Dan malam pun tiba, dimana Hanny merasa tertipu pada Sammy yang tidak tepat janji padanya. Sudah begitu lama Hanny menunggu tapi Sammy sekarang belum juga datang.
Sebal..
Tentu itu sudah dirasakan Hanny, ia memutuskan untuk ke kamarnya.
Bagaimana dia bisa percaya Sammy untuk memberitahunya kalau dia tidak buta. Ah.. Hanny begitu kesal, dia membaringkan tubuhnya di ranjang dengan menutupi wajahnya dengan bantal.
Di parkiran apartemen, Sammy berlari dengan nafas tersenggal. Dia mencari Hanny yang ternyata sudah di kamar.
Hanny mendengar decitan pintu. "Ngapain kesini." Ketus Hanny yang masih kesal.
"Bangun." Sammy berkata mendelik Hanny yang menutupi wajahnya dengan bantal tersebut
"Enggak!! Keluar dari kamar aku." Sungut Hanny.
Namun.. Siapa yang tak kenal Sammy yang suka memaksa. Dia menarik bantal Hanny, lalu merengkuh Hanny hingga kepelukannya.
Mereka berdua sejenak sama-sama terdiam. Hanny dapat merasakan detak jantung Sammy, berderu sangat jelas di telinganya. 'Dia deg-degan.' Pikir Hanny.
'Apa Karena dekat denganku. Ah tidak mungkin.' Pikir Hanny lagi.
Hanny mengigit bibir bawahnya tampak gelisah, membuat Sammy menelan ludahnya. Bibir Hanny merah merona, seakan itu adalah godaan untuk Sammy.
"Maaf, aku enggak sengaja." Hanny meraba tubuh Sammy,ia bertindak seakan benaran menjadi buta.
"Bisa enggak? Enggak usah nyentuh aku. Kamu modus ya." Sammy berkata nada sebal pada Hanny.
"Loh.. kok kamu yang marah. Seharusnya aku yang marah. Kamu tuh seharusnya antar aku 'kan. Dan sekarang kamu baru pulang." Gerutu Hanny kembali duduk di ranjangnya.
Karena masih sangat kesal, Hanny tidak ingin melihat muka Sammy. "Keluar!! Aku mau kamu keluar." Usir Hanny.
"Ini rumah apartemenku, Hak aku berada dimana pun."
Hanny menghentak kakinya berkali-kali. Rasa ini ingin sekali menerjang muka Sammy. Tapi sayang.. rasanya dia tidak mungkin bisa melakukan itu. "Aku mau tidur. Pergi dari sini."
"Kalau begitu aku tidur disini."
"Bukannya kamu yang memutuskan untuk tidak sekamar. Lalu kenapa sekarang kamu yang menginginkannya."
"Jangan ge'er. Aku cuma ingin kita bicara." Elak Sammy pada Hanny.
Sammy sendiri tidak tahu bagaimana bisa, dia begitu saja berkata asal pada Hanny. 'Tidur sekamar. Oh No.. itu tidak mungkin.'
Hanny pun bangkit kembali meraba Sammy. "Kamu mau bicara apa sih?" Sergah Hanny.
"Aku hanya mau bilang tadi Aku ada meeting mendadak, jadi aku enggak bisa temani kamu. Disaat mau hubungi kamu, aku enggak punya nomor ponsel kamu." Bohong Sammy, ia tidak tahu kenapa justru kebohongannya membuat dirinya semakin bersalah.
"Ya udah cuma mau itu aja kan. Sekarang keluar dari kamar aku."
"Di maafin enggak?"
"Kapan kamu bilang maaf. Udah deh aku mau tidur." Dorong Hanny membuat Sammy memutuskan pergi.
Sebelum keluar dari kamar Hanny, dia menatap Hanny. Dia tersenyum memandang muka Hanny yang cemberut.
Hanny sendiri tahu jika Sammy memperhatikannya, dia langsung mengalihkan pandangannya. 'd**a aku. Kenapa seperti berlomba lari gini. Kenapa ada rasa aneh.' batin Hanny
Disaat dia memastikan Sammy sudah menutup pintunya, ia bangkit mengunci pintu. Hanny bersender dipintu tersebut. "Kenapa perasaanku jadi enggak karuan. Seharusnya aku benci sama sikap dia. Tapi ini... Apa ini cinta? Enggak mungkin." Kata Hanny pada dirinya sendiri.
Dan Sammy juga masih berdiri di depan kamar Hanny. "Kenapa gw ngerasa bersalah gini. Apa karena gw bohong sama dia. Tapi.. Kenapa? Kenapa dengan gw."
'Ini enggak benar!! Gw bisa dapat perempuan mana pun yang gw suka. Lihat Arini dia cantik, dia berikan segalanya sama lo. Apa yang lo lihat dari perempuan kampungan seperti Hanny.' Sammy membatin lalu pergi menuju kamarnya.
***
Sammy menahan nafasnya beberapa saat, ketika tidak mendapatkan sarapan apapun seperti sebelumnya.
Bukan saja itu, keadaan apartemen begitu berantakan. Sammy kesal karena Hanny menjadi pemalas seperti ini.
"Kemana lagi dia." Geram Sammy.
Sammy memasuki kamar Hanny dengan kemarahannya.
Dia melihat Hanny sudah terlihat cantik dengan kemeja maron dengan bawahan rok hitam selutut. 'Cantik.'
Sejenak Sammy terpesona dengan daya tarik yang di miliki Hanny tersebut. Namun dengan cepat, ia membuyarkan segala pikirannya tentang Hanny. "Mau kemana kamu?" Tanya Sammy nyelekit.
"Bukan urusan kamu." Jawab Hanny tak kalah ketus.
"Jelas urusan akulah. Kamu itu istri aku." Kata Sammy meninggikan nada suaranya.
Hanny membuka lemarinya mengambil tas kecil warna hitam bercorak maron. "Sejak kapan kamu anggap aku istri." Hanny masih dengan kesegitannya pada Sammy.
Sammy melipat tangan didadanya. "Kamu bisa enggak.. Jangan bantak aku!!"
"Aku enggak perduli. Aku mau pergi." Ujar Hanny melangkah pergi menggunakan tongkatnya, dan kaca mata hitamnya.
Sammy mencekal tangan Hanny. "Kamu enggak bisa pergi."
"Kenapa??" Sergah Hanny.
"Kar--karena." Sammy tampak gugup menjawab Hanny. "Karena kamu harus selesaikan semua pekerjaan kamu." Elak Sammy.
"Oke." Jawab Hanny, dia kembali melempari tasnya diatas ranjang. Lalu dia pergi keluar kamarnya.
Sammy memperhatikan Hanny membersihkan semua ruangan. Dari menyapu, mengepel, membersihkan kamar Sammy dan sekarang membersihkan jendela balkon.
Entah kenapa Sammy merasa tak tega melihat Hanny terlalu banyak kerja. Apalagi Hanny kemarin Hanny sempat sakit gejala tipes.
"Berhenti." Akhirnya Sammy yang saat itu, tengah duduk di ruang televisi membuka suaranya. "Kamu boleh pergi. Tapi ingat pulang jangan malam."
"Dan satu lagi. Mana ponsel kamu, aku mau simpan nomor kamu, kalau ada apa-apa kamu bisa langsung hubungi aku." Kata Sammy lagi.
Hanny tersenyum bahagia, dia langsung menghentikan kegiatannya. Ia pergi ke kamar mengambil ponsel, sekaligus tasnya.
"Ini." Hanny memberi ponselnya.
Sammy sempat terdiam, ketika Hanny memberikan ponselnya. Bagaimana tidak, ia kaget karena perempuan kampung seperti Hanny memiliki ponsel lebih mahal dari kepunyanya yang seorang CEO. 'Dapat dari mana dia ponsel ini.' Ucap Sammy dalam hati.
"Sudah belum cepatan." Gerutu Hanny menunggu Sammy mengembalikan ponselnya.
Setelah sudah selesai, Sammy pun mengembalikan ponsel Hanny. Lalu pergi begitu saja.
Hanny bisa bernafas lega, Karena sepertinya sama sekali tidak curiga padanya. Jika saja Sammy mengetahui dia melamar kerja, entah dia mengijinkan atau tidak.
***
Hanny kini berada di sebuah hotel besar, dia menemui Hrd di hotel ini. Sam Hotel's termasuk salah satu penginapan berbintang lima.
Hanya menyebut nama Satya, Hanny di terima kerja. Namun ia harus mengikuti test masak. Tentunya itu syarat menjadi chef disini.
"Saya Mayang kepala chef disini. Kamu masak ini, saya dan manager hotel akan mencoba masakan kamu. Jika cocok, kamu lulus tes." Seru Mayang pada Hanny.
"Baik, Bu." Sahut Hanny.
"Panggil Mbak aja."
Hanny mulai memotong daging sapi dan beberapa sayuran yang harus di masaknya. Dia terlihat sangat bersemangat.
Ini pertama kalinya dia bekerja. Untung sekali, ketika usai sekolah dulu Hanny pernah mengikuti les memasak. Hingga sekarang dia ahli dalam bidang memasak tersebut.
Satu jam Hanny memasak, dia menyajikan dua piring. Satu untuk Mayang dan satunya untuk manager hotel.
"Silakan cicipin, Mbak." Kata Hanny pada Mayang.
Mayang menyuap satu sendok masakan Hanny. Wajah Mayang tak bisa di tebak. Ia tidak menampakan raut wajah apapun.
"Bagaimana, Mbak?" Tanya Hanny menggigit bibir bawahnya
Hanny takut sekali jika dia gagal. Ia berharap bisa bekerja disini. Mungkin dengan cara itu dia bisa mencari informasi tentang alamat sahabat ayahnya dulu.
"Wah.. ini enak sekali. Kamu sepertinya berbakat dalam hal memasak." Ujar Mayang tersenyum. "Sekarang piring satunya kamu bawa ke ruangan manager."
"Baik, Mba."
Hanny diantar salah satu pekerja hotel ke ruangan manager. Dia menjadi tak percaya diri.
Kini dia berada di depan ruangan tersebut. Ia mengetuk pintu tersebut, dan menunggu jawaban dari dalam sana.
"Masuk." Sahut seorang yang entah siapa.
Hanny pun masuk dengan membawa makan dan minuman untuk pria yang memunggunginya. "Maaf, Pak. Saya menganggu. Ini makanan yang baru saya masak. Mbak Mayang meminta saya memberikan pada Bapak."
"Iya, tata saja diatas meja, Hanny."
Hanny cukup kaget, karena manager itu mengetahui namanya.
Pria itu berbalik, Hanny cukup mendapatkan kejutan kalau orang itu Satya. "Jadi kamu manager disini." Tanya Hanny.
"Iya." Jawabanya tersenyum. "Kenapa? Yang punya hotel ini sahabat aku satu gedung di apartemen kamu."
Satya mendarat bokongnya di sofa. Dia mencicipi makanan buatan Hanny.
"Gimana? Kamu suka?" Tanya Hanny yang berdiri sopan menunggu jawaban Satya.
Satya mengangguk perlahan sambil menatap Hanny."Lezat." Komentar Satya.
"Sungguh??"
"Ya.."
Hanny keluar dari ruangan Satya dengan perasaan bahagia. Ia kembali ke dapur restoran untuk kembali bertemu Mayang.
"Mbak Mayang." Tegur Hanny pada Mayang yang sedang berdiskusi dengan salah satu cheff lainnya.
"Sudah Pak Satya memakan masakan kamu? Bagaimana dia suka??"
"Iya, Mbak."
"Wah.. selamat. Kalau begitu mulai besok kamu bekerja disini. Sekarang kamu sudah boleh pulang."
Hanny pun segera pulang, ia menuju parkiran. Tanpa Sengaja ia melihat Sammy bersama Arini. Hanny mengingat betul, jika itu perempuan yang datang ke apartemennya beberapa hari yang lalu.
"Sammy." Ucap Hanny pelan.
Entah bagaimana caranya, Hati Hanny terasa teremuk, seakan ada suatu yang membakar hatinya.
Dia sangat tidak suka melihat Arini bergandeng suaminya. Seolah mengklaim Sammy hanya miliknya.
Untungnya ketika itu Sammy sama sekali tidak melihatnya. Kalau itu terjadi, tentu saja pria itu bisa melihat muka Hanny yang seakan menahan rasa amarah didadanya. 'Ngapain Sammy dengan perempuan itu kehotel. Apa mereka ingin bercinta lagi.' Pikir Hanny.
"Astaga pikir apa kamu, Han. Ngapain mikiran sih gila itu. Kayak kurang kerjaan aja. Ayolah, Han. Dia mau ngapain kek itu urusan dia." Hanny berdecak pada dirinya sendiri.
***