"Il, Ul, El, Ol. Apakah kalian sudah siap?" Al memberikan komando. Wajah wanita tua berkeriput itu menyeringai seram, membuat senyum ngeri yang tidak ingin dilihat Athela muncul.
"Tentu saja."
Athela mengembuskan napas dan menariknya cepat-cepat. Tiba-tiba udara di sekitarnya terasa lebih sedikit dari tadi. Dadanya berdebar hebat karena rasa takut yang kian merasuk dalam dirinya.
Belum selesai dia memikirkan apakah Byakko nyata atau tidak, kini sudah ada masalah lain yang membuatnya tak kalah pusing. Sebenarnya, apakah ini benar-benar nyata?
Dia menatap ke sekeliling. Api masih menyala, tetapi kian meredup. Salah satu dari gerombolan gadis yang tadi tengah membincangkan sesuatu di depan tenda kini mendekatinya dengan maksud ingin menjaga nyala api tetap konstan agar mereka tidak ketinggian.
Seorang gadis dengan wajah putih pucat berhidung runcing mendekat. Dia memakai celana jins ketat semata kaki dengan atasan kaus berwarna merah yang dirangkap dengan jaket besar biru dongker dan biru muda. Jaket itu terlalu besar untuk ukuran tubuh mungilnya. Dengan demikian yang terlihat hanya pucuk tiga jemarinya yang mungil. Sedangkan panjangnya kisaran tiga puluh sentimeter dari atas lutut.
Senyumnya merekah saat mendekat. Kaki-kaki mungilnya yang dibungkus oleh sepatu kets warna merah muda pastel berpadu dengan putih sedikit menggetarkan permukaan bumi.
"Wah lihat, ada anak manusia, Al!" El berseru. Sepertinya dia kegirangan.
"Ayo kita goda dia, El!" Ul balas berseru.
"Bagaimana, Al? Apakah kita akan mengganggunya?" Il berkata kepada Al dengan nada yang sedikit ragu. Jika dilihat, sepertinya di antara Al bersaudara hanya Il yang lebih dewasa.
Tunggu, maksudnya mengganggu apa? Mata Athela terbelalak sempurna. Apakah mereka bisa mengganggu manusia? Bukankah mereka berada di dimensi yang berbeda?
Karena butuh penjelasan, akhirnya Athela menatap Byakko. Apa yang sebenarnya terjadi? Gadis itu benar-benar seperti anak kecil yang baru lahir, tidak tahu apa-apa. Matanya menyiratkan seperti itu.
Byakko tidak menjawab, dia kembali menatap Al bersaudara.
Mungkin Athela sudah salah karena menanyakan ini di tengah pertarungan.
"Baiklah, sebelum kita bertarung, mari kita hibur diri sendiri." Al berkata sambil terkekeh. Jika lama diperhatikan, ternyata selain garis bibirnya yang berada di bawah mata, saat Al bersaudara tertawa adalah gigi mereka hitam seperti arang.
Terdengar suara siulan. Kaki Al menendang api itu, lalu kobaran api unggun itu kembali mengecil.
Hei... apa yang mereka lakukan? Ini tidak mungkin, kan? Mereka kan beda dimensi? Itulah ekspresi Athela saat ini jika dibaca orang. Sikap keterkejutannya itu ternyata membuat Al bersaudara tertawa.
"Jadi kau adalah tipe gadis yang peduli sesama, ya?" Al kembali menyeringai.
"Ten... tentu saja. Siapa yang tidak peduli jika teman mereka ada dalam bahaya?" kata Athela dengan gemetaran. Dia mencoba bersikap biasa saja dan memberanikan diri, tetapi tetap saja dia tidak bisa bersikap sejawarnya.
Lagi pula, manusia mana yang akan bersikap sewajarnya ketika melihat dua monster ada di hadapannya?
Sedikit tidak masalah dengan Byakko, tapi... apa-apaan Al bersaudara itu? Mereka benar-benar seperti monster. Tubuhnya hanya diselimuti energi sihir berwarna hitam pekat.
Al tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun. Kau memang manusia yang merepotkan, ya. Bagaimana kau bisa melindunginya jika berbicara saja gemetaran seperti itu?"
"Iya, seperti anak kecil yang baru saja mengompol." Ul ikut menimpali.
"Apa pun itu... manusia memang harus saling membantu. Tidak peduli lemah atau kuat. Suatu saat yang kuat juga akan membutuhkan pertolongan yang lemah." Nadanya kini tidak terlihat seperti tadi. Sepertinya Athela mulai terbiasa berbicara dengan penyihir itu.
"Bukankah hukum alam adalah memakan yang lemah?" Al tertawa geli sekaligus menyeramkan. "Lagi pula aku heran, mengapa manusia begitu inginnya membantu sesama? Padahal manusia adalah makhluk paling menjijikkan yang hanya dipenuhi oleh sifat pengkhianatan dan rasa ingin menang sendiri. Kau masih ingin menyelamatkan umat menyedihkan itu?"
Tiba-tiba Athela tertawa patah-patah. "Apa? Menyedihkan, katamu? Manusia? Bukankah penyihir juga manusia. Kau dulu juga manusia, kan? Lalu kenapa kau merendahkan asal-muasal rasmu sendiri?"
Walaupun tak terlihat, Athela bisa menebak jika wajah penyihir wanita yang mengerikan itu memerah karena marah. Detik berikutnya matanya memelotot sempurna, mendelik seperti ingin copot dari tempatnya. Membuat wajah dari wadah penyihir Al bersaudara lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Kami bukan lagi seorang manusia, kau tahu. Manusia itu makhluk yang sangat rendahan. Mereka tidak mempunyai kekuatan seperti kami, dan tentu saja tidak akan pernah bisa melakukannya."
Walaupun perkataannya itu benar, tapi itu sungguh keterlaluan. Jika manusia memang benar-benar serius, mereka bahkan akan lebih berbahaya dari penyihir sekali pun menggunakan ilmu pengetahuan. Semengerikan itu makhluk yang disebut manusia ini. Tidak pernah puas akan hasil yang selalu mereka capai. Benar-benar makhluk yang tamak.
Namun, mereka tidak serendah itu. Mereka makhluk yang bahkan berjuta-juta lebih kuat dibanding ras penyihir jika mereka bersungguh-sungguh.
"Jika manusia bersungguh-sungguh, mereka pasti akan melampaui kalian!"
"Melampaui, katamu? Kau terlalu suka bercanda, Gadis Cantik. Tidak ada yang bisa melampaui kami." El berkata dengan nada sombong.
"Benar juga, kalaupun mereka bisa melampaui kami, dia tidak akan bisa melampaui penyihir b******k itu." Ul lanjut berbicara.
"Sebenarnya malas mengakui, tapi penyihir b******k itu memang hebat."
Tiba-tiba suasananya kembali berubah. Saat gadis berhidung pucat itu hendak pergi karena merasa sudah membenahi api unggun. Saat dia hendak berdiri, tiba-tiba penyihir itu menunjuknya dan bibirnya komat-kamit seperti membacakan mantra.
"Aduh!" pekik gadis itu. Perhatian gadis lainnya pun tertuju kepadanya.
"Apa kau tidak papa?"
"Ah, sepertinya aku hanya tersandung kerikil." Dia tersenyum, senyum yang menjelaskan jika dia tidak apa-apa. Teman-temannya beberapa ada yang mengangguk, lainnya tak acuh. Mereka kembali menyambung cerita.
"b******k, teman itu seharusnya membantu, bukan hanya menonton seperti itu. Ah, sejak kapan aku menjadi teman mereka? Aku melakukan ini karena terpaksa."
Al menyungging senyum. "Itu adalah makhluk yang sangat ingin kau lindungi. Penuh dengan omong kosong dan kebusukan dari hati."
"Sepertinya kita harus memberinya pelajaran."
Pada saat kaki Al berayun hendak menghantam tubuh kecil gadis itu, api unggun yang menyala itu bereaksi. Dia baru menyadarinya. Jadi, jika api tiba-tiba padam sendiri tanpa adanya angin yang tertiup bisa jadi ulah para makhluk tak kasatmata itu.
"Mengapa kau menyerang manusia yang tidak ada kaitannya dengan ini?" Kali ini Byakko yang bersuara. Matanya menatap tajam ke arah Al bersaudara.
"Kalian terlalu lama bermain-main dengan manusia sampai melupakan keberadaanku. Aku di sini ada untuk menghentikan kalian." Sisi samping Athela bergetar hebat, dia menatap Byakko yang belum selesai menatap tajam Al bersaudara.
Apakah ini kekuatan dari sang legenda mitologi, Byakko? Athela menelan ludah sendiri. Byakko berjalan mendekati Al bersaudara yang tertawa terbahak-bahak. Tanah-tanah yang dilewati Byakko memecah sedikit.
Hidung dan mata Athela yang tajam membuat dia bisa merasakan aura kekuatan yang besar milik Byakko.
Cakar-cakar Byakko kini terlihat. Matanya memerah seperti mengimintimidasi para musuh yang berada di depannya. Dapat dirasakan oleh Athela tekanan yang sangat kuat itu.
"Kau memang kucing pemarah, ya? Sepertinya kau akan menyesali perbuatanmu." Al tertawa terbahak-bahak.
"Kau yang harusnya menyesali perbuatanmu karena melawanku."
Al bersaudara mengeluarkan sebuah tongkat, mereka memutar-mutar tongkat kayu yang panjangnya sekitar lima puluh meter itu selama dua detik. Setelah itu, tongkatnya dihentakkan tepat di tempat berdirinya Byakko.
Al berseru, "Erdhi një tornado!"
Dalam sekejap sebuah angin p****g beliung muncul dan menyapu habis pohon-pohon yang ada di dekatnya.
Gawat, Byakko! Mata Athela terbelalak sempurna. Dia menatap Byakko yang masih di sana—belum sempat menghindar.
Dalam dadanya tiba-tiba menyelinap rasa was-was yang begitu besar. Apakah Byakko akan baik-baik saja?
Sedetik.
Dua detik.
Al tertawa penuh dengan percaya diri. "Monster sekelas apa pun pasti akan dicincang sampai tak bersisa jika masuk ke pusaran angin itu." Matanya terlihat aneh kali ini. Mata kanan membesar, persis seperti psikopat-psikopat yang biasa Athela lihat di anime.
Tiga detik.
Pusaran angin itu masih berputar di tempat Byakko berpijak. Athela menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
Pusaran angin itu semakin mengecil.
Dia sangat berharap Byakko akan tetap berdiri di sana.
Melihat wajah Athela yang penuh dengan keputusasaan, Al bersaudara tertawa riang. Ini kemenangan untuknya.
"Sayang sekali malam ini aku harus membunuh gadis cantik sepertimu."
Ayolah, ayolah, Byakko!
Detik berikutnya.
Kau masih berdisi di sana bertarung untuk—
Tiba-tiba matanya terbelalak sempurna. Dadanya berdebar hampir mau copot saja.
Di sana tidak ada Byakko! Sesuatu yang dia tunggu tidak muncul. Byakko... ah, tidak! Wajah Athela frustrasi.
"Sudah kukatakan jika semua jenis monster tidak akan bisa lari dari pusaran angin itu. Lagi pula sudah kuperingatkan dari awal, dia akan menyesal jika berurusan denganku."
Ini tidak bisa dipercaya.
Byakko... mati?