Suara langkah berat terdengar sedang terburu-buru menujuku. Aku menatap langit-langit ruangan yang disinari lampu neon lima watt yang semakin meredup.
Kulirik jam yang menempel di dinding kayu, pukul sebelas malam. Paman Aziel sepertinya masih sibuk membuat makanan untuk besok pagi. Lelaki tua itu walaupun sangat menyebalkan, tetapi di lain kesempatan kadang juga sangat baik. Seperti mempunyai dua kepribadian.
"Nia? Kau masih bangun?" Aku mengangguk.
"Masih, Paman." Segera aku beranjak dari tempat tidur menuju ke arah Paman Aziel yang saat ini berdiri di ambang pintu.
Kedua tanganku sedikit mengucek mata. Sekitar satu jam lalu sepertinya aku sudah tidur dan tadi dibangunkan oleh langkah berat Paman Aziel yang terkesan tengah terburu-buru. Seperti sedang dikejar sesuatu.
Wajahnya tampak gelisah, dapat kulihat dari kerutan mata dan dahinya yang terlihat jelas, seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Ada apa, Paman?" tanyaku dengan sedikit terheran saat melihat wajah lelaki tua berambut dibelah dua itu menatapku dengan ekspresi seperti itu.
"Sudah tidak ada waktu lagi, Nia."
"Waktu? Waktu untuk apa?"
Wajah Paman Aziel terlihat tambah gelisah, dia menatap ke sekeliling ruangan dengan tatapan takut.
"Paman? Apa yang sedang kau bicarakan?" Kini aku semakin terheran, dia seperti bukan Paman Aziel yang kukenal biasanya. Padahal, Paman Aziel yang biasa kukenal akan mengatakan, "Buanglah rasa takutmu."
Sekarang, Paman Aziel di depanku terlihat seperti pecundang yang meminta perlindungan kepada seorang gadis. Terlihat sangat lemah dan menyedihkan.
"Aku akan mengajarkanmu teknik berpedang pamungkas untuk mengalahkan Vivian malam ini. Tidak ada waktu lagi. Lihatlah di sana, bulan sudah sempurna purnama. Dua bulan itu akan terasa lebih cepat selama kau mengembara mencari lelaki licik itu."
Kilatan matanya sedikit berbeda. Kali ini wajah tua Paman Aziel disinari oleh bulan purnama yang menggantung di atas sana.
"Apa yang kau khawatirkan? Mengapa kau terburu-buru? Tidak seperti dirimu yang biasa saja."
Mendengar itu Paman Aziel menatapku sejenak. Matanya sama, suaranya sama, wajahnya sama, tapi tingkah lakunya yang berbeda.
"Semua orang akan seperti ini ketika mereka di ambang kecemasan. Tidak peduli sedewasa apa, tetapi akan ada masanya ketika hati mereka diliputi rasa keputusasaan dan kecemasan. Bagaimana aku harus tetap tenang di saat makhluk-makhluk di muka bumi ini hampir lenyap?"
Aku tertegun sejenak, merenungi apa yang Paman Aziel katakan sebelumnya. Memang benar manusia akan merasakan hal seperti itu walaupun mereka sangat dewasa. Di saat terdesak, mereka akan kepanikan. Terlebih jika tidak mempunyai rencana cadangan. Hanya sedikit yang mampu memutuskan dan mengambil risiko yang membahayakan.
"Cepat ikuti aku ke Hutan Hamur, tempat biasanya kau berlatih pedang denganku. Aku akan mengajarimu malam ini."
"Mengapa malam ini?"
"Aku ada urusan mendadak—yang entah akan membuatku kembali lagi ke sini atau tidak, jadi kurasa waktu yang tepat adalah sekarang."
Aku mengangguk mantap, lantas bangkit dari ranjang dan berjalan menuju lemari untuk mengambil jaket rajut merah hati sebelum mengikuti langkah Paman Aziel menuju hutan.
"Paman ada urusan apa?" tanyaku di tengah-tengah perjalanan. Sudah lima menit kami berangkat dari rumah, itu tandanya lima menit lagi akan sampai di tempat tujuan.
"Aku sedang terkejar sesuatu. Aku takut jika mati duluan sebelum mengajarimu teknik berpedang."
Hening sejenak. Angin yang berlawanan arah dari kami berembus dan menerbangkan rambut panjangku. Sesekali mereka menyusup ke kulit-kulit yang sudah kulapisi dengan jaket rajut merah hati.
"Apakah Paman akan menyerah begitu saja?"
Paman Aziel memberhentikan jalan. Begitupun aku yang berada di belakangnya, ikut berhenti.
"Paman tidak akan melawan mereka?"
"Paman tidak bisa melawan."
Mustahil. Benar-benar mustahil. Seorang Paman Aziel tidak bisa melawan? Siapa orang itu? Jika ada satu orang yang bisa melawan, pastilah—
"Kita sudah sampai," kata Paman Aziel kemudian. Tak kusadari jika kami tadi kembali berjalan dan sekarang malah sampai di tempat tujuan lebih cepat dari biasanya.
"Aku akan mengajarimu."
Aku duduk bersila, kukuncir rambutku supaya tidak mengganggu. Kemudian tangan kiriku mengambil pedang perak yang Paman Aziel berikan.
Aku tertegun seketika. Seperti ada yang ganjil dari ini semua. Kutatap lamat-lamat wajah lelaki tua yang sedang duduk-duduk menjauhiku.
"Cepat, Kirania. Kau harus mulai menghunus pedangmu. Akan kuajari nanti setelah aku tahu apa kemajuanmu saat ini."
Aku diam masih duduk, tangan kiriku menggenggam erat pedang perak itu. Wajah lelaki tua itu sedikit terheran-heran. Di bawah sinar rembulan, wajahnya sedikit berbeda dari biasanya. Tidak, jika dilihat telitu pun akan jelas perbedaannya.
"Kau siapa?" tanyaku dengan nada ketus. Jemariku sudah siap-siap untuk menghunus pedang perak ini jika lelaki di depanku—yang mengaku sebagai Paman Aziel—berbuat macam-macam.
"Apa maksudmu? Aku ini pamanmu, Gadis Kecil. Paman yang selama ini melatihmu berpedang. Apa kau tidak mengenaliku?" Lelaki tua itu melangkah mendekatiku. Semeter, dua meter, hingga aku harus mundur agar tetap menjaga jarak darinya.
"Jangan dekat-dekat denganku, kau penipu! Kau bukanlah Paman Aziel yang kukenal! Walaupun penampilanmu sama, tetapi sangat terlihat jelas perbedaannya. Paman Aziel yang kukenal tidak akan bersikap seperti pengecut, dia tidak mempunyai luka bakar di bagian mata. Dan yang terpenting, lelaki tua itu tidak pernah melupakan pedang perak simbol bunga mataharinya. Kau siapa?"
Sesaat kemudian, ekspresi orang yang menyerupai Paman Aziel itu pun berubah. Dia tertawa kencang, tawa yang begitu menyeramkan hingga bulu kudukku berdiri karena jeri.
"Wah, wah, wah, kukira aku bisa lebih lama memakai tubuh lelaki tua ini." Dia kembali tertawa, tawa yang menyeramkan.
Perlahan wajahnya mengelupas, berganti menjadi wajah lain. Begitupun dengan kulit di seluruh tubuhnya, seakan berganti kulit.
"Ternyata kau lebih merepotkan dari yang kukira." Dia menyeringai. Bajunya serbahitam, memakai jubah dengan tudung kepala yang menutupi wajah.
"Kau... kau siapa?" Kali ini aku bertanya dengan sedikit gemetar. Walaupun sudah mencoba semaksimal mungkin berkata seperti biasanya, tapi perubahan sosok yang begitu cepat itu cukup membuatku takut. Seperti tak ingin berurusan dengan makhluk berbahaya sepertinya.
"Aku Huld. Hulda. Panggil saja sesukamu."
"Apa... apa yang membuatmu melakukan ini kepadaku?"
Wajah Huld yang ditutupi tudung tidak terlihat jelas ketika aku menatapnya dengan t*******g mata. Yang terlihat hanyalah bibir pucat miliknya yang tersenyum mengerikan.
"Kau bertanya apa alasanku melakukan ini? Benarkah kau bertanya kepadaku? Tentu saja aku ingin melenyapkanmu."
Dia mulai mendekat. Tidak, tidak boleh kubiarkan mendekatiku. Aku harus mengulur waktu.
"Mengapa kau ingin melenyapkanku? Apa salahku padamu?"
Seperti yang kuharapkan, Huld berhenti. Dia memikirkan sesuatu. Tampaknya dia tipe penyihir pemikir keras. Dia berdeham sejenak.
Huld menghela napas, menyambung jalannya menuju ke arahku. "Jangan mendekat! Jika kau mendekat, aku akan menebas lehermu dengan pedang ini!"
Kedua kakiku gemetaran, begitu pula dengan tangan. Aku mati-matian mencoba menahan gemetar tubuh ini, kakiku rasanya tidak bisa bergerak.
Tidak, ini benar-benar kabar buruk. Dia semakin mendekat saat aku tak bisa menggerakkan kedua kaki ini sesenti pun.
Tangan penyihir lelaki itu menepuk pundakku, aku terperanjat kaget. Mataku terbelalak sempurna.
"Kau ingin tahu mengapa aku ingin melenyapkanmu, kan?" Huld kembali menyengir, bibir pucatnya membuatku sedikit khawatir. Tudung kepalanya juga membuatku tidak bisa bernapas, barang sedetik. Seakan oksigen di sekelilingku berkurang—atau bahkan habis. Tekanan itu membuatku semakin cemas. Dadaku berdebar hebat karena rasa takut.
Jangan takut!
Jangan takut!
Itu yang harus kupikirkan sekarang. Di benakku hanya berisi kalimat penyemangat itu dari Paman Aziel.
Kali ini jemari panjang lelaki penyihir itu meraih wajahku, mendongakkanku hingga dapat melihat wajah di balik tudung itu.
"Karena...."
Saat dia membuka tudung, mataku terbelalak sempurna. Aku tersentak dan mundur beberapa senti darinya.
Di mata Huld ada bekas luka pedang. Wajahnya putih pucat seperti mayat dengan hidung melengkung. Di pipi kanannya seperti ada bekas sayatan. Umurnya jika disamakan dengan manusia sekitar dua puluh satu tahun.
"Manusia yang kau anggap sebagai paman itu telah memberiku luka ini. Kau mengerti?"
Aku segera menarik pedang logamku, kusiapkan kuda-kuda dengan kaki kanan sebagai tumpuanku.
Clang!
Huld ternyata pandai menghindari pedangku. Gerakannya gesit dan cepat, memaksaku untuk lebih cepat menggerakkan pedang perak ini berayun.
Kanan. Kiri. Samping. Atas.
Di segala sisi, bahkan dengan kecepatan penuhku pun dia bisa menghindarinya.
Huld menendang kaki kananku, membuat kuda-kudaku tidak seimbang. Akibatnya, aku menjadi kuwalahan dalam mengayunkan pedang. Ini benar-benar buruk.
Tenang. Kuasai. Tenang. Kuasai. Jangan takut.
Jangan takut.
"Kau terlalu lemah, Nia. Kau kira aku tidak bisa mengunggulimu? Asal kau tahu saja, selama ini aku melihatmu dilatih cecunguk seperti dia. Teknik apa pun yang sudah diajarkan oleh dia pun aku masih hafal."
"Kau... bagaimana bisa kau melihat kami selama ini? Aku tidak pernah merasakan hawa keberadaanmu."
Sembari menghindari pedang yang kuayunkan, Huld tertawa kencang. "Namaku Huld. Kau tahu arti namaku?"
Kini aku yang gantian tertawa. Tawa meremehkan. "Konyol sekali. Untuk apa aku mencari tahu arti namamu? Tidak ada gunanya."
"Kau... benar-benar merepotkan!"
Sejenak dapat kurasakan kedua kakiku lumpuh. Garis bibirnya terangkat satu, lelaki itu sedang menyeringai ke arahku.
"Arti namaku adalah bersembunyi. Aku bisa bersembunyi dan mengintai sempurna tanpa terlihat oleh mata t*******g milik manusia biasa seperti kalian."
"Oh? Aku tidak peduli."
BUG!
Huld menendang kaki kiriku. Aku mengaduh kesakitan. Dia tertawa. Seperti psikopat yang menikmati sebuah adegan gore. Menikmati rasa sakit seseorang.
"Kau gila. Benar-benar gila. Jika Paman Aziel tahu ini, kau pasti akan dihabisi oleh—"
PLAK!
Sudut bibirku mengeluarkan darah segar setelah Huld menamparku keras-keras. Aku kembali mengaduh. Nyilu sekali rasanya. Sedangkan Huld kembali tertawa keras-keras.
"Kau bodoh! Bodoh sekali! Paman itu tidak akan menyelamatkanmu! Tadi aku sudah menghabisinya. Kau tahu?"
DEG!
"Kau... kau... k*****t kau! Berani sekali kau membunuh lelaki itu!" Mataku memelotot sempurna. Jemari kananku mengepal, menatap penyihir di depanku dengan napas naik turun penuh dengan kebencian.
"Sepertinya kau begitu bersemangat. Ingin bertarung lagi denganku walaupun kau sudah tahu bagaimana hasil akhirnya?"
