Sang Pemilik Elemen Air

1224 Kata
"K—kau... kau siapa?" Gadis berambut pirang itu perlahan menjauh. Seorang lelaki berdiri di depannya dengan wajah datar. "Aku Byakko, Nona. Apakah ada yang salah?" Kejutan demi kejutan seperti menghujani Athela hari ini. Dalam semalam kejadian Byakko, mengenal penyihir Al bersaudara, hingga kini seorang pemuda dengan rambut pirang panjang memakai baju kimono berwarna oranye kemerahan. Pria tampan yang mengaku sebagai Byakko? Atau benar-benar Byakko? Sejam lalu setelah pertarungan melawan Al bersaudara, mereka memutuskan untuk pergi ke dunia manusia dan membersihkan diri. Namun, Athela tak pernah menyangka jika Byakko akan berubah wujud menjadi pria tampan berambut pirang. "Kau... kau kan harimau. Bagaimana bisa menjadi manusia?" tanyanya patah-patah, masih memasang ekspresi terkejut. Walaupun suaranya sama dengan Byakko yang beberapa jam lalu dia kenal sebagai harimau, tetapi melihat wujud lain dari harimau putih itu menjadi manusia sangat tidak dapat dipercaya. Byakko tersenyum. Kali pertama gadis itu melihat senyum seekor harimau. Bibirnya memerah, terlihat hangat dan juga tambah tampan. Apa dia benar-benar Byakko? Bagaimana jika kucing itu memakai wadah seorang pria Jepang? "Aku bisa berubah wujud menjadi manusia atau harimau, Nona. Karena kupikir menjadi harimau di dunia manusia sangatlah tidak bagus, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil wujud manusia. Apakah ada yang salah dengan wujudku ini, Nona? Apakah kau tidak menyukainya?" Bodoh! Byakko benar-benar bodoh! umpat Athela dalam hati. Bagaimana dia akan berkata kepada harimau itu jika lelaki itu begitu tampan dan memesona? Bagaimana menjelaskan kepada Byakko jika dia sangat menyukai wujud manusianya? "Nona? Pipimu memerah. Apakah kau sedang sakit? Aku bisa menyembuhkanmu, kebetulan sekali aku ahli dalam kemampuan mengobati luka." Tangan kanannya menyentuh kening Athela dengan lembut. Pipi gadis itu semakin memanas. "Sepertinya aku harus—" "Ah aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut dengan perubahan wujudmu menjadi manusia. Kukira kau akan menjadi seekor kucing." "Sudah kubilang jika aku harimau, Nona. Bukan kucing." "Tapi kalian satu ras, kan?" "Kita berbeda tingkatan kekuatan, Nona." "Ah, sudah-sudah, jangan panggil aku nona. Mulai sekarang panggil aku dengan nama." Athela membalikkan badan sembari menyembunyikan semburat rona merah yang berada di pipi. Bisa-bisanya gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seekor harimau. "Tapi aku tidak tahu namamu, Nona." Satu kalimat itu membuat d**a Athela sedikit sebal. Sebal bukan main malahan. "Mengapa kau tidak tahu nama nonamu sendiri, Harimau Tak Tahu Diri?" omelnya. Gadis itu masih membelakanginya. "Maafkan aku. Aku menemukanmu karena mencium aroma tubuhmu yang seperti tuanku. Jadi sudah pasti jika kau adalah keturunan Tuhan, Tuhanku. Sang Ahli sihir sepanjang masa." Byakko membungkuk. Rambut pirang dengan panjang sepinggang itu seakan menyapu lantai saat pemiliknya merendah. Malam sunyi senyap, udara dingin menusuk kulit gadis itu hingga ke tulang-belulangnya. Gadis itu sedikit menggigil kedinginan. Di sebelah kiri tempat gadis itu berpijak adalah sungai yang mempunyai air terjun setinggi tujuh meter. Suara gemercik air yang jatuh dari ketinggian hingga menghantam air di permukaan sungguh membuat telinga mereka merasakan sedikit kesejukan. Tempat itu memang cocok untuk dijadikan sebagai penghilang penat. Athela menghela napas sejenak, yang mungkin Byakko sendiri tidak akan bisa mendengarkan karena suara air terjun itu jika dia tidak memasang indera pendengar dengan benar. Kemudian duduk di sebuah batu besar pesisir sungai. Dia menatap sungai itu lamat-lamat. "Byakko... ada yang ingin kubicarakan kepadamu. Tidak, tapi kutanyakan." "Silakan." Kini mata gadis itu beralih menatap ke atas, rembulan malam yang bulat sempurna itu terlihat sangat indah. Ditemani taburan bintang yang memesona, malam ini langit sangatlah memanjakan mata. "Kau bilang—dan semua orang bilang—jika ayahku adalah penyihir sepanjang masa. Apa menurutmu tidak ada yang bisa mengalahkannya? Walaupun dengan ilmu teknologi manusia di masa depan pun?" "Kurasa tidak bisa, Nona." Hening sejenak. Bunyi gemercik air itu mengisi kekosongan di antara mereka berdua. "Mengapa?" "Dulu ayahmu adalah ilmuwan yang berhasil memodifikasi dirinya sendiri menjadi seorang penyihir. Dengan kemampuannya sebagai manusia ditambah penyihir, segala taktik dan kekuatan akan susah dikalahkan. Mudahnya seperti ini, beliau tidak hanya manusia terpintar di ras manusia, tapi juga terkuat di ras makhluk gaib, termasuk penyihir." "Modifikasi?" Byakko mengangguk walaupun dia tahu Athela tidak akan bisa melihatnya. "Itu telah terjadi sebelum ilmu pengetahuan semaju ini, Nona. Sudah berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu." "Ayahku... hidup selama itu?" Byakko kembali mengangguk. Dia tidak tahu jika ayahnya sepandai itu. Lagi pula manusia mana yang tidak pandai ketika berhasil menciptakan dunia paralel? Detik itu juga Athela menghela napas. Entah kapan kali terakhir gadis itu menghela napas, tetapi rasanya malam ini bisa keluar dari rumah menyesakkan itu dan melihat indahnya malam hari dan kerlipan kejora sungguh membuat dadany berdebar. "Apakah kau tidak jadi membersihkan diri, Nona?" "Apa kau akan ada di sini?" Athela menatap Byakko dengan tatapan tajam. Setajam silet. Byakko mengangguk. Membuat wajah Athela memerah. Entah marah atau malu. "Kau tidak boleh di sini ketika aku sedang mandi! Kau harus pergi!" "Tapi, maaf, ya. Aku ini hanyalah seekor harimau yang tidak punya—" PLETAK! Sebuah kerikil tiba-tiba mengenai kepala Byakko. Dia sedikit terhuyung karena terkejut. "Pergi! Pergi tidak?" "Tapi, Nona, prioritasku adalah menjagamu. Bagaimana jika saat tak di pandanganku kau ada dalam bahaya?" "Kau sekarang adalah bahayaku. Kalau kau tidak pergi, akan kulempar batu ini lagi." Athela menggenggam sebuah batu yang ukurannya lebih besar dari sebelumnya. Sekepal orang dewasa. "Kalau begitu silakan saja lempar. Batu seperti itu tidak akan mampu melukaiku sedikit pun," kata lelaki berambut pirang panjang itu dengan nada menyombong. Athela berang, wajahnya memerah menahan emosi. Dia benar-benar kesal! Makhluk mitologi apanya yang membuat manusia bisa sekesal ini? Tangannya mengepal batu besar itu. Kakinya memasang kuda-kuda untuk melemparnya. Seperti lempar lembing. Untung saja di pelajaran olah raga ada materi semacam itu, dan dia selalu dapat nilai bagus. BUG! Sebuah batu itu mengenai tangan Byakko. Lelaki berambut pirang itu masih bergeming. Bola mata oranye jernih itu masih menatapnya yang memelotot sempurna. "Kubilang pergi! Pergi!" Sedetik. Dua detik. Benar-benar merepotkan. "Baiklah aku akan pergi. Jika terjadi apa-apa tolong panggil aku. Aku akan mencari buah-buahan di hutan untuk dimakan nanti hingga dua hari ke depan." Byakko akhirnya melangkah. Kaki-kaki t*******g itu menyentuh tanah yang penuh dengan rumput setinggi mata kaki dan meninggalkan Athela sendiri. "Sepertinya sudah lama aku tidak memakai wujud manusiaku sampai-sampai rapuh begini." Jemari Byakko segera meraba tempat di mana tubuhnya dihantam oleh batu yang Athela lempar tadi. Dapat dirasakannya jika luka pemuda itu lebam biru. Tangan kirinya yang sakit membuat pemuda itu agak kesulitan menyembuhkan lukanya sendiri, karena kekuatan penyembuhannya ada di tangan kirinya. "Ini benar-benar merepotkan," katanya mengoceh tak jelas sembari menatap ke atas dan mencari buah-buahan. Baru dua menit, lelaki itu sudah hampir mendapatkan bahan makanan selama dua hari ke depan. Namun tiba-tiba suara teriakan seseorang menghentikannya. Athela yang saat itu sedang berteriak. "TOLONG! TOLONG AKU! KUMOHON, TOLONG! SIAPA PUN!" Bergegas Byakko berlari mendekati sungai itu. Saat sampai di sana, mata lelaki itu menatap sebuah pemandangan di mana gadis berambut pirang sedang dililit oleh tubuh gadis cantik berambut merah menyala sepinggang. Badannya bagian bawah seperti ikan lengkap dengan sirip yang bergerak-gerak di permukaan air. Dia tertawa menatap Byakko. "Apa kau ke sini karena akan meminta darahnya? Akan kuberi jika aku benar-benar puas mandi darahnya. Setelah itu kau boleh mengambilnya." "Tolong aku... kumohon tolong aku...." Mata Athela menyiratkan penuh harap. Namun, dalam hati gadis itu tersaji rasa tidak yakin yang begitu mendalam akan kemenangan Byakko. Apakah dia akan menang? Karena dia tahu, air adalah lawan dari api itu sendiri. Dan kabar buruknya, Byakko adalah pemilik elemen api. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN