Mata Athela terbelalak sempurna.
Hei, ini tidak benar, kan?
Byakko... tidak akan semudah itu dikalahkan, kan?
Ini... bukan kematian dari sang legenda mitologi Byakko, kan?
Ini... ini....
"Al, kau terlalu kejam. Jangan membunuhnya tanpa sisa seperti itu. Anak itu menangis seperti anak kecil. Lihatlah," kata El.
Mata biru Athela beralih menatap Al bersaudara yang masih ribut. Wanita tua itu yang mereka gunakan sebagai wadah tiap percakapan berubah mimik dan juga gerakannya.
"Biar kuberi tahu kau sesuatu, Gadis Manis. Saat ini kucing kesayanganmu telah sampai di neraka dan sedang menunggumu di gerbang. Apa kau tidak ingin bertemu dengan kucing kesayangan-"
Clap!
Sebuah cahaya berpendar dari atas ke bawah, tepat di depan Athela membuat Al bersaudara dan juga gadis itu keheranan.
"Siapa yang sudah sampai di neraka?"
Suara familier itu masuk ke gendang telinga Athela. Sejenak gadis itu tersenyum sebelum akhirnya cahaya berpendar itu berubah menjadi seekor harimau putih bermata merah setinggi daun pintu.
Dilihat dari reaksinya, pastilah wanita tua itu dan juga saudaranya terbelalak sempurna. Mata yang hampir copot itu tambah terlihat benar-benar copot saat melihat ada sesuatu yang mustahil terjadi bagi mereka.
"Tidak... tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Kau... kau masih hidup? Ini tidak mungkin!" d**a Al bersaudara naik turun karena terkejut. Urat-urat nadinya di sekitar mata terlihat dengan jelas, dia memelotot menyeramkan-lebih seram dari biasanya.
"Kau kira sihir rendahan itu bisa melukaiku?"
"Kau... tidak luka sama sekali? Ini tidak mungkin!"
"Kau adalah penyihir rendah yang mempunyai sihir rendahan. Apa pun sihir yang kaupunya tidak akan pernah bisa menggoresku sedikit pun."
"Kenapa... kenapa kau masih hidup?" tanyanya dengan wajah frustrasi. Mata kanannya tak lagi membesar, kini sudah normal. Namun, bola matanya perlahan mengecil seiring dengan waktu.
"Karena kita berada di level yang berbeda. Kau makhluk yang lancang. Berani-beraninya mencoba membunuhku dengan sihir seperti kutu itu." Byakko menyombongkan diri. Matanya yang masih merah semakin memerah seperti ada kobaran api yang mengitari kelopaknya.
"DASAR k*****t!"
Kedua mata Al bersaudara membesar. Wajahnya memerah akibat termakan amarah yang sampai di puncak. Kedua tangannya memegang tongkat sihir kayu itu dengan mata masih memelotot ke arah Athela dan Byakko.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Dasar k*****t! Berani-beraninya kau mempermalukanku seperti ini! Kau pantas mati!"
Byakko masih diam, mata makhluk itu sepertinya sedang mengawasi kemampuan apa yang dimiliki musuh.
Tubuh wanita yang kurus berkulit hitam itu sejenak menyeringai, sebuah cahaya besar keluar dari tanah tempatnya berpijak. Cahaya berwarna kuning kemerahan seperti kobaran api yang membumbung ke atas sampai delapan meter tingginya.
Energi sihir yang dahsyat keluar begitu saja. Membuat sekujur tubuh Athela tegang saking jerinya.
"Ini adalah sihir yang paling hebat milik kami. Bahkan bisa mengalahkan dewa sekali pun."
Tak ayal jika sihir itu bisa mengalahkan dewa, sihir itu bahkan bisa menggerakkan elemen tanah di sekitarnya semakin ke dalam.
"Magjia vrasëse e zotit që i kishte bërë njerëzit të jetonin në paqe. Ju do të dënoheni nga fuqia e perëndeshës së oborrit!"
Setelah mantra itu terucap, bumi bergetar. Tanah di sekeliling mendadak naik ke atas seperti bumi tak lagi memiliki gravitasi. Kejadian itu secepat kilat.
"Sihir yang mampu mengadili pendosa di muka bumi ini," kata Al lalu kembali tertawa kencang, membelah langit malam yang saat ini tengah dihiasi dengan bulan purnama.
"Awalnya kukira aku bisa mengambil darahmu untuk keabadian dan kekuatan. Tapi sepertinya aku salah. Membuatmu mati adalah pilihan yang tepat, Gadis Manis."
Tangan yang memegang tongkat sihir itu terlentang, menatap mahakarya miliknya dengan penuh kesombongan dan rasa haus akan kemenangan.
Tidak, tidak kemenangan. Keinginan terbesar Al bersaudara saat ini adalah melenyapkan Byakko dengan Athela. Mereka tak lagi berambisi untuk mandi darah Athela. Yang ada dalam pikiran hanyalah melenyapkan k*****t yang telah mempermalukan mereka.
"Nona, naiklah ke punggungku! Di sini tidak aman."
Byakko duduk, memberi celah untuk Athela agar segera menaiki punggungnya.
"Tapi bagaimana dengan mereka yang kemping di sini?"
"Aku akan menjamin mereka baik-baik saja. Aku telah membuat lingkaran sihir pelindung di sekitar tempat kempong dengan sangat kuat yang aku yakin akan sulit ditembus. Sekalipun penyihir cerdas, mereka akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menguraikannya.
"Sekarang, kita harus mengalihkan area pertarungan ini ke suatu tempat yang kosong dan tidak ada satu pun manusia. Kau dengar, Nona?"
Athela menatap malas Byakko. "Tentu saja aku dengar, Kucing Tidak Sopan!"
"Aku bukan kucing, Nona. Aku harimau. Namaku Byakko."
"Jangan beri tahu namamu dua kali, Harimau Jelek!"
"Aku tidak jelek, Nona. Buluku sangat indah. Apa kau tidak bisa melihat?"
Tiba-tiba percakapan mereka diputuskan oleh Al bersaudara yang melangkah mendekati mereka. Dia tertawa dengan sangat riang, penuh dengan kemenangan.
"Jika lawanku adalah kucing, maka aku akan memanggil seekor singa."
DEG!
Apa maksudnya?
Dia mempunyai kemampuan memanggil roh?
Tepat beberapa saat setelah itu bumi kembali tenang. Ada cahaya berpendar turun dari langit. Tiap detik waktu membuat tanah yang bergetar itu berbentuk menjadi seekor singa tanpa mata dan mulut. Benar-benar seperti tanah.
"Sepertinya penyihir itu bisa mengendalikan tanah." Athela bergumam.
"Ini akan sangat merepotkan sepertinya, Nona. Cepatlah naik ke sini dan kita akan pergi mencari tanah lapang agar para manusia di sini tidak terkena dampaknya."
"Tapi bukankah kau sudah bilang di sana ada semacam sihir pelindung?"
"Jangan terlalu bergantung pada sesuatu, Nona. Kita sudah terdesak. Bisakah kau segera duduk di punggungku dan berhenti mengoceh?"
Ber... berhenti mengoceh? kata Athela dalam hati.
"Apa maksud-"
"Nona, tolong, tenanglah."
Athela langsung menyadarinya, kemudian duduk di punggung Byakko tanpa disuruh tiga kali.
"Tolong berpegangan, Nona." Byakko berkata dengan nada yang sangat lembut. Untuk ukuran makhluk dari alam gaib, sepertinya hanya dia yang sopan dibanding dengan beberapa makhluk yang selama ini dia lihat.
Detik kemudian setelah berlari sejauh sepuluh meter dan robot buatan penyihir itu bisa menyeimbangi kecepatan Byakko, dia pun segera melayang ke udara.
"Tu-tunggu! Ini apa? Kau ingin membunuhku, hah?" tanya Athela dengan nada suara ketakutan. Baru pertama kalinya dia melihat bumi dari atas dan dengan jarak sejauh ini. Pohon-pohon terlihat hijau dan beberapa ada yang berwarna hitam karena tidak terkena pantulan sinar sang dewi malam yang saat ini bentuknya bundar sempurna.
Refleks Athela berpegangan kuat kepada Byakko, dengan d**a yang berdegup kencang melihat kengerian di bawah. Saat melewati lautan, dia sering membayangkan bagaimana jika dia terjatuh?
"Kita sebentar lagi akan turun."
Belum sempat sampai di daratan, mereka berdua lagi-lagi terbelalak karena terkejut. Boneka yang terbuat dari tanah itu mampu menyeimbanginya dan berlari di permukaan tanah.
Monster macam apa itu?
Byakko meraung, menimbulkan getaran yang hebat di sekeliling hutan. Untung saja di sekitar sini tidak ada pemukiman, jadi tidak akan ada yang tahu kekacauan yang alam ini perbuat.
Pohon-pohon bergetar hebat, tampak setitik kecil itu terlihat. Pion yang Al bersaudara siapkan untuk melawan Byakko sedang menunggu di permukaan.
Byakko meraung kali kedua, kali ini di mulutnya tersembur api panas yang langsung menuju ke singa jadi-jadian itu dan membakarnya.
Awalnya Al bersaudara kembali tertegun. Namun, saat melihat singa jadi-jadian itu tak terbakar, rasa tertegun berpindah kepada Athela.
"Bodoh, kau benar-benar bodoh. Aku tahu elemenmu adalah api. Aku membuat sesuatu dari tanah agar bisa menahan apimu. Apa sampai sekarang kau tidak tahu? Mengapa kau begitu bodoh?" Kemudian dia kembali tertawa.
Sekarang bukanlah hal yang tepat untuk mencari tahu siapa yang sedang mengambil alih tubuh wanita tua itu, tapi bagaimana mengalahkan singa ini yang terbuat dari tanah.
"Kau ada rencana?" tanya Athela di udara. Sejak tadi mereka belum menginjakkan kaki di daratan. Dengan kata lain, ini pertarungan di dua wilayah. Langit dan bumi.
"Belum ada, tapi sedang kupikirkan."
Byakko berpindah. Terbang mengelilingi singa itu yang masih mencoba mengejar mereka.
"Kita diuntungkan dengan kenyataan bahwa dia tidak bisa terbang."
"Benar."
Setelah beberapa menit mereka berputar-putar, akhirnya Byakko mendekat.
"H-hei... apa kau sudah punya rencana? Mustahil, kan, kita menyerang dia secara membabi buta? Kau ingin bunuh diri? Ini sama saja dengan menyerahkan diri sendiri ke tangan musuh."
Ocehan Athela tak dihiraukan oleh Byakko. Makhluk berwujud harimau putih jantan itu mendekat. Matanya yang merah semakin memerah ketika sampai di permukaan bumi. Bola matanya dipenuhi api merah seperti laser yang mengimintimidasi.
Dua detik, singa itu berlari ke arahnya dengan kecepatan penuh. Athela menelan ludah. Kecepatannya jika diukur dengan kendaraan sekarang adalah 60 kilometer per jam.
Belum sempat sampai mengenai Byakko, harimau itu sudah kembali melayang. Saat makhluk itu sampai di tempat di mana tadi Byakko berdiri, tiba-tiba sebuah cahaya dari lingkaran sihir tampak. Lingkaran sihir yang mampu membuat para makhluk yang berada di wilayahnya tidak bisa keluar. Seperti penjara bagi para penyihir. Rupanya rencana Byakko adalah membuat sihir penjara dengan menginjakkan kaki di tanah selama beberapa detik.
"Mustahil. Kucing rendahan sepertimu bahkan bisa membuat sihir penjara?"
Tak lama setelah itu, tiba-tiba beberapa tanah yang runcing mengenai singa itu dan membuatnya kembali menjadi tanah.
"K... kau... kau mengalahkan dia... kau?"
"Aku lupa jika aku juga menguasai elemen tanah," kata Byakko dengan santai dan sombong.
"k*****t KA-"
Belum sempat Al bersaudara selesai mengucapkan kata, tongkatnya tersingkir dari tangan keriput itu. Sebuah tanah runcing juga telah memenjarakannya. Mengelilingi tubuh penyihir tua itu tanpa ada celah sedikit pun untuk kabur.
"Tanpa tongkatmu, memangnya kau bisa apa?"
"k*****t! KAU BENAR-BENAR k*****t! AKU AKAN MENUNGGUMU DI AKHIRAT!"
"Maaf, ya. Aku tak berniat ke akhirat cepat-cepat. Masih banyak hal yang harus kuurus di dunia. Kalau kau ingin menungguku, silakan tunggu sampai kau bosan."
"AKU AKAN MENYERETMU KE NERAK-"
KRAK!
CRAT!
penjara tanah itu menyempit, setelah terdengar suara teriakan yang begitu panjang akhirnya tanah dipenuhi darah yang menggenang di sekitar penjara itu.
"Apakah kau serius membunuhnya?" Tiba-tiba Athela hendak muntah, menyaksikan pembunuhan k**i di depan matanya sendiri membuat seisi perutnya ingin keluar.
"Jangan menaruh simpati, Nona. Simpati hanya akan membuatmu lengah. Dan mulai sekarang kau harus terbiasa dengan pembunuhan seperti ini karena ini adalah awal mula."
"Awal mula?"
"Ya... awal mula melihat banyaknya pembunuhan yang bahkan tidak bisa kau hitung dengan jari." Byakko menghela napas sejenak, kembali mengajak Athela terbang.
"Sekarang kita harus berangkat menemui Tuhan-ayahmu, Penyihir Sepanjan Masa, untuk menghentikan pertumpahan darah yang tak ada hentinya ini. Kita akan mencarinya."
"Mencari?"
"Iya."
"Tapi... bagaimana dengan Lyne? Mama? Papa?"
"Tenang saja, keberadaanmu akan dilupakan di otak orang-orang yang mengenalmu. Sekarang aku akan mengembalikan roh ke jasadmu, kemudian kita akan pergi ke Negeri Pulam."
"Negeri Pulam?"
"Negeri Para Penyihir."
Athela mengangguk mengerti. Kini dia tidak lagi takut terbang dengan Byakko, mungkin sudah terbiasa.
"Ngomong-ngomong, kau bisa mengeluarkan wujudmu ke duniaku?"
"Tentu saja."
"Apakah wujudmu masih sama seperti ini, atau berubah menjadi lebih kecil seperti kucing?"
"Berhenti memanggilku kucing, Nona. Aku harimau," kata Byakko tenang tetapi nadanya ketus.
Athela tertawa lepas, mengusap bulu punggung Byakko yang begitu lembut. Setelah banyak hal yang terjadi, sepertinya gadis itu mulai memercayai cerita konyol ini.
Petualangannya menuju Negeri Para Penyihir pun akhirnya dimulai.