Bening bingung dong, masa iya Naya enggak ada hubungan apa-apa sama Alvin. Tadi, katanya jodohin Alvin sama dirinya, malah dia lho yang berhubungan sama Alvin. Intens banget lagi, pikir Bening.
Bahkan saat memulai pelajaran matematika pun tadi dia tidak konsentrasi, tapi kapan sih dia konsentrasi dalam mata pelajaran itu? Tidak pernah kan? Tapi, setidaknya tidak memikirkan Naya begini lah.
Tadi di kantin, ketika dia menanyakan ada hubungan apa malah keduanya bungkam.
"Kalian, ada apa sih berdua?"
Alvin yang terkejut melihatnya, Naya yang pura-pura tidak mendengar saja.
"Ah, Bening. Enggak, itu nanya-in tentang kuis nanti. Kali aja Naya udah dapat bocoran. Dia kan termasuk juara di kelas kalian" ujar Alvin berkelit.
Bening sih, benar-benar tidak yakin ya. Tapi, dia enggak mau memaksa mereka juga. Karena benar, mencurigakan.
"Nay, ada hubungan apa sih sama Alvin? Kalian pacaran? Bukannya tadi kamu mau aku deketin dia? Atau jangan-jangan modus kamu ya? Biar dekat sama dia?" Kejar Bening, hampir saja Naya memuntahkan makanya ketika Bening menanyakan tentang jadian, tapi akhirnya dia menahannya malah tersenyum kecut sendiri kala Bening bila, dia yang malah suka sama Alvin.
"Kalau iya suka atau jadian kenapa?" Tantang Naya.
"Hahhh!!!!????" Teriak Bening,
"Bening!!!" Peringatan dari Naya, memang Bening tidak tahu tempat, di mana aja bisa teriak. Buat kesal aja, batin Naya.
"Maaf, Bening kan terkejut banget Nay" ujarnya memelas.
"Duduk!! Habiskan makannya" perintah Naya tegas.
Bening dengan sebal kembali mengikuti perintah Naya.
Entah kenapa, dia mengikut gitu aja. Dan, emang kali ini juga Bening tidak mau menanyakan perihal hubungan Alvin dan Naya lebih dalam. Takut, Naya kalau marah serem batin Bening.
Dan, Kembali sekarang. Bening tidak bisa fokus ke kuis matematika-nya ini. Bagaimana bisa fokus, memang dia tidak belajar tadi dan melihat Alvin dan Naya juga menjadi alasannya. Banyu juga, ampun sih Bening. Menepuk jidat sendiri, membuat Naya mengernyit bingung. Menyenggol lengan Bening.
"Loe, kenaposeh again?" Tanya Naya
"Eh, hm .. it-u enggak ada kok" ujarnya lancar. Walau sempat kaya orang gagu, gugup tiba-tiba ditanyain pas otaknya lagi gak bland. Ya sudahlah ya.
"Mikirin Mas Banyu" aku Bening, memng benar. Tidak sepenuhnya salah, selain Naya dan Alvin. Banyu adalah objek terbesar yang bisa dia pikirkan dan jadikan alasan saat ini.
Naya mendengkus, "orang begitu aja dipikirin. Belum tentu dia mikirin loe" sarkas Naya.
"Iya, enggak apa-apa dong." Ujar Bening cengengesan.
"Ya udah, kerjain lah kuisnya. Ini, gue bantu dikit-dikit lah ya. Cepetan tapi!! Nanti ketahuan. Malas banget gue ditangkap basah cuma gegara bantuin loe doang" cibir Naya.
Bening yang mendapat angin segar otomatis sumringah dong ya, dia melihat jawaban Naya beberapa. Setidaknya dari sepuluh soal, dia bisa menjawab dua dan melihat jawaban Naya Lima setidaknya nilai dia akan aman. Iya dong, tujuh puluh lumayan karena batas nilai matematika enam puluh lima. Setidaknya dia lebih lima. Emang dasar Bening.
***
Ketika pulang sekolah, sepertinya Bening masih juga memikirkan hal tentang Alvin dan Naya. Padahal, objek yang dipikirkan sih biasa aja. Malah terkesan, bodo amat. Agar mereka tidak terlalu dicurigai. Padahal, Naya dan Alvin sedang berkirim pesan. Tanpa Bening tahu.
Naya : loe kalau mau nanya-nanya nanti aja di rumah Vin, gue lagi sama Bening. Entar dia curiga. Gue malas jelaskan. Belom saatnya nih, dia kepo banget tadi.
Alvin : oh, oke Nay. Gimana dia? Tapi dia enggak nuntut loe cerita kan? Gue juga belum siap ngaku ke dia.
Naya : dasar!!!!! Makanya, suka bilang aja. Dasar, entar dia di ambil orang tau rasa loe
Alvin : jangan sekarang Nay!!!
Naya : oke, loe atur aja. Apa yang loe mau.
Alvin : makasih Naya, loe teman terbaik deh.
Naya : Hem, oke.
Tanpa sadar Naya mengucapkan hal yang membuat Bening curiga. "Cowok kalau ada maunya doang, 'bilang kamu baik deh, sahabat terbaik bla-bla-bla, dan sebagainya' dasar!!! Naya berucap kesal.
"Nay, kamu kenapa? Mengucap Nay. Aku takut deh" kata Bening memegang bahu sahabatnya.
"Apa?" Tanya Naya
"Itu, kamu marah-marah. Bilang cowok ini-itu, kalau ada maunya" jawab Bening.
"Oh, sorry" kata Naya dengan menutup mulutnya dan memukul kecil menggunakan tangannya.
"Oh, kamu chatingan sama siapa sih? Dari tadi asik sendiri?" Tanya Bening kepo.
"Oh, adik aku" ujar Naya
"Adik kamu kan masih SMP, bisa chat kamu?"
"Pakai hp ibuk aku dong Ning, dia udah pulang juga. Dijemput" ujar Naya memberi alasan.
"Tapi, ..." "Udah ayo, katanya mau main Timezone... Mending kita cepat, ayo. Biar enggak kelamaan pulang" ujar Naya.
"Oh, iya oke. Ayo!!!" Ajak Bening balik.
Tidak lama, mereka mendapatkan bus dan naik, sampai ke tempat tujuan, Timezone yang tidak jauh juga dari rumah mereka. Tapi, jika jalan kaki cukup jauh, memakan waktu tiga puluh menit.
"Ayo, main!!!!" Seru Bening riang.
"Ayoooo," balas Naya
Mereka bermain, sampai akhirnya lelah. Ya, mereka udah bilang kok sama orang tua mereka tadi. Beneran, mereka juga jarang-jarang bisa begini. Kurang lebih tiga bulan lagi, mereka harus ujian. Dan akhirnya, mereka lulus. Bening tidak punya universitas dan jurusan idaman. Tapi, kalian tahu kan? Untuk membuat Banyu bangga, dia akan masuk universitas negeri juga seperti Banyu tapi tidak satu universitas dengan Banyu. Dia maunya sama dengan Naya. Walau beda jurusan.
***
"Beb, beneran kan? Sabtu kamu jalan sama aku. Udah jarang loe kita me time berdua" kata Celine.
"Iya, nanti Sabtu aku beneran datang kok. Kamu kan tahu aku enggak pernah lupa sih" ujar Banyu melepaskan genggaman tangan mereka berdua. Entah kenapa dia merasa enggak nyaman aja, digenggam oleh Celine berdua di tempat umum.
"Kamu mau makan apa?" Kembali Celine mengambil tangan Banyu untuk digenggam.
Banyu yang merasa tidak enak juga tidak mau membuat Celine sakit hati, akhirnya hanya pasrah saja.
"Makan apa ajalah" ujar Banyu.
"Eh, bentar deh. Itu bukannya Bening?" Tunjuk Celine ke arah Bening dan Naya.
"Iya," jawab Banyu singkat.
"Mereka kan mau ujian, lagian mereka kan harusnya bukan di sini, anak SMA harusnya udah pulang. Jam dua lho" kata Celine.
Entah memang sengaja atau memang dia peduli terhadap Bening, tidak ada yang tahu. Tapi, bagi Banyu perkataan Celine ada benanrnya. Harusnya Bening, enggak di sini tapi kenapa dia di sini? Buatlah dia izin dengan ibunya tapi ini sudah jam dua lebih. Anak SMA mana yang berkeliaran begini? Pikiran Banyu mulai tidak tenang, tapi mencoba biasa saja.
"Kamu enggak menegur dia buat pulang? Nanti malah kebablasan, sampai malam gimana? Enggak baik lho pandangan orang nanti. Apalagi kamu tetangga dia kan? Bilang aja pelan-pelan beb" ujar Celine seolah menghasut Banyu.
Banyu yang masih berdiam dan seakan tidak peduli yang sebenarnya mulai goyah, dia melempar pandangan ke arah lain agar tidak melihat Bening.
Begitu pun Bening, dia melihat Banyu dan Celine. Jangan bilang dia tidak sakit hati, dia juga ingin berada di dekat Banyu seperti itu tapi Banyu pasti tidak mau. Dan, lagi pula benar kata Naya. Dia tidak boleh berharap. Jadi, dia harus agak jual mahal dikit, biar enggak dikira ngejar banget deh. Padahal, iya. Walau hati, bergemuruh banget di dalam ye kan.
***