11. Sekamar

1427 Kata
Hanny kembali ke apartemen, ia membanting dirinya di sofa. Beruntung Sammy pulang malam dan ia bisa bersantai sejenak. Huft... Merasakan sangat lelah Hanny memutuskan selonjoran di kamarnya. "Ah.. Lelah juga." Desah Hanny sudah menelungkup di ranjangnya. Setelah istirahat sebentar Hanny mandi lebih dahulu sebelum menyiapkan makan malam. Karena matahari sudah mulai tertutup. Hanny memasak sop ayam. Dia memang tidak tahu sama sekali masakan apa yang di suka Sammy. Jadinya dia memasak yang menurutnya yang akan Sammy suka. Hanny memotong sayuran, setelahnya dia membersihkan ayam hingga bersih. Di tempat lain Sammy harus menghadapi Arini dengan bosan ia menatap perempuan satu ini yang menunggunya bekerja. "Arini.. lebih baik kamu pulang. Aku banyak kerjaan." Pinta Sammy yang sedang duduk di kursi kebesarannya. "Sam!! Sepertinya kamu harus jelaskan aku tentang istri disebut Nenek kemarin. Ku rasa kamu tidak lupa." Sammy mendengus sambil memijat dahinya yang tak terasa sakit sama sekali. "Kita bicarakan nanti. Tolong aku banyak kerjaan." Arini mulai mendekati Sammy dengan mencium leher Sammy. "Kamu harus jelaskan aku, sayang." Sammy berusaha menahan nafsunya, dia tidak ingin melakukan apapun lagi bersama Arini di luar batas. Dia tidak bisa melakukannya karena ada rasa mengiris hatinya. Mungkin rasa bersalah yang mengkhianati Hanny. Padahal dia merasa tidak mencintai Hanny, namun kenapa harus merasa bersalah. "Arini..!! Hentikan." Sammy bangkit dari duduknya menjauh dari Arini. "Lebih baik kamu pulang. Aku banyak kerjaan." Kata Sammy lagi. Arini menerbitkan kemarahannya pada Sammy yang berani menolak dirinya. "Apa yang terjadi. Kamu sepertinya mau menghindariku." "Aku bilang pergi dari ruanganku." Sungut Sammy mengusir Arini dengan menyeretnya keluar. Sammy termangu sesaat. 'Astaga Sam!! Apa yang terjadi sama lo. Kenapa lo malah usir Arini. Kalau Mami tahu, mati gw.' Sebenarnya Sammy masih banyak kerjaan. Karena Arini membuat moodnya kurang baik, dia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya diapartemennya. Hanny sudah selesai menyiapkan makan malam, tak beberapa lama Sammy pun datang dengan muka lesunya. 'Kenapa dia.' Ucap Hanny dalam Hanny. Hanny mendekati Sammy yang terduduk lelah. "Sudah pulang." "Iya." Jawabnya dengan suara pelan. "Aku boleh minta tolong." Hanny sedikit heran karena Sammy tidak seperti biasanya. "Minta tolong apa." "Siapkan air panas untuk mandi. Aku lelah sekali hari ini." "Enggak mau makan dulu." Tawar Hanny. "Mandi aja dulu." Sammy bukan lelah dengan pekerjaannya. Dia lelah dengan perasaannya yang mendadak menjadi tak menentu pada Hanny. Tidak bisa berpikir jernih, Sammy bersender disofa sambil menutupi matanya. 'Astaga.. Magic apa yang di gunakan sih buta itu. Kenapa hati gw bisa tiba-tiba tak menentu gini.' Disaat ia termangu, terdengar suara dari ambang pintu apartementnya. Tok.. Tok.. Tok.. "Assalamualaikum." Sammy tidak mengenal dengan baik suara Salam dibalik pintu tersebut. "Siapa yang datang." Dia membuka pintu itu, lalu terbelalak matanya melihat sosok berdiri dihadapannya. Sungguh mengejutkan Sammy. Kakek Hanny datang secara mendadak. "Assalamualaikum." Kakek berucap salam sekali lagi. "Ka--Kakek." Terbata Sammy pada Kakek Ridwan. "Boleh Kakek masuk." "Te--tentu." Gugupnya. "Kakek kapan datang? Kok bisa disini." "Iya, Nenek kamu minta kakek datang. Karena dia berulang tahun." Kata Kakek mendarat pantatnya disofa. "Hanny mana?" Tanya kakek pada Sammy. "Di dalam, Kek." Kakek heran ketika Hanny berjalan masih meraba tembok. Itu artinya Hanny belum mengatakan apapun pada Sammy tentang dia tidak buta. "Hanny." Tegur Kakek. Sebenarnya Hanny sudah melihat kakeknya ketika berjalan kearah mereka. Hanny memang sangat berhati-hati menyembunyikan rahasianya. "Kakek, ada disini." Sahut Hanny semakin mendekat kearah kakek. "Air mandi kamu udah siap." "Iya, makasih." Kata Sammy pada Hanny. "Kek, Sammy mandi dulu ya. Kakek tunggu ya kita makan bareng." Kata Sammy lagi. Sammy pergi berlalu dari keduanya. Hanny celinguk memandang Sammy yang sudah hilang. "Kakek.. Ngapain kesini." "Nenek Lelly yang meminta Sayang." "Kenapa kamu masih rahasiakan Sammy tentang mata kamu." "Hanny masih ragu sama dia." "Sampai kapan, Han. Kalau dia tahu kamu berbohong, Sammy bisa marah besar." Gerutu Kakek pada Hanny. Huh.. Tentu saja Sammy bisa marah padanya. Tapi apakah Sammy peduli dia buta atau tidak? Apa penting untuk Sammy? Itulah kira-kira yang Hanny pikirkan. Lalu sekarang dia menambah kebohongan lain pada Sammy, dia bekerja tanpa izin Sammy apa itu benar. Tentu saja tidak bukan!! Hanny merasa tingkat kegalauannya bertambah karena Sammy yang bukan siapa-siapa untuknya. Dan mendadak menjadi suaminya. Oh my God.. Bisakah Hanny menghentikan semua ini. *** Sammy sudah mandi, dan sekarang mereka sudah duduk di meja makan. Makanan bahkan sudah Hanny sediakan. "Silakan, Kek. Makan. Masakan Hanny enak loh." Kata Sammy pada Kakek. "Makasih, Sam. Iya Kakek tahu. Hanny memang pandai dalam urusan memasak." Ujar Kakek menyantap makanannya. 'Sejak kapan dia suka muji aku.' Hanny berdecak dalam hatinya. "Sayang.. kamu makan seperti anak kecil. Sini aku bersihkan." Kata Sammy mengambil tissue untuk membersikan mulut Hanny yang berantakan Karena makanan. 'Ya Tuhan.. Pandai sekali dia berakting depan kakek. Kenapa tidak jadi aktor saja.' Gumam Hanny dalam hatinya. Hanny pun terpaksa mengikuti sandiwara Sammy di depan kakeknya. "Makasih ya Sayang." Ridwan tersenyum melihat kemesraan mereka. Padahal belum lama juga menikah tapi mereka sudah harmonis satu sama lain. "Kakek, senang melihat kalian seperti ini. Oh ya.. Kakek akan menginap disini kalian tidak keberatan kan." Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. Sammy kontan tersendak, ia terkejut luar biasa dengan matanya melotot. "Hah? Nginap." Sammy berkata dengan nada keterkejutnya. "Ada apa? Apa yang salah dengan ucapan kakek." Sammy berpikir, kalau Ridwan kakek Hanny menginap diapartemennya. Tentu saja, dia dan Hanny harus tidur bersama. Tidak mungkin depan Kakek mereka tidur pisah kamar. Kakek bisa curiga jika hubungannya dan Hanny tidak seharmonis yang dilihat orang tua itu. Dan syukurnya apartment Sammy cukup besar, tersedia tiga kamar disana. "Enggak, Kek." "Atau kalian keberatan kakek tidur disini." "Tidak!!" Jawab Sammy dan Hanny bersamaan. "Tentu saja Sammy sama sekali tidak keberatan kakek disini." Gumam Sammy. "Sayang kamu siapkan kamar tamu untuk kakek ya." Ucap Sammy pada Hanny sembari mengenggam tangan perempuan itu. Hanny memandang Sammy intimidasi. 'Dasar mengambil kesempatan.' Rungut Hanny dalam hati. "Sebentar ya, Kek. Hanny siapkan kamar untuk Kakek." Hanny berkata lalu pergi. Hanny membereskan kamar tamu yang bersebelahan dengan kamarnya. "Hhhmmm.." Sammy berdehem saat memasuki kamar tamu tersebut. "Ada apa." Sahut Hanny ketus. "Jangan ge'er ya!! Kamu tidur kamar aku malam ini." Ucap Sammy. "Hah? Tidur sama kamu." Teriak Hanny dengan cepat Sammy menutup mulut Hanny menggunaakan tangannya. "Bisa kecilkan suara kamu enggak!! Kakek lagi diluar." "Aku enggak mau tidur sama kamu." Tolak Hanny. "Jangan gila ya!! Kakek kamu bisa tahu kalau kita pisah kamar." Hanny mengingat bagaimana Sammy menyentuhnya dirinya waktu itu. Hanny tidak ingin sampai terjadi lagi. "Lalu kamu bisa menyentuhku lagi." Ricau Hanny. Sammy mengerjapkan matanya sejenak. 'Jadi Hanny takut gw sentuh. Salah lo juga sih, Ngapain lo pakai acara maksa dia dulu, Sam. Bego!!' Sammy membatin menelisik Hanny yang seakan merasa jijjk padanya. "Tenang aja. Aku enggak sentuh kamu lagi." Ucap Sammy menyakinkan Hanny. "Benar." "Iya. Tapi tolong kamar kamu kunci jangan sampai kakek masuk kamar kamu." *** Ini pertama kali Hanny dan Sammy harus tidur satu kamar. Hanny merasa jantungnya meledak-ledak saat ini. Dia tak bisa membayangkan bagaimana dirinya sekarang bisa diatas ranjang bersama Sammy. Sebaliknya Sammy tampak santai, walau jantung beradu cepat seakan berlomba lari detakkannya. "Tidur udah malam." Akhirnya Sammy mengeluarkan suaranya. "Kamu sendiri belum tidur." Jawab Hanny. "Aku bilang tidur sana, Hanny!! Aku masih banyak kerjaan." "Oh ya.. bukan karena kamu grogi." Celetuk Hanny yang baring memungungi Sammy. Sammy terdiam sejenak, dia menelan salivanya. "Jangan sembarangan ngomong!!" "Ya siapa tau kan kamu gugup tidur dengan aku." "Eh.. dengar ya. Aku bisa tidur dengan perempuan mana pun, apalagi modelan kayak kamu. Paham." Sammy mendekati kepala pada Hanny, dia dapat mencium harum aroma rambut Hanny. Hanny membalikkan tubuhnya, tanpa sadar ia Sammy dan Hanny menempel semakin dekat membuat Sammy rasanya tak bisa menahan melihat bibir ranum Hanny yang tipis. Deg... Astaga Sammy merasa seakan jantungnya akan meledak seperti bom. Apalagi melihat wajah polos Hanny. Sementara Hanny menahan untuk tidak menatap suaminya. Masih seakan buta, padahal jantung sudah berderuh kencang. 'Hanny.. rileks. Jangan gugup. Bisa mati harga diri kamu, Han' Batin Hanny tak karuan. Hanny menarik nafas dalam, lalu ia kembali membalikkan tubuhnya di posisi awal. "Awas aja kamu berani nyentuh aku. Aku pastikan kamu akan menyesal." Gertak Hanny. "Kamu ancam aku!!" "Berisik!! Mau tidur." Kata Hanny. Padahal Hanny sama sekali tidak bisa tidur. Apalagi tubuhnya seperti ada yang menyetrum. Oh no.. Apa Hanny sudah mulai memiliki rasa dengan Sammy? Atau kah memang rasa itu sudah hadir sejak awal. Entahlah. Sammy juga merasa kegelisahan yang sama. Sulit rasanya untuk Sammy mengerti perasaan yang ada dibenaknya saat ini. Benci atau kah justru cinta yang sudah menghinggap dihatinya. Terus terang saja, Sammy tak mengerti perasaannya. Yang dia tahu jika dirinya mulai memikirkan Hanny. Iba pada perempuan itu, sering menatapnya diam-diam. Ada perasaan tak karuan saat bersama Hanny. Ya.. seperti sekarang ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN