9. Demi Warisan

1525 Kata
Sammy sudah berada di hotelnya, dan harus membawa Arini. Karena sudah dari pagi perempuan itu terus menguntit dirinya. "Sam, pokoknya jangan lama-lama. Aku tunggu di restoran." Kata Arini berjalan disamping Sammy. "Iya. Kamu tunggu disana aja. Kalau urusan kelar aku kesana." Ujar Sammy. Dia meninggalkan Arini. Dirinya merasa bosan harus tiap hari melihat Arini terus merengek padanya. Sammy memang suka dengan dunia seks tapi.. dia selalu bermain hati-hati. Tidak pernah sekali pun dia tanpa menggunakan pengaman. Termasuk Hanny yang ia paksa bercinta dengannya. Entah kenapa semenjak bercinta dengan istrinya sendiri, tingkat seksnya jadi menurun. Apa karena menghargai perasaan Hanny atau yang lain. Terakhir dia bercinta Arini, dia tidak bisa merasa kenikmatan seperti biasanya. "Sam!! Kelamun lo?" Tegur Satya menepuk pundak Sammy yang sudah duduk di sofa ruang tamu khusus hotel tersebut. "Apaan sih lo." Sanggah Sammy reflek menepis tangan Satya. "Kesambet lo ntar. Mikirin siapa lo? Istri atau Arini?" Ujar Satya dengan nada mengejek. "Ah Basi lo!! Gw enggak ada waktu mikirin perempuan." "So.. kerjaan?" Sammy menggeleng lalu mengusap mukanya dengan kasar seolah dirinya sedang frustasi. "Arini ikut gw disini. Lo tahu sendiri dia gimana, dia udah kayak satpam gw aja." "Makanya lo kalau udah punya istri setia jangan suka jajan diluar. Ntar dosa lo menumpuk." "Sialan lo!!" Umpat Sammy sebal seraya menimpuk Satya dengan bantal sofa. "Lagian lo kebiasaan suka kayak gitu. Hobby seks lo tu buang jauh-jauh." "Udah." Jawabnya singkat. Satya mengkerut dahinya sambil menatap raut muka Sammy yang datar. "Maksud lo?" "Ya udah. Gw udah hampir seminggu enggak gituan lagi." Satya tertawa tak percaya. "Lo enggak lagi bercandakan." "Lo bisa lihat muka gw kelihatan bercanda atau enggak." Gerutu Sammy yang duduk dengan kakinya di atas meja, tubuhnya bersender dengan tangan melipat d**a. "Kok bisa lo berhenti." "Gw juga enggak ngerti. Gw enggak nafsu sama mereka semua." Sammy menarik nafasnya sejenak. "Kecuali.. ah sudahlah, lupakan!!" 'Kecuali sama Hanny. Nafsu gw bisa meningkat 100% saat dekat dia. Tapi.. gw enggak mungkin maksa Hanny lagi, ntar dia ngadu sama kakeknya. Mati gw enggak dapat warisan.' membatin Sammy. Satya dan Sammy sekarang melanjutkan pekerjaan mereka. Satya tengah memberikan laporan keuangan hotel yang dipercayakan oleh Satya mengelolanya selama ini. "Wow.. meningkat keuangan hotel ini." Seru Sammy. "Hebat lo. Enggak sia-sia gw percaya lo jadi manager disini." "Gw sahabat lo. Mana mungkinlah gw kecewakan lo." "Oh ya.. soal cheff kemarin udah dapat pengganti." Tanya Sammy sambil membolak-balik berkas di tangannya. "Udah baru tadi diterima." "Bagus kalau gitu. Gw harap dia enggak bego kayak kemarin." "Tenang aja lo. Gw jamin yang ini enggak akan kecewakan kita." Satya berkata optimis. Sammy tak menjawab, dia justru memperhatikan raut muka Satya yang tersenyum tiada henti. Sammy tampak curiga pada Satya yang benar-benar aneh menurutnya. Setelah cukup lama di hotel, akhirnya ia meninggalkan ruangan tersebut. Sammy hendak menghampiri Arini. Namun sebelumnya ia ingin mengecek kondisi Hanny. Sammy memutuskan untuk menelpon Hanny. *** Hanny sudah berada di apartemen Sammy. Ia bersantai menonton televisi yang layarnya besar dari di kampungnya dulu. Maklum saja, namanya juga orang kampung mana ada jual televisi sebesar ini. Dia seperti puas sekali menonton tv itu. "Astaga.. dari kemarin baru sekarang aku menonton televisi ini. Kalau dibawa ke kampung, pasti sudah heboh orang sana." Hanny berkata sambil tersenyum sendiri. Saat sedang asyik mengganti channel, ponsel Hanny berdering di samping tempat ia duduk. Hanny menatap layar ponsel yang tertulis nama Sammy disana. Hanny terjungkit kaget, hampir saja ponselnya terjatuh. "Ngapain dia telpon." Panik Hanny. "Angkat enggak ya." Hanny menarik nafas dalam, ia berusaha tenang agar Sammy tak curiga jika dia merasa perasaan aneh, ketika Sammy menelponnya. Bahkan tangan keringat dingin. Padahal ia tidah berhadapan dengan Sammy. Sejenak ia berpikir apakah Sammy melihatnya di hotel tadi atau ada hal lain. "Ha--lo." Gugup Hanny mengangkat telpon Sammy. "Kemana aja? Lama banget angkatnya." Terdengar suara Sammy yang seperti biasa datar. Huft.. Untungnya Hanny sudah mematikan televisi saat mendapat ponsel dari Sammy, kalau tidak pasti Sammy curiga padanya. Mana ada orang buta bisa menonton televisi. "Aku enggak dengar. Ada apa telpon." "Selain buta kamu tuli juga." "Bisa enggak.. Enggak usah hina-hina aku." Sungut Hanny tak terima. "Kamu lagi ngapain?" "Bukan urusan kamu." "Awas aja kamu bakar apartemen aku." "Dasar gila!! Aku masih punya otak. Kamu telpon aku cuma buat ini doang." "Eng--" Hanny menutup telpon sebelum Sammy menyelesaikan kalimatnya. Sammy kembali menyimpan ponsel di saku jas sambili tersenyum. Dia tak mengerti kenapa hanya mendengar Hanny marah di ponsel bisa membuatnya tersenyum. "Sam..!!" Tegur Arini pada Sammy yang sedang berdiri di depan restoran. "Kenapa kamu belum masuk." "Kita pulang aja. Aku antar kamu." Sammy merengkuh tangan Arini ke parkiran mobil. Arini bukan tidak mengetahui jika Hanny adalah istrinya Sammy. Dia tidak membiarkan Hanny merebut posisi penting dirinya dalam kehidupan Sammy. "Sayang.. kamu kenapa??" Tanya Arini yang sudah duduk di mobil Sammy. Sammy pada saat ini, dia fokus menyetir mobilnya. Ia hanya melirik Arini sesekali. "Sam, aku ngomong sama kamu ya." Gerutu Arini yang seakan merasa Sammy bersikap cuek padanya. Sammy menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Arini. "Aku lagi nyetir, kamu bisa lihatkan." "Lalu." "Apa maksudmu?" "Sam, kamu udah berubah semenjak ada pembantu itu di apartment kamu." Sammy menggepal tangannya perlahan. "Jangan sekali-kali kamu sebut dia pembantu." Geram Sammy dengan sengit. "Keluar dari mobil aku!!" Tentu saja itu membuat Arini tergemap seketika. Mana pernah Sammy berbicara kasar padanya. Dan hari ini laki-laki itu melakukannya. "Kamu berani sama aku. Aku akan mengatakan ini semua sama Mami kamu. Aku enggak terima di ginikan." Gertak Arini lalu turun dengan membanting pintu mobil Sammy. Dia merasa semakin kesini, hati dan perkataannya selalu bertolak belakang. Nalurinya menginginkan hati tapi bibirnya menolak. Kenapa.. Kenapa.. Kenapa harus Hanny? Apa yang membuat Hanny berbeda dari perempuan lain. Kenapa dia melawan perasaan sendiri. Sammy memang tidak mengerti perasaan apa yang sedang mengejolak dihatinya. Tapi yang pasti satu hal, dia tidak bisa terima ada satu orang menghina Hanny. Padahal dirinya sendiri sering melakukan itu. *** Hanny yang sekarang berada di luar balkon kamarnya, ia memandang Sammy yang memarkir mobilnya dengan rapih. "Udah pulang lagi dia, waktu kebebasan aku habis." Rungut Hanny sendiri. Belum juga lama Hanny berkata suara Sammy sudah berteriak memanggilnya. Ia pun mendengus sebal pada Sammy. "Hanny.. Hanny." Teriak Sammy memanggilnya. Hanny keluar dengan muka pasrahnya, kalau saja dia tidak ingat pesan kakek. Dia pasti sudah malas mengingat dirinya istri Sammy. "Ada apa? Aku enggak tuli, jangan teriak-teriak!!" Sahut Hanny keluar kamar. "Ambilkan minum." Kata Sammy dengan memperintahnya. "Hah?" Hanny tercenggang. 'Dia pikir aku pembantunya.' Gerutu Hanny dalam hatinya. Sammy membuka sepatunya, lalu menatap Hanny yang belum saja bergerak dari tempat dia berpaku. "Cepat!!" Teriak Sammy kembali. 'Sial.' Berang Hanny dalam hatinya. Dia memutar tubuhnya berjalan ke arah dapur sambil meraba tembok. Disaat Hanny sudah pergi, sekali lagi dia mengulas senyumnya. Dia benar-benar tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Bukankah selama ini dia begitu membenci Hanny, pernikahan ini syarat untuk mendapat warisan. 'Kenapa dengan lo, Sam. Lo enggak mungkin punya rasa sama Hanny.' Gusar Sammy dalam hatinya. Hanny sudah di dapur, dia mengambilkan segelas air putih untuk Sammy. "Dasar semaunya.. dia pikir dia siapa, Karena suami bisa suruh-suruh aku." Gerutu Hanny yang menuang air putih. "Kalau mau ngomel depan aku sini." Suara Sammy menggelegar di belakang punggung Hanny, membuat Hanny terjungkit kaget. Kontan ia menumpahkan air di lantai, dan membuat dirinya sendiri terpeleset. "Aaahhh" Hanny hampir saja terjatuh, untung saja dengan cepat Sammy menangkap pinggang Hanny. Mata Hanny sudah terpejam karena takut terjatuh. "Kok enggak sakit jatuhnya." Seru Hanny yang masih belum membuka matanya. Deg.. Perlahan Hanny membuka matanya. Dan... Hebat sekali jantungnya terasa ingin lepas, ketika ia melihat Sammy yang begitu dekat dengannya. Sejenak Hanny terpaku karena Sammy menatapnya. 'Kontrol.. Kontrol.. Hanny jangan terbawa perasaan.' Hanny berdecak dalam hati. Sammy terpaku karena dia merasa berbeda saat di dekat Hanny. Dia tidak bisa berhenti menatap mata Hanny yang indah. 'Sam, lo gila. Ini enggak benar.. Kenapa lo enggak bisa berhenti menatap dia, padahal jelas lo tau dia enggak bisa natap lo.' Gusar Sammy dalam hati. Hanny menelan salivanya, ketika Sammy semakin dalam menatapnya. Dia bisa merasa deruhan detak jantungnya yang bergendang kuat. 'Ya Tuhan.. tolong hentikan ini.' "Lepaskan!! Lepaskan aku." Akhirnya Hanny mengeluarkan suaranya. Sammy tersadar dalam perasaannya sendiri. "Makanya hati-hati." Ucap Sammy dengan nada seakan membentak. "Kalau kamu enggak tiba-tiba di belakang aku. Aku enggak akan kaget." "Ya sudah mana minum aku." "Itu ambil sendiri. Aku mau ke kamar." "Hanny!! Beresin lantai ini dulu, nanti kamu bisa jatuh lagi." Hanny yang sudah melangkah kakinya, terhenti sejenak. "Sejak kapan kamu perduli sama aku." Muka Sammy tampak salah tingkah. "I--itu aku" Gugup Sammy. "Aku cuma enggak mau kamu repotkan aku lagi.Paham!!" "Bereskan cepat!! Langsung tidur." Kata Sammy lagi lalu pergi. Sammy menggepal tangannya, memukul jidatnya berulang kali. Merasa kebodohannya barusan. Bagaimana mungkin bisa dia perduli pada Hanny. "Ayolah, Sam. Lo enggak boleh kayak gini. Ini hanya demi warisan." Kata Sammy pada dirinya sendiri. Sammy sudah berada di dalam kamarnya, dia membanting tubuhnya. 'Sam, lo bodoh. Kenapa juga lo takut Hanny jatuh.' Sadar tidak sadar, Sammy sudah mulai merasa khawatir pada Hanny. "Ini bukan cinta, Sam. Lo cuma enggak mau disalahkan kalau dia kenapa-napa." Gusar Sammy pada dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN