Sammy memungut pakaiannya kembali setelah bercinta dengan Arini. Dia tidak bisa merasa puas seperti saat dia menikmati tubuh Hanny istrinya sendiri.
Padahal sudah biasa dirinya melakukan bersama Arini. Entah kenapa dia menjadi ketagihan milik Hanny daripada Arini.
Bahkan mungkin milik wanita lain. Hanny mampu membuat dirinya terhipnotis karena sudah merasa aduhai milik Hanny yang telah pecah perawan.
Argh... Dia bisa melihat darah perawan dari seprai kamar miliknya. Dan dia tahu itu milik Hanny.
Sekarang dia justru mencari perempuan yang dia anggap tak berguna tersebut. Yang akan menyusahkan untuknya.
Sammy keluar kamarnya, mencari Hanny yang sudah tidak ada di ruangan manapun termasuk kamarnya.
Dia memutuskan mencari Hanny, karena dia juga mengingat kakek Hanny minta menjaga Hanny.
"Dimana lagi sih buta itu. Kerjanya merepotkan gw aja." Kata Sammy pada dirinya sendiri.
Sammy menjadi orang bodoh itu, dia merasa buruk karena tidak mengetahui nomor ponsel Hanny."Kenapa gw enggak tau nomor ponsel dia."
Ketika dia kembali, ia melihat Satya sahabatnya yang mungkin ingin ke apartemennya. "Satya, ngapain lo."
"Yaelah.. pakai nanya lagi. Gw mau nyerahin berkas. Lo enggak ada di kantor pusat, ya gw kesini lah." Sahut Satya memberikan berkas map berwarna kuning. "Lo kenapa? Kok bingung gitu."
"Lo lihat enggak ada perempuan buta lewat sini."
"Buta? Memangnya siapa?"
"Istri gw."
Satya tak terkejut sama sekali dengan perkataan Sammy. Karena Satya sudah mengetahui jika Sammy harus menikahi anak sahabat orang tuanya demi warisannya.
Untuk bagaimana bentuk istri Sammy, dia sama sekali tidak tahu. Bahkan nama istrinya saja dia tidak tahu sama sekali.
"Lo yakin enggak lihat, Sat." Tanya Sammy dengan pandangannya celingak-celinguk ke arah lain.
"Kapan sih gw enggak Jujur sama lo." Ujar Satya menepuk pundak Sammy.
"Ya udah gw cari dulu dia. Lo balik aja. Besok gw ke hotel."
"Oke." Jawab Satya dengan teriak karena Sammy sudah berlari ke arah luar.
***
Di supermarket Hanny, berbelanja keperluan untuk di apartemen dan dirinya sendiri. Dia berbelanja berbagai macam, dari beras, bumbu instan, dan beberapa ayam segar dari supermarket tersebut.
Bahkan tanpa terasa dia sudah lama disana, cuaca bahkan hampir gelap. Ia mulai membayar di kasir.
Dirinya lumayan banyak membawa belanjaannya. Bahkan dia sangat kesulitan. Ia pun pulang ke apartemen.
Tak perlu waktu lama untuk sampai apartemen Sammy itu. Hanny membuka apartemen, dan dia harap Sammy sudah menyelesaikan aksi ranjang bersama perempuan tak di kenalnya.
Hanny meletakkan belanjaannya di atas meja makan dengan rapih, dia merasa lelah. Hanny memutuskan mandi lebih dulu.
Setelah mandi Hanny yang menggunakan dress tidur yang tipis sekali, rambut yang terurai basah.
Ia membereskan belanjaannya, ia memasuki telur, ayam, dan beberapa sayur di kulkas. Sementara bumbu sudah ia letakkan di lemari dapur dengan ia memasak.
"Dimana Sammy? Apa dia pergi dengan kekasihnya? Ah baguslah.. setidaknya aku bebas." Gerutu Hanny melihat sekitar apartemen Sammy yang tampak sepi.
Terdengar suara decitan pintu Apartemen terbuka, Hanny pasti tentu bisa menebak itu siapa? Tentu saja Sammy datang dengan meraung pada Hanny.
Dengan santai Hanny duduk di meja makan, dia tahu Sammy akan mendekat padanya. Tapi Hanny tidak tau Sammy akan memarahinya.
Sammy dapat dengan nafas tersenggal, karena dia berlari dari parkiran setelah mendapat kabar dari satpam apartemennya, jika istrinya Hanny sudah kembali.
"Bisa tidak kamu tidak menyusahkan aku. Kamu darimana aja?" Sammy menaiki pita suaranya meninggi.
Hanny yang memunggungi Sammy merasa heran, dia mengeryit dahinya. 'Apa maksudnya?' Ucap Hanny dalam hatinya.
"Aku enggak ngerti."
"Jangan pura-pura bego kayak gini. Kamu tahu tidak, aku cari kamu."
Mendengar hal tersebut, Hanny membalikkan tubuhnya spontan. Dia berpura meraba tubuh Sammy. "Ngapain kamu cari aku."
Hanny berusaha menelisik raut muka Sammy dengan ketenangan yang ia miliki sendiri.
Sementara Sammy terpaku diam, ia melihat Hanny yang tampak cantik dan seksi. Tanpa sadar juniornya di bawah sana sudah menegang.
"Sam, kok diam. Perasaan baru beberapa menit yang lalu kamu gerutu enggak jelas." Tegur Hanny.
