Udara pagi itu sangat sejuk, karena malam harinya hingga subuh hujan tak kunjung berhenti. Dan untungnya diwaktu senja awan tidak memberi tanda akan datang hujan kembali.
Hanny membereskan apartment seperti rutinitas biasanya. Hanny harus lebih awal melakukannya karena ia sudah harus bekerja.
Hanny bahkan sudah menyiapkan sarapan sederhana pagi untuk Sammy.
"Huft.. akhirnya selesai juga. Sebelum sih b***t itu keluar dari kamar, lebih aku mandi dulu." Kata Hanny pada dirinya sendiri.
Seperti biasa Sammy keluar kamar sudah rapih dengan setelan jas miliknya. Ia memang tampak tampan sekali pagi ini.
Dengan pakaian jas warna biru senada dengan celana. Sammy tidak seperti Ceo yang lain lebih suka menggunakan dasi, tapi Sammy sama sekali tidak menyukainya.
Dia sudah membawa tas kerjanya menuju ruang meja makan. "Mana perempuan itu. Tumben sepagi ini dia sudah membereskan semuanya."
"Memangnya kenapa kalau sudah beres semuanya." Sahut Hanny yang baru keluar mandi.
Hanny hanya menggunakan kimono dengan rambutnya yang basah membuat Sammy menelan salivanya. 'Astaga ngapain juga dia keluar seperti ini, kalau begini junior gw bisa bangun.' Pikir Sammy.
"Bisa tidak kamu pakai baju baru keluar kamar." Sammy berkata dengan suara mendatar.
Hanny mengeryit dahinya, dia memutar bola matanya. "Apa maksudmu."
"Sekarang kamu ganti Baju, lalu temankan aku sarapan disini."
"Hah?" Hanny membuka lebar mulutnya.
"Hanny.. mingkep. Nanti mulut kamu masuk lalat."
Hanny mengerucut sebal pada Sammy, ia berbalik hendak kembali ke kamarnya. Namun dirinya menabrak lemari di sudut membuat Sammy mengulum tawanya.
Hanny mendengus kesal. 'Hanny bego banget sih. Ngapain juga pakai nabrak.'
"Kenapa grogi ya dekat aku." Sambar Sammy.
"Ge'er..!! Ngapain juga grogi." Sanggah Hanny kesal lalu berjalan pelan meraba tembok agar Sammy sama sekali tak curiga padanya.
Hanny sudah berada di dalam kamarnya, ia tengah memakai baju casualnya. "Hanny.. kenapa sih kamu jadi salah tingkah gini." Kata Hanny yang memandang cermin.
Setelah memakai bajunya, ia kembali ke meja makan menemani Sammy sarapan pagi. 'Awas aja dia sarapan lama. Bisa telat aku kerja.' kata Hanny dalam hatinya.
"Hanny." Lirih Sammy.
"Hmm.. Ada apa?"
"Sabtu ini nenek ulang tahun. Aku mau kamu ikut bersamaku ketemu keluarga besar." Ujar Sammy yang hampir selesai makan. "Dan ingat jangan buat malu aku. Paham!!"
"Iya." Sahut Hanny singkat.
"Ya sudah aku pergi dulu. Jangan keluar apartment tanpa izin aku." Seru Sammy berjalan keluar pintu.
Ah.. akhirnya Sammy pergi, Hanny merasa lega. Dia pun bergerak cepat kembali mengganti pakaiannya dengan kemeja peach dan bawahan celana jeans hitam.
Dirinya memastikan Sammy sudah pergi. Hanny keluar dengan memesan taxi online.
***
Sammy melakukan rapat pada semua staf penting di hotel miliknya. Dia berdiri tegap di ruang rapat.
"Saya tidak ingin ada kesalahan. Karena hotel kita akan bergabung dengan realisasi jerman. Jadi.. kalian harus perhatikan kebersihan dan pelayanan hotel."
"Baik, Pak."
"Saya rasa cukup metting hari ini." Putus Satya meninggalkan ruangan tersebut.
Di hotel yang sama Hanny baru saja datang ke dapur restoran bertemu dengan Mayang.
"Maaf, Mba Mayang. Saya telat." Hanny menghampiri Mayang terlihat sibuk.
"Ya ampun Hanny. Saya pikir kamu enggak jadi kerja sini. Syukurlah kamu datang, saya kerepotan."
"Enggak mungkin saya menolak pekerjaan ini."
"Pakaian kamu di loker nomor enam. Ganti sekarang juga."
"Siap, Mba."
Hanny pergi keruangan loker yang berada di lantai dua. Ia bergegas keruangan loker, namun disaat Hanny hendak membuka lokernya. Dia mendengar suara Sammy sangat familiar ditelinganya. "Sammy!! Apa itu sih bajingan." Desis Hanny hendak mengintip dari sela pintu apa itu Sammy atau bukan.
"Oh God!! Ngapain dia disini." Kaget Hanny dari balik pintu dengan sosok Sammy yang berhenti tepat di depan ruang loker. 'Astaga.. Apa dia tau aku kerja disini."
"Berhenti disana lagi. Gimana aku mau keluar nanti." Rungutnya sendiri sebal.
Hanny memondar-mandir seperti orang bego. Dia bahkan belum berganti pakaian chefnya. Hanny berharap Sammy cepat meninggalkan hotel tempat dia bekerja.
Namun seperti Sammy masih betah, bahkan ia bicara dengan Satya tampak santai. Tapi tidak dengan Hanny yang gelisah. "Ada urusan apa dia disini." Timpal Hanny jengkel.
Cukup lama Hanny menunggu Sammy pergi dari sana. Dan.. akhirnya Sammy enyah dari sana. Hanny bisa bernafas lega.
Dirinya pun segera mengganti pakaian chef yang serba putih itu. Hanny tersenyum memandang dirinya di cermin.
Dia pun kembali ke dapur memulai pekerjaannya sebagai chef. Hanny bertekad akan membuktikan pada atasan jika ia layak menjadi cheff terbaik.
Hanny mulai memasak dari menu satu ke yang lainnya. Hanny seolah memang sudah sangat ahli dibidang tersebut.
Setiap menu pesanan hanya butuh lima belas menit Hanny menyelesaikannya.
"Han, kamu jago juga masaknya." Puji Intan yang juga chef disana.
"Makasih, Kak."
"Panggil aja Intan. Kita seumuran deh kayaknya."
"Iya, Tan."
Hanny belum tahu banyak tentang hotel ini. Bahkan awalnya dia pikir pemilik hotelnya adalah Satya yang merupakan manager disini.
"Han, sudah ketemu pemilik hotel disini."
"Pak Satya."
Intan menggeleng tegas. "Bukan, Han. Pak Satya hanya manager disini. Tapi dia bukan pemiliknya."
"Oh.. aku pikir dia." Desah Hanny.
"Pemilik hotel itu Pak Sa--"
"Intan, tolong kamu bawakan makanan ini keruangan Pak Satya. Hati-hati ya ada pemilik hotel, jangan lakukan kesalahan dalam melayaninya." Kata Mayang tampak gusar.
"Baik, Mba."
Memang sejak kejadian berapa waktu lalu, pada salah satu karyawan chef di berhentikan secara tidak terhormat. Membuat Mayang trauma jika ada karyawan chefnya di pecat lagi.
"Mba Mayang.." Tegur Hanny yang saat ini sedang beristirahat karena belum ada pesanan lagi.
"Iya, Hanny. Sahut Mayang. "Ada apa."
"Tidak!! Mbak Mayang kenapa? Kok tampak khawatir." Tanya Hanny penasaran.
"Saya hanya tidak mau ada diantara chef di pecat lagi. Pemilik hotel ini tidak membiarkan ada kesalahan. Jadi.. dia suka pecat kalau tidak suka." Jelas Mayang.
"Sadis amat! Dia enggak mikirin perasaan bawahannya, Mbak."
"Kita ini hanya orang kecil. Mana mau dia mikir hal enggak penting seperti kita enggak punya uang atau membutuhkan pekerjaan ini. Tetap saja tidak akan perduli." Gerutu Mayang dengan rasa bimbang didadanya menunggu kembalinya Intan.
'Ternyata orang kota kebanyakan enggak punya perasaan ya!!' Hanny membatin.
Tak lama dari itu Intan datang dengan muka sumringah karena makanannya bisa di terima baik oleh Sammy. Masakan Hanny memang luar biasa.
***
Waktu makan siang. Satya sudah menghubungi Mayang untuk mengantarkan makanan untuk dirinya dan Sammy.
Sammy baru saja mencicipi makanan yang tak terasa asing di lidahnya. 'Kenapa masakan ini enaknya sama kayak Hanny ya.' Pikir Sammy.
"Kamu yang masak." Tanya Sammy pada Intan yang masih berdiri tegang.
"Bukan, Pak. Cheff baru."
"Oh." Desah Sammy. "Ini enak. Saya suka, lain kali kalau saya kesini. Harus dia yang masakan saya."
"Baik, Pak." Jawab Intan lega. "Apa boleh saya pergi, Pak."
" Silakan."
Jujur saja, Sammy merasa aneh. Karena dia merasakan masakan chef baru itu mirip sekali dengan Hanny.
Dia pun tersenyum kecil, seakan dia merindukan Hanny. 'Hanny lagi apa ya.'
"Woii.. lo kenapa? Senyum sendiri." Satya mengebrak paha Sammy yang duduk tak jauh darinya.
"Bangke lo!!" Umpat Sammy.
"Mikiran siapa sih Pak bos."
"Berisik lo ah." Bentak Sammy mengalihkan pandangannya pada Satya yang sudah menelisik Sammy.
"Gw tau lo mikirin wife."
"Diam enggak lo, Sat."Geram Sammy mencengkik lehernya.
"Awhhh!! Lo mau bunuh gw." Satya berusaha melepaskan tangan Sammy mencengkramnya.
"Bangke lo!!" Umpat Sammy melepaskan cengkramnya. "Sekali lagi lo ngomong ngawur. Gw potong tuh lidah."
"Sadis amat lo!!"
Tapi kenyataanya Sammy memang memikirkan Hanny. Katakanlah Sammy lain dihati, lain di mulut. Sulit sekali dia menebak perasaannya sendiri.
"Oh ya.. Nenek Leli ulang tahun dimana. Dirumah apa hotel." Tanya Satya.
"Nenek maunya dirumah. Lo bisa uruskan."
"Tenang aja lo. Gw bisa urus semuanya tapi dihari yang sama gw harus keluar kota." Kata Satya.
"Mau kemana lo?"
"Gw ada urusan di bogor."
Sammy tak menjawab, Karena dia harus kembali ke kantornya. Sebelum ke kantor ia menelpon Hanny namun tak diangkat Hanny. 'Kemana dia. Kenapa enggak angkat telpon gw.' Batin Sammy.
Berbeda dengan Hanny yang sangat menikmati pekerjaan barunya. Ia tidak merasa bosan sama sekali.
"Hanny.. kamu hebat banget. Sih bos suka dengan masakan kamu."
Mendengar penuturan Intan, Hanny melebarkan senyumnya. "Yang benar. Ah.. aku senang dengarnya."
"Huh.. syukurnya lah. Saya sudah deg-degan loh." Sambung Mayang menunggu Intan dengan gelisah.
"Mbak Mayang tenang aja. Kali ini enggak ada masalah. Malahan saya lihat, bos senyum sendiri saat memakan yang saya bawa."
"Wah.. bagus sekali itu."
Drrtt.. Drrtt..
Hanny merasa ponselnya bergetar disakunya. Ia tidak nyaman jika harus mengangkat depan Mayang. 'Aduh.. Ngapain Sammy telpon aku ya.'
"Hanny.. Enggak papa angkat aja. Siapa tahu penting." Beo Mayang.
Hanny tersenyum tak nyaman, ia menjauh dari tempat tersebut. Karena suaranya sangat ribut. Hanny tidak ingin Sammy curiga dia tidak diapartement.
"Halo." Jawab Hanny berburu.
"Darimana aja. Kenapa baru angkat."
Hanny mendengus kesal, belum apa-apa saja Sammy sudah mengeluarkan ciri khas super galaknya. "Aku sibuk. Ada apa cepatan."
"Kamu dimana?"
"Di apartement. Memangnya dimana lagi. Bukannya kamu melarang aku keluar." Gerutu Hanny.
"Oh.. bagus kalau gitu. Hari ini aku pulang malam. Jadi kamu enggak perlu masak. Aku ada metting."
"Iya." Hanny bisa merasa sedikit lega karena Sammy mengurangi bebannya. "Ya sudah. Aku mau lanjut dulu. Bye." Putus Hanny menutup ponselnya.
***