Gigi-gigiku bergemeletuk. Menatap penyihir gila itu dengan tatapan penuh dengan hawa membunuh.
"Oh... aku turut berdukacita atas kematian pamanmu. Tidak, tidak, bukan paman. Tapi AYAH, bukan?"
Napasku naik turun tak karuan. Aku menatap wajah ngerinya di bawah sinar bulan yang saat ini tertawa. Gigi-gigi runcingnya terlihat.
"k*****t KAU!" Kuayunkan kembali pedang.
Dia menghindar.
Tertawa.
Aku seperti sedang dipermainkan. Benar-benar cecunguk lelaki di depanku ini.
Kuayunkan pedang. Kuayunkan pedang. Kuayunkan pedang.
Tak terasa aku semakin mahir. Kedua kakiku dengan ringan menari-nari di tanah. Tangan kananku mengayunkan pedang dengan piawai.
"BERANINYA KAU MEMBUNUH PAMAN AZIEL!" teriakku. Dadaku benar-benar terasa sesak. Penuh dengan kesedihan, amarah, dan dendam yang membuncah.
CRAT!
Tangan kanannya kutebas. Kemudian aku berpindah ke tangan kirinya. Kutebas. Dia mulai kehilangan keseimbangan.
"Kau monster... benar-benar monster!" teriak Huld dengan nada bergetar.
Kuarahkan pedangku ke lehernya. Mataku berkilat-kilat ingin sekali membunuhnya.
"BERANI SEKALI KAU MEMBUNUHNYA!"
"Bukan... bukan aku... bukan aku." Huld menggeleng-gelengkan kepala, menatapku dengan ketakutan.
"KAU PEMBUAL! AKU TIDAK MEMERCAYAIMU LAGI!"
"Benar bukan aku! Aku tidak bisa menandingi teknik berpedangnya. Mungkin dia telah dibunuh oleh teman-temanku. Sudah kuberikan penjelasan... tolong lepaskan aku."
"Teman-temanmu?" Huld mengangguk.
"Para penyihir Nedgor. Kami adalah penyihir Nedgor. Kami semua memiliki dendam kepada Aziel. Dia pernah memiliki masalah dengan kelompok kami. Aku yang diberi tugas untuk melenyapkanmu."
Aku menatap kilatan matanya yang terkena pantulan cahaya bulan. "Kau berbohong lagi. Apa aku akan memercayai bualanmu itu? Kau sedang mengelabuhiku, kan? Mana mungkin kau melempar umpan kepada kawanmu sendiri."
"Sungguh... aku... aku tidak berbohong. Aku berani sumpah di depanmu. Jadi... tolong lepaskan aku." Aku menatap ke sembarang arah. Helaan napasku terdengar berat.
Aku berbalik badan, hendak pergi.
"Kalau kau tidak percaya lihat saja sendiri."
CRAT!
Sebuah kepala menggelinding tepat di depanku. Matanya terbelalak sempurna seperti tengah memelototiku. Detik berikutnya, tubuhnya tumbang tanpa keseimbangan.
"Kau menyuruhku untuk melihat kematian tragis pamanku sendiri?" Aku terseyum kecut.
Paman... Aziel... sudah... tiada.
"Eh? Mengapa aku menangis?" Kuusap air mataku dengan kedua tangan. Berjalan ke dalam hutan ini lebih jauh.
Rasanya hari ini adalah hari tergetir dalam hidupku. Aku tidak pernah berani membayangkan hal seperti ini terjadi. Dadaku sesak sekali.
Aku tidak bisa melihat bagaimana akhir hayat pamanku sendiri. Aku... aku benar-benar tidak sanggup.
Aku akan menepati janjiku, Paman. Akan kupenggal leher lelaki licik itu untuk membalaskan dendammu.
Kaki-kakiku berjalan semakin masuk ke hutan, badanku penuh dengan luka lebam akibat pertarungan melawan Huld tadi. Namun, rasanya tak sebanding dengan rasa sakit yang berada di hati.
Lagi-lagi aku menangis.
Air mataku tidak bisa berhenti.
Padahal, aku tidak menginginkannya.
Rasanya air mataku terjatuh begitu saja.
***
Just Info:
Huda adalah nama seorang penyihir dalam mitologi Norwegia. Ini berasal dari nama kuno ‘huld’, yang berarti ‘manis dan menyenangkan’. Namanya berarti ‘bersembunyi atau rahasia’.
Source: https://www.google.com/amp/s/id.theasianparent.com/nama-bayi-norwegia/amp