Byakko seperti biasa—diam dengan tatapan dingin.
"Kau tidak mengajakku?" Kirania memajukan bibir. "Kau kan yang mengajakku berpetualang."
"Bukannya kau ada sesuatu yang harus kau selesaikan sendiri?"
Kirania berdahem dua detik. Setelahnya gadis beriris mata hitam kecokelatan itu menggeleng. "Aku akan mencari tahu masalahku sendiri kapan-kapan. Sekarang ini aku ingkn berpetualang dengan kalian. Kau mengizinkanku, kan?" tanya Kirania memelas.
Sesaat lengang, hanya terdengar suara pepohonan yang beradu dengan angin lalu. Selanjutnya diikuti oleh suara kicauan burung yang nyaring terdengar memekakkan telinga. Athela menatap Byakko, meminta persetujuan darinya, sedangkan Byakko sendiri menatap ke arah Kirania dengan menyelidik.
Tidak ada angin tidak ada hujan, seorang gadis tiba-tiba meminta mereka untuk mengajaknya. Bukankah ini terlihat sangat tak masuk akal? Tidak, tidak, bukan mtak masuk akal melainkan sangat mencurigakan. Walaupun selama ini dia bekerja sama dengan Kirania, tetapi itu hanya sebatas mencari Athela. Selain itu tidak ada niatan untuk membawa gadis yang tidak dikenal ke sebuah peristiwa serius yang menanti mereka nanti.
Tak tanggung-tanggung, nanti ketika mereka sudah berada di luar istana, akan ada banyak sekali halangan. Jujur menurut Byakko dia hanya akan menambah beban.
"Kau tidak mengizinkanku?" Kirania memohon kepada Athela. Gadis itu bahkan mendekat ke arah Athela. Sesekali mengerucutkan bibir. Dia ingin sekali berpetualang bersama mereka dan mencari teman, menghilangkan bebannya sejenak yang sangat menekannya.
"Em... aku sih pasti mengizinkanmu, tapi...," katanya kemudian menatap Byakko yang pandangan matanya masih menyelidik ke arah Kirania.
Tentu saja, dia adalah kucing garong yang sangat susah diajak bergaul. Karena kesombongan dan kecongkakannya, serta sikap dinginnya itu yang membuat semua orang malas berkawan dengannya.
"Aku menolak."
Seperti tersambar petir, perkataan Byakko begitu cepat hingga membuatnya terlonjat kaget.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan. Bisa saja, kan, kau mengikuti kita karena kau memiliki rencana yang tersembunyi," ujar Byakko terang-terangan, tanpa ada rasa tak enaknya mengatakan itu di depan Kirania yang saat ini sedang menatapnya sembari terkejut.
"Kau mencurigaiku?"
"Bryan! Tidak kau tidak boleh seperti itu."
"Kita harus meminimalisir adanya bahay—"
Tiba-tiba suara Burung Elang terdengar jelas. Mengisi seluruh pasangan indera pendengar mereka. Suara itu dari langit, semakin lama suara itu semakin dekat. Membuat Byakko memotong pembicaraannya.
Burung Elang itu terbang dengan mengeluarkan suara yang keras. Dia sedikit demi sedikit merendah dan mendarat di tangan Byakko yang sudah mengepalkan tangan dengan membuatnya sejajar dengan d**a. Persis seperti membiarkan tangannya dibuat bertengger oleh Elang itu.
Kuak-kuak!
Byakko dengan teliti melihat ke arah kakinya, sebuah surat muncul. Dan saat ini Byakko tengah membacanya.
Entah sejak kapan pekerjaan Merpati digantikan oleh Burung Elang. Setahunya, hanya merpati-lah burung yang bisa mengirimkan pesan.
Dan lagi-lagi, ini semua ada di bawah fakta bahwa dunia memang aneh dan begini adanya—atau sederhananya dia tidak tahu jika ada hal seperti ini.
Terdengar membingungkan memang, tapi Athela memang suka membingungkan dirinya sendiri.
Setelah lima detik membaca pesan singkat itu, Byakko tersentak. Dia dengan muka pucat menatap Athela, lantas menarik tangannya.
"Kita harus pergi sekarang."
***
"Kau sudah mencari tahu di mana gadis buronan itu?"
Orang dengan jubah itu mengangguk. Matanya menatap orang di depannya dengan tatapan tak biasa. Orang di depannya terlihat sekali seperti bos, duduk di bagian depan mobil dengan menyeringai penuh kemenangan. Sesekali dia dilayani oleh empat orang yang seperti dirinya.
Singkatnya begini, dia juga suruhan orang yang berpura-pura menjadi bos—atau orang yang mendeklarasikan diri menjadi bos. Kalian boleh menyebut apa pun itu.
"Bagaimana? Di mana gadis seharga satu juta relarr itu sekarang?" tanyanya dengan tersenyum sinis.
"Sekarang berada di Kerajaan Baaj."
"Bukankah yang menetapkan buron itu mereka?"
"Ya. Sepertinya mereka sudah membatalkan itu."
BRAK!
Dia menggebrak mobil.
Entah sejak kapan dia benar-benar menjadi ketua mereka.
"Bisakah kau tidak usah menggebrak seperti itu? Sangat mengganggu."
Lelaki yang menggebrak meja itu membelalakkan mata saat dia berkata demikian. Mungkin baginya ini baru pertama kalinya ada seseorang yang berani menentang perintahnya.
"Lancang sekali kau berkata seperti itu padaku."
"Memangnya kau siapa? Negara ini, kan, bebas menyuarakan aspirasi."
Mata lelaki itu menatap ketiga orang yang saat ini sedang duduk-duduk mengelilingi api unggun. Malam telah tiba sejak empat jam yang lalu, dan sekarang sudah pukul sepuluh malam.
Bulan yang menggantung di atas sana lama-kelamaan menjadi merah karena penuh dengan darah. Tak seperti warna-warna lainnya. Warna merah itu hanya bisa dilihat oleh kaum mereka yang bukan manusia.
"Kalian... habisi dia sekarang!" perintah mutlaknya.
***
"Kau kenapa ikut dengan kami?"
"Athela mengizinkan."
"Tetapi aku tidak."
"Aku tak butuh izinmu untuk bisa berpetualang dengan Athela. Sekarang ini aku berpetualang dengan Athela, bukan denganmu. Dan aku hanya butuh persetujuan darinya," ucap Kirania ketus.
Malam semakin larut. Dua jam telah berlalu sejak mereka bertiga meninggalkan Kerajaan Baaj. Bulan di atas sana terlihat semakin memerah.
Byakko telah menerima pesan jika sebagian klan telah bergerak untuk mempersiapkan perang terbesar bagi umat non-manusia itu. Dan tentu saja itu adalah hal yang merepotkan. Bayangkan jika mereka sama-sama sudah selesai mempersiapkan, itu artinya perang akan dimulai lebih cepat lagi.
Ini akan sangat menyusahkan.
"Tapi aku yang bertugas menjaga keselamatan gadis manja ini."
Athela memutar bola matanya jengah. "Apa kau bilang? Manja? Manja? MANJA?!"
Athela memukul Byakko, pemuda itu diam saja.
"Ngomong-ngomong kita akan ke mana?" tanya Kirania setelah melihat mereka sudah lama berjalan ke jalanan yang terjal, hingga sebentar lagi sampai di Kota Baaj itu sendiri.
"Kita akan ke kota."
"Mengapa ke sana?"
"Jangan-jangan...." Tebak Athela. Byakko mengangguk. Seakan lelaki itu bisa membaca pikirannya. Hanya Kirania yang tak memiliki jawaban. Mungkin gadis itu memang harus mencari tahu sendiri dengan mengikuti mereka.
"Kita akan pergi menuju pengrajin tempa. Untuk menekan kekuatan melimpah yang ada di tubuhnya." Byakko menunjuk Athela.
Benar juga, sejak pertama kali dia kenal dengan Athela, gadis itu tak benar-benar mengenalnya dengan baik. Dia hanya tau jika nama gadis beriris biru yang sering diculik dan jika dijadikan sasaran adalah Athela. Selain itu dia tidak tahu.
Dari mana, tujuannya ke mana, dan yang terakhir adalah siapa.
Kedua manusia itu sangatlah misterius menurutnya. Dia tidak bisa mengeruk informasi masing-masing dari mereka.
Byakko menghentikan langkah kakinya diikuti kedua gadis yang sedang mengekorinya.
"Kita beristirahat di sini saja," katanya.
Athela dan Kirania menatap satu sama lain, lantas mengangguk. Ini adalah hal yang paling menyenangkan bagi perempuan. Bercerita semalam penuh tentang kegelisahan dirinya masing-masing.
Sampai lupa bahwa kejahatan masih mengintai mereka.