Chapter Eight

1229 Kata
Sedangkan Bening, jangan ditanya bagaimana dia senangnya hari ini. Ini masih pagi dan tadi ketika ingin menceritakan pada Naya waktunya sudah mepet. Bel sudah berbunyi, dan sekarang dia masih belajar di kelas. Naya di sebelahnya sebenarnya merasa terganggu dengan Bening yang dari tadi nyanyi-nyanyi enggak jelas. Kegirangan. Mau negur tapi malas ditegur guru balik. Ya, didiemin aja dah, batin Naya. Ketika sang guru wanita itu keluar, dia menyempatkan menyenggol kaki Bening, di bawah meja. "Aw," teriak Bening kecil. "Berisik" jawab Naya "Ih, Naya orang juga lagi seneng tahu. Kamu mah" Bening mengerucutkan bibirnya, cemberut. "Gak usah sok imut loe. Mau muntah ini gue," jawab Naya "Ih, aku seneng banget tahu Nay, ... Bening" panggil sang guru, menghentikan ucapan Bening yang ingin menjelaskan keadaannya kepada Naya. "Rasain loe" ejek Naya, sambil terkekeh. "Ih, jahat" "ya buk" lanjut Bening. "Bantuin ibu, bawakan nilai ulangan biologi kalian ya?" Pinta sang guru. "Siap buk" ujar Bening, sambil mengelus dadaa. 'untung aja' batin Bening. *** "Bening, bantuin ibu bawakan ya. Nanti dibagikan di kelas kalian. Oh, ya besok ada anak baru kaya-nya" ujar sang guru yang diketahui bernama Winda. "Baik, Bu" ujar Bening. "Langsung kembali ke kelas ya, jangan ke mana-mana" ujar Bu Winda memberi nasihat kepada Bening. "Siap, buk!!! Lagian kemana juga sih buk saya" katanya tertawa kecil. "Kali aja, lihat gebetan kamu yang main basket di lapangan. Biasanya kan begitu" ujar Bu Winda lagi menambahi. "Enggak buk. Saya enggak punya gebetan atau pacar. Hehe" malu-malu Bening menambahi, "adanya calon suami" pelannya. "Hah???" "Kamu udah mau nikah? Kamu belum lulus Ning, masih SMA kelas dua belas. Sayang juga otak kamu lumayan lho" kata sang guru membuat Bening mengerucut sebal. Sebegitu nya kah dia tidak di-izinkan dengan Banyu, sampai semua orang tidak percaya bahwa dia akan menjadi istri seorang Banyu. 'ingat aja, gue buktikan loe buk' lanjut Bening dalam hati. "Ya enggak sekarang dong buk. Saya kuliah dulu. Soalnya, dia calon pengacara, eh jaksa atau hakim ya?" Kata Bening bingung, seolah dia tidak paham jurusan seorang Banyu. Sang guru yang paham, bahwa Bening sedang jatuh cinta, atau sindrom cinta monyet pun hanya tersenyum maklum. Iya, ibu guru juga pernah muda kan ya? Kalau kagak, coba cek di mana dia tinggal. Hehehe. *** Bening tiba di kelas. Lalu meletakkan kertas hasil ulangan dirinya dan teman-temannya. "Girang beut dah lu. Kenapa? Kesambet?" Tanya Naya dengan tetap mencatat pelajaran dari papan tulis. "Hehe, aku tuh lagi seneng tahu Nay. Kamu, dukung aku seneng enggak?" Tanya Bening balik, dengan menggoyangkan kedua alisnya. "Kenaposeh Lo?" "Aku mau jalan tahu Nay, hari Sabtu" ujar Bening cengengesan. "Sama siapa loe? Kaya ada aja yang mau ngajakin jalan. Lagian, Sabtu masih lama tahu" kata Naya ngegas. "Ih, enggak ya. Orang cuma dua hari lagi kok. Ini kan Kamis" ujar Bening riang. "Iya, awas aja kalau akhirnya lu nangis enggak jadi jalan" "Naya ih, doanya jelek. Kaya tahu aja sih siapa yang bakalan jalan sama aku" rajuk Bening. "Tahu, tetangga loe itu kan? Yang sok ganteng, ngerasa kaya Nicholas Saputra, ... Lagian nih Ning, emang dia mau jalan sama kamu?" Tanya Naya balik. Sebab dia bingung mana mau Banyu jalan sama Bening, pikirnya. "Ya mau dong. Kan aku, bisa persuasif Mas Banyu" kekeh Bening dengan riang. Naya yang tahu kalau temannya mulai menghalu hanya bisa pasrah saja. Dia tahu, Banyu hanya omong kosong, kosong belaka yang mengiyakan apa pun kata temannya tapi akhirnya mengingkari membuat Bening selalu bersedih. ... "Enggak usah terlalu berharap lah" kata Naya seolah mematahkan semangat dan harapan Bening yang sudah tersimpan di dalam hati. "Aku sih enggak berharap banget, tapi berharap aja." Ujarnya nyengir. Membuat lagi-lagi Naya mendengus, sudah tahu kelakuan sahabatnya. "Kenapa loe enggak coba suka sama Alvin aja, dia kan suka sama loe. Anak basket, pintar lagi. Kelas IPA, dapat juara dan anak holang haya juga" saran Naya. Bukan sekali dua kali sebenarnya Naya memberi saran dan pendapat tapi, lihatlah sebentar lagi apa jawaban Bening yang membuat Naya memutar bola mata jengah. "Enggak cocok, bukan kriteria aku tau Nay. Kamu tahu sendiri, aku suka yang misterius dan pendiam kaya Mas Banyu" jelas Bening menghela napas. "Ya, loe cari aja yang mirip si Banyu kotor itu!!" Suruh Naya tanpa perasaan. Memang begitulah Naya. Dia mana peduli, mau Bening sakit hati apa enggak, dia cuma mu menyadarkan Bening dari cinta sebelah tangannya itu. Tapi, ya percuma. Sia-sia --belaka. "Atau, kalau mau loe sama Guntur sana.! Si juara umum, kaya-nya seru tuh" kekeh Naya. "Ih, enggak. Ketebalan kacamata si Guntur. Bukan kesemsem sama aku, malah sama buku melulu" kesal Bening, "udahlah, aku mau mencatat aja" ujar Bening melanjutkan. *** Istirahat siang, di kantin. "Nay, pesan apa?" Tanya Bening "Samain aja" sahut Naya membaca bukunya pelajarannya karena nanti ada kuis matematika. Bening selesai memesan seblak dan jus lemon tea, buat mereka berdua. Mendudukkan pantatnya ke kursi yang ada di kantin di mana Naya duduk tadi. "Loe baca apaan sih?" Tanya Bening, "Ini, buku matematika. Kita kuis Bening" ujar Naya, memutar mata. "Ish, belajar terus si Nay. Sesekali enggak usah lah" ajak Bening. "Ya, gini mau gimana Banyu kotor loe itu suka sama loe. Kalau elo aja kagak mau belajar Ning. Si Banyu itu terkenal pintar, dia ambil jurusan pengacara aja karena emang dia mau. Bukan karena enggak mampu jadi dokter. Seharusnya bisa, dan loe enggak ada cita-cita sama sekali selain begini doang? Mau jadi apa?" Tanya Naya. Naya sebenarnya jarang mengungkit cita-cita Bening, dia tidak ada masalah dengan itu. Hanya saja, kok dia merasa Bening menyia-nyiakan banyak waktu hanya karena Banyu dan dia tidak suka itu. Jujur, dia mau Bening sahabatnya kembali seperti dulu, yang cukup malu-malu aja buat suka sama Banyu. Dia merasa bersalah juga sih, bagaimana tidak? Kalau dia yang menyarankan ke Bening untuk Menyampaikan aja perasaanya kepada Banyu. Dulu, iya dia kasihan sama Bening, yang suka sama Banyu tapi malu-malu. Mending disampaikan atau diberi sinyal saja. Tapi, malah ke sini dia juga merasa bersalah. Habisnya, Bening makin ganas aja, dan Banyu juga enggak ada sedikit pun buat kasih simpati ke Bening. Kan, kesel dong dia. "Kan, dulu Naya yang bilang ke Bening kalau suka tunjukkan ke mas Banyu, kasih sinyal gitu" ujar Bening, "Iya, tapi gak harus gini juga sih Ning. Ini jatuhnya loe yang berharap sama dia sedangkan dia bodoh amat. Kasihan elu. Gue sayang sama Lo. Jangan jadikan diri loe jadi bahan cemoohan nya dia." Kata Naya tegas. Bening hanya diam mendengarkan. Naya yakin, besok juga bakalan lebih parah. Bening lagi enggak bisa diajak kerja sama apalagi soal perasaan, dia lagi bucin kata anak sekarang. Susah jadinya. "Ya udah, gue mau belajar. Loe itu dapat ranking sepuluh besar Ning, harusnya bisa jadi tiga besar. Jangan mau kalah sama yang lain. Atau paling enggak, loe bisa tunjukin nilai lima besar buat Banyu suka sama loe kek. Jangan gini lah" saran Naya. "Eh, bener sih Nay. Kali aja kalau lima besar mas Banyu mau sama aku. Bisa jadi, pas kita lulus dia mau kali nikahin aku" kekeh Bening, terasa lucu baginya. "Ngayal loe. Belajar sana!! Gue mau makan seblak dulu" ujar Naya ketika si mbak kantin, sudah memberikan pesanan mereka. *** "Hai Nay" sapa Alvin. Naya memandang Alvin dan mendengkus. "Enggak Vin, sana loe!" Ujarnya. Bening yang bingung, melihat kedua orang itu, Alvin dan Naya bergantian. "Kalian kenapa?" Tanya Bening. Seketika Alvin dan Naya melihat Bening berbarengan, dan Alvin terkejut. Dia tidak menyangka kalau Bening di sana. Dia lupa, di mana ada Naya di sana ada Bening. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN