Tatapan Tanpa Kedip
Gaun pengantin Sheila Rosemarie gadis berusia 20 tahun itu, terasa memberatkan tubuhnya.
Bukan karena taburan berlian dan kain sutra termahal, melainkan karena beban janji yang baru saja diucapkan.
Janji itu berbau vanila mahal dan kepalsuan yang sempurna.
Di ujung ballroom Grand Lookswhite yang berkilauan, Rangga Adhitama, pria yang akan menikah itu tersenyum.
Rangga, pria berusia 25 tahun itu tersenyum bangga. Senyuman khas seorang CEO paling berpengaruh di lini bisnis properti itu merupakan sebuah senyum penuh kemenangan, dan ia diciptakan Tuhan untuk menguasai segalanya.
Ya, Rangga bangga akan pencapaian hidupnya. Ia mencetak banyak kesuksesan di masa mudanya. Tentunya tak luput dari nama besar orang tuanya juga.
Rangga baru saja membayar hutang-hutang keluarga Sheila yaitu Ayahnya yang terherat hutang menumpuk dan sudah dilaporkan ke polisi.
Sebagai imbalannya, Rangga mendapatkan Sheila, gadis lugu yang kini resmi menyandang gelar Istri Kontrak.
Rangga melihat Sheila saat pertama kali ia bertandang ke rumah kediaman Pak Handoko, ayahnya Sheila.
Rangga menyukai Sheila untuk pertama kalinya saat Sheila menghidangkan sajian untuknya.
Ia lantas meminta Pak Handoko untuk bisa memperistri Sheila padahal saat itu Sheila sedang bekerja di sebuah toko untuk membantu membiayai kebutuhan rumahnya.
"Lihatlah mereka, Sayang," Rangga berbisik di telinga Sheila, suaranya dalam dan penuh perintah, bukan sebuah kehangatan.
"Mereka semua iri. Kita adalah pasangan paling beruntung di kota ini. Pasangan yang serasi,"
Sheila memaksakan seulas senyum tipis, indranya menangkap aroma parfum mahal Rangga yang berpadu dengan aroma ambisi yang membakar.
Mata Rangga tidak tertuju pada Sheila, ia melihat pantulan dirinya yang semakin sempurna dengan keberadaan Sheila di sisinya.
Rangga merasa bahwa ia menjadi pria sempurna versi majalah bisnis, tampan, cerdas, dan arogan.
Dan arogansi itulah yang menjadi cacat terbesarnya. Kelemahannya memang ia cukup arogan dan angkuh.
Ia meyakini, dengan keyakinan yang nyaris fanatik, bahwa uang bisa membeli segalanya—bahkan kebahagiaan yang dipajang.
Musik klasik dimainkan orkestra, mengiringi dansa mereka, sebuah ironi agung di tengah transaksi berkedok pernikahan.
Saat Rangga memimpin langkah, tatapan Sheila justru tersangkut pada sosok di meja VIP paling ujung, yang dikelilingi pengawal pribadi layaknya pejabat penting.
Sheila tidak tahu siapa dia, tapi ia merasa matanya seakan tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah pria itu.
Ia melihat pria itu duduk di atas … kursi roda. Apa? Kursi roda?
‘Pria setampan itu duduk di kursi roda?’ batinnya.
Saat ia duduk, barulah ia mengetahui siapa pria yang tadi ia tatap tanal kedip.
Pria itu adalah Renaldo Hutomo, dengan kisaran usia sekitar 30 tahun.
Seorang Tuan Presdir yang memang lumpuh dari Hutomo Group, musuh bebuyutan Rangga.
Renaldo duduk di kursi roda elektriknya, dikelilingi oleh aura tenang yang kontras dengan hiruk-pikuk kekayaan di sekelilingnya.
Pakaiannya terlihat sederhana namun menunjukkan kewibawaan yang tak terbantahkan.
Jika Rangga disebut sebagai api yang berkobar, Renaldo ibarat samudra yang tenang, diam, luas, dan berpotensi menghanyutkan.
"Lihat dia, si Cacat itu," desis Rangga, ketika mengikuti arah pandang Sheila. Nada suaranya dipenuhi hinaan yang tak berusaha ia tutupi.
"Kenapa pria cacat itu harus datang ke pestaku? Ingin pamer bahwa ia masih bernapas?"
Sheila menatap Renaldo. Pria itu tampak tidak terkejut, seolah hinaan yang dilontarkan Rangga sudah menjadi sarapan pagi.
Renaldo hanya mengangkat gelas champagne-nya sedikit, matanya yang tajam menembus kerumunan, dan untuk sepersekian detik, tatapan itu bertemu dengan Sheila.
Itu bukan tatapan ingin tahu. Itu adalah tatapan yang melihat. Mata kelam itu seolah membaca gaun mahal yang dikenakan seorang gadis cantik yang terus menatapnya tanpa berkedip, Sheila.
Istri seorang CEO yang semua orang tahu bahwa keberuntungan berada di pihaknya.
Namun bagi Sheila pernikahan ini adalah sebuah kontrak tak tertulis yang mengikatnya, dan kekosongan yang bersemayam di balik senyumnya.
Sebuah getaran aneh merambat di tulang punggung Sheila. Itu adalah kali pertama ia merasa dilihat sebagai manusia, bukan sekadar dipajang sebagai trofi, sejak ia menandatangani kontrak itu.
"Jangan menatapnya, Sayang," tegur Rangga pelan, tetapi dengan ancaman terselubung yang lebih efektif daripada bentakan keras.
"Dia menjijikkan. Fokus padaku. Ingat perjanjian itu."
Sheila menunduk. Ia ingat dengan baik isi kontraknya. Istri harus menjaga citra dan kesetiaan mutlak pada suami di depan publik.
Disentuhnya ujung dagu Sheila yang runcing bak sebuah pensil yang baru diraut.
"Dengar, Sheila Sayang, jangan pernah membuatku kecewa, paham?"
Sheila mengangguk, tatapan mata pria yang menjadi suaminya ini terlihat menyeramkan.
Rangga merasakan gejolak panas—bukan karena suasana, melainkan karena kemarahan.
Ia telah mendapatkan gadis cantik seperti Sheila, menjadikannya istrinya, namun pemandangan di meja sudut sana berhasil merusak momennya.
Ia merasa terhina.
‘Dasar pria lumpuh menjijikkan,’ pikir Rangga penuh kebencian.
Kecemburuan ini diperparah saat ia melihat Sheila, sang istri yang menatap Renaldo terlalu lama.
Ia tidak menyangka, pria cacat yang duduk tanpa memiliki teman itu malah menarik perhatian gadis yang ia pinang.
“Sheila!” panggilnya.
“Hem, ya,”
Sheila tak menggubris panggilannya, seolah tak mendengar suaranya.
Sekali lagi, Rangga menyebut namanya dengan nada yang lebih tinggi.
"Ya, Mas," Sheila memang membalas sahutan nya.
Menjawabnya tapi tidak menoleh ke arahnya. Rangga merasa marah tapi tidak ingin memperlihatkannya.