"Ka--kamu tu ya!!" Sammy gelagapan menetralkan dirinya sendiri. "Jangan banyak nanya, seharusnya kamu tahu dong kenapa aku cari kamu."
"Kenapa memangnya."
"Ya aku khawatirlah. Kamu tu--"
"Apa kamu khawatir." Hanny berkata sambil tersenyum. "Cie... Kamu udah cinta sama aku sampai panik."
"Eh.. jangan kege'eran ya kamu. Aku khawatir karena kamu 'kan buta kalau ada suatu yang terjadi gimana. Ntar aku disalahkan sama kakek kamu." Sammy berkata dengan muka datar lalu pergi dengan berburu.
Gila.. Gila.. Jantung Sammy mendadak menggebu kencang. 'Kenapa perasaan jadi enggak karuan gini ya.' batin Sammy.
Kini laki-laki itu sudah berdiri dibalik pintu kamarnya, dirinya mengusap wajahnya dengan kasar. "Itu perempuan belum sebulan jadi istri gw, udah bisa buat stress aja." Gusar Sammy membanting tubuhnya di kasur.
***
Hanny menjadi tersenyum sendiri, di tempat Sammy pergi meninggalkannya. "Astagfirullah.. ngapain juga senyum sendiri. Ya ampun Hanny jangan baper dengan sih m***m itu." Hanny menepuk berkali-kali pipinya untuk menyadari dirinya sendiri. "Ingat Hanny dia Gila!!"
Huft.. Hanny menggeleng cepat, dia kembali ke kamarnya. Mendadak ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
0852xxxxxx
Hi...
"Siapa ini." Hanny mengkerut dahinya melihat pesan tersebut.
Dia berpikir hanya orang iseng yang ingin mengerjai dirinya. Dan tidak mungkin ada pesan masuk, kecuali kakeknya. Karena tidak ada yang tahu ternyata Hanny bisa melihat.
Hanny pun memutuskan untuk tidak membalasnya, namun ternyata nomor kenal tersebut kembali mengirim pesan.
0852xxxxxx
Maaf Hanny aku ganggu kamu ya. Aku Satya yang tadi ketemu di apartemen.
"Oh.. jadi dia." Kata Hanny yang sudah berbaring dengan posisi menelungkup.
Hanny
Iya.
Satya
Kamu ada waktu enggak besok. Gimana kita ngobrol
Hanny
Gimana ya?? Aku belum tahu, ntar aku kabari deh.
Satya
Okey. Ditunggu.
Sesudah membaca pesan itu, ia meletakkan ponselnya sembarang.
Dia masih terbayang kejadian dia bersama Sammy, bagaimana Sammy menyentuh tubuhnya. Hanny merasakan gelisah. Dia memutar balik tubuhnya terus menerus. "Kalau aku hamil anak dia gimana?"
Huh... Hanny benar-benar merasa otak tidak bisa bekerja dengan baik. Kali ini seperti ia butuh udara segar menenangkan hatinya sendiri.
Hanny keluar dari apartemen, kebodohan Hanny saat ini adalah pakaiannya yang dapat menggoda pria manapun dengan tubuhnya yang seksi. "Dingin juga ya di luar."
Berbeda dengan Sammy yang tak tenang, ia memutuskan melihat Hanny di kamar istrinya itu. "Sopan enggak ya gw ngintip dia." Sammy menggigit bibirnya dengan memijit dahinya.
Sebelum membuka pintu kamar Hanny, Sammy menghela nafas panjangnya. Dia sedikit ragu berbalik hendak ingin kembali ke kamarnya.
Namun langkahnya kembali terhenti dan berbalik didepan pintu itu. Sammy memukul kepalanya berulang kali dengan mengepal tangannya.
Akhirya Sammy membuka pintu kamar Hanny sedikit, dia melotot dan membuka lebar pintu kamar Hanny yang tidak ada siapa pun.
"Hanny...Hanny.." Panggil Sammy panik. "Astaga Hanny!! Dia benar-benar suka buat gw repot." Geram Sammy berlari mencari Hanny.
Sammy mencari seluruh ruangan apartemen. Tapi tidak ada Hanny sama sekali.
Hanny berjalan di lorong apartemen menikmati udara malam itu, saat bersama ada seorang pria berjalan berlawanan dengan dirinya.
"Hei.. Sendiri aja." Tegur pria itu.
Hanny tidak ingin bertindak ceroboh kedua kalinya, seperti sebelumnya bertemu dengan Satya. Ia harus bersandiwara lagi seolah buta, pandangannya kosong ke depan. "Iya, Maaf. Saya harus pergi."
"Oh.. kamu enggak bisa lihat."
"Iya Saya buta." Tampak pria itu tersenyum kemenangan mengetahui Hanny buta.
'Kayaknya aku harus hati-hati sama ini orang, dia kelihatan bukan orang baik.' Pikir Hanny.
Hanny masih dalam keadaan tenang, dia berusaha menjauh dari orang yang tidak sama sekali tidak dikenalnya.
Tapi pria itu memang terlihat jahat. "Maaf saya harus kembali ke apartemen." Kata Hanny dengan lembut.
"Ayolah. Gimana kalau kita senang-senang." Lelaki itu menyentuh lengan Hanny.
Hanny merasa geli, ia mendengus kesal pada orang yang tak di kenalnya tersebut. "Jangan menyentuh saya. Kalau tidak kamu akan menyesal." Ancam Hanny geram.
"Jangan jual mahal, ikut aku."
"Lepaskan.. jangan kurang ajar!!" Teriak Hanny.