Malam harinya Sammy sudah pulang ke apartemennya, ia pulang lebih larut dari sebelumnya karena ada urusan mendadak yang harus di selesaikan malam itu juga.
"Astaga.. Capek banget." Ujar Sammy membuka pintu yang ruangannya masih tampak gelap. "Hanny, kemana? Kenapa lampu belum hidupkan juga. Bukannya gw udah bilang enggak usah kemana-mana!!"
"Seharusnya suami pulang disambut ini malah kelayapan. Nyusahin gw lagi deh." Gerutu Sammy sambil ia membanting tubuhnya di sofa.
Namun terlihat seorang yang juga terbaring disana. "Ngapain juga dia tidur disini." Kata Sammy merungut pada Hanny yang matanya terpejam.
Sammy melekat pada Hanny, ia mengguncang tubuh Hanny. Tapi tidak ada pergerakan, justru tubuh Hanny mengigil. Badannya panas. "Loh.. Badannya panas. Dia demam. Aduh.. lo ya nyusahin terus kerjaannya. Udah gw capek! harus bawa lo ke rumah sakit lagi."
Sammy masih dengan pakaian kerjanya, hanya saja dia tidak menggunakan jasnya. Ia menggendong Hanny dari apartemennya sampai ke parkiran.
Ia pun melaju dengan kecepatan tinggi, setelah menduduki Hanny di sampingnya. Bukan saja itu, Sammy memasangkan jasnya ketubuh Hanny yang dalam keadaan panas tinggi.
Saat sampai rumah sakit, ia dengan cepat membawa Hanny ke ruang dokter yang di nolong oleh perawat disana.
"Dok, gimana keadaan istri saya." Tanya Sammy pada dokter di ruangan Hanny di rawat.
"Oh.. Jadi anda suaminya."
"Iya, Dok. Dia enggak papakan."
"Hanny hanya gelaja tipis, dia kecapekan. Itu aja, nanti ketika udah sadar. Dia sudah boleh pulang kok."
"Makasih kalau gitu, dok."
Tak lama dokter meninggalkan ruangan Hanny tersebut. Sammy menemani Hanny duduk disamping ranjang Hanny, ia bersender dengan tangannya melipat di d**a menunggu Hanny sadar.
Hanny pun tersadar, ia melihat ruangan yang berbeda dari apartemen. Sontak dirinya kaget, apalagi dihadapan ada Sammy melotot ke arahnya.
"Udah sadar." Sammy berkata dengan nada dinginnya.
"Ak--"
"Kamu sekarang dirumah sakit. Kata dokter kamu gejala tipis." Potong Sammy.
"Kamu yang bawa aku kemari."
"Memangnya siapa lagi yang bersedia bawa kamu kesini selain aku."
"Galak amat. Aku kan nanya baik-baik."
"Berisik. Itu tadi aku beli makanan. Makan ntar tambah sakit. Aku lagi yang repot."
Bibir Hanny mengerucut sebal. 'Benar-benar nih orang ya. Nyebelin banget.' pikir Hanny.
"Mana makanannya." Tanya Hanny.
"Itu samping kamu."
Hanny berpura meraba seolah tak dapat melihat.
Memandang tingkah Hanny, Sammy menghempaskan nafas beratnya. Ia merasa kesal karena Hanny membuat dirinya harus melakukan suatu yang tidak di sukanya. "Biar aku aja suapin. Kamu kelamaan." Ucap Sammy bersungut jengkel, ia mengambil makanan yang di meja samping Hanny.
Hanny mengulum senyumnya pada Sammy. Ia merasa lucu dengan sikap Sammy yang luar biasa untuknya.
"Ngapain kamu senyum. Puas ngejek aku."
"Siapa yang ngejek kamu. Ge'er!!"
"Secara kamu enggak bisa lihat buka mulut lebar-lebar." Ujar Sammy sudah siap ingin menyuapkan makanan mulut Hanny. "Cepatan!! Enggak usah pakai lama, apalagi senyum kayak gitu."
"Iya-iya.. Sabar kenapa." Ujar Hanny memajukan bibirnya.
Untuk pertama kali Hanny merasa ada sisi baik dari sikap tak berperasaan Sammy yang angkuh.
"Setelah kamu selesai makan kita pulang." Sammy berkata dengan gamblang.
'Baru aja aku pikir dia baik. Kumat lagi penyakitnya.' Hanny berdecak dalam hatinya. "Iya." Sahut Hanny dengan singkat.
Sammy pun kembali memboyong Hanny ke apartemennya. Ia bahkan mengantar Hanny hingga di depan kamarnya.
"Tidur sana! Biar cepat sembuh."
"Iya, makasih." Kata Hanny lalu berjalan keranjangnya.
Diam-diam Sammy masih berdiri depan pintu kamar Hanny yang tidak tertutup rapat. Dia hendak memastikan Hanny tertidur, baru Sammy kembali ke kamarnya. Dia mengulas senyumnya di balik pintu Hanny. "Selamat malam, Hanny." Ujar pelan Sammy lalu pergi.
***
Keadaan Hanny lebih baik, ia memulai rutinitasnya memasak pagi harinya. Hari ini Hanny berniat ke makam orang tuanya.
Karena dari kecil Hanny jarang sekali mengunjungi makam orang tuanya yang ada di jakarta.
"Pagi. Kamu ngapain masak. 'Kan masih sakit." Seru Sammy.
"Ntar.. kalau aku enggak masak. Kamu makan apa?"
"Aku bisa pesan makanan."
"Oh..ya. Aku boleh keluar."
"Mau kemana lagi. Kamu tuh enggak bisa ya jadi istri diam dirumah doang." Gerutu Sammy yang sedang sarapan.
"Aku mau ke makam orang tuaku."
"Makam mereka disini?"
Hanny mengangguk perlahan, ia sangat berharap Sammy mengijinkannya.
"Aku yang antar, nanti makan siang aku jemput." Kata Sammy. "Aku pergi dulu. Assalamualaikum." Putus Sammy Lalu pergi.
"Wa'alaikumsalam. Aku kan belum selesai bicara main pergi aja." Hanny berucap dengan lirih.
Sebenarnya Hanny bukan saja ingin ke makam. Ya tapi sepertinya Sammy sudah jauh. Hanny ingin mencari tahu tentang Rio anak sahabat orang tuanya.
Hanny pun memutuskan pergi sendiri sebelum makan siang. Dan secara kebetulan Satya diparkiran apartemen.
"Hanny." Panggil Satya yang melihat Hanny berjalan sendiri.
"Satya.. Kemari lagi. Mau bertemu dengan sahabatmu."
Satya menggeleng. "Tidak, Aku ada urusan. Ingin bertemu seorang. Kemarin pemilik hotel tempatku bekerja dia memecat salah satu cheff."
"Wow.. kejam sekali."
"Kamu bisa masak."
Hanny mengusap lehernya sambil memutar bola matanya seakan berpikir. Sebenarnya tidak ada salah jika Hanny bekerja. Lagi pula dia tidak ada kegiatan lain. "Bisa. Tapi aku hanya bisa bekerja paruh waktu. Sore Hari aku sudah harus pulang."
"Oke. Aku bisa atur untuk itu, Besok kamu ke hotel bawa cv."
"Baiklah."
"Ngomong-ngomong mau kemana."
"Kamu tahu alamat ini enggak."
Hanny memberikan alamat Rio yang padahal orang yang ia cari suaminya sendiri pada Satya. Tentu saja membuat Satya merasa aneh. Bagaimana Hanny tau alamat Sammy sahabatnya sendiri.
"Ini alamat siapa?"
Hanny tampak gugup, dia tidak ingin ada yang tahu tentang dirinya yang mencari tahu tentang Rio. "Eeh... Itu alamat teman lama kakekku." Bohong Hanny menarik nafasnya panjang.
Syukurnya Satya Sama sekali tidak curiga pada Hanny. Satya pun waspada dan hanya menggeleng pada Hanny.
Karena Sammy berpesan jangan memberitahu tentang dirinya sembarang orang.
"Oh.. Sayang sekali ya."
"Kalau begitu aku pergi dulu ya."
Satya mencekal tangan Hanny. "Tunggu, Han. Kalau tidak keberatan Aku akan mencari tahu alamat itu."
"Benarkah." Sumringah Hanny sembari memegang tangan Satya karena terlalu semangat.
"Iya aku akan nolong kamu. Kamu tuh orang baru disini. Bahaya." Jawab Satya dengan senyum.
Hanny pun memutuskan kembali ke apartemennya. Ia merasa beruntung Karena telah bertemu dengan Satya yang baik padanya.
Sementara Satya sebenarnya sudah menaruh hati pada Hanny sejak awal pertemuan mereka berdua. Tentu saja Satya merasa senang jika Hanny bekerja di hotel tempat dia bekerja.
Setelah beberapa jam Hanny di dalam apartemennya. Ia selalu menatap pintu berharap Sammy cepat kembali sesuai dengan janji pria tersebut.
Dia bahkan sudah memasak untuk Sammy, agar pria itu saat datang bisa langsung makan. Tapi sampai sekarang Sammy belum juga datang.
Ya.. Sammy bahkan dia lupa jika memiliki janji pada Hanny siang itu. Dia justru pergi untuk bertemu Arini Karena Mira yang meminta.
Arini memang sangat dekat Mira. Kadang Sammy berpikir mereka seperti anak dan ibu yang selalu kompak.
'Ya ampun mereka lama sekali.' pikir Sammy yang duduk sambil membaca majalah. "Lapar lagi." Kata Sammy pada diri sendiri.
Saat bersender menunggu kedua wanita tersebut. Secara kebetulan Sammy melihat Lelly neneknya di temani asisten rumah tangga berbelanja di mall tersebut.
Dia menghampiri sang nenek sebelum wanita tua itu yang mendekatinya. "Nenek." Panggil Sammy.
"Loh, Sam. Kamu disini? Sama Hanny?"
Sammy menepuk jidatnya, Bagaimana tidak? Dia baru teringat berjanji pada Hanny. "Astaga!!"
"Ada apa, Sam." Tanya Lelly pada Sammy.
"Tidak papa, nek."
"Hanny mana?"
"Di apartemen, Nek." Sahut Sammy tampak bimbang. "Aku kesini lagi temankan Mami ke salon."
"Astagfirullah.. Mira keterlaluan sekali. Kamu itu kan sudah beristri. Harusnya kamu mikirin kebahagian Hanny bukan saja Mamimu." Cerocos Lelly saat itu.
"Sekarang juga kamu pulang!! Temui Hanny." Perintah Lelly tegas.
Sebenarnya Sammy takut Mira memarahinya, dia pun bingung harus bagaimana. Apalagi Hanny pasti sudah menunggunya.
"Tapi, Nek. Bagaimana Mami." Timpal Sammy bingung.
"Jangan pikirkan dia." Nenek mengusap pundak Sammy. "Nanti urusan Mira biar Nenek yang urus."
Sesekali Sammy memandang kearah salon tersebut. Ia pun mendengus pasrah, ia tidak mungkin menolak keinginan neneknya.
Sammy sudah pergi, berbeda dengan Mira dan Arini yang baru saja keluar dari salon tersebut.
"Kalian berdua sudah puas menguras uang cucuku." Damprat Lelly pada dua orang itu dengan sengit.
"Loh.. Sammy mana?" Tanya Mira membuka suaranya.
"Dia mengurus istrinya. Bukan perempuan tidak jelas ini."
"Jaga ucapan ibu." Bentak Mira melotot pada Lelly. "Aku masih menghormati anda mertua saudaraku."
"Saudaramu?" Lelly tersenyum remeh. "Saudara tiri maksudmu. Selama ini Sammy hanya mengetahui kau itu hanya adik kandung ibunya. Apakah jika dia tahu sebenarnya, dia masih menganggapmu sebagai ibunya. Kurasa dia akan membencimu, Apalagi jika tahu Arini putri kandungmu." Cercah Lelly.
Arini dan Mira saling menatap penuh ketegangan. "IBU KAU!!" Raung Mira.
"Aku beritahu padamu Arini. Jangan berusaha merusak rumah tangga Hanny dan Sammy!!" Putus Lelly lalu pergi dari hadapan keduanya yang sudah memanas.
Tampak sekali wajah Mira memerah Karena amarah yang menggebu di dadanya. "Sayang.. tenanglah. Aku akan beri perhitungan pada nenek tua itu." Geram Mira bicara pada Arini yang tak kalah kesal.
***