Dunia Paralel

2540 Kata
"Kau percaya dengan dunia paralel?" Hawa dingin menusuk tulang-belulangnya. Dia mengeratkan jaket kulit yang dia kenakan terakhir kali dari rumah. Entah bagaimana kabar Evelyne sekarang. Apakah semuanya benar-benar melupakanny? Termasuk itu Evelyne? Sahabat kecilnya yang terakhir kali dia tinggal meringkuk di bawah selimut tenda, menjejaki alam bawah sadarnya tanpa mengetahui di mana dia berada. Mungkin itu perpisahan yang sangat buruk, apalagi ketika bangun dari tidur nyenyaknya dan tidak mendapati sahabatnya di samping Evelyne. Apakah dia merasa ada yang kurang? Apakah dia sudah memiliki teman lain selain dirinya sekarang ini? Apakah dalam hati Evelyne benar-benar melupakannya? Pertanyaan-pertanyaan iitu berkecimpung di benak Athela. Sudah beberapa hari sejak terakhir kali dia meninggalkan Negara Cetigid, dan dia merasa telah melupakan segala tentang masa lalunya yang kelam. Saat ini dia hanya mengingat bagaimana sensasi tidur di bawah Pohon e*k dengan papa dan mama, lantas membicarakan sesuatu yang membuat mereka terlihat seperti keluarga kebanyakan. Mengobrol dengan meminum teh di kebun rumah kaca di dekat rumah, bermain petak umpet bersama Mama dan Papa sebelum portal dunia paralel itu terbuka. Sepertinya dia harus menemui Sang Penyihir Terhebat Sepanjang masa untuk mengembalikannya semula. Agar dia tidak menderita lagi seperti saat ini. Agar dia bisa mengingat orang yang juga mengingatnya, tidak seperti ini. Saat ini Athela sedang berada di mana gadis itu mengingat semua tentang teman-teman dan mama papanya, tetapi mereka tak mengingat Athela. Itu sungguh menyesakkan, seperti kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan. "Dunia paralel?" tanya Kirania dengan mengerutkan dahi. Sepertinya gadis itu tak percaya dengan hal-hal yang di luar nalar seperti itu. "Tentu saja aku percaya," lanjutnya. Kedua tangan gadis itu dia simpan di balik leher, duduk bersandar di salah satu pohon rindang membuatnya merasakan sedikit adanya angin malam yang semilir membuat matanya tertutup rileks. Diam sejenak. Hanya terdengar bunyi suara api yang meletik dan suara kayu yang terbakar oleh api hingga menjadi abu.Kadang-kadang dalam beberapa detik, juga terdengar suara potongan-potongan kecil kayu yang dilempar ke api unggun tersebut. Byakko tak memperhatikan mereka, pemuda itu sibuk mengurus api unggun untuk penghangat malam ini. "Kukira kau tak mempercayainya. Aku hampir saja pingsan saat pertama kali mendengar itu." Kali ini gadis berambut pirang dengan iris matanya yang biru redup itu menekuk kedua kakinya di depan d**a, dia dekap hingga menimbulkan energi hangat. Dalam sekejap, aliran energi hangat sampai di seluruh badan Athela. Kadang-kadang gadis itu bahkan menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menciptakan energi hangat. Walaupun masih ada api unggun, tapi menurutnya masih kurang. Tanpa diduga-duga, Kirania malah tertawa. "Aku sebenarnya tidak memercayai itu, tetapi ketika kutahu bahwa di dunia ini ada makhluk tak masuk akal yang bernama penyihir dan antek-anteknya, kurasa dunia paralel juga tak mustahil." "Kapan pertama kali kau melihat penyihir?" "Kalau penyihir, mungkin saat Paman Aziel terbunuh. Malam di mana mereka membantai keluargaku." "Paman Aziel itu... pamanmu?" Kirania menggeleng lemah, dia menatap ke arah kakinya sembari tersenyum kecut. "Saat aku lahir, aku ditemukan oleh warga di gua, dan Paman Aziel adalah orang yang mengadopsiku. Beliau adalah orang yang mengajariku teknik berpedang." "Bahkan pedang bersimbol bunga matahari itu juga darinya?" tanya Athela sambil melirik pedang yang berada di sarungnya. Benda yang diingat-ingat oleh Athela saat beberapa kali dia mendengar kabar burung, dan dia melihatnya sendiri saat gadis itu bertarung dengan beberapa orang. "Itukah sebabnya kau ikut serta bersama Byakko untuk menyelamatkanku?" "Byako...?" Ups. Keceplosan. Matanya terbelalak sempurna. Gadis itu menelan ludahnya sendiri. Apa yang dia lakukan di saat-saat seperti ini? Matanya melirik Byakko dengan tatapan merasa bersalah. Byakko masih memunggungi mereka berdua, yang terlihat hanya parasnya dari belakang masih menawan. Tiba-tiba Kirania menepuk punggung Athela yang tegang, Athela terkejut dan menimbulkan suara lucu. Seperti seorang anak kecil yang dibuat kaget orang dewasa, lucu sekali. "Kau tidak perlu kaku seperti itu. Dari awal memang aku sudah merasakan jika dia adalah makhluk yang melegenda itu. Tapi aku tak percaya jika tebakanku benar. Biasanya makhluk melegenda seperti harimau putih akan memancarkan energi yang kuat, bahkan manusia yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia makhluk halus ini akan merasakannya juga. Tetapi, Byakko, sepertinya dia berhasil menyembunyikan energi kekuatannya dengan baik. Bahkan Cecil saja tidak tahu. Aku sempat mengira jika instingku salah, ternyata benar." Kirania menghela napas pelan di sela-sela sesi ceritanya. "Oh, omong-omong soal pertanyaanmu tadi, aku ikut bersama Byakko bukan hanya karena ingin membalaskan dendam, tetapi juga ingin ikut menyelamatkanm,u." "Aku?" tanya Athela dengan wajah tak percayanya. Dia menunjuk dirinya sendiri. Kirania mengangguk. "Ya. Berkat aku, kau jadi hilang, kan?' katanya dengan tertawa renyah, membelah keheningan malam yang nyenyat itu. Berusaha membuat malam itu menjadi lebih meriah daripada biasanya. Athela hanya tertawa patah-patah, dia tidak tahu mau menjawab bagaimana. Yang dia bisa hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Malam itu mereka banyak bercerita, membahas hal-hal yang menyenangkan, dan secara resmi telah menjadi teman. Baik Athela maupun Kirania tidak ada yang menutup-nutupi segala masa lalunya. "Jadi, Paman Aziel yang kau ceritakan itu sudah kau anggap jadi ayah sendiri?" Kirania mengangguk. Sakit memang jika membuka luka lamanya yang dia pendam selama ini sendirian, tetapi akan lebih sakit lagi jika luka itu tak segera dikeluarkan. Dia hanya ingin berbagi kisah sedihnya bersama Athela, lantas mungkin saat ini Paman Aziel bisa melihat jika dia telah mempunyai teman di Surga. "Paman Aziel sudah menganggapku sebagai anak, dan aku pun menganggapnya seperti ayah sendiri. Malam itu para Penyihir Nedgor membuatku terpisah dengan Paman Aziel. Orang yang bernama Huld itu berpenampilan sebagai Paman Aziel dan mengajakku latihan malam-malam di Hutan Hamur. "Lalu... lalu saat aku tahu jika dia bukan yang asli, tiba-tiba aku diberi kabar jika Paman Aziel sedang dikeroyok oleh para penyihir Nedgor. Sehebat apa pun Paman Aziel, jika dikeroyok oleh banyak penyihir seperti mereka." "Kau yakin Paman Aziel-mu itu sudah meninggal?" "Entahlah, aku pun tak tahu. Saat itu pikiranku kacau. Jika dipikir pun, pastilah beliau sudah meninggal. Mereka itu sangatlah kuat-apalagi tetua itu." "Kau menyaksikan mayatnya sendiri?" "Tidak. Saat itu aku tak kuat jika harus melihat mayatnya. Mungkin jika aku melihat mayat itu, aku akan menangis tersedu-sedu sepanjang hari." Mata Kirania berkaca, membayangkan kejadian malam itu membuat hatinya kembali sakit. "Apa tidak papa jika kau tak melihat mayatnya secara langsung? Menurutku jika orang tercintamu sudah meninggal, akan lebih menyakitkan jika kau tak melihatnya." "Bagaimana bisa? Jika melihat mayat beliau, aku pasti akan menangis lama. Aku tidak ingin kesedihan menguasai pikiranku. Aku takut terbayang-bayang oleh mayat orang-orang yang kusayangi. Itu akan membebaniku." "Tetapi lebih sakit lagi ketika kau tak bisa melihatnya, kan? Mungkin jika kau melihat mayat itu, kau bisa bersedih sehari-dua hari. Tapi jika kau tak melihat dan memastikan mayat itu secara langsung, bukankah hatimu penuh kekacauan dan rasa tidak tenang? Mungkin, bisa saja, itu adalah terakhir kali kau bertemu dengannya. Seperti mengucapkan perpisahan." Tidak, mata Kirania tak boleh menangis. Mati-matian dia menjaga agar bulir-bulir air mata itu tak jatuh. Dipandangnya pepohonan yang bergoyang karena tersentuh angin malam. Dia ingin mengalihkan perhatian, mencoba menahan tangisnya agar tidak keluar. Dia tidak mau diolok-olok oleh mereka berdua sebagai orang yang cengeng. Ya, Kirania tidak boleh cengeng! Dia harus belajar tegar dan mengikhlaskan. "Mungkin... aku menyesal. Tidak melihat wajah pamanku terakhir kali. Saat itu aku terlalu banyak pikiran dan terlalu takut untuk melihat mayat Paman Aziel. Aku... aku...," ucapnya menggantung. Akhirnya air mata yang dia jaga selama beberapa detik itu tumpah ruah juga. Hatinya berkecamuk, dadanya terseok-seok saat kembali mengingat peristiwa yang dapat mengiris jiwa itu. "Jika membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah, aku akan selalu siap sedia, kok. Aku tahu, tidak semua masalah harus disimpan sendirian. Kadang-kadang kita harus membaginya agar beban kita sedikit ringan. Aku akan meringankan sedikit bebanmu. Jadi, jika kau ingin menangis, maka menangislah. Katakan pada dunia bahwa kau saat ini sedang patah hati. Percayalah, langit selalu bisa mengerti perasaanmu yang sebenarnya." Athela tersenyum di bawah sinar rembulan. Diraihnya tangan Kirania yang bergetar karena air matanya yang berjatuhan. Setetes demi setetes turun dan membuat tempiasan di tanah. Gadis itu tengah bersedih. Ditatapnya langit pada malam itu. Terlihat sangat mendung, seperti hatinya saat ini yang gundah gulana. Dia benar-benar menangis. "Aku... aku merindukannya. Aku merindukan Paman Aziel." Begitulah ucapnya lirih berkali-kali. Matanya terpaku pada bulan purnama yang indah di atas sana. Setidaknya dengan melihat bulan, hatinya sedikit membaik. Athela mendekatkan diri ke Kirania, memegang tangannya dengan penuh persahabatan. "Kita harus bertahan dari rasa kesedihan. Jangan pernah rasa itu menguasaimu. Mungkin itu akan berdampak buruk." Kirania mengangguk, lantas tersenyum. Diusapnya air mata yang masih mengalir dengan lengannya. "Kalian sudah selesai sesi menangisnya?" tanya Byakko tiba-tiba yang sudah berada di samping mereka berdua. Refleks Kirania semakin mengusap air matanya. Iris mata hitam itu bertatapan dengan iris mata oranye milik Byakko. Dalam beberapa detik Byakko menatap Kirania dengan tatapa datar. Tidak, Byakko sedang memperhatikannya sekarang ini. Pasti setelah ini dia akan mengolok-oloknya. "Ka-kau... aku tidak menangis. Aku tidak menan-" "Jika ingin menangis, menangislah." DEG! Itu kali pertama dia mendengar Byakko mengatakan hal sehangat itu. Biasanya pemuda itu cuek dan tidak peduli dengan sekitar. Namun, sekarang dia tahu jika ada sisi lembut yang dimiliki olehnya. "Aku...." "Kau tidak bisa menahan semua pedihnya hidupmu sendirian. Setidaknya dengan menangis, kau bisa meringankannya." "Kukira... kau akan mengolok-olokku," katanya dengan tersedu. Byakko menaikkan satu alis. "Kau kira aku sekejam itu?" BRUK! Tiba-tiba sesuatu menghantam pohon di samping mereka. Bentuknya seperti manusia- Tidak, memang dia manusia. Manusia dengan jubah yang sekarang ini tengah meringkuk kesakitan sembari mengaduh. Giginya menggigit bibir bawahnya kemudian meringis menahan sakit. "Kau tidak papa?" tanya Athela. Gadis itu kemudian mendekatinya. Dia mengulurkan tangannya ke seseorang yang sedang tersungkur di tanah itu. Di hidungnya mengalir cairan berwarna merah. Dia menatap Athela dengan tatapan menyedihkan. Seperti ingin meminta tolong, tetapi lidahnya kelu untuk berkata. Mulutnya terlalu sakit dan berat untuk bergerak barang seinci pun. Orang dengan jubah itu menatap tangan yang diulurkan Athela, tidak berinisiatif untuk menerima uluran tangan gadis itu. Entah karena dia sedang merasakan seluruh badannya yang sakit, atau memang karena tidak mau. Mungkin jika di antara mereka ada yang memiliki ilmu telepati pasti bisa tahu apa yang sedang dipikirkan orang itu. Orang itu diam, matanya hitam mengilap di bawah sinar rembulan. Hidungnya runcing, alisnya tebal, dan gaya rambutnya cepak. Wajahnya putih pucat, tetapi karena baru saja terjatuh wajah itu dipenuhi darah di mana-mana. "Kau datang dari mana?" tanya Kirania. Mereka bertiga menatap asal-muasal orang itu terlempar. Dari arah utara. Di sana tidak ada siapa-siapa. Hanya terdengar berisik dedaunan hijau yang beradu dengan angin. Mata Athela dan hidung Kirania tidak mendeteksi adanya kehidupan di sana. Namun, dari mana dia berasal? Kirania ikut mendekat. Pemuda itu menggeleng, berusaha berbicara tetapi tidak keluar suara. Sepertinya pita suara pemuda itu putus. Yang jelas, ketika dia didekati oleh Kirania dan Athela, dia menggeleng. Melambaikan tangan dengan perlahan dan memberikan sorot mata seakan mengusir. Mungkin dia berkata, "Pergilah, jangan dekati aku." Namun sayangnya, kedua gadis itu tidak mengacuhkannya. Mereka justru semakin dekat mendekati orang itu. Naluri sebagai gadis, yaitu mereka akan sangat sedih jika ada seseorang yang terluka, tetapi tidak mau diobati. "Kau tidak papa, kan?" Kirania ikut menatapnya cemas. "Jangan dekati dia." Byakko berujar dingin. Pemuda itu masih berdiri di dekat api unggun. Wajahnya terlihat sangat tak suka. "Kau gila? Dia hampir sekarat!" Kirania membalasnya dengan tatapan tajam. Byakko memang seperti itu, dia tidak akan pernah menyelamatkan orang yang bukan prioritasnya. Bahkan jika dia diculik, Kirania bertaruh pemuda itu tidak akan mencarinya karena dia tidak dianggap oleh Byakko sebagai teman. Atau mungkin... dia memang sejak dulu tidak punya teman? "Kita harus menyelamatkannya." Kini Athela yang giliran keras kepala. Gadis itu juga meleparkan pandangan tajam ke arah Byakko. Tak sedap dipandang. "Kau memang seperti itu. Tak pernah peduli dengan orang lain makanya tidak punya teman," celetuk Athela. Gadis itu mendengkus kesal. Tatapan matanya sudah kembali teralihkan menuju orang yang sedang terbaring tak berdaya di dekat pohon itu. "Bisa saja itu jebakan." "Tidak papa. Biar pun ini jebakan, tetapi kami punya kamu," jawab Athela sembari menengok ke arah Byakko. Senyum mengembang terlintas sesaat kemudian setelahnya pandangan gadis itu kembali ke orang itu. Byakko tertegun. "Ya. Kami mengandalkanmu." Gadis berambut hitam itu ikut mengangguk dan menatapnya sesaat. Bahkan, dia sempat mengacungkan jempol. Cih. Mereka merepotkan, kata Byakko dalam hati. Matanya menatap kedua gadis yang seiring waktu semakin menjauh darinya dan mendekati orang misterius itu. "Menurutmu ini jebakan?" bisik Athela. Kirania mengangkat bahu. "Entahlah, tetapi aku tidak bisa hanya diam saja ketika ada seseorang yang terluka." Ah benar juga. Athela hampir lupa. Orang-orang yang terluka itu prioritas utamanya. Dulu saat masih kecil, dia bercita-cita sebagai dokter. Seorang calon dokter harus memprioritaskan pasiennya, kan? Mereka duduk saat sudah berada di jarak satu meter dari orang itu. "Kau... tidak papa?" tanya Kirania lagi. Matanya menatap sedih ke arah orang itu. Jika dilihat dari dekat, mereka bisa tahu jika orang itu berjenis kelamin laki-laki-sepertinya begitu. Kumisnya terlihat dicukur tipis dengan gaya rambut cepak membuat pemuda itu terlihat tampan. Sayangnya, ketampanan pemuda itu harus hilang akibat banyak darah yang berceceran. Mengalir di mana-mana hingga Kirania dan Athela bisa merasakan bau anyir walaupun tidak sangat dekat dengannya. "Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu," kata Athela sembari meraih tangan pemuda itu. Sedangkan Kirania mengambil kotak anyaman yang pernah dibuat oleh Byakko dulu. Kotak yang digunakan untuk mengisi makanan itu juga berisi ramuan racikan Athela. Dengan segera dia menyuruhnya paksa untuk minum. Pemuda berambut cepak itu terbatuk-batuk. Lantas tangan gadis itu menengadah, mengambil sedikit ramuan yang berada di botol itu untuk dipercikkan di atas luka-luka pemuda itu. "Mungkin efeknya sebentar lagi akan bekerja. Karena ini hanya luka ringan, lima jam ke depan kau akan sembuh total." Athela berkata dengan nada serius. Seperti seorang dokter saja. "Kau ini seorang tabib, ya?" canda Kirania sembari melambaikan tangan. Tabib? Jadi di sini tidak ada istilah dokter, ya? Namun, tabib. Athela merasa, semakin lama dia berpetualang maka semakin jauh saja dia dari kampung halamannya yang berada di Negara Cetigid. Gadis itu beralih menatap Byakko yang kini malah sibuk mematahkan beberapa ranting kayu yang akan digunakan untuk bahan bakar api unggun. Athela mendekati Byakko, meninggalkan Kirania yang menarik kepalanya ke dalam pangkuan gadis itu. "Jangan bergerak dulu. Kau butuh istirahat," katanya dengan senyuman mengembang. Tampak dari sorot matanya pemuda itu sangat cemas. Mungkin dia cemas jika orang yang mengejarnya akan ke sini. "Tidak usah cemas, jika orang itu ke sini, kami akan melindungmu. Dan kami ada pemuda dingin di sana itu yang jago berpedang." Kirania menatap Byakko yang saat ini dihampiri oleh Athela. Gadis itu berjongkok di dekat Byakko. "Ada yang ingin kutanyakan kepadamu." "Aku yakin cepat atau lambat kau akan bertanya sesuatu. Sebelum itu, biarkan aku menjawab pertanyaanmu tempo lalu. Mengapa bangsa duyung tak mengetahui keberadaanmu, ya? Karena mereka memang sedari awal tak ikut berpartisipasi dalam perang ini. Duyung adalah ras netral seperti peri." Athela tertegun. Bisa-bisanya Byakko masih ingat dengan pertanyaannya tempo lalu saat berada di Kota Baaj. Pertanyaan seminggu lebih sepertinya, dan pemuda itu baru saja menjawabnya. "Kau... masih menyimpan pertanyaanku waktu itu." "Ya. Itu bisa menjadi edukasi untukmu." Diam sejenak. Keduanya memandang api unggun yang menyala-nyala. Kobarannya melahap semua ranting pohon yang sudah dipatahkan oleh Byakko dan dia masukkan ke sana. "Jadi... kau ingin bertanya tentang apa?" "Em... apakah sekarang ini aku berada di dunia paralel?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN