4. Sebagai Penghias Saja

903 Kata
Setelah teringat pertemuannya dengan Rangga, Sheila tersadar jika ia kini memang harus memenuhi kewajibannya pada pria itu. Menjadi istri yang baik di hadapan orang-orang. Sheila keluar dari kamar mandi, mengenakan jubah sutra. Kekuasaan Rangga telah memberikan banyak sekali pemenuhan kebutuhan keuangan dan juga pelunasan hutang keluarganya, menjadi titik kelemahannya. Kini ia menjalani hidup dalam kekosongan jiwanya. Hanya menjadi istri di depan orang banyak tanpa ada rasa cinta ataupun perasaan hati yang penuh cinta dan kasih pada pasangannya. Pukul sebelas siang, Rangga menjemputnya di lobi, membawa mereka ke sebuah restoran eksklusif di kawasan bisnis. Perjalanan mereka tanpa obrolan penting bahkan ringan pun tidak ada. Yang ada hanya kekosongan hati dan kehampaan tanpa keramaian suasana saling menjaga atau mengisi. Aura kemewahan di dalam mobil Rolls-Royce yang membawa mereka meluncur membelah kemacetan Jakarta terasa menyesakkan bagi Sheila. Di balik jendela yang gelap, ia melihat dunia yang dulu ia pijak—dunia di mana ia harus berkeringat hanya untuk sebotol plastik bekas. Kini, ia duduk di atas jok kulit asli yang aromanya begitu tajam, bersanding dengan pria yang telah membelinya, secara tidak langsung memang seperti itu, karena dia memang menjadi barang yang dibarter untuk pelunasan hutang keluarga. Sheila meremas jemarinya yang terbalut sarung tangan brokat tipis. Gaun haute couture berwarna nude yang membalut tubuhnya seolah menjadi kulit kedua yang asing. Rangga, yang sibuk memeriksa tablet di tangannya, sesekali melirik dengan tatapan menilai, bukan mengagumi. "Berhenti meremas tanganmu, Sheila. Kamu merusak siluet gaun mahal itu," tegur Rangga dingin tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku... aku hanya sedikit gugup, Mas. Ini pertemuan besar pertama kita sejak semalam," bisik Sheila. Suaranya bergetar, bayangan malam pengantin yang hampa itu masih menghantui benaknya. Rangga meletakkan tabletnya, lalu meraih dagunya dengan gerakan posesif yang sudah menjadi cirinya. "Gugup adalah sifat orang miskin, Sheila Sayang. Kamu ini istri Rangga Aditama sekarang. Semua orang di restoran itu akan menatapmu bukan karena mereka kasihan, tapi karena mereka mendambakan apa yang aku miliki. Cukup tersenyum dan jadilah cantik. Itu satu-satunya tugasmu yang paling mudah." Sheila memejamkan matanya, Rangga mengecup bibirnya dan memberikan senyuman yang … cukup dingin. Mobil berhenti di depan lobi restoran Dev Daaz sebuah tempat yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang dengan kekayaan tujuh turunan. Saat pintu mobil dibuka oleh petugas, hembusan angin seolah membawa aroma kemewahan yang berat. Begitu Sheila melangkah keluar, atmosfer di sekitar lobi seolah membeku. Para tamu yang sedang berbincang, fotografer paparazzi yang mengintai dari kejauhan, bahkan staf restoran, semuanya terdiam. Sheila benar-benar memesona. Kecantikannya bukan hasil riasan tebal, melainkan kecantikan murni yang kini dipoles dengan kemewahan. Rambutnya yang hitam legam disanggul modern, mengekspos leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian senilai miliaran rupiah. Wajahnya yang polos namun memiliki garis rahang yang tegas membuatnya tampak seperti dewi yang turun ke bumi. "Lihat mereka," bisik Rangga di dekat telinga Sheila sambil melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu dengan erat, menunjukkan bahwa dia adalah istrinya di depan umum. "Mereka melihatmu seperti melihat sebuah mahakarya yang mustahil disentuh. Dan mereka tahu, hanya aku yang memegang kuncinya." Sheila menunduk, mencoba menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Ia merasa seperti hewan langka di dalam kandang kaca. Setiap pasang mata yang menatapnya membuatnya merasa semakin telanjang dan rapuh. Ia benci menjadi pusat perhatian jika tujuannya hanya untuk memuaskan ego sang CEO. Keduanya melangkah masuk ke dalam restoran. Suara denting garpu dan obrolan kelas atas seketika meredup saat langkah high heels Sheila yang mengetuk lantai marmer. Rangga berjalan dengan dagu terangkat, menikmati setiap tatapan iri yang diarahkan kepadanya. Namun, di tengah lautan manusia yang memuja kecantikannya dengan cara yang dangkal, Sheila merasa sebuah tatapan yang berbeda. Tatapan yang tidak membuatnya merasa seperti objek, melainkan seperti jiwa yang sedang tersesat. Di sudut ruangan, di balik meja yang tenang, Renaldo Hutomo sudah duduk di sana. Ia tidak berdiri menyambut mereka—karena memang tidak bisa—tapi kehadirannya terasa lebih mendominasi daripada siapapun di ruangan itu. Mata kelam Renaldo menatap Sheila, tidak dengan nafsu, melainkan dengan sebuah simpati yang dalam yang membuat pertahanan Sheila nyaris runtuh seketika. Sheila hanya bisa diam, menikmati perannya sebagai istri sang CEO dan harus menjaga kewibawaan suaminya. Rangga mempererat pelukannya pada pinggang Sheila, seolah menyadari ada frekuensi yang tak terlihat antara istrinya dan musuh bebuyutannya itu. "Tersenyumlah, Sheila," desis Rangga pelan. "Pertunjukan dimulai sekarang." Kehadiran Sheila seperti sebuah piala yang dipajang dan mengharuskan setiap orang memandang kecantikan yang sangat diinginkan semua orang, tapi sekaligus menunjukkan rasa tidak amannya. ** Renaldo duduk sendirian di meja sudut, membaca dokumen dengan ekspresi yang sangat fokus. Kelumpuhannya tidak mengurangi sedikitpun aura kekuasaan yang ia pancarkan. Renaldo, meskipun lumpuh tapi dari lahir pria itu normal. Tatapannya tajam bagai mata elang. Presdir yang lumpuh tapi cukup berkuasa namun tanpa banyak bicara. Saat Rangga menarik kursi untuk Sheila, ia sengaja mengeraskan suara. "Aku harap Anda tidak terganggu, Tuan Renaldo. Kami akan makan siang tepat di sebelah Anda. Sebagai pasangan bahagia." Sang presdir lumpuh, tidak menanggapi, hanya diam tapi matanya tertuju pada Sheila. Sesungguhnya, kehadiran Rangga tidak hanya untuk makan siang, tapi pastinya ingin menyiksa dan menghina Renaldo. “Hallo, Tuan Renaldo, sendirian saja?” Pria itu mengangkat kepalanya. Pandangannya langsung menembus Rangga dan tertuju pada Sheila. Kali ini, tidak ada kecaman atau keputusasaan. Di mata Presdir lumpuh itu, ada sedikit senyum yang nyaris tak terlihat—senyum yang sinis dan seolah-olah pria itu tahu rahasia yang tersembunyi di balik pernikahan mahal itu. Sheila merasakan jantungnya berdebar, bukan karena takut pada suaminya, tapi karena daya tarik yang tak terhindarkan dari seorang presdir yang lumpuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN