6. Sih Galak Perhatian

1450 Kata
"Lepaskan.. jangan kurang ajar!!" Teriak Hanny memberontak. "Ayolah cantik.. kita se--" BRUK "JANGAN SEKALI-KALI GANGGU ISTRI ORANG. PAHAM." Ucap Sammy setelah menghantam muka pria tersebut. "Anda tahu siapa saya 'kan." Tanpa menjawab apa pun lagi, Laki-laki itu berlari menjauh dari Sammy. Sementara Hanny ketakutan, tubuhnya bergemetar. Dia terdiam, memandang bagaimana kemarahan Sammy menghajar orang telah menganggunya. Bukan hanya sekali tapi berulang kali Sammy menghajarnya. "Oh my God, Hanny. Kamu tu keterlaluan banget sih jadi orang. Kamu tau enggak ini jam berapa. Ini tengah malam, kalau suatu terjadi sama kamu gimana?" Untuk pertama kali Hanny tidak melawan Sammy, dia hanya mematung. "Tau enggak ini jam berapa. Ini udah tengah malam, kamu kelayapan kayak kalelawar aja." Gerutu Sammy pada Hanny. "Ayo." Sammy menarik tangan Hanny ke kamarnya. Hanny tidak bicara satu kata pun dia masih menatap Sammy, seolah kebenciannya melunak saat ini. 'Hanny ada apa denganmu? Kenapa rasanya aku menjadi bodoh dihadapannya.' "Aawwhh.." Hanny tanpa sengaja menabrak meja saat itu. "Makanya jalan pakai mata." Cela Sammy. "Sini aku lihat. Sakit enggak kaki kamu." Kata Sammy melihat lutut Hanny. "Aku butakan." Akhirnya dia mengeluarkan suara. "Astaga.. aku lupa." Sahut Sammy. "Kamu tunggu disini, aku ambil obat dulu ya." Sammy mengambil kotak obat di dapur. Karena lutut Hanny sedikit memar. Tentu saja, Hanny menabrak meja yang terbuat besi. "Dia tadi tolong aku." Kata Hanny pada dirinya sendiri. Hanny masih termangu, kejadian yang barusan membuat dia merasa aneh. Dari jantung yang berdetak cepat, hingga sampai kakinya menjadi lemas. Dan bodohnya dia menabrak meja, Hanny menjadi salah tingkah seperti ini. Padahal tadi pagi dia masih sangat membenci Sammy, lalu kenapa sekarang lututnya bergegar hebat. "Sini kaki kamu." Sammy mengangkat kaki kiri Sammy yang menumbruk meja ke pahanya. "Ini kalau enggak obat bisa membengkak." "Ini sakit enggak?" Tanya Sammy memijat kaki Hanny. "Sakit sedikit." Ringis Hanny namun masih bisa di tahannya. Sammy mengoleskan obat tersebut. Tanpa sadar ia memperhatikan muka Hanny yang tersenyum padanya. "Hanny, kamu ini buta enggak sih." Mendengar penuturan Sammy, Dia langsung membuyarkan pandangannya. "Ma--maksud ka--kamu." Gagap Hanny. "Memangnya aku mandangi kamu ya." Sammy memandang Hanny penuh rasa curiga. Dia melambai tangannya dihadapan wajah Hanny yang terlihat tidak berkedip sama sekali. 'Dia buta tapi kok kayak mandang gw ya.' batin Sammy. "Sekarang lebih baik kamu tidur sana." Gerutu Sammy. "Jangan repotkan aku terus." Sammy lebih dulu beranjak dari Hanny. "Sam, tunggu." "Ada apa lagi." Sammy berbalik menoleh Hanny. "Makasih ya. Tadi kamu udah tolong aku." Seru Hanny tersenyum. "Hemmm." Sahut Sammy lalu pergi. *** Pagi harinya Hanny sudah lebih dulu bangun dari Sammy. Dia membuat sarapan untuk Sammy. Walau pun Hanny tau jika Sammy tidak memakannya. Sammy sudah siap untuk berangkat kerja dengan penampilan stelan jas yang di gunakannya. "Pagi." Sapa Hanny tersenyum. "Pagi, kamu mau sarapan enggak." Tanya Hanny. "Kamu kok bisa tau aku disini." "Kan aku punya telinga. Aku bisa dengar dari suara langkah kaki kamu." "Aku buru-buru. Bekali aja, ntar aku makan di kantor. Jangan lupa bereskan apartemen. Awas aja aku pulang berantakan." Ujar Sammy dengan nada tegasnya. "Benaran." "Iya cepatan. Ntar aku berubah pikiran." Hanny nampak senang, ia menjadi bersemangat. "Tunggu ya. Aku siapkan. Kamu duduk aja ya." "Hmmmm." Sammy menunggu di sofa, sementara Hanny masih di dapur memasukkan bekal Sammy ke kotak nasi. Setelah menyiapkan Hanny menghampiri Sammy yang sudah menunggunya. "Ini di makan ya." "Ya, makasih. Ingat pesan aku. Bersihkan apartemen dan satu lagi jangan keluar selama aku kerja. Ngerti." "Iya.." "Ya udah aku pergi dulu. Assalamualaikum." "Wa'alaikumsalam." Sammy berjalan sambil melihat kotak nasi dengan senyum di wajahnya. "Astaga lo, Sam. Ngapain lagi senyum. Lo nikahin dia hanya untuk warisan doang. Ingat itu." Kata Sammy pada dirinya sendiri. Hanny tersenyum menutup pintu. Ia tak menyadari perasaan apa yang sudah menghinggap di dirinya saat ini. "Sebenarnya aku kenapa sih." Drrtt.. Drrttt.. Ponsel Hanny berdering, dia melihat kakeknya menelpon. Hanny sangat bersemangat mengangkatnya. "Assalamualaikum, Kek." "Wa'alaikumsalam, sayang. Gimana kabar kamu, Hanny." "Alhamdulillah baik, Kakek sehat kan." "Iya sayang. Suamimu udah tahu kamu tidak buta." "Belum, Kek." "Hanny.. lebih baik beritahu dia. Kalau dia tahu kamu berbohong, akan jadi masalah hubungan pernikahan kalian nanti." "Iya, Kek. Hanny beritahu disaat yang tepat. Sekarang kayaknya belum waktunya aja." "Ya sudah kalau gitu kakek tutup dulu ya." Tutup Kakek. Hanny memulai kerjaan yang sudah menjadi rutunitasnya sekarang. Dia menyapu semua ruangan tersebut. Mengepel, membersihkan balkon. Bahkan mencuci seluruh pakaian Sammy maupun dirinya. Lelah.. Tentu saja tubuh Hanny sangat lelah saat ini, setelah melakukan banyak pekerjaan rumah. "Ya Tuhan capek sekali." Kata Hanny yang merebah tubuhnya di sofa. *** Sammy sudah duduk di ruang kantor, dia memgurus beberapa berkas yang harus di tangannya. "Candy, jam berapa meeting siang ini." Tanya Sammy pada Candy sekretarisnya. "Jam dua siang, Pak." Jawab Candy. "Saya minta percepat mettingnya, karena Saya ada urusan dengan Satya di hotel." Ucap Sammy dengan tegas. "Baik, Pak." Kata Candy lalu pergi. Sammy mengeluarkan kotak nasi dari Hanny yang ada di tasnya. "Kenapa gw mau aja terima makanan dari dia." Perlahan Sammy membuka kotak yang berisi nasi goreng, dengan lauk ayam goreng. Sammy membuka mulutnya, ia coba memakan masakan Hanny. "Pintar juga Hanny masak. Enak." Sammy menjadi lahap memakan nasi tersebut. Dia pun mengulas senyum. "Astaga.. ada apa sama lo, Sam. Lo enggak boleh jatuh cinta sama dia." Gerutu Sammy pada dirinya sendiri. "Pagi sayang." Sapa Mira yang memasuki ruangan Sammy. "Mami." Lirih Sammy. "Kenapa Mami tidak menelpon mau kemari." "Apa harus menelpon untuk menemui anaknya sendiri." Mira melihat kotak nasi yang sudah hampir habis. Ia merasa jika Sammy sudah menaruh hati pada istri Sammy yang belum dia lihat. "Sam, kamu makan dari kotak ini." "Ee--" Sammy terbata. "Iya, Mi." "Jangan bilang kamu sudah mulai jatuh cinta dengan istrimu itu. Ingat ya, Sam. Tujuan menikahi dia karena warisan milikmu." Gerutu Mira yang sudah duduk berhadapan Sammy. "Mami, jangan khawatir. Aku tidak akan mengecewakan mami." "Itu lebih baik. Minggu depan ada acara ulang tahun nenek, sekaligus penyerahan warisan kamu." Seru Mira. "Ah.. Iya. Nenek ulang tahun. Lebih baik makan malam keluarga saja, Mi." "Iya kamu benar" Mira seperti biasa kesayangannya hanya untuk meminta uang pada Sammy untuk berbelanja. Padahal setiap bulan Sammy selalu memberikan lebih uang pada Mira. Tapi perempuan seperti Mira serakah, dia selalu saja meminta lebih pada Sammy, tanpa sepengetahuan neneknya Leli. Dan bodohnya Sammy selalu saja menuruti keinginan Mira itu. Apa saja pasti ia turuti. "Terima kasih, sayang. Mami pulang dulu." "Iya, Mi. Salam buat nenek ya." "Iya. Bye." Sammy meminta Candy mengubah tempat meeting di hotel miliknya, karena dia ingin bicara dengan Satya lebih dahulu. Dan untungnya klien Sammy menyetujui permintaan Sammy. Jadinya dia tidak perlu lama, agar bisa bertemu Satya. Sammy pun pergi ke hotelnya. Jarak hotel dari kantor tidaklah terlalu jauh. Hanya butuh lima belas menit, dia sudah sampai. Dan kini dia sudah berjalan memasuki hotel tersebut. Semua karyawan menghormatinya, tepatnya takut dengan dirinya. Disaat bersamaan dia melihat tamu hotel memarahi karyawannya. "Mana manager hotel ini." "Ada apa ini. Kenapa anda terlihat sangat marah." Tanya Sammy pada tamu itu. "Saya ingin bertemu manager hotel ini." Kata tamu dengan suara yang menyaring. "Saya pemilik hotel ini." Sammy berkata dengan angkuh. "Oh.. begini ya, Pak. Saya mau anda pecat dia. Karena dia sudah merugikan saya. Bapak tahu Saya sudah bilang jangan memberi seafood pada makanan untuk istri Saya tapi dia tuli, dan sekarang istri saya sakit. Dimana tanggung jawab hotel ini." Ngerundel tamu itu. Sammy melirik cheff yang sudah menunduk takut padanya. Sammy seolah geram, ia menggigit giginya. "Jangan khawatir, kami akan bertanggung jawab. Bapak tidak perlu membayar tagihan tersebut." "Bagus, kalau gitu Saya tinggal." "Baik, terima kasih pengertiannya." Ucap Sammy dengan ramah. Lalu setelah memastikan tamu pergi, dia memandang bengis pada cheff tersebut. "Kamu bisa kerja enggak!!" "Maaf, Pak." "Kamu saya pecat. Ambil gaji kamu bulan ini di bagian keuangan." "Pak, saya mohon jangan. Ibu saya sedang sakit. Saya butuh uang." "Saya tidak perduli dengan masalah pribadi kamu. Yang saya perduli kan kehormatan hotel. Sekarang juga kamu bukan lagi karyawan hotel ini." Ah.. begitulah Sammy dia kejam dengan bawahannya. Dia tidak perduli kesalahan yang buat karyawan dia yang malang. Dia meninggalkan karyawan untuk yang menangis karena ulah Sammy. Ia pun pergi keruangan Satya, manager hotel tersebut. "Sat, lo kalau rekrut karyawan yang bener dong." Ujar Sammy masuk keruangan itu. "Maksud lo apaan? Datang-datang udah bawel aja." "Barusan gw pecat salah satu cheff lo." "Siapa?" "Gw enggak tau siapa namanya. Dia udah ceroboh, tamu kita kecewa sama dia." Rungut Sammy. "Lo kejam banget. Lo udah dengar penjelasan dia." "Ngapain gw dengarin. Enggak penting. Lo kan tau gw enggak suka ada kesalahan." "Lo pikir cari cheff pengganti itu gampang." Gerutu Satya mendengus kesal. "Itu tugas Hrd." Kini mereka membahas suatu berkas penting tentang pembangunan hotel baru di Balik papan. Sammy memang selalu mempercayai Satya dengan segala urusan bisnisnya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN