Chapter Four

1310 Kata
Banyu menyetir dengan sedikit panik namun masih tetap dalam batas normal. “Kamu beneran ngga apa-apa?” Banyu menatap Celine yang tersenyum. “Iya, ngga apa-apa kok.” Celine memegang sebelah tangan Banyu yang tidak memegang setir. “Beneran?” “Iya, beneran. Kamu jangan terlalu panik gitu, biasa aja—” “Apa kamu bilang? Biasa aja?!” seru Banyu hampir saja dia berteriak tapi langsung sadar bahwa Celine terkejut. “Maaf ya,” pintanya, “aku panik. Dan kamu harus tahu itu. Berarti aku benar-benar khawatir,” ujarnya. Dia kembali memegang sebelah tangan Celine yang juga menggenggam lengannya. “Kamu jangan gitu lagi. Aku takut. Beneran takut,” cicit Celine. “Gimana kalau sampai rumah kamu jangan pulang dulu. Kamu temani aku makan bentar ya?” Banyu hanya mengangguk. “Iya aku bakalan temani kamu. Sampai kamu istirahat sekalipun,” jawabnya sambil tersenyum tulus. “Kamu ngga ke kampus lagi, 'kan?” tanya Celine. “Enggak.” “Ke kantor?” tanyanya lagi. “Enggak usah untuk hari ini,” jawab Banyu. Celine yang mendengar pun hanya tersenyum puas. Mendengar Banyu masih mengutamakan dia di atas segalanya. Dia benar-benar masih di atas karena prioritas seorang Banyu Biru masihlah seorang Celine. “Ekhem, Sayang. Kamu ngga usah mikirin yang tadi ya. Lagian Bening juga ngga sengaja kok.” Celine mengatakan sambil melihat bagaimana reaksi Banyu. Dia tahu Banyu pasti tidak suka dia mengungkit yang tadi. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga ingin membuat Bening seorang anak SMA berhenti berharap. Dia bisa melihat Banyu menahan kekesalan dengan mengeraskan rahangnya. Dia menyentuh rahang itu dan mengelusnya secara perlahan, mencoba menggoda dengan pelan. “Kamu jangan salahin dia. Dia kan ngga tau kalau aku punya alergi terhadap terasi,” katanya pelan. Banyu hanya mengangguk. Sebenarnya dia juga bingung sebab Bening memang tidaklah salah. Tapi egonya berlebihan, dia sudah membentak Bening di depan keluarganya. “Kamu tenang aja. Jangan mikirin itu lagi ya?” pinta Banyu. “Ayo, aku temani kamu makan,” kata Banyu lagi. “Kita di apartement, Sayang. Kamu tahu ‘kan, kalau aku enggak bisa masak? Di dapur kosong walau bahan makanan ada. Kita pesan aja ya, Sayang?” Celine tersenyum memohon. Banyu hanya mengangguk dan mengetikkan di ponsel pintarnya pesanan Celine. *** Sedangkan itu di rumah Banyu, suasana justru lebih cair tanpa adanya Banyu dan Celine di sana. “Ning, maafin Banyu ya, Nak,” kata Rere tiba-tiba berbicara setelah mereka selesai makan dan masih duduk di meja makan setelah dibereskan oleh bibi. Rere berniat akan membuat Red Velvet dan meminta Bening untuk mengajarinya. “Lagian anak mama yang satu itu aneh sih. Udah buta matanya karena cinta,” ujar Laras sarkas. “Kamu ... gitu-gitu dia anak mama tahu. Dan dia kakak kamu, Dek!” “Ya, anak mama itu mesti disadarin. Kalau ngga, bisa parah bucinnya. Mending bucin ke orang yang bener, kalau kaya si Celine mah, entar dia nyesel sendiri, Ma.” “Ya kamu jangan gitu dong!” Rere mencubit engan Laras. Cubitan yang tidak kuat. “Kamu doa-in kakak kamu sakit hati?” “Ngga bakalan lama, Ma. Dia pasti bakalan merasakan itu nanti.” Laras berucap sambil mencomot cookies di dalam stoples. “Bahas apa kalian?” tanya Raka yang turun dari tangga cepat-cepat. “Kamu makan mulu sih, Dek,” katanya mengacak rambut Laras. “Ihh, Kak Raka! Berantakan nih rambutku. Mama, Kakak nih,” sungutnya. “Kamu itu kalau di rumah selalu ganggu adek kamu aja.” Rere juga memukul lengan Raka dengan centong nasi. “Aww, Mama penyiksaan! Bisa dilaporin nih!” serunya. “Enak aja kamu mau laporin mama. Kamu duluan yang mama kebiri nanti. Kamu pikir selama ini kamu hidup sampai sebesar ini mama apain? Kamu mau durhaka ya sama mama?!” ancam Rere pada putranya. “Ampun, Ndoro.” Raka menangkupkan kedua tangan di depan d**a sebagai bentuk penghormatan. “Kamu ya ....” Rere mengejar Raka yang sudah berlari naik ke atas tangga. Tiba-tiba Laras menatap Bening yang tersenyum senang. “Kak,” panggilnya. “Ya?” Bening menoleh melihat Laras yang menatapnya secara intens. “Kenapa, Dek? Kakak kaya punya banyak utang deh kamu liatin gitu,” ujarnya pelan. “Kakak cantik lho!” “Ha? Maksudnya?” Bening yang tidak mengerti kembali bertanya. “Kak Bening cantik. Tapi kok mau sih sama Kak Banyu yang ngga pernah mau lihat Kakak sedikit aja?” Bening hanya tersenyum mendengar pertanyaan Laras. Dia menggeleng. Jujur, dia saja tidak mengerti. Dia hanya tidak suka Banyu memiliki kekasih apalagi itu seorang Celine. Jika hanya teman perempuan dia tidak masalah. Namun, terkadang entah kenapa dia merasa jahat bila perempuan itu adalah Celine. “Kakak enggak tau Ras. Yang kakak rasakan senang aja kalau ngeliat Mas Banyu. Dan sebenarnya sih ngga masalah dia punya teman perempuan. Walau beberapa kali ada teman perempuannya yang kakak usir dari rumah yang katanya teman kelompoknya. Tapi aneh aja, teman kelompok kok nempel banget seperti ulat di batang pohon sih?” katanya menerangkan. “Kakak memang salah sih. Hanya saja kak ngga bisa liat Mas Banyu sama Celine. Hanya sama dia. Entah kenapa. Kakak juga ngga ngerti.” Senyum Bening menghiasi wajahnya. Laras hanya mengangguk mengerti. Dia pun sebenarnya sudah lama mulai ngga suka dengan Celine yang selalu menjadi prioritas kakak kedua laki-lakinya itu. Entah berawal dari mana Banyu sudah mulai berubah. Dan dia merasa Banyu bukan seperti kakaknya yang humble dan hangat. “Sampai kapan, Kak, mau nunggu Mas Banyu?” tanya Laras. Laras hanya ingin tahu bukan berarti dia ngga setuju. Justru dia setuju jika Banyu bersama Bening. Hanya saja dia tidak yakin dengan Banyu karena beberapa kali kakaknya itu sudah menyakiti Bening melalui perkataan. Dan dia tidak ingin Bening lebih sakit lagi sebab dia sudah menganggap Bening seperti kakak perempuannya sendiri. “Kita ngga tahu jodoh. Jadi jalani aja,” kata Bening tersenyum tulus. Akhirnya Laras tidak bertanya apa-apa lagi karena dia tahu takkan mendapatkan jawaban yang tepat seperti yang dia inginkan. Begitulah cinta, kadang kita ngga perlu jawaban atas sebuah pertanyaan. Sama seperti cinta terkadang lebih baik tidak mendapat balasan dari pada harus ditolak di depan mata. Biarkan saja mengalir seperti air. *** “Kamu udah enakan, ‘kan?” tanya Banyu. “Iya udah kok. Kenapa?” Celine menatap Banyu lekat. “Aku mau pulang. Ada kerjaa, tadi Raka chat.” Banyu beralasan, sebenarnya bukan karena itu. Hanya saja dia melihat Celine dengan hanya memakai tanktop berwarna putih dan hotspant membuatnya gerah. Dia juga laki-laki normal walau masih waras untuk tidak melakukan hal tidak senonoh kepada lawan jenis yang bukan muhrimnya. “Kamu ngga mau lama-lama di sini lagi?” tanya Celine merajuk. “Besok kan kita masih bisa ketemu.” Banyu beralasan. “Aku pengen sekarang aja berduaan lama-lama sama kamu,” katanya sambil menggandeng tangan kiri Banyu dan mengalungkan kedua tangannya secara cepat ke leher Banyu. Banyu yang tidak sigap hampir saja jatuh dan melepaskan Celine yang merangkul lehernya dengan kedua tangannya. “Ehm, kamu jangan gini. Udah ya, besok lagi.” Banyu mencium keningnya dan beralalu. Celine kesal. Hanya saja dia berpura-pura tersenyum walau masam. Dia tahu Banyu takkan pernah bisa menolaknya jika diajak lebih dari sekedar berciuman atau apa pun itu. Dia juga tahu bahwa Banyu adalah pria yang memegang teguh prinsip sehingga susah untuk ditaklukkan dalam hal lain. Yang pasti dia sudah memastikan bahwa dirinyalah prioritas seorang Banyu sekarang. “Oke. Hati-hati ya!” Dia mengantar Banyu hanya sampai pintu depan apartement saja, tidak sampai di lift atau ke lobi bassement apartement. Setelah Banyu pergi, Celine menghubungi teman lekakinya. Dia akan pergi dan bersenang-senang. Sedangkan Banyu mengendarai mobilnya dengan banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Dadanya juga berdebar keras. “ selama ini Celine hanya berpakaian seperti itu ketika ada temannya yang datang?” batinnya. Tiba-tiba dadanya panas ketika mengingat nama itu, Bening. Akhirnya dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di rumah. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN