Chapter Three

1373 Kata
Makan siang ini terasa canggung dan tidak leluasa sebab Bening dan Rere mendominasi meja makan dengan obrolan mereka sampai Banyu jengah sendiri dan Celine hanya bisa terdiam membisu. Kala ditanya pun, dia hanya tersenyum canggung. Namun, berbeda dengan Laras yang hanya tertawa puas dalam hati tapi di luar dia hanya mengiyakan dan tersenyum maklum. Apalagi melihat dari raut wajah Celine yang tak nyaman sama sekali. “Kak Celine mau nambah?” tanya Laras basa-basi. “Eh, ngga usah, Ras. Udah ini aja,” jawabnya. “Tambah juga ngga apa-apa, kok. Masih banyak yang lain karena tante buat banyak,” kata Rere. “Iya, Tante,” katanya. “Lagian ini yang masak calon-mantu-tante. Mantu idaman banget, deh,” tegasnya seolah menekan setiap kata yang dia ucapkan. “Mama!” seru Banyu. “Mama kenapa, sih?” tanya Banyu tak terima. “Apa? Memangnya mama bilang apa?” tanya Rere menantang. “Kok kamu seakan-akan ngga terima. Padahal kan mama cuma bilang.” “Memang calon mantu mama kok yang masak. Masa orang lain. Ya nggak kan? Orang si bibi juga lagi izin ngga masuk seminggu ini,” kata Rere. “Ma, udah deh ngga usah selalu pancing Banyu untuk semua ini. Ini juga ngga seberapa banget,” ujarnya menahan amarah. Bening yang mendengar mendongak melihat Banyu yang mengatakan ini tidak seberapa. Hidungnya kembang kempis tidak terima. Tapi mau teriak jaga image dong depan mertua, Eits, maksudnya calon mertua. “Apa kamu bilang? Ini buatnya dengan cinta, ya, Banyu jangan sembarangan kamu. Mama ....” Mereka bersamaan berbicara sehingga suasana agak ribut. “Ma,” Banyu menyela, “udah dong!” pintanya. “Apa sih? Mama bilang apa emang? Ngga ada bilang apa-apa kok.” Setelahnya mereka kembali makan sampai Raka dan papa pulang. “Wah, makan enak ini. Bagi dong!” pinta Raka. Dia datang-datang langsung duduk menyerobot saja. Plak! “Cuci dulu tangan kamu!” Rere menghempaskan tangan Raka. “Ampun dah, Ma. Gitu amat sama anak sendiri,” katanya merajuk. “Katanya ngga makan di rumah.” Banyu kembali berkata karena tadi kakaknya bilang akan makan di kantor saja. “Oh, iya, udah selesai kerjaannya. Si papa ngajakin pulang ketemu sama istri tercinta katanya,” jawab Raka melihat papanya mencium kening mamanya di depan mereka dan si mama yang mengambilkan nasi untuk si papa. “Uluhuluh, romantis pisan kalian tuh,” kata Raka menggoda papa dan mamanya. “Kaya ngga ada orang aja ya di sini. Semua pada ngontrak. Dunia milik berdua. Kagak tahu apa di sini masih ada yang jomblo dan masih kecil bau kencur. Ngga lihat umur ini orang tua berdua,” sambungnya pura-pura kesal. Mama yang malu langsung saja menjewer telinga Raka. “Kamu ngatain mama? Tuh, si papa juga dong. Kamu ngga berani, ‘kan?” kata Rere. “Beraninya wae sama mama. Si papa mana berani kamu,” lanjutnya. “Elah, Mam. Ini anak mama lho, bukan kambing congek,” ujarnya tanpa dosa yang kembali dapat jeweran dari Rere. “Ma, ambilin dong sayurnya!” pintanya sambil menyodorkan piring serta nasi yang sudah diisi di atas piring. “Eh, iya, bentar,” kata mama mengambil piring dan mengisinya. “Kamu harus cobain ini, Mas. Aduh, enak banget tumis kangkung campur terasi buatan calon mantu mama,” katanya. Celine yang mendengar terasi hanya diam membisu. Sebab dia ada alergi dengan terasi. Tidak parah memang, tapi cukup membuat badannya gatal-gatal. Seluruh tubuhnya bisa merah membengkak dan agak perih. Pantes saja dia merasa kenapa ini berbeda rasanya. “Kamu kenapa?” Banyu bertanya sebab dia melihat wajah Celine sedikit pucat. “Ngga apa-apa, kok,” ujar Celine pelan. Dia tercekat, bingung harus jawab apa. Semua mata memandang namun seolah tidak peduli. Atau benar-benar tidak peduli? “Calon mantu mama? Saha euy?” Raka kembali bertanya. Jangan heran kenapa Raka berbicara campur aduk. Ya, memang mamanya orang Sunda. Sementara papanya Jogja-Betawi. Tapi dia lahir dan besar di Bandung. Berbeda dengan Banyu dan Laras yang lahir dan besar di Jakarta. Dia dan Banyu hampir beda 4 tahun. Jadi wajar kalau mereka agak tidak nampak akrab karena ketika SMP dia di Bandung, SD juga, tetapi cuma sampai kelas lima. Berbeda dengan Banyu dan Laras. Walau Laras masih SMA dan Banyu sudah kuliah, berbeda hampir 7 tahun, mereka berdua lebih dekat. “Bening, dong. Siapa lagi?” jawab mamanya dengan bangga. “Emang Bening mau sama anak mama?” tanya Raka. “Ya mau dong. Ya kan, Ning?” tanya Rere memastikan. “Kata siapa?” Laras menimpali, “Kak Bening mah cantik. Baik hatinya,” tegasnya. “Masih muda. Bisa-bisa dapat pengusaha, kaya raya lagi,” katanya kembali. “Ehe” Raka menggumam dan mengangguk menyetujui. “Ya gak dong! Bening mah udah harus jadi mantu mama,” kata Rere terkekeh. “Mama, apa-apan sih!” Banyu mulai kesal. “Kenapa itu terus yang dibahas?” “Kamu kenapa sih, Kak?” tanya mamanya, ikut kesal. “Ngga tau, nih. Perasaan dia doang lelaki di rumah ini, aneh!” Laras juga malas menanggapi tapi memanasi Banyu adalah hobinya. “Iya. Bukannya lo udah ada Celine? Kali aja buat anak mama yang lain. Sepupu kita misal, atau buat gue? Kenapa lo yang sewot?” tanya Raka menantang. “Iya. Orang di sini bukan kamu sendiri yang laki-laki,” imbuh Rere ketus. “Si papa memang ngga mungkin sama Bening. Tapi mama masih punya Galih. Walau Galih bukan kakak kandung kamu dan Raka, dia tetap anak mama dan papa. Sepupu sekaligus anak mama juga. Dari kecil mama yang jaga dan asuh.” Panjang lebar mamanya menjelaskan. “Ya kan, Ning? Mau kan sama Galih? Atau Raka?” tanya Rere memastikan. Semua mata memandang ke arahnya. Bening sebenarnya ingin Banyu, tentu saja. Tapi jika Banyu menolaknya di depan keluarganya, maka dia juga bisa kok memainkan peran sekalian saja jadi jahat, batinnya. “Iya, Tante. Bening mah yang penting tanggung jawab,” jawabnya, lagi-lagi sambil nyengir tanpa dosa dengan senyum pepsodennya yang menampakkan deretan gigi bersih dan rapinya. “Nah, gitu dong. Ada Raka juga. Ngapain kamu yang sewot banget?” “Iya,” sahut Laras. “Bener banget. Ngomo-ngomong ini enak. Jujur seratus persen dan empat jempol,” kata Raka menaikkan dua jempol tangannya. Semua tertawa kecuali dua orang yang benar-benar kesal di meja seberangnya Raka. Dia duduk di sebelah Laras dan Tante Rere, jadi dia diapit mereka berdua. Dan tepat di depannya Banyu dan sampingnya Celine. Di depannya ada Om Rendra, papa Banyu, dan di depan Om Rendra ada Kak Raka. Kebayang, kan. Begitulah mereka makan di meja makan ini. “Aduh!!” pekik Celine pelan. “Kamu kenapa?” tanya Banyu panik. “Gak apa-apa, kok,” jawab Celine, “cuma alergi aku kumat kayanya,” jawabnya yang didengar oleh semua orang. “Kamu alergi? Alergi apa? Selama ini aku kok gak tahu?” tanya Banyu. “Oh, ngga sering kumat sih. Palingan kalo terlalu dingin atau makan-makan yang mengandung asin atau air laut aja. Tapi tenang, seafood ngga, kok. Kecuali Sotong dan cumi. Udang juga ngga, kok.” Celine mencoba menangkan Banyu. “Lalu kenapa?” tanya Banyu lagi, “apa jangan-jangan ....?” Banyu terlihat berpikir dan dia menatap Celine dan mereka saling pandang, yang akhirnya dijawab dengan anggukan. “Iya. Bener. Aku ngga bisa makan terasi.” Banyu yang mendengar langsung mengambil salep apa saja yang bisa meredakan gatal-gatal di tubuh. “Ini pakai dulu, obat gatel dan alergi juga,” katanya setelah menemukan salepnya dan langsung ke meja makan. “Siapa yang buat sayur ini?” tanyanya dengan geram. “Bening,” jawab mamanya. “Kamu sengaja kan, mau racunin Celine?” tunjuk Banyu pada Bening yang hanya menunduk. Bening mana tahu ada yang alergi sama terasi di rumah ini. Orang semua baik-baik aja, batinnya. “Apa-apaan sih kamu, Banyu?” kesal Rere. “Iya, belain terus tuh perempuan. Dia udah cuci otak lo aja, Kak. Mana ada alergi terasi?” kata Laras. “LARAS!!!” bentak Banyu. “Banyu, lo jangan bentak Laras. Lo urusannya sama gue,” kata Raka tajam. Semua lalu diam. Setelahnya Banyu menyudahi makannya dan mengajak Celine pulang. Dia akan mengantar Celine karena dia juga yang membawanya ke rumah ini dan membuatnya terkena masalah. Dia heran dengan keluarganya yang sekarang. Benar-benar, ah sudahlah, pikirnya. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN